
"Baiklah, saya sudah paham. Bisakah Kau panggilkan pelayanan untuk membersihkan gudang belakang? aku melihat disana terlalu kotor dan sangat tak terawat," titah Mario yang diangguki langsung oleh laki-laki didepannya.
"Sesuai Keinginan anda Ya Mulia Putera Mahkota," laki-laki itu pamit undur diri meninggalkan Mario yang masih sibuk membaca dan mempelajari tentang kehidupan barunya ini.
"Disini tertulis banyak sekali dewa-dewa dan kekuatan melegenda yang konon katanya sangat terkenal sepanjang sejarah, apa ini juga ada diceritakan dalam sejarah masa depan yah?" pikir Mario lagi.
Dalam novel yang sempat Ia baca sebelumnya, Commodus benar-benar tak pernah melakukan tugas sebagai Seorang Putera Mahkota pada umumnya. Ia cenderung abai dan hanya memanfaatkan jabatan untuk sekedar bersenang-senang.
Tak mungkin bukan, jika Mario mengikuti jejak alir pada Novel? yang ada malah dia berakhir tragis nanti dan mati untuk kedua kalinya.
"Dikasih kesempatan untuk hidup sekali lagi saja udah beruntung, jika disia-siakan yaah pasti nantinya akan buntung," gumamnya lagi.
__ADS_1
ceklek
Pintu ruangan kerjanya terbuka bahkan tanpa ketukan sedikitpun, Mario menatap nyalang kearah pintu, Ia benar-benar sedang tak ingin diganggu ataupun direcoki saat ini siapa manusia yang berani-beraninya mengganggu waktu tenangnya itu.
"Holaaa epribadeeehh Galelino yang Tampan, cetar membahana kambeek," teriak laki-laki berwajah Asia itu membuat telinga siapa saja yang mendengarnya pengang saking kerasnya.
Mario yang tadinya sudah bersiap, menyembur dan memarahi orang yang telah berani mengganggunya Ia urungkan begitu saja saat mengetahui siapa yang datang.
"Berisik!" sahut Mario tajam.
Nasib bangeet gue dapet sobat senasib, sepenanggungan, sepersesatan malah Kaku kek Kanebo kering," dumel Galelino tak hentinya menyumpah serapahi Mario as Commodus didepannya.
__ADS_1
Mario memutar bola matanya malas, ngga di kehidupannya dulu, ngga sekarang, mulut laki-laki itu tetap saja sama cerewetnya.
"Lo tuh ngga ada kerjaan apa gimana sih? Sibukin diri Sono, eneg juga liat muka tengil Lo," sarkar Mario yang memang sangatlah jengah dengan Galelino yang sedari tadi tak hentinya bergumam menyumpahinya.
Lihatlah, siapa yang berani menyumpahi orang terhormat seperti dirinya? bahkan Ia lewat saja orang-orang dengan suka rela bersimpuh saking pekatnya aura yang menguar disekelilingnya. Tapi laki-laki didepannya, tetep santuy kek di pantuy. Jiaaaah canda Pantuyyy ehh pantai.
"Ehhh anji*iir, gue sampe lupa. Tadi sebelum kesini gue papasan sama Adek Lo, siapa tuh si lili-lili itu tuh. Isshh gue samle Tremor liat dia, dalam otak gue udah kebayang gimana kalian Adek-Kakak nantinya bakal terlibat Sibling Compleks, Ihhh gelayyy," cerocos Galelino makin menyorot topik pembicaraan.
Galelino meraih, kue-kue kering yang berada lumayan jauh didepannya lebih tepatnya kue itu berada didepan Mario namun dengan tak tau malunya Ia dengan santai mencomot Kue itu tanpa. menghiraukan sekitarnya. Toh, mereka hanya berdua saja disini jadi Galelino tak perlu bersusah payah menjaga Image nya.
"Gue juga merinding Gilaaa, padahal tuh yah di Novel itu katanya Commodus yang selalu cari kesempatan buat bangun chemistry sama Adek Kandungnya dan Commodus juga yang mengidap penyakit mental Sister-complex itu.
__ADS_1
Tapi kenapa sekarang seperti kebalikannya coba, masa tuh si Cewe ngintilin gue mulu kek buntut terus peluk-peluk gue lagi seenak jidatnya. Bikin gue merinding aja. Sumpah ngga boong," ujar Mario panjang lebar melepas kegusarannya yang sedari kemaren-kemaren memang risih sendiri memikirkan hal ini.
"Iya anjiii***r tuh cewe bener-bener agresif keknya," sambung Galelino.