The Changing -Kisah Yang Hilang-

The Changing -Kisah Yang Hilang-
Ending kah?


__ADS_3

Lucius Aurelius Commodus. Pelaku utama dari kisah yang hilang dari ribuan abad yang lalu karena Aib yang telah Ia ciptakan dalam peradaban Romawi Barat.


Lucius, seorang megalomaniak paranoid yang berperan sebagai gladiator yang menganggap dirinya adalah dewa. Dewa Commodus. Hidup dengan kekejaman, melampaui batas dan hidup dengan sangat keterlaluan."


-Tamat-


Begitulah kira-kira blurb dari novel yang berjudul "The Hidden Kingdom" yang baru saja diselesaikan hingga halaman terakhir oleh Mario yang masih meringkuk dibalik selimut tipis itu.


Lampu remang-remang tak menyurutkan semangat Mario untuk segera menyelesaikan novel ditangannya.


"Bego banget sih tu orang, bisa-bisanya sih dia kek gitu. Jijik anying masa sama sodara sendiri sih? terus apa katanya tadi? dia dewa? Titisan dewa yang seperti apa dia? Iblis mah iya," gerutu Mario setelah membalik halaman terakhir.


Adit telah balik ke kota tadi pagi, pekerjaan benar-benar tak bisa ditinggalkan.


Apalagi dengan kondisi mantan Boss nya yang selalu naik darah jika ada yang tak sesuai dengan keinginannya.


Setelah menyelesaikan halaman terakhir, Mario berjalan menuju halaman belakang, langit sudah tampak sangat gelap.


Mario menatap sekilas jam yang bertengger indah di pergelangan tangannya,


02.15 AM


"Heuuuum ... pantas saja sangat lengang," gumam Mario. Waktu berjalan begitu cepat, bahkan Mario merasa jika Ia baru saja membaca novel itu beberapa jam saja.


Ehhh ternyata sudah terlalu larut malam.


Mario tak bisa memejamkan mata setelah menyelesaikan bacaannya tadi, banyak hal yang masih berseliweran mengganggu kinerja otaknya.


Ini adalah kebiasaan yang sulit Mario ubah, setelah membaca novel yang menyentuh dan dapat feel olehnya maka sehari setelah membaca itu adegan akan selalu membayangi harinya.


'siapa nih readers yang punya kebiasaan yang sama kek Mario?'-Author.


Mario duduk di gazebo tua yang tampak usang di sudut taman, Ia termenung sekali lagi.


Ingatannya menangkap jauh ke halaman terakhir buku tadi, Commodus yang pada akhirnya mati secara mengenaskan di tangan Jendral nya sendiri karena dianggap sudah sangat tak bisa dimaafkan.


'miris sekali endingnya, walaupun jijik sama kelakuannya yang bikin naik darah, tapi tetap aja kasian kalo tragis kek gitu akhir hidupnya,' pikir Mario lagi.


Ia mengambil posisi rebahan sembari menatap langit tanpa bulan dan dan bintang, terkesan suram.


Ia masih memikirkan salah satu adegan di novel tadi,


Ketika Commodus membunuh Ayah dan menjadikan adiknya sebagai pemuas nafsunya, Mario merasa tak nyaman tapi entah kenapa.


Ia merasa ada yang kurang, tapi Ia juga tak tau apa dan juga Ia merasakan ganjal saat adegan Kaisar Marcus mati hanya karena pelukan Commodus.


'Apa dia gila atau memiliki penyakit mental tertentu?' pikir Mario.


Mario melirik ke sekeliling rumah, Ia tak merasa menyesal kembali ke rumah ini, di samping suasananya sejuk dan damai,


disini juga banyak kenangan indah yang telah Ia rajut dengan sang nenek.

__ADS_1


Dari kecil Mario sangat dekat dengan neneknya, itu sebabnya Ia tak merasa asing atau takut dengan rumah ini, karena dulu Ia sering berkunjung kesini.


Meskipun sudah bertahun-tahun terlantar tanpa perawatan, tak banyak barang yang lapuk dan usang, yah setidaknya masih kategori layak untuk bisa ia tempati hingga ia kembali mendapatkan kerja nanti.


Mario memejamkan matanya sejenak berharap bisa mengistirahatkan pikirannya.


Srrrttt ...srrrttt ... srrtttt, (suara berisik di semak-semak)


"Itu apa yah?" bingung Mario mendekati semak-semak tempat asal suara.


Berjalan


Mendekat,


Perlahan,


zzzzzzztttt ... zzzzttttt


Makin dekat


Dan ...


"AKHHHHHHHHH"


Mario berteriak sangat kencang. lehernya terasa tercekat, bernafas pun Ia terasa sangat susah.


"lee-ahh-assh," pinta Mario terengah-engah.


"Pahhh-eum-pahh-maanhhh, lee-ephh-assh," lirih Mario makin sulit untuk memasukkan udara ke paru-paru nya.


Dadanya terasa sesak, lehernya nyeri dengan sakit yang tak bisa. Ia definisi kan.


"sial harusnya aku sudah menebak jika mereka masih mengincar keberadaan ku. Balik ke rumah ini tentu saja menghantarkan nyawa. Sial sekali aku melupakan hal yang satu ini," geram Mario tertahan di benaknya.


"HAHAHA ... bagaimana rasanya keponakan nakal ku? enak bukan meregang nyawa di tangan suci pamanmu ini?" ejek nya menikmati wajah tersiksa Mario.


"Wahhh ... wahhh ... wahhh. Surprise sekali bukan? ponakan yang sudah kuanggap mati selamanya ternyata masih selamat bahkan sejahtera. HAHAHA." Tawa laki-laki paruh baya itu menggelegar membelah keheningan fajar yang mulai menyapa.


"Akhirnya, kau benar-benar akan mati ditanganku. Ponakan Kesayangan," celetuknya semakin menekan tangannya di leher Mario.


Mario tak berdaya, dua tangannya bahkan dipegang erat oleh dua manusia berjubah hitam di samping badannya.


"uhuk ... uhuk ... to-oo-long hhh," suara Mario makin lirih dan tak lama setelahnya, Ia benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya.


"Hahaha ... bocah malang." Senyuman puas tercetak Indah di bibir laki paruh baya itu.


Baru saja kemaren dia merasa terancam dan was-was karena salah satu anak buahnya melaporkan jika Mario sang pewaris harta yang sekarang di pegang nya masih hidup dan tinggal di rumah tua ini.


Tapi hati ini Ia tersenyum puas, sangat puas bahkan.


"Berikan aku pisau," perintahnya pada beberapa laki-laki berjubah hitam di belakangnya.

__ADS_1


"Ini Boss," ujar salah satu dari mereka yang dengan sigap mengeluarkan sebilah pisau tajam yang selalu bertengger indah di saku jubahnya.


Srettt


Sretttt


Jleb


srettt


srettt


Darah bercucuran dari dada sebelah kiri raga Mario yang sudah tak bernyawa itu.


Organ yang berbentuk gelendong dengan kedua ujung yang meruncing membentuk sebuah bongkahan daging yang masih fresh dan segar.


"Bawakan tabung penyimpanan jantung kesini," ujarnya menggenggam gemas mainan barunya.


sreettt


srettt


sreettt


mengikut beberapa organ organ yang menyedihkan setelahnya. Tua Bangka itu benar-benar memastikan buruannya tak akan bisa lolos seperti sebelumnya.


...****...


Disisi lain ...


"Eungggghhh," Mata Emerald itu terasa berat. Remang-remang cahaya menyilaukan matanya.


BRUUKKK


"auhhh," jeritnya menahan sakit diperutnya. Keadaan sekelilingnya tiba-tiba gelap.


Ia merasa tubuhnya berputar-putar tak tentu arah. Ia ingin membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi.


Namun pusaran angin membuatnya tak dapat membuka kedua matanya. Ia hanya bisa berdoa dan berharap akan segera usai


Tak berapa lama, Ia merasa pusaran itu terhenti perlahan. Meskipun masih terpejam, namun Ia masih dapat merasakan bahwa keadaan di sekelilingnya bercahaya.


Bbbrruukkk...


"Aaaaakkkkhhhhh," jeritnya kesakitan.


"Siapapun tolong aku," gumamnya putus asa.


-TBC-


thanks guys buat support dan dukungannya buat lessi🥳🥳🥳 lessi sayang kaleeean.

__ADS_1


__ADS_2