
"Bagaimana keadaan Yang Mulia Putra Mahkota?" tanya laki-laki yang menjabat jadi Sekretaris Agung itu, mukanya makin khawatir melihat mata Mario yang menutup setelah meminum ramuan barusan.
"Ampun Sekretaris Agung, hamba Izin menjawab," ujarnya meminta izin sembari masih menunduk di samping ranjang Putra Mahkota.
"hmmm." Laki-laki itu berdehem singkat tanda mengizinkan.
"Keadaan Yang Mulia Putra Mahkota sedang di tahap pemulihan Sekretaris Agung. Luka di perut Yang Mulia masih basah dan rentan terhadap gerakan dikarenakan luka yang cukup dalam.
Hamba anjurkan Yang Mulia harus benar-benar beristirahat dan mengurangi kegiatan kerajaan agar pemulihannya bisa berlangsung lebih cepat.
Dan Hamba juga akan mengirimkan kesini beberapa ramuan untuk diminumkan kepada Yang Mulia Putra Mahkota secara teratur setiap harinya.
Hamba akan meminta Dayang Maa untuk mengantarkan ke kediaman Yang Mulia Putra Mahkota," tutur Galenos.
"Berapa lama masa pemulihan?" tanya laki-laki itu lagi.
"Ampun Sekretaris Agung, setidaknya harus menunggu selama 2 Minggu menunggu luka di perut Yang Mulia Putra Mahkota mengering dan aman untuk menjalani aktivitas seperti semula," Jelas Galenos.
"Heumm, baiklah kau boleh keluar," perintahnya singkat.
"Dan kalian juga keluar, tinggalkan 3 orang untuk menjaga Yang Mulia Putra Mahkota di ruangan dan selebihnya berjaga di luar, pastikan tidak ada yang masuk kesini sekalipun itu adalah keluarga kerajaan," lanjutnya.
Mario makin dibuat pusing dengan kata-kata mereka semua, bahasanya aneh seperti bahasa Alien, tapi entah kenapa otak konyolnya ini malah mengerti.
'Ini aku dimana? tadi itu bahasa apa? kenapa aku mengerti dan juga bisa mengucapkannya? sejak kapan otak cetek ku ini mendadak pintar?' pikirnya sembari makin memejamkan mata.
Di tengah kebingungannya, Mario tertegun. Ia mengingat satu hal. Terakhir kali Ia sedang berada di rumah neneknya, karena ia tak mengantuk Ia mencari angin ke taman belakang hingga berakhir di gazebo.
Suara itu, suara yang membuatnya penasaran hingga berakhir kesialan. Ia ingat itu! Thomas! Paman basta*d nya itu menemukannya dan mengetahui Ia masih hidup hingga berakhir Ia kehilangan kesadaran bahkan nyawa karena luka tusukan itu.
Tapi,
Sekarang dimana Ia berada? semuanya tampak aneh. Apa mungkin Ia benar-benar telah meregang nyawa di tangan kotor si Thomas itu? apa mungkin ini yang dinamakan dunia barzakh?
__ADS_1
Tapi apa mungkin? yang benar saja! itu sangat mustahil! mana mungkin dunia barzakh seaneh dan se kuno ini. Pun kalau iya, tidak mungkin Ia terlempar ke dunia barzakh sebagai 'putra mahkota' sedangkan dosanya saja masih banyak dan menumpuk indah dan belum sempat Ia hapus semuanya.
Maklum manusia memang makhluk nakal, sudah tobat malah khilaf lagi - tobat lagi - khilaf lagi --- dan begitu seterusnya hingga bahkan tak mungkin derajatnya akan lebih tinggi hingga Tuhan berbaik hati menjadikannya 'Putra Mahkota' di surga.
'Putra Mahkota di neraka kali Lo, kan Lo banyak khilap nya daripada tobat. Tobat sesekali, khilaf nya malah berkali-kali,'-Author.
'Bisa jadi juga sih, Apa ini neraka yah? tapi kok ngga panas dan juga ngga ada yang teriak-teriak kena azab?'-Mario.
'Entah. Mungkin saja azab udah di borong sama stasiun televisi ikan terbang, jadi Lo dapet bekas,"-Author.
'Ngaco Lo Thor,'-Mario.*
Mario memejamkan matanya untuk benar-benar mengistirahatkan otak buntunya, Ia berharap semoga ini hanya sebuah mimpi dan esok dia akan kembali ke tempatnya sebelumnya.
Huhhh ... ternyata tak hanya usus yang bisa buntu, tapi otak pun bisa buntu :b
Sekretaris Agung keluar dari kamar setelah memastikan Putra Mahkota benar-benar terlelap. Ada banyak hal yang harus segera Ia selesai, mulai dari tugas Yang seharusnya di emban oleh Putra Mahkota, hingga segala hal yang menyangkut putra mahkota yang harus Ia selesaikan.
Tak mungkin bukan, jika Ia harus memaksa Putra Mahkota untuk menunaikan perintah dari Kaisar? apalagi dengan kondisi Putra Mahkota yang masih terluka cukup dalam.
...*****...
Suara keributan terdengar jelas di depan istana 'Naga merah' (Kediaman putra mahkota).
"Hoaaam," mata jernih itu akhirnya sepenuhnya terbuka. Perutnya terasa sangat lapar sekali, serasa sudah berhari-hari tak mendapat asupan.
Mario melirik kepada 3 orang yang sedang berjaga di sekitarnya. Walaupun masih dilanda bingung, tapi untuk saat ini perutnya lebih penting demi keselamatan dan kesejahteraan rakyat 'negara api' di perutnya.
Banyak cacing-cacing yang harus Ia selamatkan sebelum mereka berdemo besar-besaran untuk menggulingkan Mario sebagai raja dan penguasaan 'negara api' mereka.
"Keributan apa di luar?" tanya Mario.
"Ampun Yang Mulia Putra Mahkota. Hamba Izin menjawab. Di luar ada Yang Mulia Pangeran Bacillius dan Princess Lusila ada di depan," lapornya mantap.
__ADS_1
Bacillius?
Lusila?
HAH?
Bukankah mereka ...?
Tak mungkin. Mungkin nama mereka saja yang kebetulan sama. Mario meyakinkan dirinya bahwa Bacillius dan Lusila yang mereka maksud bukan Bacillius dan Lusila anak dari Kaisar Marcus Aurelius selaku ayah dari tokoh utama novel yang dibacanya, yaitu Commodus.
"Ambilkan aku makanan," perintah Mario selanjutnya.
Salah satu dari mereka bergegas keluar dan memanggil dayang untuk menyiapkan makanan untuk Yang Mulia Putra Mahkota. Walaupun merasa aneh dan sedikit membingungkan, kenapa mulutnya bisa spontan berbicara bahasa Alien yang bisa dimengerti oleh mereka semua? itu bukan kendali mulut Mario, tapi hanya reflek saja tiba-tiba dari otak hingga turun ke mulut dengan mudahnya.
Heumm ... setidaknya Ia bisa beruntung, karena bisa meminta sesuap nasi untuk mengisi perut kosongnya sementara waktu.
Tak berapa lama, laki-laki berpakaian besi masuk ke kamar dan membawa dayang-dayang ikut serta dengannya. Ada banyak makanan dan hidangan yang cukup menggugah selera.
Wanginya banget, rasanya pun delicious. Dan tampak tak mengecewakan sekali, Mario pun tersenyum cerah bersiap-siap untuk mencomot seluruh masakan dan makanan enak di depannya.
Seketika Ia tak ingat lagi apa-apa, Ia hanya fokus dengan makanannya. Prinsipnya : "Apapun yang yang terjadi, makan harus tetap menjadi priority."
Orang-orang yang masih berada di dalam sana, menatap heran Putra Mahkota yang sedang asing mencomot seluruh makanan dengan perantara langsung tangan kanannya. Bahkan Mario nampak tak jijik sedikit
Dan lihatlah, putra mahkota kita yang satu ini mungkin karena saking laparnya, Ia bahkan tak mengindahkan perkataan pengawal dan dayang yang mengingatkan jika hal itu tak seperti bangsawan
Ia tak peduli, toh yang merasakan dan menghadapi kenyataan hanyalah dirinya bukan? sekalipun Ia cerita, mereka tak akan terlalu peduli karena pada dasarnya mereka hanya sekedar ingin tau saja.
-TBC-
Thanks guys πππahh
Lessi udah double up yah, thanks buat dukungan sama support kalian. Sayang kalian banyak-banyak
__ADS_1