
Happy reading readers ...
Lessi sayaaang kalean semuaa🌹🌹🌹
“Tapi Ayahanda membenciku Kek,” gumamnya lirih. Wajah remaja itu tampak sendu, sejak Ia menginjakkan kaki disini, Ia bahkan tak pernah menemui Ayahandanya sekalipun.
Commodus sempat memebenci dirinya sendiri dan turut menyalahkan diri sendiri atas kematian Ibunda tercinta.
Anak mana yang menginginkan kematian Ibunda kandungnya? Apalagi ingin membunuhnya.
Rothesay diam tak bergeming, Ia juga mengerti seperti apa perasaan Putra Mahkota tiap kali menyinggung persoalan Istana.
“Tapi kek, ada satu hal yang masih mengganjal dikepaku hingga saat ini,” Imbuh Commodus mentap lekat pada Rothesay.
“Apa?” tanya Rothesay memberikan kesempatan pada Putra Mahkota untuk menanyakan segala sesuatu yang selama ini selalu mengganggu pikirannya.
“Bukankah Kultivitas Ibunda sudah mencapai taham langit tingkat 4? Bagaimana mungkin Ibunda bisa meninggal mendadak seperti itu?” tanya Commodus penasaran.
Ini pertanyaan yang sudah dari lama Ia inginkan jawabannya, Ibundanya adalah seorang permaisuri yang tak bisa diremehkan kekuatannya.
Malah jika Ia mau, kekutannya bahkan bisa menghancurkan satu kerajaan hanya dalam hitungan detik.
“Aku sangat bingung hari itu, saat hari kematian Ibunda. Seperti keseharianku, aku akan mengunjungi kediaman Ibunda terlebih dahulu sebelum memulai pagi indahku.
Namun hari itu langit sangat mendung, suatu hal yang bahkan sangat jarang ditemukan pada musim gugur kala itu.
Aku bergegas ke kediaman Ibunda, perasaanku sudah tak enak bahkan aku sangat khawatir entah kenapa, hatiku mendadal gelisah dan cemas yang tak berkesudahan.
Aku menemukan Ibunda berlumuran darah dengan perut yang ditusuk oleh sebuah belati, dengan nafas tercekat Ibunda meminta padaku untuk mencabut belati itu dan menyimpannya entah untuk apa akupun tak tahu pastinya.
__ADS_1
Keadaan kediaman Ibunda yang tadinya sepi saat aku menginjakkan kaki disana, mendadak saja ramai dan berbondong-bondong orang masuk kesana.
Aku bingung kek, Aku ketakutan saat itu. Aku menggenggam erat tangan ibunda yang bahkan nafasnya sudah tersenggal-senggal dan Ia menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuanku,” curhat Commodus dengan Air mata yang mulai luruh dipipinya.
Commodus tak dappat menyembunyikan kesedihannya, luka ditinggalkan sang Ibunda begitu membekas dihatinya.
Dunianya hancur, kehidupannya sudah tak baik-baik saja saat Ibunda tercinta menghembuskan nafas terakhirnya didepan matanya bahkan dipangkuan kecilnya.
Nafas Commodus tersenggal, isakan akhirnya lolos begitu saja dari mulutnya.
Tangisan yang begitu terdengar menyayat hati. Fedrick yang sedari tadi sudah berdiri di belakan Putra Mahkota bahkan juga tak mampu membendung kesedihannya mendengar Isakan sendu dari bocah remaja itu.
Fedrick tau dan fedrick mengerti apa yang telah dilalui oleh Putra Mahkota, Ia yang selalu berdiri tegak disamping putra Mahkota saat masa-masa terkelam dalam kehidupan Putra Mahkota.
“Kenapa Kek? Hiks … Kenapa Ibunda harus hiks … meninggalkanku secepat itu? hiks … Apa salahku ke Zeus hingga Ia merenggut nyawa wanita yang teramat berharga bagiku? Hiks ..,” Keluh Commodus lirih.
Rothesay tersenyum tipis memandang lekat wajah dari putra laki-laki seorang wanita yang terkenal akan kebijksanaan dan kedermawanannya sepuluh tahun yang lalu.
Remaja tegar dan tangguh. Itulah kata yang dapat menggambarkan karakter Commodus saat ini.
"Nak tahukah kamu, tak ada yang benar-benar adil di dunia ini. Setiap hal memiliki garis takdirnya sendiri tanpa bisa di ubah atau dihindari barang sedikitpun.
Kau tumbuh dan berdiri disini adalah jalan takdir yang sedang kau perankan, kau tak dapat mengubah garis takdir tapi kau bisa mengendalikan ataupun mengontrol dirimu sendiri bagaimana baiknya bersikap.
Kau adalah tokoh utama di ceritamu sendiri yang lain hanyalah figuran, begitu juga kehidupan orang lain, mereka adalah tokoh utama dalam kisah masing-masing," jelas Rothersay.
"Kelahiran mu adalah cahaya masa depan dan juga titik terang untuk kebangkitan peradaban kerajaan yang makin gersang dan melampaui batas,
Kau lihat bukan? Begitu banyak oknum-oknum yang menindas rakyat hingga tak sedikit yang meregang nyawa oleh keserakahan mereka? Apakah tersentuh oleh pihak istana? Tidak bukan? Bahkan pihak istana hanya menerima laporan dan mengunjungi sesekali saja," Imbuh Rothersay.
__ADS_1
"Kau ditakdirkan untukku tumbuh di hutan belantara, keras dan juga menenangkan. Disini kau bisa belajar mana yang benar dan mana yang salah. Hingga kau hendaknya lebih bijaksana dalam bertindak dan mengambil keputusan suatu hari nanti, saat beban itu telah dilimpahkan dipundakmu." Rothersay menghela nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan.
"Tapi kenapa hiks ... Harus Ibunda yang pergi Kek? Hiks ... Hiks ... Apakah aku memang pembawa sial seperti yang ayahanda katakan?" tutur Commodus putus asa.
Rothersay membuang muka dari Commodus, hatinya begitu tercubit mendengar keluhan remaja malang itu.
"Ibundamu? Permaisuri yang begitu sempurna bahkan sangat terkenal sepanjang sejarah kerajaan Romawi ini nak. Wanita tangguh yang amat lembut dan bijaksana bahkan semua rakyat menyayanginya." Pikiran Rothersay berkelana mengenang betapa sempurnanya sosok Permaisuri terdahulu.
"Meskipun begitu, semakin banyak orang yang baik dan menyayangimu maka semakin banyak pula orang yang iri dan membencimu nak. Semakin tinggi suatu pohon, maka semakin tinggi pula angin yang akan menerjang.
Politik Harem begitu kejam Nak, banyak orang-orang yang tak suka dengan kebijaksanaan Permaisuri karena mereka tak bisa mengambil keuntungan sesuka mereka lagi. Sebanyak-banyaknya orang menginginkan beliau berumur panjang akan semakin banyak pula orang yang menginginkan kematiannya.
Ibundamu tahu persis itu. Tapi Ia dengan begitu gagah dan berani menumpas oknum-oknum yang selalu menyusahkan dan juga merugikan masyarakat hingga Ia menuai banyak kontra dari orang-orang berhati iri dan dengki. Itu adalah resiko dari kebijakan yang telah dilakukannya," papar Rothersay.
"Tapi Kek, bukankah Ayahanda tak pernah melepaskan pengawasannya terhadap ibunda karena rasa cintanya yang begitu dalam?" tanya Commodus yang makin bingung karena semakin banyak saja yang ganjal menurutnya.
"Aku yakin kau sangat paham dan mengerti dengan pepatah 'Menggunting dalam lipatan' Apakah yang menggunting itu dapat dilihat secara gamblang? tidak bukan? itulah sejatinya, musuh itu datang dari berbagai Arah nak, bahkan orang yang paling kita percaya sekalipun bisa berbalik berkhianat dan kemudian menjadi musuh kita," jawab Rothersay lagi.
Commodus terdiam sejenak, pikirannya kembali melayang pada hari kematian Ibunya nya, memang banyak sekali keanehan seolah pembunuhan berencana dan sudah tersusun rapi.
Tidak mungkin bukan tak ad seorangpun Prajurit dan juga Dayang saat itu di kediaman permaisuri? Bukankah itu melanggar aturan Keamanan karena sangat berbahaya dan mengancam nyawa permaisuri?
Tapi kenapa hari itu Ibundanya di kediaman hanya sendirian? kemana semua orang? dan kenapa tepat sekali mereka datang saat Ibundanya telah meregang nyawa dipelukannya?
Bahkan juga mereka yang menjadi saksi pada Caesar bahwa Commodus lah yang membunuh permaisuri dan dengan luar biasanya semuanya menjadi bukti bahwa Commodus memanglah pelakunya?
Aneh sekali!!
Fyuuuhhh ... TBC guysss🤣🤣👀👀
__ADS_1