
Holaaa guyss, ahh lessi kangen kalean semuanya. Maap yah lessi slow up banget soalnya kemaren teh temen-temen lessi pada bandel plus nyebelin. Datang dan pergi sesuka hati ehhh pas dateng cuma mau ancurin mood lessi doang. Ngeselin kan yah? mana masalahnya banyak beut kek rel kereta, bikin puyeng euyy.
dah sekian bacotan dan curhatan Lessi.
Selama membaca yah :)
Happy Reading!!!
“Kak, kakak ngga apa-apa kan?” tanya Lusila khawatir dan memeriksa tubuh Mario untuk memastikan.
Mario semakin merinding dibuatnya, Lusila ini terlalu agresif sebagai adik menurutnya, apalagi Mario yang sudah terbiasa menjadi anak tunggal di kehidupannya sebelumnya, membuat Ia sulit membiasakan diri.
Perempuan. Sebuah spesies yang dari zaman dahulu kala Mario jauhi. Walaupun dulu Ia sempat menjadi anak nakal sebelum kematian orang tuanya, tapi tak sekalipun Ia mau bergaul dengan yang namanya perempuan.
Mario Selasnio. Laki-laki dingin dan terkenal kejam, tapi jangan salah, senakal-nakalnya Mario dia adalah anak penurut pada orang tuanya. Tapi orang tua Mario tak pernah sekalipun membatasi pergaulan Mario, selagi di batas wajar maka orang tuanya takkan membatasi langkah Mario.
Huhhh, mengenang masa-masa itu membuat wajah Mario kembali murung, mood nya makin memburuk.
“Lusila, menjauhlah,” ucap Mario makin risih.
Lusila seakan-akan tak mendengar sedikitpun perintah kakaknya. Ia tetap bergelayut manja di lengan Mario sambil sesekali mengusap luka yang masih tahap pemulihan diperut Mario.
“Lusila. Keluarlah lebih dulu, kakak ada keperluan,” ujar Mario berusaha sabar.
Seingat Mario, dinovel yang Ia baca bahkan Lusila adalah wanita yang dingin dan keras kepala. Jangan lupa garis bawahi satu hal, “Commodus yang mengejar-ngejar cinta saudarinya seperti orang gila yang menjijikkan.”
Tapi sekarang? Kenapa jadi Lusilla yang menempel padanya? apa alur novel itu salah? Seharusnya Lusila saat ini duduk dengan angkuh dan menatap Commodus menjijikkan jika berada disekitarnya.
Membangongkan,
Mario memijat kepalanya pusing, Lusila ini benar-benar menguji kesabarannya. Apa Ia harus kasar? Tapi itu bukan gaya Mario, sekalipun Ia kejam, ia takkan ringan tangan pada perempuan sekalipun Ia membenci orang itu.
Lusila yang melihat Mario terpejam sambil memijat kepala malah tersenyum sumringah. Lusila makin gencar menempel dan mengusap nakal luka Mario.
“LUSILA. KELUAR SENDIRI ATAU AKU SERET?” tegas Mario yang makin tak tahan dengan ulah Lusila.
Belum lagi perasaan aneh yang mengganggunya saat kulitnya bersentuhan langsung dengan Lusila. Ada perasaan aneh yang tak mampu Ia definisikan.
Sebisa mungkin, Mario harus bisa mengontrol emosi dan mengendalikan dirinya.
Lusila yang kaget dengan bentakan Mario lantas kaget dan sepasang mata emerald itu tampak berkaca-kaca.
Wajah putih susu yang tadinya tersenyum sumringah, mendadak memerah menahan air mata, dan lihatlah bahkan bibir tipis semerah cerry itu tampak melengkung kebawah.
__ADS_1
“Hiks … hiks, kakak kok sekarang hiks jadi jahat hiks,” tangis Lusilla akhirnya pecah.
Mario menarik nafasnya kasar, jiak dibiarkan Lusila akan lebih seenaknya tapi jika lebih tegas Ia malah mewek.
Jadi Mario harus bagaimana? Apakah Ia harus membiarkan saja sedangkan Ia sangat risih dengan ke-agresifan Lusila.
“Lusila, keluarlah,” pinta Mario melunak, Ia juga tak tega melihat Lusila menangis menyedihkan seperti itu.
“Kakak … hiks udah ngga sayang … hiks sama Lusila yah? … hiks Kakak kok ngga bolehin Lusila … hiks kesini lagi? Kenapa kakak jauhin lusila? … hiks”ungkap Lusila tersedu-sedu.
Lusila sangat sedih melihat perubahan kakaknya yang biasanya selalu memanjakan dan memberikan seluruh kemauannya.
Semenjak Kakak nya itu bangun dari tidur panjangnya, Lusila benar-benar kehilangan sosok kakak yang selama ini tempat bermanjanya.
Lusila menatap nanar wajah kakaknya, ada luka yang dalam yang Ia ungkapkan ditengah kekecewaannya.
Mario tertegun melihat kesedihan yang begitu kentara di mata Lusila. Mata indahnya bahkan sudah sembab dan hidung yang makin memerah sebab terisak.
Tapi Mario tak bisa berbuat banyak, Ia juga harus tegas dan membutuhkan lebih banyak waktu sendiri dan memikirkan kembali.
Rasa sakit dan penolakan dari Mario, membuat hati Lusila begitu teriris, terlebih Ia hanya memiliki Kakak sulungnya selama ini yang selalu memanjakannnya.
Lusila berdiri dari duduknya, sembari tersedu-sedu Ia beranjak meninggalkan kediaman putra mahkota.
Tanpa berbicara lagi, Lusila benar-benar keluar dari ruangan itu sambil berlari dengan air mata yang masih setia menggenangi pipi cubby nya.
Mario menghela nafas kesal, Ia tau jika mungkin saja barusan Ia terlalu kasar pada Lusila. Tapi bukan salahnya juga ingin berjaga-jaga agar Ia tak jatuh pada pesona Lusila yang memikat.
Oh ayolah, dia juga laki-laki normal dan jiwanya juga bukan kakak kandung Lusila tapi Mario.
Mario, sang Villainess yang bahkan masih galau dan ragu dengan apa yang sekarang dialaminya.
“Huufftt … dasar. Wanita memang merepotkan sekali, di keraskan marah tapi jika dilembutkan malah bencana,” ujar Mario frustasi.
Mario melirik prajurit yang masih anteng berdiri disekitar Mario.
“Keluarlah,” perintah Mario dan kembali merebahkan tubuhnya.
***
Di sisi lain
“Anj*r, kenapa langkah kaki makin banyak mengarah kesini?” gumamnya sembari tetap anteng di
__ADS_1
persembunyiannya.
“King anda dimana?”
“King”
“King”
“King”
“Ada apa ribut-ribut?” tanya seseorang yang tampak baru memasuki ruangan.
“Ampun High King, King muda menghilang,” uajar salah satu dari mereka.
Laki-laki yang di panggil “High King” itu lantas melotot dan menatap marah seluruh bawahan yang berada di ruangan itu.
“Bagaimana mungkin King muda bisa menghilang? KALIAN MEMANG BENAR-BENAR TIDAK BECUS!” bentak laki-laki paruh baya itu kesetanan.
“Ampun High King, tadi kami sudah memastikan jika King muda ada di ruangannya,” sahut yang lain.
“JIKA MEMANG KALIAN SUDAH MEMASTIKAN, KENAPA SEKARANG MENGHILANG?” teriaknya tajam.
“Ada apa Ya Mulia High King?” tiba-tiba terdengar sura lembut yang begitu syahdu memecah focus teriakan barusan.
“Anak kita,” gumam laki-laki tadi pelan sembari merengkuh istrinya kedalam pelukan.
Wanita paruh baya yang baru dating itu tampak bingung.
“Ada apa dengan anak kita High King?” tanya wanita bergaun khas bangsawan eropa itu menatap penasaran sang suami.
“Mereka tak becus menjaga putra kita!” adunya lagi.
“LALU KEMANA PUTRA KITA?” teriak wanita itu setelah bisa mencerna perkataan barusan.
“KALIAN TUNGGU APA LAGI HAH?! CEPAT BUBAR DNA CARI KING MUDA HINGGA KETEMU!” bentak wanita itu setelah melepas rengkuhan sang suami dan menatap tajam prajurit yang disana.
“Ayam ehh ayam”
Krik … krik … krik
Suasana mendadak hening,
Anj*yy suara siapa tuh? Awok awok.
__ADS_1
Semoga suka guys. See you in the next part