The Changing -Kisah Yang Hilang-

The Changing -Kisah Yang Hilang-
Aku ingin mati saja, Tuhan!


__ADS_3

⚠️ WARNING ⚠️


TYPO BERTEBARAN


happy reading guys ...


Sesaat kemudian bayangan hitam langsung muncul dihadapan Mario sembari menunduk.


Mario yang melihat itu sontak mengerutkan dahinya bingung, tepat seklai tebakannya. Ada yang memata-matai nya selama ini.


"Siapa kau?" tukiknya tajam.


"Dark Vagetoz," gimananya lirih nyaris tak terdengar tapi Mario samar-samar masih bisa mengenali dan mendengar suara itu.


"Dark Vagetoz," beo Mario memikirkan kembali. Rasa-rasanya nama itu tak asing tapi apa?


Di novel kah? atau bagaimana?


"Jawabnya yang jelas bege! Dark Vagetoz teh Saha?" sahut Mario mengeluarkan jurus indo nya.


Laki-laki didepannya ini mengangkat kelapa dan mengeluarkan raut wajah bingung. Ia tak mengerti maksud dari kata asing barusan.


"Kenapa Lo bengong woy! jawab dong," desak Mario yang makin membuat laki-laki didepannya makin bingung.


"Anj*r gue lupa. Maksudnya jawab pertanyaan saya, siapa anda?" ulang Mario lagi.


"Apakah anda melupakan saya tuan?" tanya nya memastikan.


"Jawab aja napa! siapa anda?" tukas Mario yang malas sekali berbelit-belit.


mengapa orang disini tiap ditanya malah balik nanya? apa mereka tidak diajarkan pelajaran tata bahasa yang baik dan benar? jika di tanya maka harusnya itu menjawab bukan malah balik nanya.


Kebiasaan sekali mereka ini. Haruskah Mario yang mengajarkan dan menjadi gurunya langsung? cihhh kaga ada kerjaan sekali.


"Maaf tuan. Saya Alvaro inti dari Dark Vagetoz yang bertugas menjaga anda mulai saat ini," sahutnya memperkenalkan diri.


"Jelaskan!" titah Mario. Enak juga ternyata menjadi Putra Mahkota ini, kalo mau tinggal perintah langsung gass dan bisa dapat apa yang diinginkan.


Tak perlu banyak keringat atau sejenisnya. Cukup perintah-perintah saja sudah cukup.


Laki-laki itu berpikir sejenak, sepertinya kabar bahwa Pitra Mahkota kehilangan sebagian ingatannya itu benar, ini buktinya bahkan tuannya itu tak mengenal nama "Dark Vagetoz" sedikitpun.


"Baik tuan. Dark Vagetoz adalah organisasi bawah tanah yang tuan dirikan saat masih dipengasingan beberapa tahun lalu dan diketuai oleh tuan sendiri.


Tapi saat tuan balik ke istana, tuan mempercayakan Dark Vagetoz pada pengurus inti dan juga tuan menolak mentah-mentah tawaran dari para petinggi untuk memiliki pengawal pribadi dari Dark Vagetoz,

__ADS_1


Dengan alasan tidak mau melibatkan Vagetoz dalam perselisihan politik di istana. Waktu itu semuanya menentang keputusan sepihak itu, namun tuan memaksa untuk harus mengikuti apa yang tuan perintahkan karena tuan lah ketuanya,


mau tak mau yang lain harus mengalah, namun sejak kejadian penusukan itu, para petinggi mengutus saya untuk langsung menjadi panjaga anda kapanpun dan di manapun anda berada,


agar kejadian itu tak kembali terulang," jelasnya lagi


"Sendirian?" tanya Mario memicingkan mata.


"I-iya tuan," ujarnya gelagapan.


"BOHONG!" tukas Mario lagi.


"Kalian bertiga bukan?" tebak Mario, karena Ia merasa ada 6 mata yang selalu mengawasinya saat kemanapun Ia melangkah..


"i-iya tuan," akunya karena tak ada gunanya juga sekarang untuk berbohong jika sudah ketahuan begini.


"Suruh mereka kesini," ucapnya lagi.


Sepersekian detik, 3 bayangan langsung muncul dihadapan Mario.


"Perkenalkan nama kalian," ujarnya..


"Deonard, tuan"


.


Mario berfikir sejenak, hal ini tak ada di novel tapi tak asing di ingatannya. Apakah rasa tak asing ini dari ingatan Commodus yang asli?


Tapi mengapa Commodus tak memberikan sedikitpun ingatan padanya? apa Ia pikir Mario Tuhan yang bisa mengetahui segalanya dengan mudah? dasar menyusahkan!


"Baiklah, Alvaro akan menjaga saya sendirian disini. Kalian berdua kirim bantuan ke daerah perbatasan membantu Fedrick, saya membutuhkan laki-laki itu secepatnya. Pastikan tak ada yang mengetahui identitas kalian selama disana," titah Mario lagi


"Baik tuan," mereka kompak mengangguk patuh.


"pergilah," ujarnya. Sepersekian detik bayangan itu hilang.


Kini tinggallah Mario dan Alvaro, keheningan terjadi sepersekian detik. Mario tengah berpikir banyak hal sedangkan Alvaro masih bingung harus bagaimana.


Tanpa instruksi dari Mario, dia tak bisa bergerak sembarangan bukan? siapa tau Mario ingin dia pergi, bersembunyi atau bahkan ahhh entahlah sulit sekali menebak pikiran orang.


"Apa kau tau kejadian penusukan itu?" selidik Mario penasaran. Ia merasa pasti tragedi itu bukanlah sebuah kecelakaan seperti apa yang dikatakan oleh prajurit.


Beberapa hari lalu, Mario sempat bertanya kepada salah seorang prajurit tentara penyebab luka diperutnya.


Menurut keterangan mereka, luka ini Ia dapat saat latihan berburu di Elbarack (sebuah Padang luas yang di khususkan untuk latihan prajurit dan ksatria istana).

__ADS_1


Mereka mengatakan, luka diperutnya bukanlah luka tusukan pedang atau sejenisnya tapi itu akibat panah yang entah darimana, sejauh ini kesimpulan yang ada panah itu hanya salah sasaran saja.


Kaisar pun membenarkan hal itu, dan menghentikan penyelidikan tentang kasus yang telah mengakibatkan Putra Mahkota terbaring cukup lama.


"Tau tuan," sahutnya yakin.


"Apakah menurutmu ini hanya sebuah kecelakaan atau ini merupakan suatu konspirasi?" Mario berpikir keras menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.


"Dan anehnya lagi luka ini seperti disengaja. aku yakin ini bekas pisau tapi kenapa semua orang Keukeh kalo ini bekas panah? bahkan Galenos tak memberikan keterangan apapun saat aku bertanya," geram Mario lagi


"Apa anda mencurigai seseorang Ya Mulia?" tanya Alvaro membenarkan ucapan Mario, berkemungkinan besar ini tak sesederhana kelihatannya.


"Bodoh," umpat Mario merasa kesal dengan pertanyaan Alvaro.


"gue kan nyasar bege! gimana gue inget! bahkan gue ngga kenal siapa-siapa disini!" teriak Mario frustasi.


Belum sempat Alvaro menanggapi perkataan Mario yang tak Ia mengerti sama sekali, beberapa prajurit mendekat karena mendengar teriakkan Mario tadi.


Bluuushhhh


Alvaro langsung menghilang. Mario merutuki kebodohannya barusan, mengapa pula Ia sampai berteriak hingga menarik perhatian prajurit diluar.


'Ini gara-gara bocah sialan itu," gumamnya memijit kepalanya yang makin terasa sakit dan pusing saja.


"Ampun Ya Mulia Putra Mahkota, kami mendengar teriakkan anda dari luar. Apakah anda baik-baik saja?" tanya salah seorang Drai mereka dengan wajah panik.


Bukan apa-apa, tahu sendiri bukan jika Putra Mahkota kenapa-napa bisa-bisa nyawa mereka melayang ditangan Sekretaris Agung bahkan mungkin Laki-laki itu akan memusnahkan anak keturunan mereka hingga tak bersisa.


Se-menherikan itulah dia.


"Aku tak---,"


"Kak, kakak kenapa? apa luka kakak semakin parah? apa rasanya sakit hingga kakak sampai berteriak begitu keras?" tanya Lusila berurutan dengan satu tarikan nafas.


Entah darimana Ia muncul barusan.


"Lusila khawatir kak," ujarnya dengan linangan air mata di pipi cantiknya dan jangan lupakan jika Ia kini telah memeluk Mario seenak jidatnya.


"Gosh! gue mau mati aja!" batin Mario berteriak frustasi saking kesalnya dengan kejadian hari ini. Sangat-sangat menguras emosi sekali Tuhan.


TBC-


Thanks dukungannya guys🎉🎉


Makasih udah baca yah, jangan lupa Kritik dan sarannya.

__ADS_1


__ADS_2