The Changing -Kisah Yang Hilang-

The Changing -Kisah Yang Hilang-
Siapa?


__ADS_3

Holaa guys, lessi up lagi yah mohon kritik dan sarannya biar lessi bisa belajar lebih baik lagi. Thanks guys🥳😉


Mario menatap heran kearah Fredrik yang terlihat amat menyebalkan dengan wajah bodohnya itu.


Bukankah Mario hanya bertanya satu hal? kenapa wajah itu sangat tak enak dipandang?


Apa Nick sudah meninggal atau bagaimana? atau mungkin saja Nick adalah saudara Fedrick, dan Fedrick sebagai penggantinya? begitukah? ahhh entahlah. Hanya Fedrick dan Tuhan yang tau.


"kenapa kau memasang wajah bodoh begitu," tukas Mario yang langsung menyadarkan lamunan Fedrick.


Fedrick terlihat gelagapan. Ia masih berfikir, Nick mana yang dimaksud putra mahkota?


"Ampun Ya Mulia Putra mahkota. Nick mana yang anda maksud?" tanyanya memastikan karena Ia tak ingin nanti asal jawab dna berakhir di ruang hukuman, kan mengerikan.


Mario juga sama. Mengerutkan keningnya penasaran, apa benar Nick itu tak ada?


"Sekretaris mungkin," jawab Mario ragu.


Jawaban itu makin membuat Fedrick bingung. Sekretaris siapa? bukankah hanya Ia sekretaris satu-satunya yang mengurus segalanya sejak Putra Mahkota kanak-kanak?


Bahkan dulu saat Kaisar menawarkan Sekretaris tambahan, dia ngotot tak mau. Hal itu yang membuat Fedrick selalu kualahan karena harus mengerjakan dan mengurus segala sesuatu sendirian.


'*Malang sekali nasibmu mas sekretaris, masih jomblo tak? yuk sini bareng Mba Othor' - Author.


'Mon maap, kita cuma temen'-Fedrick


jleb


'nyesek yah bund'-Author*.


.


"Nick, jadi Nick siapa?" tanya Mario lagi.


"Nick siapa?" beo Fedrick yang makin terlihat bodoh saja.


Mario mengumpat dalam hati, sepertinya Nick yang Ia maksud tak ada di dunia nyata, hanya di novel saja. Jika ada pasti tak mungkin jika Fedrick tak mengenalnya.


Mario menghela nafas lelah, menatap Fedrick sejenak.


"keluarlah. Nanti saya akan memanggil kau lagi. Saya igin istirahat," usir Mario halus.


Fedrick yang mendengar hal itu langsung bergerak mantap, DNA mohon undur diri keluar dari ruangan.


...****...


"Hoaaam, woanjir gue ada dimana?" ujarnya menatap kiri kanan, muka belakang.

__ADS_1


Tak ada siapapun. Ruangan kosong nan megah, ranjang mewah besar kokoh.


Wow amazing. Tapi mimpi apa yang seindah ini? jika mimpi begini juga Ia makin rajin buat tidur biar mimpi terus dan ngga bangun-bangun. pikirnya melantur.


"WOYYY,"


*woyyy


woyyy


woyyy*


suara pantulan itu malah membuatnya tertawa ngakak, lihatlah skaing besarnya ruangan ini bahkan suaranya dapat memantul dengan indahnya.


"boleh juga nih," gumamnya terkikik lirih.


"WOYYYY GUE DIMANA," teriaknya lagi.


*naaaaa


naa


naa


na*


Suara langkah kaki terdengar mendekat, dua? tiga? Lima? tidak! itu sangat banyak dengan langkah sembarangan Ia mengambil langkah untuk bersembunyi ditempat yang kira-kira tak bisa dilihat.


...****...


Telah dua Minggu berlalu sejak Mario Ia terbangun di dunia aneh ini, walaupun Ia belum sepenuhnya menerima tapi setidaknya Ia masih bisa sedikit refreshing dan menenangkan pikirannya disini.


Apalagi selama ini dia jarang sekali cuti, lantaran biaya hidup yang tinggi dan Ia harus bekerja banting tulang agar tetap bisa makan dan bernafas


"Salam Ya Mulia Putra Mahkota, matahari sudah terik Ya Mulia, apakah anda tak ingin kembali ke kamar?" tanya salah satu prajurit yang dipercaya Fedrick untuk menjaganya, Keos namanya.


Dua hari Fedrick memimpin pasukan ke perbatasan Utara karena ingin menumpas pemberontakan.


Sejak kejadian Putra Mahkota dikabarkan terluka dan amnesia, makin banyak pemberontakan terjadi di berbagai wilayah. Bahkan beberapa kali Kaisar juga turun untuk ikut dalam misi penumpasan itu.


Tapi meskipun begitu, sampai saat ini Mario belum sama sekali bertemu dengan Kaisar, sepertinya hubungan pemilik tubuh ini dengan sang Ayah tidak terjalin dengan baik.


Mulai dari kasus yang menyebabkan putra mahkota terluka diberhentikan pengusutannya, hingga Kaisar tak pernah sekalipun bertandang ke kediamannya.


Hanya Lusila yang sering kali menjumpainya di paviliun, dan yah seringkali tak diizinkan masuk dengan alasan Putra Mahkota masih terluka dan butuh istirahat yang cukup.


Ternyata alasan itu cukup membantu juga. Galenos bisa Ia andalkan untuk mengusir Lusila, Mario seringkali memanggil Galenos Kediamannya lantaran banyak hal yang harus dia tanyakan.

__ADS_1


Galenos yang selalu mendampinginya itu, adalah salah satu orang yang sudah lama mengabdi pada keluarga kerajaan selain Fedrick.


Pada dasarnya penumpasan itu seharusnya tugas putra mahkota tapi karena kondisi yang tak memungkinkan, maka Fedrick bergerak dengan cepat dan tentu persetujuan dari Ya Mulia Putra mahkota.


Mario berdiri dari duduknya dengan langkah tegap Ia langsung berjalan menuju kediamannya.


Luka diperutnya belum bisa dikatakan sembuh, walaupun sudah cukup kering tapi masih saja perih dan ngilu saat bersamaan.


Mario ngotot pada pendiriannya, tak mau mengonsumsi obat berbau itu, namun Fedrick dengan gaya menyebalkannya selalu memaksanya setiap hari.


Pada akhirnya, Galenos yang pusing melihat perdebatan itu, memutuskan untuk membuat obat baru berupa salep saja yang dapat membantu mengeringkan luka.


Namun tentu saja khasiatnya akan terasa lebih lambat, karena salep pada zaman ini kurang ampuh daripada obat-obatan herbal yang diminum kan.


"Apakah sudah ada kabar dari Fedrick?" tanya Mario sambil berjalan menuju Kediamannya.


"Izin menjawab Putra Mahkota, belum ada kabar dari perbatasan pagi ini," sahut Prajurit yang bernama Keos itu.


"Baiklah, aku akan beristirahat dulu. Dan pastikan tak ada yang boleh masuk kedalam sini siapapun itu!" tegas Mario. Ia cukup tremor dengan kedatangan Lusila yang suka tiba-tiba.


"Baik Ya mulia Putra Mahkota, perintah akan dilaksanakan," sahutnya.


"Hamba Mohon undur diri Ya Mulia,"


"Silahkan," ujar Mario mengangguk pelan.


Kini tinggallah Mario di kamarnya sendiri, eh tidak juga.


"Keluarlah, aku tau kau bersembunyi di dalam sana," ujar Mario santai sembari menatap kesudut ruangannya.


Diam, tak ada yang menyaut pun juga tak ada pergerakan dari ujung sana.


"Keluarlah," imbuh Mario lagi. Ia tau ada yang memata-matai nya kemanapun Ia pergi sejak awal Ia menginjakkan kaki disini.


Awalnya dia diam dan ragu bahkan tak percaya, tapi beberapa hari ini eksistensinya makin terlihat jelas di sekitar Mario. Walaupun Ia tak bisa melihat ataupun mendengar pergerakan itu, tapi Mario dapat merasakannya.


"Keluarlah atau kuseret paksa kau kesini," tukasnya tajam. Kesabaran Mario tipis sekali semenjak disini, Ia menjadi manusia yang bersumbu pendek dan mudah sekali marah.


Bahkan jika dilihat-lihat tak ada lagi Mario yang cupu, penyabar, dan pendiam seperti sebelumnya. Seakan-akan jiwanya juga ikut berubah dengan emosi baru.


Sulit bagi Mario mengontrol emosinya, namun hal itu jarang Ia lampiaskan pada manusia disekitarnya, hanya sering Ia lampiaskan pada benda-benda tak bersalah.


"Dalam hitungan 5 mundur, jika kau tak keluar akan ku lenyapkan kau," sengit Mario


Jeng ... Jeng ... Jeng


Thanks yah guys udah baca karya Lessi 😉

__ADS_1


__ADS_2