The Changing -Kisah Yang Hilang-

The Changing -Kisah Yang Hilang-
Why not?


__ADS_3

Yeyyyy udah Up sampe chapter 25.


Happy reading guys 🥳😉


“IBUNDAAA … IBUNDA SUKA MANGGA NGGA?? MAU AKU PETIKIN SEKALIAN?!” teriak Galelinos yang sontak membuat seluruh prajurit mendadak lemas tak berdaya karena mereka sudah tau apa yang akan terjadi setelah ini.


“GALILENOOOOO FRANSISKO!!!!!!!” teriak Queen yang murka melihat putra nya yang bergelayutan seperti monyet di atas pohon manga.


Galelino yang melihat kemarahan sang Ibunda malah teriak menyahuti, “IYAAA BUNDA!! AKU DISINI!."


Queen menarik nafas berat dan menghembuskannya perlahan, entah sejak kapan anaknya se bar-bar ini bahkan Ia pun tak tahu.


“Galee, come on Boy turun kesini,” bujuk Queen.


“Mau metik manga dulu Bund buat jualan,” jawabnya asal.


“Jualan? Untuk apa kau jualan Galee? Apakah kau sudah mendadak bangkrut?” tanya Queen bingung.


“Kan sayang Bund, kallo mubadzir,” sahut Galelino lagi.


“Ngga ada sayang-sayangan!! AYO TURUN!! Kita akan segera berangkat ke Roma sore ini,” tukas Queen tegas dan tak terbantahkan.


“Bentar Bund, nanggung ini!” celetuknya dengan keras kepala.


“Yohaness!!! KENAPA KAU DIAM SAJA?! suruh prajurit bodoh mu itu menarik turun putraku dan segera tebang pepohonan sekitar istana yang bisa dipanjat oleh putraku!!” titah Queen yang membuat semua orang disana melongo.


Bayangkan saja, pohon mangga yang tingginya 8m seperti itu saja bisa dipanjat oleh Galelino, bagaimana dengan pohon lain yang rata-rata tingginya emang sepantaran itu?


Lagipun Galelino sendiri bukan anak-anak ataupun remaja yang sulit memanjat pohon tapi lelaki dewasa!! Catat baik-baik ‘KING ITU LAKI-LAKI 21 TAHUN!!’


Apa Queen berencana membuat lingkungan istana menjadi gersang dan tanpa pepohonan sedikitpun? Entahlah. Sultan mah bebas.


“Malah ngelamun!” Queen menoyor kepala Yohannes yang melamun seperti orang bodoh.


“Cepat bawa dia turun!” geram Queen yang melihat kelemotan sekretaris pribadi putranya itu.


“Ba-baik YA Mulia Ibunda Queen.” Yohanness bergerak gesit dan meneriaki prajuritnya untuk segera mengambil tangga dan juga matras guna menurunkan King mudanya itu.


Takut-takut nanti jika ada goresan sedikit saja, kepala mereka yang jadi korbannya,


Galelino tak sedikitpun peduli dengan apa yang sedang terjadi dibawah sana, yang dipikiran dia sekarang hanya ‘cuan, cuan dan cuan’.


‘Heummm sepertinya ini sudah cukup, nanti jika kurang bisa petik lagi disini,’ gumamnya memperhatika keranjang besar berisi manga itu.


“GALEEE!! TURUN KAMU!!”


“Woaa-nnji-iiirr,”

__ADS_1


"aaaaaaaaaaaaaa,"


Bruk


Bruk


Bruk


Bruk


Trak


“Auhhhhhh,” pekik prajurit yang tertimpa dibawah sana.


“Hadeuuhh siapa sih yang teriak-teriak? Kan jadi kaget. Mana Mangga nya pake acara jatuh segala lagi,” celoteh Galee mengamit seluruh buah manga yang masih bisa Ia selamatkan.


Lihatlah, bahkan tak ada rasa bersalahnya sedikitpun karena sudah jatuh menimpa para prajurit yang tadinya berkerumun ingin menaiki tangga menyusulnya keatas sana.


Bahkan ada juga kepalanya yang benjol karena ketiban keranjang manga yang ikutan jatuh.


“Nah kan, ini malah rusak! Ibunda sih, teriak ngasih aba-aba dulu kek, biar Galee kaga kaget gitu loh,” omelnya menyalahkan Ibunda Queen Karena tak sedikit dari buah yang telah dipetiknya jatuh mengenaskan ditanah.


Queen menggeleng tak habis pikir melihat putranya yang mendumel dan mengomelinya seperti itu, seperti manusia tak sekolah tata Krama saja.


“KING!! Kau tak punya tata Krama atau gimana? Apa pantas sikap seorang raja begitu? Kamu baru naik tahta satu tahun loh Galee, tapi kenapa sikap kamu berubah drastis seperti ini?” murka Queen yang hampir berputus asa melihat kelakuan putranya akhir-akhir ini.


Seingatnya sebelum ini putranya tak begini.


“Sudahlah, kita akan berangkat ke Kerajaan Roma Sore ini. Segeralah bersih-bersih nanti Yohaness yang akan mengemasi keperluanmu untuk selama disana. Dan untuk hukuman mu, akan kau terima setelah pulang dari sana!” ketus Queen yang lantas meninggalkan mereka begitu saja.


“Ck, bacot lo semua. Lagian kalian itu siapa sih? Nyuruh-nyuruh gue sokap banget kalian tuh! Ini lagi sebenarnya gue lagi dimana elaahhh!!” teriaknya frustasi menarik kasar rambutnya.


Yohannes dan prajurit yang badan mereka terasa remuk karena kecelakaan barusan, mengernyit tak mengerti perkataan Ya Mulia King muda mereka.


Terdengar aneh dan menggelikan.


“Oyyy siapapun tolong gue!! Gue kaga mau disini, gue mau balik ke dunia asli gue, gue kangen sahabat gue euyy. Hadeuhhh jadi kangen si Mario kan? Mana gue belom pamit ke die sebelum nyasar kesini lagi,” dumelnya dengan wajah yang tampak menyedihkan.


“Sebenarnya kenapa sih gue bisa nyasar kesini? Seinget gue, gue kaga mati tuh kek di nopel-nopel transmigrasi yang mati dulu terus arwahnya nyasar. Gue kaga kaya gitu,” celotehnya tak berkesudahan.


“udah ahh. Pusing. Nanti gue pikirin lagi dehh kenapa pula gue bisa nyasar sampe sini!"


“Ampun Ya Mulia King muda, mari kita kembali ke kediaman untuk bersiap-siap sesuai dengan perintah Queen,” ujar Yohanness memotong dumelan Galee,


Galee hanya mendengus kesal dan berjalan mendahului Yohanness dan para prajurit yang mengawal.


****

__ADS_1


“Jadi, apakah benar yang dikatakan Bacilius jika kau ingin mengambil alih tugas mu lagi Putra Mahkota?” tanya Caesar sesaat setelah keheningan melanda di ruang kerja Caesar.


“Benar Ya Mulia Caesar,” jawab Mario tanpa ragu.


“Tapi kenapa tiba-tiba?” sela Bacillius tak terima.


“Kenapa?” tanya Mario menaikkan satu alisnya heran.


“Apa kau keberatan jika aku mengambil alih hak ku sebagai


Putra Mahkota? apa yang kau harapkan? Jabatan yang sama sepertiku? Berharap menjadi pengganti ku heh?” imbuh Mario mengejek.


Sontak wajah Bacillius langsung memerah menahan amarah. Lihatlah wajah mengejek Mario itu benar-benar membuatnya jengkel setengah hidup.


Wkwkwk setengah hidup ngga tuh.


“Kauu--,” tunjuk Bacilius tepat diwajah Mario.


“Sudah-sudah. Kita disini untuk diskusi bukan malah jadi bertengkar begini,” ujar Caesar jengah.


Ia memusatkan pandangannya pada Putra Mahkota, jelas sekali ekspresi enggan begitu kentara diwajahnya.


“Sejak kapan kau mulai waras?” sarkasnya iba-tiba.


Mario tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari ayah sang pemilik tubuh ini. Apa sebegitu bencikah dia pada anak kandungnya sendiri? Apakan Ia masih berspekulasi bahwa yang membunuh istrinya adalah Commodus?


Bodoh. Satu kata yang paling cocok untuk mengukur kebolehan otak, analisis dari seorang Caesar itu.


Bagaimana mungkin seorang anak kecil berusia 5 tahun bisa difitnah sekejam itu?


“Apa pedulimu?” sahut Mario tak kalah sinis,


Ia sangat membenci spesies manusia sombong, arogan dan tentunya bodoh seperti Caesar ini.


Apa yang membuatnya begitu teramat yakin bahwa Commoduslah dalang dari pembunuhan istrinya.


Cih bedebah pengecut. Yang hanya mendengarkan tanpa mau mencari tahu lebih lanjut. Apa itu yang dinamakan cinta? Cinta apa? cinta kampret?


“Bukankah dulu Kau yang menyerahkannya pada bacillius?” ejek Caesar lagi.


“Kemana saja kau saat itu? pengecut kecil!” imbuhnya lagi.


Tak ada guratan kemarahan yang ditunjukkkan Mario, Ia hanya tersenyum dingin dan sekaligus miris dengan sikap seorang ayah kandung yang memperlakukan anaknya begitu.


“Anggap saja saat itu saya khilaf,” saut Mario melemparkan senyuman Misterius kearah Bacillius hingga membuatnya mendadak pucat.


“Ka-lau be-begitu kau tak berhak mengambilnya seka-rang!” jawab Bacillius gugup.

__ADS_1


“Why not?” tanya Mario makin terdengar menyebalkan ditelinga Bacillius.


-TBC-


__ADS_2