
Happy reading guys ....
“STOP,” tekan Mario saat Alvarez tengah bercerita. Alvarez diam dan mengikuti ucapan Mario.
Setelah hening beberapa saat, Mario merasakan detak jantungnya berdetak dua kali lipat bahkan emosinya terasa sangat kacau mendengar cerita Alvarez.
‘Ibunda,’ gumam Mario pelan.
Jantungnya makin menggila mengungkapkan emosi yang makin menggelora dari dalam dirinya.
Rasa ini terlalu sakit bahkan sangat sakit terasa, Ia pernah berada di posisi itu sebelumnya menyaksikan kematian sang Ibunda dengan mata kepalanya sendiri.
Dan Mario paham rasanya di posisi Commodus. Bagaimana sakitnya kehilangan wanita yang teramat berharga dihidup nya. Wanita yang teramat dicintainya lebih dari apapun.
Tok
Tok
Tok
Suara pintu menyadarkan Mario dari lamunnya, Alvarez tanpa aba-aba pun langsung menghilang dari tempatnya berdiri tadi, Mario hanya memaklumi dan lega karena Ia juga tak mau keberadaan Alvarez disekitarnya diketahui oleh siapapun.
“Masuk,” titah Mario pelan tapi masih terdengar dari luar.
Seorang Prajurit Nampak bergegas masuk ke dalam ruangan pribadi Putra Mahkota.
“Ada apa?” tanya Mario to the point.
Sang prajurit menatap ragu Putra Mahkota uang tampak berkeringat dingin dengan wajah pucat nan sendu.
“Ampun Ya Mulia Putra Mahkota. Sudah watunya makan siang Putra Mahkota, dan juga Sekretaris Agung mengutus saya kesini untuk mengingatkan pertemuan Ya Mulia Putra Mahkota dengan Caesar siang ini,” ujarnya menunduk sopan.
“Fedrick kemana?” tanya Mario lagi, cerita barusan cukup menggoncang emosi dan juga mentalnya sedikit banyak hingga sulit rasanya dikendalikan.
“Sekretaris Agung masih mengurus pengalihan tugas Ya Mulia Putra Mahkota kembali, ya Mulia tadi ada sedikit masalah dengan Ya Mulia Pangeran Bacillius jadi Sekretaris Agung menyelesaikannya terlebih dahulu,” jelas Prajurit itu.
“Apakah Fedrick tak ikut di pertemuan nanti?” tanya Mario.
“Sekretaris Agung hanya tak bisa memnemani Anda saat makan siang Ya Mulia dan beliau memerintahkan saya yang mendampingi anda, dan untuk pertemuan nanti Sekretaris Agung akan ikut dan menemui Ya Mulia Putra Mahkota langsung di ruamh kerja Ya Mulia Caesar,” paparnya menjelaskan panjang lebar.
Mario mengangguk mengerti.
__ADS_1
“siapa namamu?” tanya Mario lagi.
“Ampun Ya Mulia Putra Mahkota, Izin menjawab nama hamba Haidar Ya Mulia,” ucap Haidar kembali membungkuk hormat.
“Baiklah Haidar, tolong bantu menyiapkan pakaian saya, Saya akan membersihkan diri terlebih dahulu,” titah Mario sembari berjalan menuju kamar mandi.
“Maaf Ya Mulia putra Mahkota, Izin menyela. Apakah perlu saya panggilkan dayang untuk menyiapkan air hangat untuk mandi anda?” tanya Haidar ragu.
Mario memberhentikan langkahnya sejenak. Yanpa berbalik, Ia menggeleng menanggapi pertanyaan Haidar.
“aku butuh mandi air dingin,” jawab Mario sekedarnya dan kembali mengayunkan langkahnya menuju kamar mandi.
Ia butuh air dingin untuk menetralkan dan menenangkan emosinya. Ia ingin sejenak berendam merilekskan otot-otot nya.
Kamar mandi ini begitu luas, ada sebuah kolam mini yang dikhusus kan untuk berendam seperti Jagucci di zaman Modern hanya saja ini lebih klasik dan juga lebih luas ukurannya.
Disudut kanan, berjejeran pewangi buatan alami yang begitu banyak diletakkan di rak khusus yang menyajikan ratusan jenis wewangian khas yang begitu harum.
Mario mengambil salah satu wewangian yang biasa Ia gunakan semenjak disini.
Meneteskan cairan wangi itu beberapa takaran dan melepaskan baju Zirahnya perlahan hingga perutnya sixpack itu tak menebarkan sejuta pesonanya tak lagi ditutupi sehelai benangpun.
Mario merendamkan tubuhnya perlahan, menikmati rasa dingin yang menusuk pori-pori kulitnya.
Rasa dingin yang menenangkan, rasa segar yang benar-benar alami tanpa buatan, mungkin saja zaman ini masih kuno dana lam pun masih asri sehingga sentuhan alam begitu terasa menyenangkan dan menentramkan hati.
Udara yang bahkan tak tercemar sama sekali, taka da yang namanya rebutan oksigen antar sesama makhluk hidup, semuanya dapat menikmatinya sesuap mungkin.
Zaman romawi kuno memanglah salah satu peradaban yang amat terkenal akan kekayaan budaya, sejarah dan juga strategi perangnya dan jangan lupakan para cendekiawan dan juga Galenos yang menciptakan banyak inovasi yang mengagumkan.
Banyak cendekia dan juga para Herios yang terkenal pada zaman Romawi kuno. Peradaban yang tak bisa disepelekan sepanjang sejarah dunia.
Setelah lebih kurang 30 menit berendam, akhirnya Mario menyelesaikan ritual mandinya. Tubuhnya kini terasa lebih bugar dan kepalanya juga lebih ringan terasa.
Mario meraih Bathrobe waffle yang berjejer rapi dengan berbagai macam warna yang didominasi warna-warna gelap.
Mario melangkahka kakinya keluar dari kamar mandi, Ia meliht baju zirah lengkap dengan aksesoris khas Putra Mahkota sudah tergeletak rapi di tempat khusus yang tersedia disamping meja kaca. Semacam Wadrobe di dunia Modern.
Mario melirik ke sekeliling ruangan, Haidar masih berdiri ditempat yang tadi Ia tinggal pergi.
__ADS_1
Mario melirik sekilas dan berujar, “Keluarlah.”
Haidar mengangguk patuh, tapi sebelum itu Ia menawarkan “Ya Mulia Putra Mahkota, apakah perlu para dayang untuk membantu anda berpakaian?”
Yah seperti sudah kebiasaan yang mendarah daging pada keluarga bangsawan terutama kerajaan pada umumnya akan selalu ada dayang yang membantu segala sesuatu agar lebih mudah pengerjaannya.
“Tak usah,” sahut Mario singkat. Haidar yang mendengar itu langsung undur diri meninggalkan ruangan itu.
Mario memulai memakaikan atribut yang tak terlalu rumit menurutnya, yang sedikit kesulitan hanya pengikatan Zirah yang luamayan belibet selebihnya bisa dikatakan lebih mudah.
Setelah hampir sebulan Ia berada disini, Ia sudah cukup bisa beradaptasi dengan berbagai hal yang ada disini dimulai dengan aksesoris yang harus dipakainya hingga kebiasaan dan tingkah laku orang-orang yang berada disekitarnya sudah dapat Ia mengerti dan pahami.
Setelah Ia rasa cukup, Mario keluar dari ruangan dengan tatapan dingin dan angkuh tanpa melirik sedikitpun prajurit dan juga dayang yang berdiri berjejer di depan kediamannya.
Haidar secara otomatis sudah berjalan dibelakan Putra Mahkota untuk mendampinginya menuju ruang makan utama.
Sepenjang perjalanan, Mario menatap dingin setiap orang yang dilaluinya. Aura mengintimidasinya begitu kuat hingga membuat beberapa dayang dan prajurit reflek menunduk takut dan tak berani mengangkat padangan sedikitpun.
“Kakaaaaaaak,” teriak Lusilla yang tampak amat berbinar saat Ia melihat Mario dari kejauhan.
Tanpa ragu Lusilla berlari ke arah Mario tanpa mengindahkan teriakan dari Dayang pribadinya yang mengingatkan untuk berjalan layaknya Putri kerajaan.
Mario yang mendengar teriakan dari Lusilla lantas menengok kebelakang dan kembali acuh berjalan tanpa menghiraukan kehadiran Lusilla disana.
“Kakaaaak hosh … hosh … kena-pa kau tak ber-henti,” ujarnya terengah-engah saat kaki kurusnya tak mampu mengimbangi kecepatan langkah Mario. Sedikit lagi Ia akan bisa mengejar Mario yang tak menghentikan langkahnya sedikitpun itu.
Sedikiiit lagi saja, tapi Ia sudah tak kuat apalagi Ia perutnya masih belum terisi makanan apapun siang ini makin mendukung fisiknya yang lelah dan lemah hingga tak kuat mengejar Mario.
“Ishhhh … ngeselin,” kesal Lusilla saat nafasnya sudah kembali beraturan. Pipinya tampak mengembung tak terima dengan sikap acuh kakak sulungnya akhir-akhir ini.
“Ya Mulia Putra Mahkota memasuki ruangan,” teriak kasim saat Mario memasuki ruang makan utama. Disana sudah ada Caesar yang duduk di kursi kepala keluarga disampingnya didampingi Permaisuri Karina (Permaisuri pengganti Ibu Commodus, yang dulunya adalah selir agung dari Caesar).
Dikuti dengan Selir Agung Wei, Selir Biancaa dan Selir Veronica yang berjejer rapi di kursi bagian kanan Caesar.
Ruang makan yang tampak mewah dan megah dengan desain arsitektur yang semi modern. Sudah sejauh itu ternyata peradaban Romawi, tak aneh lagi jika Romawi menjadi salah satu peradaban termaju dan terkenal di sejarah.
“Selamat siang Putra Mahkota,” sapa Permaisuri yang terdengar tak menyenangkan ditelinga Commodus.
“Cihh,” decih seseorang dengan pelan tapi masih dapat ditangkap dengan baik oleh indra pendengaran Mario.
__ADS_1
thanks guys 🥳🥳🥳🥳🥳 udah baca karya Lessi, mohon saran dan kritikannya yah