
Setelah drama yang mengerikan kemarin yang berakhir dengan Mario tak sadarkan diri, akhirnya hari ini Ia memutuskan untuk datang lebih pagi ke perusahaan.
Dengan alasan "agar tak bertemu dengan si Boss galak". Rumor semakin cepat menyebar, sekejap mata kejadian kemarin sudah menjadi topik hangat seluruh karyawan.
Mario memastikan penampilannya sekali lagi di depan kaca. Rambut yang disisir klimis, kacamata khusus yang di design sedemikian mungkin agar terlihat seperti kaca mata tebal, dan baju yang rapi masuk kedalam.
'Widihh ... ganteng juga gue, lihat noh gue acak dikit aja nih rambut pasti pesona si Adit bakal lewat,' gumamnya tertawa sinting.
'percuma ganteng kalo tipe Lo batang, Suka batang nih Boss senggol dong,' ledek Author.
'Sialan Lo Thor, gue sleding juga Lo lama-lama,' sungut Mario
Mario menatap lekat pantulan bayangannya di cermin. Beda bahkan sangat beda dari sosoknya yang dulu. Dulu tak akan ada penampilannya yang rapi, sebagai remaja nakal Ia selalu berpenampilan ala-ala Genk motor pada umumnya.
Mata Mario kembali menyendu, ingatannya melayang jauh pada titik balik kehidupannya. Dulu dia adalah badboy yang selalu hidup seenak jidatnya.
Berpenampilan urakan dan kelakuan yang naudzubillah sekali pemirsah. Dulu keluarga Mario termasuk keluarga dengan ekonomi menengah, apa yang Mario inginkan pasti dia dapatkan.
Sebagai anak satu-satunya, orang tua Mario tak pernah mempermasalahkan kelakuan putra mereka, selagi Mario tidak melampaui batas maka bisa di maklumi.
Namun karena sifat iri dan keserakahan manusia, tepat saat di hari ulang tahun Mario yang ke-17, Ia bergegas pulang lebih cepat dari biasanya,
Ia ingin memberikan Surprise yang berkesan bagi kedua orang tuanya sebagai tanda terimakasih bahwa mereka telah melahirkan dan menyayangi Mario dengan cinta dan kasih sayang.
Setiba di rumah bukannya mengejutkan orang tuanya hingga terharu, malah dia yang terkejut melihat kondisi di ruang tamu.
Begitu banyak sosok berbaju hitam di dalam rumahnya, Ia berlari mendekat mendengar raungan sang ibunda yang tengah disayat jari-jarinya.
Tak berbeda jauh dengan keadaan Ayah, Kakek dan Neneknya.
-Flashback on-
"Well ... Well ... Well. Ternyata keponakan kesayangan paman pulang juga,' ejek laki-laki yang mengaku dirinya paman itu.
"Ikat dia!," perintahnya lagi
"Bunda ... Bunda, lepasin Bunda! BUNDAAAAA" tangis Mario pilu. Saat Ia menunjukkan perlawanan, sedetik kemudian Keempat sosok tercintanya menghembuskan nafas terakhir dengan sadisnya.
Seluruh tubuh Mario luruh, hatinya hancur, orang tersayangnya telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Bahkan kepala sang nenek menggelinding ke kaki Mario. Mario sangat syok dan seluruh tulangnya tak berdaya.
"Hajar!"
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
__ADS_1
jleb
Mario akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
"Buang jasadnya ke Sungai Marvelo," Sungai Marvelo terkenal akan kemistisannya, Setiap yang hanyut di sana, konon tak akan yang selamat, begitulah legendanya.
Namun Mario belum ingin mati secepat itu, Ia berjanji untuk tetap hidup. Setengah perjalanan menuju sungai, Ia telah sadarkan diri meskipun rasa sakit sulit Ia tahan,
luka tusukan ini membuatnya lemah namun tetap memikirkan cara untuk menyelamatkan diri dari sini.
Namun hingga di tempat dimana Ia akan dibuang Mario tak kunjung mendapat jalan, memang apa yang bisa ia lakukan dengan badan yang lemah seperti itu?
Sekilas Mario memperhatikan sekitar jembatan sebelum kembali berpura-pura mati. Jembatan itu di design rumit, tak seperti jembatan yang lainnya.
Dan Mario ingat, dia pernah beberapa kali datang kesini bersama teman-temannya.
Dan Ia paham sekarang, ternyata Tuhan masih berbaik hati padanya, sedikit senyuman tipis menghiasi bibirnya
Sesaat setelah badannya melayang, Mario membuka mata dan tersenyum cerah.
Ini adalah jembatan tempat dia latihan tapak putih(sebuah ilmu beladiri kuno yang masih berkembang di wilayah pegunungan) dan Mario tau apa yang harus Ia lakukan.
Setelah kejadian tragis itulah awal mula Mario mengubah seluruh penampilan dan juga Identitasnya.
Ia tak ingin manusia Iblis yang mengaku pamannya itu akan kembali mengincar nyawanya.
Bukan karena dia Ikhlas dengan apa yang telah Iblis itu lakukan pada keluarganya, namun sekarang Ia tak punya kekuatan sebesar itu untuk balas dendam.
Karena seringkali harta memancing sifat dengki orang lain hingga tak segan untuk menghalalkan segala cara untuk meraihnya.
Miris memang
-flashback off-
Tangan Mario terkepal kuat, Ia sungguh tak menyangka orang tersayangnya pergi dengan cara sadis seperti itu.
Tapi Mario sudah berjanji untuk hidup biasa saja seperti sekarang, tak ada dendam yang akan ia wariskan pada anak cucunya kelak, jangan sampai sejarah itu terulang karena kejamnya para penjilat Uang.
Cukup Mario simpan menjadi bagian kelam kehidupannya.
"Yok bisa yok, Cayoo Mario," ujarnya menyemangati diri sendiri.
...*****...
Sembari bersiul pelan, Mario melangkah menuju Lobi perusahaan. Masih sepi ternyata, sesuai prediksi sebelumnya.
"Kenapa kau masih datang ke Perusahaan?" Mario kaget, Aura sekitarnya mendadak dingin dan horor.
Sial, dia lupa jika Boss nya ini selalu datang ke kantor pagi-pagi sekali.
Mario membalik badan kikuk, menyentuh tengkuknya grogi. Ia sedikit sanksi bertemu dengan si Boss sejak surat memalukan kemaren.
__ADS_1
"Kerja Boss," cicitnya pelan.
Bryan berjalan mendekat ke arah Mario, Mario refleks mundur selangkah.
'an**r, si Boss beneran ngga normal apa gimane?' pikirnya.
Bryan mencengkram kerah baju Mario dengan geram, wajahnya memerah karena amarah.
"Mengapa kau masih bekerja disini?" sengitnya dengan penuh penekanan.
Sedangkan Mario makin kikuk dibuatnya. Pikiran-pikiran ngawur berlalu-lalang di kepalanya.
Jangan lupakan orang-orang yang mulai berdatangan di lobby, menganga tak percaya melihat Boss yang terlihat sangat dekat dengan Mario.
Bisik-bisik makin ramai seiring dengan karyawan yang mulai berdatangan.
"KENAPA KAU MASIH BEKERJA, SIALAN!" teriak Bryan mendorong keras Mario hingga menubruk keras dinding di belakangnya.
'pasti si Boss malu kepergok, makanya balik marahin Mario'
'Kasihan yah si Mario jadi korban si Boss'
'Mario yang polos-polos gitu emang Mudah dimanfaatkan yah'
'jangan-jangan tadi si Mario nolak, makanya si Boss murka'*
Bisik-bisik makin riuh terdengar.
Bryan tak mempedulikan bisikan mereka semua, waktu berharganya telah terbuang sia-sia hanya untuk mengurus hal kecil seperti ini.
"Maya, kau tau yang harus kau lakukan bukan?" ujar Bryan tanpa melirik pada sekretaris di belakangnya.
"Iya Boss, siap laksanakan," ujarnya mantap.
Bryan melangkah menuju lift dan meninggalkan orang-orang yang masih menganga.
"Semuanya bubar dan kembali ke ruangan masing-masing," perintah Maya mutlak.
Suasana mulai kondusif kembali, Maya mendekati Mario yang masih Ling-lung tapi juga seperti kesakitan disaat yang bersamaan.
"Sial, sepertinya punggungku cedera," gumam Mario.
"Saudara Mario mari ikut saya," Maya melangkah d diikuti oleh Mario dibelakangnya.
TBC
MAKASIH GUYS BAGI KALIAN YANG UDAH BACA, LIKE, KOMEN AND VOTE KARYA LESSI.
GIMANA PART INI? SEMOGA SUKA YAH. BOSS BRYAN MAKIN ABSURD, DAN BIKIN MERINDING 🤣🤣🤣
KUYY KEPOIN, LAGI KARYA LESSI.
__ADS_1
JUMPA LAGI DI NEXT PART YAH