The Changing -Kisah Yang Hilang-

The Changing -Kisah Yang Hilang-
Kedatangan Dua Bersaudara


__ADS_3

“Ampun Ya Mulia Putra Mahkota, bagaimana dengan Ya Mulia pangeran dan princess yang sedang berada di depan?” tanya salah satu prajurit dengan hati-hati.


Mario menatap sekilas dan kembali melanjutkan acara makannya tanpa mengatakan apapun. Prajurit itu menunduk takut-takut.


Laki-laki itu bersimpuh dan bersujud di depan ranjang Mario,


“Ampun Ya Mulia, Hamba prajurit rendahan ini salah. Ampun Ya Mulia, Ampuni Hamba.”Ujarnya memohon ampun sambal bersujud-sujud dengan wajah takut dan penuh penyesalan.


Mario mengerutkan dahinya bingung, mengapa orang asing itu malah bersujud seperti itu? Apa dia kurang kerjaan atau sudah pengangguran?


Lagipula siapa pangeran Bacillius dan Princess lusila yang mereka maksud? Mario tak mengenal mereka, bukan?


Baiklah, sekarang Mario tak berselera lagi makan, pikiran yang tadi membayanginya sebelum tidur kembali bergelayut di kepalanya.


Melihat Mario yang berhenti makan, semuanya was-was.


Wajah mereka memucat, ekspresi takut kentara sekali di wajah mereka. Namun Mario hanya mengabaikan saja karena masih kalut dengan pikirannya.


Bacillius?


Lusila?


‘Apa aku benar-benar masuk ke Novel itu? mustahil sekali! Itu hanya ada di novel bukan? Iya kan? Siapapun tolong yakinkan Mario kalo ini hanya mimpi.’ Pikirnya mengurut dahinya pusing.


“Bawa kembali makanan ini, saya sudah tidak berselera,” ujarnya lagi.


“Baik Ya Mulia Putra Mahkota,” jawab mereka serempak.


Para dayang dengan sigap mengambil alih seluruh makanan yang ada di meja samping nakas yang disediakan khusus semenjak Putra mahkota dinyatakan harus istirahat total.


Mendengar hal itu, Mario kembali menyadari satu hal.


‘WHAT? Putra Mahkota? Jika ini memang dunia novel itu, berarti … putra mahkota adalah … APA!! COMMODUS?’ pekiknya dalam hati.


Si raja antagonis yang bahkan akan mati dengan membawa pamor buruk di akhir cerita bahkan jadi aib dari kerajaannya.


“Sial,” gumam Mario berdecak kesal dan sedikit merinding memikirkan nasibnya di masa depan dan mungkin saja alurnya sekarang sedang berjalan entah sudah sampai dimana.


“Ampun Ya Mulia, dayang rendahan ini membawakan ramuan obat yang telah diresepkan Galenos untuk Ya Mulia,” ujar salah seorang dari mereka menyodorkan sebuah cangkir kecil dengan takut-takut.

__ADS_1


Mario menatap lamat air keruh yang hijau pekat itu masih bertengger indah di tangan dayang itu. Ia menutup hidungnya, perutnya tiba-tiba saja melilit ingin mengeluarkan seluruh isinya.


“Singkirkan cairan menjijikkan itu sialan,” sengitnya tajam. Mario benar-benar tak suka seluruh jenis obat-obatan.


Suhu ruangan mendadak dingin, aura sekitar menjadi gelap hingga membuat siapapun yang berada di ruangan tersebut merinding.


Dayang tadi refleks mundur dua langkah saking takutnya, kakinya bahkan sudah bergetar hebat dan matanya sudah perih menahan tangis.


Keributan masih saja terdengar dari luar, Mario semakin kesal dibuatnya.


“Singkirkan cairan menjijikkan itu dari hadapanku dan ingat baik-baik hal ini, jangan sampai aku kembali melihat cairan itu," tekan Mario benar-benar tak tahan dengan bau busuk dari ramuan itu.


“Kalian semua keluarlah, biarkan Bacillius dan Lusila masuk,” perintah Mario lagi.


Mario sebenarnya enggan menemui dua makhluk itu, apalagi dia saja belum bisa menerima kenyataan jika dia nyasar di dunia antah berantah ini.


Tapi Ia juga cukup penasaran dengan Bacillius yang di novel diceritakan bahwa dia adalah saudara yang paling loyal dan pendukung garis keras Commodus.


“Ampun Ya Mulia, tapi sekretaris agung berpesan agar tidak mengijinkan siapapun masuk kesini sekalipun itu adalah keluarga kerajaan,” lapor seorang prajurit takut-takut.


“Jadi jawab saja, perintah siapa yang akan kau laksanakan?”sarkas Mario menatap datar laki-laki yang berdiri tak jauh darinya itu.


Ia benci sekali dipaksa dan di atur-atur seperti ini apalagi sampai dikekang. Ia benci itu, walaupun di kehidupan yang lalu Ia sempat menjadi cupu namun sifatnya yang satu ini tak kunjung berubah, Ia akan berpura-pura lemah dan cupu asalkan tak mengganggu kenyamanan dan kebebasannya.


"kami pamit undur diri Ya Mulia," lanjutnya beringsut mundur dengan kepala yang menunduk sopan.


“Tunggu!” Mario menahan langkah mereka yang akan meninggalkan ruangan. Mario ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu.


“Ampun Ya Mulia Putra Mahkota, apa kami berbuat sesuatu yang tidak berkenan dihati Ya Mulia?” tanya nya sambil menunduk takut lagi, lagi dan lagi hingga Mario pun bosan dibuatnya.


“Kenapa kalian berlebihan sekali,” ujarnya kesal karena menurutnya orang-orang disini selain kaku, terlalu formal juga lembek sekali.


“Sudahlah lupakan. Siapa nama Saya?” imbuh Mario.


Sontak seisi ruangan kembali terdiam, wajah terkejut dan bingung begitu kentara di wajah mereka, mereka saling berpandangan satu sama lain.


“Ampun Ya Mulia, kami akan memanggilkan Galenos kemari,” sahut salah satu dari mereka yang terlihat canggung makin pucat.


Mario yang mendengar jawaban tak nyambung itu mengerutkan dahinya bingung. Ia hanya bertanya nama, tapi kenapa harus dipanggilkan Galenos? Apa Cuma Galenos yang mengetahui namanya disini? Mario bingung juga tapi sedetik kemudian Ia mengangguk sebagai tanda setuju.

__ADS_1


‘Apa karena dikenal dengan panggilan putra mahkota hingga orang-orang lupa nama aslinya? Apa memang ada yang seperti itu? macam tak mungkin je ye kan?


Huuuh, sudahlah mungkin saja memang hanya Galenos yang mengetahui nama asli dari pemilik tubuh ini. Apa mungkin pemilik tubuh ini memang Commodus? mungkin saja karena sifatnya yang kejam, jadi tak sembarangan orang yang boleh menyebutkan namanya. Yah, anggap saja begitu’ pikir Mario pasrah.


“Yasudah panggilkan Galenos kemari dan suruh Pangeran dan Princess masuk,” perintah Mario lagi.


“Siap laksanakan Ya Mulia Putra Mahkota,” sahut mereka setelahnya benar-benar meninggalkan kamar Putra Mahkota.


“Ya Mulia Pangeran Bacillius dan Princess Lusilla memasuki ruangan,” teriak kasim yang berada di depan pintu.


“Salam Ya Mulia Mulia Putra Mahkota, Semoga Ya Mulia hidup seribu tahun lagi,” salam Bacillius saat telah memasuki ruangan.


“Apa kau gila? Hidup seribu tahun? Kau pikir aku makhluk apa? Vampir, Alter atau Medusa? yang bisa hidup selama itu,” sahut Mario spontan yang dihadiahi tatapan bingung dari kedua kakak beradik itu.


“Maksud kakak?” tanya Bacillius lagi namun Mario hanya mengabaikannya saja.


Lusila yang melihat kecanggungan itu langsung tersenyum manis dan menaiki ranjang Putra Mahkota, merapatkan tubuh keduanya.


“Salam Kakak, apa kau tak merindukanku heuumm,” bisik Lusila tepat ditelinga Mario, sontak Mario merinding dibuatnya.


Tapi Mario hanya diam tak bergeming, Ia sedang berusaha mengendalikan dirinya yang tiba-tiba saja dilanda perasaan aneh di luar kendali.


Entah perasaan seperti apa, bahkan Ia tidak bisa menjelaskannya sama sekali.


“Kenapa kau diam saja kakak?” tanyanya lagi sembari mengelus dada bidang Mario yang dibiarkan terbuka agar luka perutnya tak mendapat gesekan berlebihan dari baju yang dikenakannya.


‘Perasaan apa ini sialan?’ umpat Mario merutuki refleks dari tubuh yang kini tengah dihuninya.


“Kaaakkkkhhh euuummhh,” racaunya tak jelas semakin bersemangat mengelus dada bidang Mario dan memberikan tiupan-tiupan kecil di telinga Mario.


Mario menarik nafasnya berat, memejamkan matanya sejenak menenangkan pikirannya. Mood nya benar-benar memburuk hari ini.


Sebelum menanggapi ucapan Lusila, Mario melirik Bacillius sekilas. Sudut bibir laki-laki itu tampak terangkat tipis bahkan sangat tipis tapi Mario masih bisa melihatnya.


*****


Wkwkwk


Makasih readers baik🎉🥳🥳🥳

__ADS_1


Semoga kalian suka yah, So jangan lupa tinggalkan jejak oke?😉


Mario syalaan emang, lemah beut🤣😂🤣😂


__ADS_2