The Changing -Kisah Yang Hilang-

The Changing -Kisah Yang Hilang-
Flashback


__ADS_3

Happy reading guys


‘Heum begitu rupanya, tapi kenapa?’ batin Mario.


“Fedrick, tolong urus semuanya. Saya akan menemui Caesar siang ini sakaligus ingin mengumumkan jika saya ingin mengambil seluruh tugas kembali,” ujar Mario.


“Baik Ya Mulia Putra Mahkota,” sahut Fedrick dan pamit undur diri ingin mengurus pengalihan tugas kembali.


Mario hanya mengangguk dan membiarkan Fedrick pergi.


“Varez, keluarlah,” titah Mario memanggil tangan kanannya yang lain.


Sepersekian detik, bayangan hitam muncul dan menunduk dihadapan Mario.


“Salam Ya Mulia Putra Mahkota,” sapa Alvarez.


“Hmm,”


“Ada perintah untuk hamba Ya Mulia?” tanya Alvarez.


“Aku ingin bertanya, apakah disini ada kekuatan semacam kultivitas?” tanya Mario to the point.


Meskipun bingung Alvarez tetap menjawab, “Ada Ya Mulia, bahkan rata-rata seluruh anggota Istana semuanya punya,” tutur Alvarez.


“Apakah aku punya juga?”


Alvarez tampak ragu untuk menjawab.


“Apakah aku punya?” desak Mario lagi.


“Punya Ya Mulia, tapi---,”


“Tapi?” beo Mario makin penasaran.


“Tapi tersegel,” gumam Alvarez lirih tapi masih dapat terdengar oleh telinga elang Mario.


“Tersegel? Tersegel bagaimana?” tanya Mario lagi.


“Iya Ya Mulia, kultivitas anda tersegel sejak beberapa tahun lalu, tepatnya lebih kurang 6 tahun lalu, setahun sebelum debut anda dilaksanakan,” terang Alvarez.


“Banarkah? Tapi kenapa?” desak Mario tak sabaran.


“Saat itu ada tragedii yang terjadi pada anda Ya Mulia, tepat dihari anda di dikabarkan akan dijemput dari pengasingan,” ujar Alvarez membuka cerita.


-Flashback On-


Commodus, remaja laki-laki 15 yang sudah berada di tempat pengasingan selama hampir sepuluh tahun lamanya.


Pengasingan bukan lagi tempat yang aneh bagi para putra mahkota begitupun para pangeran yang dipersiapkan sebagai penerus pemerintahan, tapi yang memebdakannya hanya dari segi u ur dan kelamaannya.


Pengasingan biasanya akan dilakukan selama lebih kurang 7 tahun dimulai saat Pangeran atau Putra Mahkota menginjak usia 8 tahun.


Kenapa Commodus diasingkan 10 tahun? Bahkan dari usia yang masih menginjak usia 5 tahun kala itu.

__ADS_1


Itu semua terjadi karena kematian sang ibunda, Permaisuri pertama sekaligus wanita yang paling dicintai Caesar.


Entah apa yang terjadi kala itu, bahkan commodus saja tak cukup mengerti dengan keadaan dan tiba-tiba saja para tetua dan Caesar menuduhnya jika Ia yang membunuh sang Ibunda.


Bahkan seluruh bukti mengarah padanya, hingga pengadilan tinggi memutuskan untuk mengasingkan Commodus lebih cepat dari ketentuan biasanya dan tentu saja lebih lama sebagai bentuk hukuman yang harus diterimanya.


Commodus kecil, yang tengah bersedih kehilangan Ibunda harus dipisahkan pula dari Ayahanda dan menerima seluruh kebencian dan hujatan rakyat yang menganggap Ia adalah manusia paling hina karena membunuh Ibu Negara kesayangan Mereka.


Jeel Vikrand. Permaisuri yang sangat bijak, anggun dan sangat adil semasa hidupnya. Wanita yang sangat dermawan bahkan pada rakyat jelata sekalipun.


Rakyat sangat menyayangi sosoknya yang anggun bak dewi yang memberikan harapan yang cerah bagi kemaslahatan rakyat.


“Tapi Ayahanda, tidak bisakah aku tinggal hingga proses pelepasan Ibunda selesai?” pinta Commodus.


Wajah kecil dengan pipi menggemaskan itu tampak sangat memerah dan sangat menyedihkan, jelas sekali jika Ia juga tengah sangat kehilangan.


“Keputusah Hakim sudah final Commodu! Kau harus berangkat ke pengasingan besok pagi!” ujar Caesar tegas tak terbantahkan.


“Tapi Ayahanda, Izinkan Ananda melihat Ibunda sebentar saja,” mohon Commodus mengiba pada sang Ayah.


“Cih, aku tak sudi kau melihat istriku. Kau tak lebih dari Iblis kecil pembawa sial,” kecam Caesar tajam tanpa perasaan.


“Tapi Ayah--,”


“DIAM! Aku tak sudi kau panggil ayah dengan mulut kotor mu itu! aku tak sudi punya anak pembunuh seperti mu!” bentak Caesar sambil mencengkram erat rahang kecil Commodus.


Commodus yang menerima perlakuan kasar dari Caesar hanya bisa menangis dan meringis sakit.


Ia sedih, bahkan sangat sedih sekali, sejak kejadian dimata sang Ibunda meregang nyawa didepannya, Ia tak diizinkan untuk bertemu sang Ibunda.


“Dengarkan aku baik-baik. Diantara seluruh musuh yang ku benci, KAU ADALAH MANUSIA YANG PALING KU BENCI DI ATAS DUNIA INI!” teriak Caesar mendorong keras tubuh kecil itu hingga terbanting menyedihkan ditanah.


“Mati saja kau anak sialan! Pembunuh sepeprti mu tak layak hidup!” Caesar kembali berjalan menghampiri tubuh menyedihkan itu.


PLAK


Tamparan keras itu menggema di sepanjang lorong penjara, prajurut yang melihat itu hanya bisa meringis tanpa bisa membantu apa-apa.


“Berikan cambuk!” titah Caesar lagi.


Prajurit tampak sigap memberikan sebuah cambuk yang memang sudah dipersiapkan sebelum masuk kesini tadinya.


Ctarsss


Ctarsss


Ctarsss


“Arrgghh,” ringis Commodus kesakitan menerima setiap lecutan cambuk itu ditubuh ringkihnya.


“A-Ayyah,” gumamnya memohon.


“Jangan memanggilku Ayah dengan mulut kotormu itu sialan,” marah Caesar makin menggila.

__ADS_1


Ctarsss


Ctarsss


Ctarsss


“A-Aku sayang ayah dan bunda,” gumam Commodus sebelum kesadarannya menghilang akibat rasa sakit yang tak tertahankan.


“Ampun Ya Mulia Caesar, Putra Mahkota sudah tak sadarkan diri. Hamba mohon hentikan Ya Mulia,” ujar Fedrick bersujud dikaki Caesar karena sudah tak tahan lagi melihat Putra Mahkota menjadi samsak kemarahan Caesar.


“Go away, Basta*rd,” teriak Caesar tak terima jika emosinya belum terlampiaskan sepenuhnya.


“Hamba Mohon Ya Mulia, Putra Mahkota masih kecil, Ia tak tau apa-apa,” ujar Fedrick makin menunduk dalam memohon keibaan Caesar.


“MINGGIR!” bentak Caesar.


Bugh


Bugh


Bugh


“Dasar kau rakyat rendahan! Berani sekali kau menghalangiku. Rasakan ini!” teriak Caesar marah.


Bugh


Bugh


Bugh


Fedrick hanya menerima dengan pasrah saat dijadikan samsak tinju dari Caesar, asalkan Putra mahkota bisa tetap hidup dan bernafas.


Ia takkan membiarkan Putra Mahkota mati sia-sia ditangan Caesar, Ia sudah berjanji menjaga putra tunggal permaisuri pertama itu. Itu janji yang sudah diucapkannya pada sang Ibunda dari Commodus.


“Ampun Ya Mulia Caesar, Caesar terdahulu dan Ibu suri telah sampai di istana,” lapor salah seorang prajurit yang Nampak takut-takut mendekati Caesar, mungkin saja dia juga takut menjadi bulan-bulanan Caesar.


Caesar yang mendengar itu, berhenti memukuli Fedrick yang sudah Nampak menyedihkan. Bagaimanapun, usia Fedrick termasuk remaja saat ini, pukulan orang dewasa memang sangatlah mematikan.


Fedrick berusaha sekuat mungkin untuk tetap sadar karena Ia akan mengobati sang Putra Mahkota.


Caesar bergegas keluar dari penjara kumuh itu dan bergegas menyambut Ibu suri dan Caesar terdahulu.


“Putra Mahkota, aku mohon bertahanlah,” ujar Fedrick Iba.


“To-olong uhuk uhuk, tolong obati putra mahkota,” pinta Fedrick memohon pada para prajurit yang tampak hanya berdiri kaku melihat mereka.


Mungkin saja mereka masih terkejut dan sisa-sisa Aura kekejaman Caesar tadi masih tertinggal di lorong Penjara hingga membuat mereka tak sadar dengan manusia yang hampir saja meregang nyawa di depan mereka.


Dengan sigap, para prajurit mengangkat Fedrick dan Putra Mahkota yang sudah tak sadarkan diri ke tempat pengobatan yang disediakan di penjara sambil menunggu kedatangan tabib Istana.


TBC TBC TBC


Yuhuuuu 💃✨🤌🤣

__ADS_1


Makasih tau udah baca


__ADS_2