The Changing -Kisah Yang Hilang-

The Changing -Kisah Yang Hilang-
Another sides


__ADS_3

Hollaa readers Lessi yang Baek, jadi Lessi mau ngucapin makasih banget buat kalian yang selalu support, kasih saran dan kritikan buat lessi.


Selamat menikmati readers. Mohon saran dan kritikannya yah.


... ...


Adit berpikir keras, mempertimbangkan keputusannya. Apakah tak akan mengalami kerugian yang serius jika Ia melakukan hal itu?


Bagaimana kalau Boss nya tau? tapi hasratnya tak bisa ditahan sama sekali, keinginannya melakukan hal itu begitu kuat dan sangat sulit mengendalikannya.


Adit memejamkan matanya sekali lagi, semoga hasrat sialan ini padam atau setidaknya berkurang ‘sedikit’ saja.


Setelah beberapa saat Adit kembali membuka mata. Nihil! rasa itu tak kunjung hilang, bahkan makin bertambah saja.


‘Author sialan,’ rutuk Adit yang sangat kesal dengan Author yang memberikan Ia karakter dan sifat yang sangat sialan ini.


Adit berjalan-jalan pelan ingin mengalihkan perhatiannya sejenak, semakin lama Ia berdiam diri maka hasrat itu semakin memuncak dan Adit tak bisa membiarkan hal itu.


Dengan perasaan gelisah dan hasrat yang tak kunjung hilang dari dalam dirinya, Adit menyerah, Ia akhirnya menuju pantry untuk membuat secangkir kopi.


Pantry terlihat cukup ramai dan yah seperti biasa, dimana ada perkumpulan ibu-ibu disana pasti ada kang ghibah. Seperti kali ini contohnya.


“Iya tau, ternyata Saodah itu pelakor, katanya tuh ya, si lakinya itu pak Jamal pemilik Café yang di depan loh,”


“Hah? Café yang didepan kantor itu?”


“Ho’oh, Café yang didepan noh.”


“Café Glorcary itu bukan sih?”


“Iya itu, tempat langganan pas Arisan Bu Berlian tuh,”


“Iihhh … Ngga nyangka yah, wajah sekarang emang ngga jamin kelakuan,”


“Padahal katanya tuh dia udah pernah nikah loh, dan suaminya juga direbut pelakor,”


“Diihh … Jamet dong,”


“Janda bengek!”


“Tapi sayang banget ngga sih, suaminya direbut pelakor tapi kok sekarang dia jadi pelakor yah?”


“Dasar yah, janda muda jam—“


“Siang Ibu-Ibu,” sapa Adit saat menuju meja pantry.


Disana ada sekitar 3 orang Ibu-Ibu paruh baya dan seorang gadis muda yang ikut meyaksikan dan bergabung dengan live ghibah barusan.


Adit hanya diam-diam tersenyum miring, ada-ada saja kerjaan Ibu-Ibu ini, sempat-sempatnya ghibahin orang di jam kerja seperti, kalau si Boss tau habislah riwayat pekerjaan mereka semua.


“Ehh, ada Pak Adit,” ujar salah satu dari mereka tersenyum kaku sambil melirik satu sama lain.


Yah, Adit cukup terkenal dikantor ini, selain karena dia humble dan mudah bergaul, Adit juga sangat terkenal dengan etos kerja yang baik dan berprestasi.


“Hahaha … iya Mba, maklum siang-siang banyak kerjaan bikin mata ngantuk, jadi pengen ngopi dulu,” sahut Adit tersenyum manis.

__ADS_1


“Wah, iya monggo Pak Adit, kita juga udah selesai ini,” ujar Bu Sari sembari mengaduk minumannya dan berpamitan pergi, diikuti dua ibu-ibu lainnya.


“Lah Mba Dena belum bikin yah?” tanya Adit sembari melirik kearah tangan wanita yang dipanggilnya Mba Dena itu ternyata masih kosong.


“Iya Mas, dibawah masih kosong. Kosong pengen diisi,” ujar Mba Dena sembari tertawa ngakak.


Adit mengerutkan dahinya bingung lalu melirik kebawah, huuuh ternyata stok kopi memang kosong. Tapi kenapa Dena malah ketawa? Ada yang lucu kah? Entahlah Aditpun tak tau.


Adit hanya diam dan meracik coklat di depannya, tak ada kopi, coklatpun jadi bukan?


Dena memandang Adit dengan tatapan rumit, sebenarnya dari pertamakali Adit bekerja disini Dena sudah menaruh rasa padanya, Dena mendekat kearah Adit, Mendekat dan makin dekat, tapi ada yang aneh dan tak normal disini.


Dena makin penasaran dibuatnya, tiba-tiba sekelebat bayangan kejadian tiba-tiba muncul di hadapannya.


Dena terdiam, wajahnya memucat dan langsung beranjak meninggalkan Adit yang masih saja bingung dengan tingkah aneh Dena dan kemudian mengedikkan bahu acuh.


Adit melirik kanan-kiri memperhatikan sesuatu, memastikan keadaan sedang dalam kondisi aman. Pertama-tama Ia mengamankan dokumen yang masih di dalam jas nya, memastikan tak akan terjatuh dan mengganggu kesenangannya nanti.


Adit melangkah menuju lift dengan membawa segelas coklat panas ditangannya, turun ke lobby.


Ting!


Liftpun sampai ditujuan.


Dengan langkah pasti Adit menuju ruangan khusus peralatan kebersihan, Ia melirik jam yang menempel ditangannya.


“Waktu yang tepat,” gumamnya.


Ceklek


“Lah mas Adit,”ujar laki-laki muda itu spontan sat melihat Adit berdiri dibelakangnya.


Ia cukup kaget, karena jarang karyawan yang masuk ke ruangan kebersihan apalagi di jam-jam kerja seperti ini.


“Minum,” suruh Adit menyodorkan cangkir ditangannya.


Pemuda yang ber-name tag “Ade” itu bingung, kentara sekali Ia tak mengerti dengan maksud Adit.


“Minum,” ulang Adit lagi.


“Untuk saya Mas?” tanya Ade ragu.


“Iya, siapa lagi?” jawab Adit ringan.


“Tapi Ma—“


“Sudah jangan banyak bacot, minum aja,” paksa Adit menyerahkan minuman itu yang disambut ragu oleh Ade.


“Minum cepat!” ujar Adit tak sabaran.


“Ba-aaik Mas.” Ade menatap aneh cangkir itu, Ia masih bingung kenapa Adit tiba-tiba dating kesini hanya untuk memberikan Ia minum.


Glug


Glug

__ADS_1


Glug


Akhirnya coklat hangat itu melewati kerongkongan Ade,  tak ada yang aneh, persis rasa coklat, bahkan ini sangat enak.


“Mungkin karena ini coklat mahal,” gumam Ade


Adit diam menyaksikan sambil menunggu.


“Habiskan!” celetuk Adit lagi.


“Baik Mas,” sahutnya semangat, coklat ini benar-benar sangat enak bahkan seumur hidupnya, Ade baru sekali merasakan coklat senikmat ini.


Setelah beberapa menit, gelas itu telah kosong, isi nya telah tandas masuk ke perut Ade. Adit diam, Ade pun diam.


Ade merasa bingung, sekarang Ia harus apa? mencuci gelas nya atau bagaimana? tak mungkin bukan gelas kotor ini dia kembalikan ke Adit?


Adit sedang menunggu sesuatu, menunggu dan terus menunggu.


Dia memperhatikan Ade lamat, Ade yang ditatap seperti itu cukup kikuk hingga mulutnya tak mampu sedikitpun mengeluarkan suara.


‘Lo nungguin apa sih bege?’-Author.


‘ck, diam aja napa, lagi fokus nih,’-Adit.


‘Sok fokus lo, biasanya joga bobrok terus kaga pernah serius,’-Author.


‘BACOT!’-Adit


‘Gajel—‘


Prang


Meong


Meong


Meong


Adit tersenyum puas, wajahnya terlihat sumringah. Ade, laki-laki itu berubah jadi seekor kucing? Bagaimana bisa? Mustahil!


Sial. Author lupa menjelaskan sisi lain Adit.


‘Adit sialan, bikin masalah teroos,’-Author.


‘Mampus! Kerjaan baru buat lo Thor, jelasin siapa gue. Jangan makan gaji buta ae lu, santai-santai mulu kek dipantai,’-Adit.


‘Ga ada akhlak lo Dit,’-Author.


‘Selamat tinggal Thor, gue tinggal dulu. Selamat mengarang bebas buat jelasin jati diri gue, emosi juga gue Lo bully mulu. Anggap aja ini karma buat Lo!’-Adit.


Dengan senyuman yang tercetak amat jelas dan wajah yang makin sumringah, sambal bersiul pelan Adit keluar dari ruangan itu.


Adit merogoh sisi dalam Jas yang dikenakannya, mengambil dokumen yang akan dia siapkan pada si Boss meninggalkan Author dan readers begitu saja tanpa kejelasan.


😳

__ADS_1


__ADS_2