The Changing -Kisah Yang Hilang-

The Changing -Kisah Yang Hilang-
nai Deskale


__ADS_3

Happy reading guys ...


Keesokan harinya, rencana pengasingan itu tak dapat di tentang ataupun di halangi oleh siapapun. Keputusan pengadilan tinggi sudah bulat ditambah lagi dengan sokongan dari Caesar yang begitu besar.


Caesar yang sudah buta dengan kebenaran dan keadilan tak segan menyiksa dan juga menghina Putra sulungnya sendiri.


Seluruh Selir tampak puas saat melihat wajah babak belur dari Commodus yang belum sadarkan diri saat rombongan pengasingan ingin meninggalkan Istana.


Tak banyak yang ikut untuk mengantarkan sang Putra mahkota yang masih menginjak usia 5 tahun itu harus menanggung seluruh akibat dari kesalahan yang bukan dilakukannya.


Meskipun sempat terjadi percekcokan antara Ibu suri terdahulu dengan Caesar, namun yang namanya Caesar sangat keras kepala dan tak bisa ditentang akhirnya Ibu suri mengalah.


Caesar terdahulu juga tak dapat berbuat banyak, karena Ia pun tahu bagaimana sifat putranya yang tak bisa diganggu gugat keputusannya. Caesar terdahulu bahkan tak dapat memberikan pembelaan pada sidang Putra Mahkota di pengadilan tinggi karena Ia terlambat datang ke istana.


Setelah keputusan Pengadilan tinggi itu final, Caesar terdahulu juga baru saja datang di istana. Ia tak mendapatkan kabar mengenai Putra Mahkota yang diduga terlibat dalam kasus kematian menantu kesayangannya.


Ibu Suri menatap iba pada sang cucu yang bahkan belum sadarkan diri hingga sekarang. Tubuh gempal dan lucu dengan senyuman cerah yang selalu menghiasi bibir mungilnya kini akan meninggalkan istana.


Keceriaan dan kebisingan akan tingkah usilnya yang membuat para dayang dan prajurit kelimpungan kini takkan lagi terdengar di lorong-lorong istana.


"Caesar, cucu kita," gumam Ibu Suri sedih.


Caesar terdahulu memeluk erat tubuh istrinya dan mengusap lembut rambut istri tercintanya. Ia juga sangat sedih kehilangan Cucunya tapi Ia juga tak bisa berbuat banyak, disamping karena itu bukan wewenangnya lagi, aturan istana juga sudah ada.


Sang Putra Mahkota kecil dengan segala keusilannya akan segera meninggalkan istana atas perintah sang Caesar. Penduduk Istana sangat sedih tapi tindakannya membunuh permaisuri juga membuat rakyat sangatlah geram.


Berita kematian Permaisuri makin merebak ketengah masyarakat, banyak hujatan yang ditujukan pada Putra Mahkota lantaran banyak bukti yang mengarah padanya.


Commodus dianggap sebagai anak durhaka dan pembawa sial di Istana, bagaimana tidak Ia telah membunuh Ibu negara yang teramat dicintai rakyatnya.

__ADS_1


Sebanyak apapun Commodus menjelaskan jika Ia tak bersalah, sebanyak itu pula bukti yang datang berturut-turut seolah menguatkan argumen jika Ia memanglah sang pembunuh itu.


Commodus kecil tak mengerti mengapa semua orang menyudutkan nya? Bahkan tak sedikit Para prajurit dan Dayang berbondong-bondong ingin menjadi saksi mata saat peristiwa pembunuhan itu.


Commodus bingung, Ia tak mengerti mengapa semua orang membencinya. Ia kehilangan Ibunda tercintanya, di siksa ayahnya dan juga dibenci rakyat di seluruh penjuru kekaisaran. Tidak hanya itu, bahkan Ia juga harus diasingkan pada usia yang bahkan belum seharusnya dijalaninya.


Kehilangan Permaisuri yang baik, rendah hati dan dermawan membuat mereka buta dengan keadilan hingga turut berbondong-bondong menghakimi Putra Mahkota.


Mata mereka seakan buta bahwasanya, alki-laki yang sedang mereka hakimi dan asingkan dari istana itu adlah anak semata wayang dari Wanita junjungan mereka.


Hari itu, hari dimana Commodus diusir dan diasingkan dalam keadaan yang bahkan belum sadarkan diri dan juga belum bertemu dengan jasad sang ibunda tercinta.


Commodus akhirnya terbuang dengan amat keji dan menancapkan kebencian di hati setiap rakyat.


Commodus di asingkan di Wide Forest wilayah paling menyeramkan di wilayah barat Roma. Hutan yang konon katanya tempat perkumpulan dari para monster spiritual.


Fedrick yang selalu mendampinginya disana, dibawah bimbingan seorang guru yaitu Master Rothesay, seseorang yang menjadi penjaga dan penunggu Wide Forest.


Rothersay yang datang entah dari mana, dan berbaik hati membantu menyembuhkan luka-luka tubuhnya dan jangan lupakan Ia juga menawarkan diri sebagai guru untuk Commodus.


Bertahun-tahun Commodus hilang dari hati masyarakat, Ia hanya dikenal dengan nama yang sudah sangat buruk dan tercemar dimata masyarakat.


Commodus, bertahan ditengah kerasnya hutan. Lihatlah, bahkan Caesar tak sekalipun pernah mengunjungi atau sekedar mengirim utusan untuk sekedar memastikan kehidupannya.


Commodus kecil tumbuh dengan sangat baik, ramah dan baik hati tapi jangan lupakan dibalik wajah sayu dan polosnya itu tersimpan kekuatan yang sangat besar dan juga tak bisa diremehkan.


“Nak kemarilah sebentar,” ujar Rothersay di suatu siang saat Commodus tengah asik berlatih dengan anggota Rothesay.


“nai Daskale*,” ujarCommodus berjalan menuju Rothesay. Rothesay sangatlah menyayangi Commodus bahkan Ia sudah menganggap Commodus sebagai cucunya sendiri.

__ADS_1


(noted : Daskale adalah guru dalam Bahasa Yunani kuno yang masih mahsyur di Zaman Romawi)


“Duduklah disini,” titah Rothesay menepuk pelan tempat duduk disampingnya.


“Tapi Daskale--,” sahut Commodus agak keberatan Karena harus duduk sejajar dengan Rothesay.


Commodus sangatlah menghargai Rothesay, selama hampir 10 tahun Ia berada disini tak sekalipun Ia berniat duduk sejajar dengan Rothesay saking besarnya penghargaan Commodus pada Rothesay.


“Jangan membantah,” tegas Rothesay membuat Commodus mau tak mau harus menjalankan titahnya.


“Baik Deskale,” sahut Commodus pasrah.


“Nak dengarkan kakek tu ini baik-baik.” Rothesay memulai perbincangannya.


Commodus mengangguk patuh mendengarkan.


“Setahun lagi kamu akanmenginjak umur 15 tahun nak, itu tandanya kau tak lama lagi akan kembali ke istana,” Rothesay menjeda sejenak ucapannya.


“Selama hampir 10 tahun kau disini, kau tumbuh dengan sangat baik dan juga memiliki hati yang sangat putih dan tulus,” papar Rothesay.


“tapi kek, kenapa aku harus kembali ke Istana? Aku sudah nyaman disini dan aku ingin bersama kakek saja disini!” sahut Commodus keberatan.


“Ini bukan sebuah pilihan nak, tempatmu memanglah di istana, ini hanyalah tempat singgah sementara agar kau belajar banyak hal terutama keserakahan manusia,


Kau tau nak, Hidup itu sangatlah kejam tak jarang orang-orang yang salah dihukum dengan begitu sadisnya sedangkan orang yang memiliki strategi yang lebih matang dan licik bisa keluar dengan begitu mudahnya,


Lempar batu sembunyi tangan tak lagi menjadi suatu hal yang aneh, karena selagi ada manusia-manusia lemah yang dapat dijadikan kambing hitam maka Ia akan selamat dari hukuman atas perbuatan yang seharyusnya Ia pertanggung jawabkan,” ujar Rothesay lagi.


“Kau tahu bukan Nak? Kehidupan politik di Istana itu sangatlah tidak manusiawi, banyak manusia-manusia yang haus tahta dan harta menghalalkan segala cara untuk memenuhi hasrat dan keinginan serakahnya,

__ADS_1


Tahun depan, kau akan kembali untuk melaksanakan Debut mu nak sekaligus perayaan kembalinya Putra Mahkota yang nantinya akan menjadi penerus kejayaan Kerajaan. Itu bukan sebuah pilihan untukmu namun kau memang dilahirkan untuk itu,”


Bersambung ...


__ADS_2