The Changing -Kisah Yang Hilang-

The Changing -Kisah Yang Hilang-
Chapter 4


__ADS_3

"Silahkan masuk," ujar Maya tepat di ruangan HRD.


Mario yang hanya mengikuti bak anak ayam.


"Miss Maya, silahkan duduk dulu Miss," ujar wanita paruh baya yang ber-name tag "Ayudi" itu.


"Baik terimakasih," jawab Maya cuek.


"Buk Ayudi, tolong jelaskan kenapa karyawan yang telah saya konfirmasi untuk dipecat kemaren masih disini?" tanya Maya dingin.


"Ma-aa-af Miss, sesuai yang Miss jelaskan kemarin saya pikir tak perlu surat tambahan lagi karena dia sudah diberikan surat pemecatan langsung dari Boss," jawab Ayudi sedikit gugup karena aura galak dari Maya.


Mario hanya diam tak menyela, ada rasa lega dan sedih dalam waktu yang bersamaan. Sedih dengan fakta ia telah dipecat namun juga lega karena dugaan si Boss menyukainya itu tidak benar.


Maya menatap tajam kearah Mario. Dengan segenap keberanian akhirnya Mario memberanikan diri untuk bersuara.


"Ma-aa-af kan saya Miss, itu - anu ... surat - anu ... eumm," Mario mengusap tengkuknya bingung.


"Cepat katakan!" tukas Maya tajam.


"Kau tau bukan, kesalahan fatal seperti apa yang kau buat diruangan Boss kemaren? apa kau lupa dan perlu diingatkan lagi?" sarkas Maya menoyor kepala Mario.


Mario mengangkat wajahnya guna menatap lawan bicaranya, namun tatapan tajam Maya membuatnya kembali menciut,


Mario meraih sesuatu dari saku kemejanya, dan mengeluarkan kertas merah jambu yang diterimanya kemarin.


Dengan takut-takut Mario berujar pelan, "Kemarin Boss ngasih surat ini Bu Maya, bukan pemecatan,"


Maya meraih kasar kertas merah jambu itu kemudian berdecih kasar.


"Wanita sialan itu berulah lagi ternyata," geramnya.


"Baiklah ini hanya kesalah pahaman, dan Bu Ayudi segera urus surat pemecatan dia," tunjuk Maya sebelum meninggalkan ruangan HRD meninggalkan Mario yang meratapi nasib kerjaannya.


"Mario Bodoh," gumamnya.


"Baik saudara Mario tunggu sebentar yah, saya menyiapkan bekasnya terlebih dahulu," tambah Ayudi dan Mario hanya mengangguk pasrah.

__ADS_1


******


Di sisi lain ...


"Boss harus kita apakan wanita sialan itu?" tanya Maya setelah menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


"Jangan gegabah, bagaimanapun dia sepupuku. Biarkan saja Dia," jawab Bryan tenang.


Walaupun sebenarnya Bryan cukup terganggu dengan tingkah Bryana yang terobsesi padanya, Ia akan menahan beberapa waktu lagi karena ini bukan waktu yang tepat untuk menggulingkan ayah Bryana.


Maya mengepalkan tangannya kuat, Ia sangat cemburu dengan Boss nya yang membiarkan wanita ular itu mendekatinya.


Maya telah lama memendam rasa pada Boss nya ini, tapi sedikitpun Boss nya itu tak menoleh kepadanya. Sialan memang.


"Baik Boss," Maya segera keluar dari ruangan dengan hati yang terus menggerutu. Bryan melirik sekilas kepergian Maya dengan pandangan rumit.


"Kau wanita baik Maya, tapi kau salah jika menaruh hati padaku. Ini bukan tempatku," gumam Bryan dan kembali fokus pada dokumen di depannya.


****


"biar lebih hemat gimana yah? di ibukota semuanya serba mahal, bisa-bisa ini cuma cukup buat biaya 3 bulan doang. Kalo dalam jangka waktu segitu aku belum dapat kerja gimana?" imbuhnya lagi.


Setelah lama berpikir akhirnya Ia ingat, jika rumah peninggalan kakek neneknya masih ada. Letaknya memang jauh dari pusat kota tapi paling tidak itu bisa dia gunakan sembari melamar pekerjaan.


"Pindah aja deh, kan lumayan bisa ngirit. Untung aja belum bayar kosan yang bulan depan jadi ngga rugi-rugi amatlah," celetuknya tersenyum lebar.


Tok ... Tok ... Tok


Tok ... Tok ... Tok


Tok ... Tok ... Tok


"iya sebentar," jawab Mario kesal mendengar ketokan pintu. Oh ayolah apakah Ia tak bisa hidup tenang?


Ceklek


"Apa sih Dit? ngapain kesini? aku lagi males di ganggu," keluh Mario.

__ADS_1


"Bodo," jawab Adit menerobos masuk dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur milik Mario dan dengan tak tau malunya Ia mencomot cemilan yang bertengger indah di nakas.


Mario memutar matanya jengah, Ia heran kenapa duku Ia mau berteman dengan manusia tak tau malu seperti Adit ini. Ia sangat menyesal rasanya dan ingin nangis aja ngeliat kelakuan si Adit.


"Dit, kok makanan aku kamu ambil sih?" gerutu Mario dan mendudukkan bokongnya di lantai berlapis karpet tipis.


"Dihh .. pelit amat Lo Yo, baru juga dikit gue comot," celetuk Adit.


"Lagian ngapain sih kamu kesini? ganggu aja tau ngga sih, aku tuh mau tidur rebahan menikmati cuti panjang ini," jelas Mario panjang lebar.


"Cuti panjang pala Lo peang, bilang pecat aja genggi juga Lo," ledek Adit.


"Iya intinya itu lah, mau healing kek anak muda-muda jaman sekarang itu loh," sambar Mario nyolot.


"healing pala Lo yang cuma di kasur doang sambil rebahan," sanggah Adit lagi.


"Heh kamu tuh ya emang kaga ngerti deh. Healing tuh ngga cuma soal jalan-jalan doang itu mah namanya Travelling.


Healing tuh segala kegiatan yang bisa bikin otak kita fresh lagi, bisa nyaman, tenang dan proses menetralkan emosi, gitu loh dit," jelas Mario.


"Masa? yang gue liat di tiktok ngga gitu," ujar Adit tak percaya.


"Terserah kamu deh Dit, terserah. Sesuka hatimu," pasrah Mario.


"Oh ya, habis ini Lo mau cari kerja dimana?" Kepo Adit.


"Belum tau sih, cuma buat sementara aku mau pindah ke rumah Kakek-nenek dulu sementara. Itung-itung buat ngirit lah," jawab Mario.


"nenek Lo yang mantan penulis itu bukan sih?" tanya Adit semangat,


Walaupun Adit tak suka baca novel tapi Ia sedikit tau tentang penulis yang bernama pena "Lessi act" karena Ia adalah penulis ternama dimasanya.


Mario mengangguk mantap dan mengambil posisi berbaring di lantai.


"Waahh ... kapan Lo mau pindah? gue ikut nganter yah! gue mau liat rumah peninggalan nya itu secara langsung, gimana sih rumah dari penulis fiksi seperti dia? Apakah disana ada tongkat sihir? ramuan atau bahkan racun-racuna?" ujarnya semangat.


Mario memutar matanya dan bergumam sebelum masuk kedalam mimpinya, "pria gila"

__ADS_1


__ADS_2