
“Ya Mulia High King dari Kerajaan Stansia telah sampai di gerbang Istana,” teriak seorang kasim sembari membunyikan Gong pertanda semua siap-siap berkumpul dipelataran Istana.
Seisi kerajaan yang tadinya sibuk dirunag tamu sambil ngobrol Karen menantikan High King Stansia dan rombongan sampai di Istana.
Semuanya berbondong-bondong berdiri dipenyambutan Stansia tanpa terkecuali.
“Salam High King Stansia,” Sapa semua orang saat High King dan High Queen baru saja menginjakkan kaki di halaman Istana yang sangat Megah khas budaya Roma itu.
Bangunan dengan arsitektur klasik tapi mewah dengan hiasan beberapa patung dewa perang disekitar taman Istana.
Taman yang ditumbuhi oleh berbagai tumbuhan dan di desain rapi hingga membentuk sebuah susunan yang unik.
Di sebelah selatan tampak sebuah Air mancur yang dikelilingi oleh burung merpati yang sedang bermain-main disana.
Suasana yang cukup elegan, anggun dan sejuk. Temperatur wilayah Pusat Roma ini memang tak terlalu ekstrem seperti wilayah Khatulistiwa.
“Selamat datang High King dan HIg Queen Stansia,” sapa Caesar yang diikuti oleh Bacillius dibelakangnya yang turun berjabat tangan dengan sopan.
Mario yang sedari tadi memerhatikan dengan lekat tamu yang datang, entah kenapa Ia merasa familiar dengan wajah itu tapi jika dipikir-pikir tak mungkin juga, toh Mario saja disini hanya nyasar saja mana mungkin mereka pernah bertemu dan tatap muka sebelumnya.
“Salam Ya Mulia High King dan High Queen Stansia, selamat datang di Kerajaan Roma semoga kalian nyaman selama berada disini” ujar Bacillius sembari tersenyum sangat ramah dengan ekspresi hangat yang tak lepas dari wajahnya.
“Salam Kembali Ya Mulia Caesar dan Pangeran, senang bertemu dengan Kalian semua. Maaf jika kedatangan kami mungkin sedikit mendadak,” sahut High King membalas jabat tangan dan juga sapaan Bacillius dan Caesar.
“Wahh … apakah ini pangeran Bacillius? Sudah besar saja kau ternyata pangeran!” celetuk High Queen dengan wajah ramah khas seorang ratu.
“Iya Ya Mulia High Queen, aku Pangeran Bacillius dari kerajaan Roma,” balas Baciliius tersenyum bangga mengenalkan dirinya.
“Ternyata sudah lama yah Queen kita ngga berkunjung kesini, lihatlah bahkan saat terakhir kalinya kita kesini Selir Karina masih mengandung Putrinya dan kau juga baru berumur 4 tahun yah!” ujar High King yang dengan sengaja mengucapka kata ‘selir’ dengan sedikit penekanan.
Suasana sekitar terasa tegang dan mendingin, seisi istana mendadak hening mendengar perkataan tak terduga dari King Stansia itu.
__ADS_1
Sedikit banyaknya, sebagian dari para dayang dan juga prajurit senior tahu pasti siapa tamu yang kini tengah berkunjung ke Kerajaan Roma ini.
Dulu saat Permaisuri masih hidup, bahkan Queen dan King Stansia ini merupakan tamu wajib tiap bulannya bahkan tak jarang juga Permaisuri yang datang kesana.
“Iya juga yah King, tau-tau pas berkunjung kesini Pangeran Bacilliusa sudah dewasa saja,” lanjut Qieen lagi.
“Hhmm … Silahkan masuk dulu High Queen, High King,” ujar Caesar memecahkan suasana canggung.
“Hei Boy, Kau tak ingin menyapa adik dari Ibunda mu?” tanya Queen saat melihat Mario yang terpaku didepan pintu yang tampak masih tengah berfikir.
“Adik Ibunda? Apa mungkin perempuan itu adik dari Permaisuri yang dulu? Itu artinya bibi dari Commodus? Apakah mungkin begitu?
“Salam Ya Mulia High Queen dan High Queen Stansia,” sapa Mario manunduk hormat pada kedua orang paruh baya itu.
Entahlah, salam hormat yang barusan Ia lakukan itu terasa spontan dan Ia pun juga tak tahu kenapa Ia harus membungkuk memberikan hormat, sedangkan yang lain hanya mengangguk dan berjabat tangan.
“Kamu Commodus bukan?” tanya Queen tersenyum lebar.
“Kamu udah besar dan dewasa ternyata,” ucap Queen tak bisa menahan harunya karena terakhir kali Ia bertemu dengan Commodus saat laki-laki itu berumur 5 tahun lebih tepatnya sebulan menjelang kematian Permisuri.
Di hari kematian Permaisuri, bahkan Queen tak bisa menemukan keberadaan Commodus dimanapun, Caesar hanya megatakan jika Commodus tengah pergi bermain bersama sahabatnya, Pangeran Marius dari Kerajaan sebelah.
Queen hanya memaklumi kala itu karena Ia berpikir bahwasanya jika Commodus tahu jika Ibundanya itu meninggalkannya untuk selama-lamanya pasti Ia akan sangat terluka, jadi untuk menjaga mental bovah laki-laki itu, Queen memilih percaya dan membiarkan begitu saja.
Namun beberapa hari setelahnya, Queen yang mulai curiga kenapa Pangeran Mahkota tak kunjung pulang ke Istana akhirnya mengutus orang-orangnya untuk menjemput keponakannya itu di Kerajaan tetangga.
Disanalah akhirnya Queen mulai curiga dan sadar bahwa Caesar telah berbohong atas keberadaan Putra Mahkota.
Putra Mahkota bahkan menghilang semenjak hari Kmetian Ibundanya, Queen yang murka meminta suaminya untuk memutuskan seluruh bantuan dan kerjasama antara Stansia dan Roma.
Queen mengutu sorang-orang terbaiknya untuk mencari tahu keberadaan putra mahkota, hingga bertambah Marah lah Queen saat tau Keponakan kesayangannya itu ternyata dibuang, disiksa dan diasingkan ke Wild Forest di usianya yang bahkan masih sangat belia sekali.
__ADS_1
Rothesay, Guru dari Commodus sebenarnya adalah utusan sekaligus orang kepercayaan Queen yang bertugas untuk mengurus dan juga menjaga Commodus dengan baik selama berada di Wild Forest.
Saat pertamakali mendengar kabar dari Rothesay yang mengatakan bahwa Commodus kecil tengah sakit san terluka parah dengan kondisi yang amat menggenaskan ditengah hutan, membuat Queen mengirimkan para Galenos terbaik di Stansia untuk mengobati Commodus kecil dan merawatnya hingga sembuh.
Tak cukup sampai disitu saja, bahkan Queen juga yang menjadi pelopor pengirirman pasukan rahasia yang sebenarnya memang pernah disiapkan oleh sepupunya alias Peramaisuri terdahulu untuk menjaga putra semata wayangnya sebelum Ia meninggal.
Hanya saja, saat kejadian itu mereka belum beroperasi dan melakukan misi penjagaan terhadap Commodus kecil karena mereka masih ditahap pelatihan.
Apalagi kejadian dan berita kematian Permaisuri terdahulu terlalu mendadak hingga mereka tak menyangka kejadian yang tidak manusiawi telah dialami oleh Putra semata wayang junjungan mereka yang seharusnya mereka lindungi.
“Iya Ya Mulai High Queen, keponakanmu ini sudah beranjak dewasa,” jawab Mario sekedarnya karena Ia juga bingung harus menjawab seperti apa.
Terlebih, di novel juga tak ada penjelasan tentang Kerajaan Stansia.
Bahkan bisa dikatakan bahwa Alur Novel hanya menyorot kehidupan dan masa-masa kelam Commodus.
Dimulai dari kelakuan bejatnya, kegagalannya, aib-aib nya hingga seluruh kelakuan yang tampak melampaui batas ada disana.
Bahkan Mario sangat tercengan sekali, saat beberapa fakta yang mulai tersingkap mengenai kehidupan Commodus, sungguh diluar dugaannya sekali.
“Tak usah sungkan begitu memanggilku Nak, dulu juga kau memanggilku dengan sebutan ‘Bunda Nana’.” Queen memeluk erat lengan suaminya, bulir air mata tak bisa Ia tahan lagi.
Mengingat masa-masa dimana Ia sering berkunjung ke Roma bersama Putranya Galee yang merupakan sahabat dari Commodus juga selain Marius.
Mereka 3 sekawan dulunya, tak pernah terpisahkan dan juga sangat teramat dekat satu sama lain.
Rentang umur mereka bertiga pun juga nyaris hampir sama, hanya berbeda beberapa bulan saja.
Marius, Commodus dan Galee adalah tiga serangkai yang sungguh jail sekali dan suka membuat kekacauan dengan tingkah Absurd dan koyol mereka.
Namun semuanya berubah setelah Commodus menghilang seperti ditelan bumi.
__ADS_1
-TBC-