
"yaaah bisa aja kan nuklirnya tercampur bahan kimia lainnya. Jangan lupa kalo teknologi Zaman dahulu itu juga keren-keren cuma pengaplikasian dan dimensi bentuknya aja yang berbeda," sahutnya lagi.
"Apa perlu kita selidiki dan pelajari juga perihal ini?" tanya Mario lagi. Walaupun dia memang bukan Alchemist hebat namun sebagai kutu buku dikehidupan sebelumnya cukup banyak membantunya untuk beberapa pengetahuan dasar semacam ini.
"Menurut Lo apa kita bisa? apalagi disini juga ada kekuatan-kekuatan gaib gitu loh. Lo pasti udah tau dong kalo anggota kerajaan dan para bangsawan memiliki sebuah kekuatan yang berasal dari energi Qi itu," ujar Galelino tak yakin dengan usulan Mario, meskipun Ia juga mengakui sahabatnya itu memang berotak cemerlang namun bukankah ada baiknya jika mereka harus survei dan memahami terlebih dahulu situasi disini bagaimana?
__ADS_1
"Gue bukannya ngga yakin dengan kemampuan Lo, semua orang juga tau kali Lo itu berotak cemerlang cuma ngga beruntung aja ketemu sama si Boss sampe-sampe jadi karyawan alias babu tulang suruh. Tapi bukankah kita memahami peran masing-masing terlebih dahulu. Lo tau kan, kita berada ditengah orang-orang asing loh jadi jangan sampe rencana kita malah jadi malapetaka nantinya," lanjut Galelino lagi.
Mario mengangguk paham. Setelah dipikir-pikir benar juga kata Galelino, meskipun mereka tau alur dari cerita ini namun tak menutup kemungkinan jika hal itu justru akan menjadi malapetaka bagi mereka. Akan lebih baik jika mereka bekerja secara halus, pelan tapi pasti. Yaaah bagusnya memang berbeda
"YA MULIA PUTERA MAHKOTA COMMODUS MEMASUKI RUANGAN," teriak seorang Kasim saat Mario menapaki bangunan yang biasa digunakan sebagai aula tempat permusyawaratan para menteri dan juga bangsawan-bangsawan penting.
__ADS_1
Seisi aula yang tadinya sangatlah berisik karena banyaknya percekcokan dan membahas berita-berita miring yang tengah menyebar diluar istana.
Tatapan tajam menyorot seluruh isi aula yang tampak hening, seketika aura disekitar tampak lebih suram dan mengintimidasi. Tak ada satupun yang mampu mengeluarkan suara, aura yang begitu tak mengenakkan membuat suasana sangat canggung dan mencekam.
"Duduklah," ujar Mario tegas setelah Ia menduduki tahtanya. Para bangsawan dan menteri yang tadinya terbengong langsung duduk tanpa banyak kata.
__ADS_1