
Kembali ke Mario,
Mario menarik nafas pelan dan mengehembuskannya lagi, Mario sangat risih dengan Lusila yang memeluk erat tubuhnya,
Mau marah tapi Ia masih terlalu bingung dengan suasana ini semua bahkan Ia masih belum memastikan apakah tubuh yang ditempatinya saat ini adalah Commodus atau bukan!
Meskipun bisa saja Ia menyimpulkan hal itu dengan kedatangan bacillius dan lusila kesini dan memanggilnya dengan sebitan “kakak” bukankah telah cukup menjelaskan?
Tapi tetap saja Mario belum berani menyimpulkan. Tidak! lebih tepatnya masih belum siap menerima kenyataan. Jika saja pemikirannya ini benar, dan Ia tersesat dinunia ini dan berperan menjadi Commodus pula, sungguh menyedihkan hidupnya.
‘semoga ini semua hanya mimpi Tuhan, aku ingin terbangun kembali dari semua mimpi buruk ini” gumam Mario yang merinding memikirkan akhir hidup Commodus, sang tokoh utama novel yang beberapa waktu lalu Ia baca.
Mario berdehem pelan.
“Lusila,” panggilnya pelan.
Lusila yang sedari tadi asik memeluk Mario lantas mendongak, “ Iyaa,” gumamnya kembali mengendus dalam kepelukan Mario.
Mario makin risih dibuatnya, ini benar-benar perasaan yang dirasakan Mario asli. Ia risih bahkan sangat risih sekali.
Diawal tadi, saat pertama Lusila memluknya memang ada hal aneh yang mengalir dialiran darahnya. Mario masih bingung mengartikan hal itu, jadi dia akan mencari tahunya terlebih dahulu.
Mario melepaskan pelan pelukan Lusila, lantas membuat lusila cemberut dengan pipi mengembang, ngambek ternyata.
Wajah yang dibuat imut-imut itu malah membuat ilfeel Mario dan ingin sekali muntah ditempat sekarang juga.
Lusila yang merasa Mario berusaha menghindarinya, kembali menyelundup masuk dan memeluk kembali Mario dengan sangat erat.
Jika bukan karena mengingat ia sekarang sedang tersesat di negri antah berantah ini, mungkin Ia sudah menendang Lusila dari pangkuannya.
Namun Ia harus bersabar dan mencari cara melepaskan pelukan sialan itu.
“Lusila, lepas dudlu yah,” bujuk Mario setengah frutasi kehabisan akal, Ia benci disentuh wanita selain bundanya.
Lusila menggeleng keras kepala. Mario menggeram dan merasa sangat menyesal membiarkan dua bersaudara ini menemuinya. Harusnya dia biarkan saja tadi mereka ribut di depan sana.
Niat hati ingin bertemu Bacilius secara langsung dan berbincang dengannya, ehhh malah ketomplok lintah betina.
__ADS_1
“Lusila, lepas dulu yah,” bujuk Mario lagi makin putus asa, Ia tak suka dipegang dan sentuh sembarangan tapi untuk menyakiti wanita juga bukan gayanya.
“Ngga, ngga mau. Pokoknya Lusila mau disinia aja,” sahutnya manja, mendusel-dusel hidungnya di dada bidang Mario.
Cukup. Mario sudah diambang batas kesabarannya, wanita gila ini jika dibiarkan akan meraba-raba tubuhnya dengan kurang aja.
Meskipun ini raga bukan miliknya, namun Ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh raga aslinya ini.
“Lusila, turunlah. Kakak masih sakit,” tegur Bacilius saat menyaksikan wajah tak nyaman dari kakaknya.
“Ngga mauuu, ngga mau pokonya NGGA!” ujar Lusila nyolot.
Mario mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Bacilius yang awalnya tersenyum puas dengan tingkah manja Lusila pada sang kakak seketika memucat dan bergetar seluruhtubuhnya.
“Lu-lusila, turunlah!” tekan Bacilius denagn wajah takut yang teramat kentara.
Bacilius melirik kearah wajah Mario, Mario menatapnya taja. Aura intimidasi Mario begitu tajam hingga Ia dibuat gugup takut olehnya.
“Lusila turunlah!” desak Bacilius menarik tangan Lusila.
Bacilius yang melihat lusila kembali menuju pangkuan sang kakak melotot kaget, bahkan bola matanya hampir saja meloncat keluar.
Apalagi dengan fakta kakaknya itu tak pernah mengeluarkan taringnya sebelumny, hingga membuat Lusila selalu semena-mena terhadap tubuhnya.
Bacilius menelan ludah kasar, firasatnya mengatakan halini tak akan berakhir baik-baik saja.
“Lepas atau ku penggal kepalamu itu!” tekan Mario dengan nada dingin dan aura intimidasinya.
Lusila yang melihat wajah serius kakak sulungnya itu malah tertawa ngakak seakan-akan itu hanya hiburan belaka.
Hal itu makin membuat Mario naik pitam, wajahnya memerah, garis lehernya tercetak amat kentara.
Basilius perlahan mundur, bulu kuduknya meremang merasakan getaran amarah dari sang kakak yang siap meledak sebentar lagi.
Bacilius merutuki adiknya yang tak bisa membaca situasi, lihatlah padahal wajah Putra Mahkota sudahmemerah memancarkan amarah dan buku tangannyapun terkepat dengan kuta, isyarat akan membunuh siapa saja yang mendekatinya.
__ADS_1
Niat hati ingin memanfaatkan Lusila, ehh Lusila terlalu kurang pintar untuk menjalankan tujuannya.
“Salam Ya Mulia Putra Mahkota, semoga anda diberkahi umur panjang,” ujar Galenos saat memasuki ruang Putra Mahkota.
Fokus Mario terpecah, Ia menatap laki-laki yang baru memasuki ruangannya, perlahan amarahnya mulai surut.
Diam-diam Bacilius menghela nafas lega. Lain kali Ia akan berterima kasih pada Galenos itu, karena berkatnya adik bodohnya itu bisa selamat dari amukan singa yang selama ini tertidur.
“Pergilah!” perintah Mario menatap Bacilius.
Bacilius yang mengerti kode mata yang dilontarkan Mario lantas menyeret paksa Lusila meninggalkan kediaman Putra Mahkota.
Lusila terus memberontak tak terima, Ia masih ingin bertemu dan bermanjaan dengan kakak sulungnya itu. Ia masih belum puas, tapi Bacilius malah menyeretnya seperti kambing kebon.
***
Sekretaris Agung yang melihat Bacillius dan Lusila keluar dari kediaman Putra mahkota segera masuk kesana dengan khawatir.
“Prajurit sialan, bisa-bisanya mereka mengizinkan orang masuk ke kediaman putra mahkota saat putra mahkota terluka,” decih Sekretaris Agung yang langsung bergerak menemui para prajurit yang berjaga disekitar kediaman putra mahkota.
Namun sebelum itu, Ia harus menemui putra mahkota terlebih dahulu dan memastikan dua manusia tadi tak melakukan aneh-aneh didalam sana selama Ia tinggalkan tadi.
Aura mencekam langsung kentara saat Sekretaris Agung mendekat, seluruh prajurit dibuat bungkam. Sorot mata nan tajam itu seperti laser yang menargetkan mereka satu persatu.
Mereka langsung menundukkan kepala tak berani menatap kedatangan Sekretaris Agung, dengan wajah lesu dan takut mereka sudah bisa menebak, apa kira-kira yang akan mereka alami setelah ini.
Mungkin saja Sekretaris Agung tak akan memaafkan mereka lantaran kecerobohan mereka melanggar perintah Sekretaris Agung.
Sedetik kemudian mereka menyesali keputusan mereka tadi yang memberitahu kedatangan Ya mulia Pangeran dan Princess itu, yang membuat Putra Mahkota yang baik hati itu tak tega membiarkan mereka pulang tanpa menemuinya terlebih dahulu.
Tanpa berkata apapun, Ia langsung masuk untuk melihat kondisi putra mahkota.
Saat memasuki ruangan Sekretaris Agung makin cemas melihat Galenos ternyata juga berada didalam sana.
Banyak pertanyaan yang menghantui dikepalanya. Ia menerka-nerka kira-kira kenapa Galenos kembali kesini? Apakah putra mahkota kambuh lagi?
Atau sesuatu kembali terjadi padanya? Atau bahkan ada kemungkinan-kemungkinan terburuk lainnya? Pikir Sekretaris Agung.
__ADS_1
“Salam Putra Mahkota, semoga anda diberkahi umur panjang,” sapa Sekretaris Agung sesaat setelah memasuki ruangan.
🥳🥳🥳 thanks guys