
Hollaaaa guyyss Balek lagi bersama lessi yang cetar membahana ini Yee kanπ, Rindu lessi ngga nih? Mon maap kemaren lessi ngga double up, sekalinya up cuma dikit.
But, tenang masa Bro lessi Balek lagi dong yaaahh, Bersama Mas Mario. Mas Adit udah Balek ke habitat, jadi lessi kasih istirahat dulu Yee kan.
Udah, kita langsung aja. Kuyy mulai. Selamat menikmati readers ππ
...****...
"Siapapun tolong aku," gumamnya putus asa.
Sayup-sayup Ia mendengar keributan, langkah kaki yang makin mendekat. Ia berharap semoga semua akan baik-baik saja.
Dan mata Emerald itu sudah menutup dengan sempurna.
...****...
Perlahan tapi pasti mata Emerald itu terbuka setelah tertutup sekian lama.
"aa--iir," gumamnya pelan tapi masih bisa terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.
Dengan langkah cepat dan cekatan mereka yang berada di ruangan itu memberikan air yang diminta.
Ia bergerak perlahan mengambil posisi duduk bersandar di kepala ranjang dan dengan sigap dibantu oleh dua laki-laki di sampingnya.
"Silahkan di minum Yang Mulia putra mahkota," ujar seseorang yang berdiri sopan di sampingnya.
Sejenak laki-laki yang tengah terbujur lemah di ranjang itu menatap bingung, tapi rasa haus di tenggorokannya sangat mendominasi hingga Ia mengabaikan perkataan barusan.
glek, glek, glek.
Ia meneguk rakus air bening nan tawar plus hambar itu ke tenggorokan yang kering kerontang itu.
'huh ... kenapa ini airnya hambar? apa ini air got kah? kan leo mineral sekarang udah bertebaran dimana-mana, pasti ada manis-manisnya' Pikirnya.
'bacot lu, masih untung dikasih minum malah ngga bersyukur. Emang Lo harus kena karma dulu baru tau rasa' sewot Author.
'Nape sih lu Thor, sibuk ae ngurus hidup orang. Tobat woyyy, urus aja diri Lo sendiri sono, julid amat kek anak tetangga,' -Mario
__ADS_1
'Heh kalo gue ngga ngurusin hidup Lo, terus Lo mau makan pake apa? daun? rumput? apa gimane? gue matiin juga Lo lama-lama. Keke titisan Dajjal ae,'-Author
'Serah, serah, yang waras mah kudu ngalah'-Mario
Akhirnya air itu mengalir lancar di tenggorokannya yang tandus, rasanya satu cangkir kecil ini belum cukup untuk menghilangkan dahaganya.
"Tambah," gumamnya menyodorkan kembali cangkir mini itu.
"Baik Ya Mulia," beberapa gelas kecil teronggok indah dalam loyang yang berkilauan seperti emas, seiras dengan warna cangkir yang digunakan.
Ia menyesap dan meminumnya hingga puas, setelahnya barulah Ia merasa lega tenggorokannya juga sudah terasa lebih basah dan subur dari sebelumnya. Mungkin sudah bisa dijadikan tempat bercocok tan saking suburnya. Canda subur :v
Sejenak Ia memperhatikan orang-orang yang berada di ruangan yang sama dengannya, ada setidaknya 15 orang yang berada di ruangan yang luas itu. Ukuran ruangan ini sangat luas, seluas ruang meeting yang biasanya digunakan perusahaan saat rapat umum audit laporan tahunan.
15 orang itu semuanya laki-laki dengan perawakan sangat tinggi gagah, pakaian yang dilengkapi dengan baju besi melekat indah dan jangan lupakan pedang yang juga tampak menggantung disana.
Menggunakan pelindung kepala hingga tak nampak muka, hanya mata dan mulut saja. Hiasan di kepala mereka pun terlihat aneh sekali, serupa jengger ayam jantan pak Mamat, bapaknya si Adit.
Hanya satu orang yang tampak menggunakan pakaian yang berbeda. Seperti jubah dengan design aneh, ala-ala pakaian kuno kerajaan yang sering Ditonton di pilem-pilem.
"Apa kalian tidak panas menggunakan pakaian serba besi begitu?" tanyanya bergidik ngeri.
Mario yang di tatap bingung juga melemparkan tatapan bingung. Ia baru ingat satu hal.
"WOYY ... INI DIMANA?" peliknya spontan berdiri melompat dari ranjang.
"Aaasshhh ..." perut bagian kanannya terasa sangat ngilu. Ia meraba sumber tempat rasa sakit itu. Darah.
"Berdarah?" gumamnya merosot menahan sakit di perutnya.
Orang-orang yang sedari tadi bingung melihat tingkah atasan mereka, seakan tersadar saat melihat lumuran darah yang mengalir deras di lantai ruangan.
"Panggilkan Galenos*! Cepat!" teriak laki-laki yang menggunakan pakaian berbeda itu.
*note : Galenos (Tabib / dokter)
Beberapa orang berlari sigap ke luar meninggalkan ruangan. Ia dipapah kembali ke ranjang, orang-orang sekitar makin panik melihat darah yang makin merembes ke sprei.
__ADS_1
"Galenos sialan, lama sekali dia," geram laki-laki itu dengan wajah yang makin khawatir melihat kondisi Putra Mahkota.
"Yang Mulia Putra Mahkota, bertahanlah. Galenos akan segera datang," ujarnya tak bisa menyembunyikan wajah paniknya.
Laki-laki itu menggeram kesal dan mengusap wajahnya kasar. Lama sekali Galenos itu, Ia bahkan berjanji akan memenggal kepala Galenos itu jika terjadi apa-apa pada Majikannya.
"Salam Ya Mulia Putra Mahkota, Salam Sekretaris Agung," ujar seorang laki-laki paruh baya saat memasuki ruangan itu.
"lama sekali kau Galenos! Cepat kau obati Yang Mulia Putra Ma atau ku penggal kepala kosongmu itu!" bentakan itu mengalun keras memekakkan telinga.
Mario, lelaki yang masih dilanda bingung plus rasa sakit dan ngilu di perutnya hanya membiarkan saja kebisingan itu, jujur saja Ia juga ingin marah karena laki-laki aneh itu teriak-teriak seenak jidatnya
Tapi apalah daya, badannya terasa makin lemah bahkan darah semakin mengalir dari luka perutnya. Jangankan marah, untuk berbicara kata 'sakit' saja dia sudah tak sanggup rasanya.
"Baik Sekretaris Agung, akan Hamba periksa terlebih dahulu," sahutnya sopan dan melangkah pasti ke arah ranjang.
Galenos dengan sigap membuka perban yang melilit panggung Yang Mulia Putra Mahkota, mengoleskan sesuatu yang entah apa tapi baunya sangat menyengat menghadirkan polusi udara.
Bau herbal yang sangat menyebalkan sekali, hingga membuat Mario pun ingin muntah saking baunya.
Setelahnya rasa dingin hinggap disekitar luka perut Mario, mungkin saja itu semacam salep herbal karena baunya juga sama menyengat nya, hanya saja ini tidak separah yang sebelumnya.
Galenos kembali melilit kain kasa untuk menutupi luka agar lebih cepat dalam proses penyembuhannya. Galenos mengambil sesuatu dari dalam kotak yang tadi dibawanya, mengambil beberapa rempah dan menumbuknya hingga halus dan berbentuk bubuk.
Galenos juga mengeluarkan kendi yang berisi air suci dan dicampur dengan bubuk yang baru saja Ia racik.
"Ini diminum dulu, Yang Mulia Putra Mahkota," Galenos menyodorkan ramuan yang telah ia seduh sesuai takaran.
Mario menatap sekilas ramuan itu, baunya sangat tajam plus tampilannya yang begitu mengerikan. Perut Mario makin melilit, meronta ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
Dengan terpaksa Mario membuka mulut dan meminum cairan menjijikkan itu. Pahit sekali rasanya, bahkan saking pahitnya Ia tak bisa mendeskripsikan cita rasa yang terlalu menggelora di mulutnya.
Sejenak Mario memejamkan matanya, banyak hal yang membingungkan di kepalanya, tapi ingin bertanya pun Ia masih belum bertenaga.
-TBC-
Thanks guys udah baca karya Lessi π₯³π₯³π₯³
__ADS_1
Makasih buat support kalian semua π€οΈ Semoga kalian suka yah, dan jangan lupa tinggalkan jejak okey?π