The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 1 - Zerenian


__ADS_3

Paijo mengusap pergelangan tangan kirinya dengan brutal hingga kulitnya memerah dan rasa panas menggeliat di sana. Matanya tajam, mengamati dengan seksama sebaris angka-angka di dekat nadinya dengan penuh harap.


"Ayo! Hilanglah!"


Tiga belas hari telah berlalu sejak kejadian misterius itu menimpa Paijo. Asap hitam yang entah dari mana asalnya tiba-tiba muncul dan membekap tangan kiri anak laki-laki berusia tujuh belas tahun itu dan mengguratkan sebuah tanda berupa barisan angka berwarna hitam yang terus berubah-ubah.


Semua orang tahu tanda tersebut. Tidak! Bukan hanya tahu, melainkan juga sangat memahami arti dari setiap angka yang telah lama menjadi momok menakutkan di seantero dunia. Angka tersebut terdiri dari delapan angka. Dua angka pertama menunjukan jumlah hari yang tersisa, yang tentu saja awalnya berjumlah empat belas. Sedangkan untuk dua angka kedua hingga keempat menunjukan jam, menit dan detik.


"Dua puluh tiga jam, lima puluh lima menit, tiga puluh detik." Paijo membaca tanda di pergelangan tangannya dengan santai.


Jika ada yang sedang memperhatikan, pasti orang tersebut akan menganggap Paijo gila. Alasannya tentu saja karena ekspresinya yang dipenuhi keceriaan. Sebuah ekspresi yang tidak seharusnya diperlihatkan bagi siapa saja yang telah ditandai mengingat kematian sudah terjadwal untuk mereka.


Kematian! Ya! Itulah yang akan dihadapi setiap pemilik tanda. Untuk sekarang memang hanya satu kata itu yang bisa menggambarkan akhir dari kehidupan mereka. Saat tanda tersebut menunjukkan angka nol di setiap digitnya, mereka akan menghilang dari dunia. Itulah yang terjadi sejak ratusan tahun silam.


"Entah apakah aku harus senang atau khawatir saat melihatmu seperti itu?" sebuah suara yang sangat familiar menarik perhatian Paijo.


Senyum Paijo melebar saat mendapati sesosok gadis seumuran dengannya baru saja duduk di sebelahnya. Namanya Intan Rogomulyojoyo, satu-satunya teman yang tak pernah menilai Paijo dari segi apapun. Seorang gadis cantik dengan kepribadian bak malaikat. Seorang anak dari orang terkaya di dunia.


"Hai." Sapa Paijo ramah. "Kau tidak sendirian kan datang kemari?"


"Tidak. Aku bersama mereka." Intan menelengkan kepala ke arah jalanan yang membelah lahan persawahan.


Di kejauhan, tepatnya di bahu jalan beraspal terparkir sebuah mobil sport putih. Di depan dan belakangnya masing-masing berjajar tiga mobil SUV hitam. Sosok-sosok berjas hitam berdiri di sekitar kuda-kuda besi tersebut. Mereka adalah pengawal pribadi Intan.


Wajar jika Paijo memastikan keberadaan para pengawal pribadi keluarga Rogomulyojoyo apakah ada disekitarnya atau tidak. Alasannya sudah pasti karena keselamatan Intan ada di tangan mereka.


Dahulu Intan pernah pergi menemui Paijo sendirian dan berakhir di rumah sakit dengan kondisi kritis karena ada seorang pembunuh bayaran yang berhasil menyarangkan sebuah belati ke perutnya. Mulai saat itu Paijo tidak pernah lupa untuk memastikan para pengawal pribadi Intan ada sekitarnya.


Sebagai orang tersukses di dunia dan melimpahnya kekayaan yang dimiliki, banyak yang berniat menjatuhkan keluarga Rogomulyojoyo. Entah itu dari pesaing bisnis atau penjahat kelas kakap yang berniat menguasai secuil hartanya. Karena itulah nyawa setiap anggota keluarga Rogomulyajoyo akan selalu terancam. Tak terkecuali Intan.


"Aku yakin kau akan menjadi orang hebat di sana." Tidak ada keraguan dari setiap ucapan Intan. Kata-katanya meluncur mulus dari pangkal tenggorokannya.


Paijo yang sudah sering mendengar celotehan Intan barusan hanya bisa melebarkan senyum dan membalas dengan enteng, "Sepertinya kau tetap mempercayai rumor itu."


Ada sebuah rumor yang menyebut jika orang-orang yang menghilang sebenarnya dipindahkan ke dunia lain oleh kekuatan maha dahsyat dan dipaksa untuk menjalani kehidupan baru di sana. Rumor tersebut memang hanyalah sebuah rumor belaka yang sesungguhnya diucapkan pertama kali oleh seorang penderita gangguan jiwa. Tapi entah kenapa orang-orang lebih memilih hal tersebut sebagai sebuah kebenaran demi memotivasi para penerima tanda dan untuk diri mereka sendiri. Jika dipikir, rumor tersebut memang lebih baik daripada sebuah kata 'kematian'.


"Lebih baik kita berpikiran seperti itu daripada harus meratapi takdir. Iya kan?"

__ADS_1


Walau tersenyum dan ekspresi Intan dipenuhi keceriaan, Paijo sadar jika sosok di sebelahnya itu hanya berpura-pura seolah semuanya memang akan baik-baik saja. Karena tidak ingin merusak suasana, Paijo memilih untuk meladeni pembicaraan tersebut dan bersikap santai.


"Ya. Kau benar. Aku juga berharap di dunia baru tersebut akan mendapatkan kekuatan besar yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun seperti di novel-novel bertema reinkarnasi yang sering kita baca akhir-akhir ini. Atau mungkin aku akan dipindahkan ke dunia fantasi seperti yang ada di game-game VRMMORPG, dan aku akan menjadi yang terkuat di sana. Menjadi satu-satunya penguasa."


"Aku yakin kau bisa menjadi seperti itu di dunia barumu nanti. Kenapa? Karena kau itu jenius."


Paijo bingung harus berkomentar apa. Bagaimanapun juga pernyataan Intan barusan merupakan sebuah pujian yang tidak seharusnya diberikan padanya. Entah dari sisi mana Intan menilai hal tersebut. Jika dari peringkat nilai, Paijo memang lebih baik dari Intan. Tapi Intan akan selalu berada di bawahnya. Dengan kata lain Intan tak kalah jeniusnya dari Paijo. Walau begitu Intan tetap tidak pernah menganggap dirinya sejenius Paijo. Bahkan dia selalu membuat perbandingan antara Paijo dengan Ayahnya, jika mereka dilahirkan di hari yang sama dan berada di tingkat ekonomi yang sama, dapat dipastikan jika Paijo yang akan menjadi orang terkaya di dunia.


Paijo tidak menyangkal sebagian dari pemikiran Intan. Paijo memang terlahir dari keluarga petani. Sejak kecil dirinya memang sudah bergelut dengan yang namanya kemiskinan. Walau selalu berada di tepi jurang kelaparan, Paijo memang anak yang terbilang pandai. Dari SD hingga SMA kelas satu dirinya selalu berada di peringkat pertama di negaranya. Sedangkan di urutan kedua tentu saja Intan.


Alasan Intan tidak pernah menyamakan kejeniusannya dengan Paijo karena sadar jika kehidupan Paijo tidak sebanding dengan dirinya yang kebutuhannya selalu terpenuhi dan dalam tingkatan terbaik. Sedangkan Paijo hanyalah seorang anak dari keluarga yang serba kekurangan. Bahkan sejak masuk SD Paijo harus berjualan apa saja demi membantu keuangan keluarganya karena kedua orang tuanya mulai sakit-sakitan. Bahkan dia terpaksa harus meninggalkan bangku SMA karena kondisi kedua orang tuanya yang semakin memburuk. Paijo harus bekerja lebih keras dari siapapun. Selain merawat kedua orang tuanya, Paijo juga harus menggantikan posisi mereka sebagai seorang petani dan mengolah berhektar-hektar sawah warisan kakeknya.


Saat mengetahui salah satu anak jenius di negaranya akan putus sekolah, dengan cepat pemerintah menawarkan beasiswa pada Paijo. Namun dengan cepat pula Paijo menolaknya. Menurutnya dengan menerima beasiswa tersebut berarti Paijo harus meninggalkan kedua orang tuanya dan tinggal di asrama. Berarti pula itu sama saja dengan membiarkan orang tuanya berkubang pada penderitaan.


Memang benar jika pemerintah berjanji akan merawat orang tua Paijo. Tapi Paijo tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi mengingat tidak semua orang akan bersikap baik pada orang-orang miskin seperti keluarganya. Karena alasan tersebut akhirnya Paijo merelakan masa depan yang sudah dapat dipastikan akan secerah mentari dan lebih memilih merawat orang tuanya yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.


"Jenius! Sepertinya selama kurang dari satu hari ini aku akan setuju denganmu. Akulah manusia terjenius di negeri ini."


"Ya. Sang Jenius yang akan menjadi yang terkuat di dunia lain."


-----@@-----


"Satu menit lagi." kata Paijo santai.


Tidak ada ketakutan yang tergurat di wajah Paijo. Aneh? Tentu saja hal tersebut sangat aneh bagi siapa saja yang melihatnya. Bahkan dapat dipastikan Paijo akan dianggap sebagai pasien rumah sakit jiwa yang melarikan diri karena merasa senang di detik-detik terakhir kehidupannya.


Jika Paijo tahu apa yang dipikirkan orang terhadap dirinya sekarang, remaja berkulit putih itu akan dengan senang hati menanggapi dan membenarkan apa yang ada di otak mereka. Ya. Paijo memang sedang senang. Bukan karena hidupnya akan berakhir, melainkan karena tidak lama lagi akan bertemu dengan orang tuanya yang terlebih dahulu menapaki akhirat. Bagaimanapun juga Paijo merasa sangat kehilangan saat kematian menghampiri kedua orang tuanya.


"Maafkan aku Intan. Aku harus melakukan ini sendiri. Aku tidak ingin kau menyaksikan kematianku."


Paijo sengaja meninggalkan rumah saat dini hari. Dia yakin Intan akan memaksa ikut menemaninya hingga detik-detik terakhir. Dan dugaan Paijo benar. Dia menemukan mobil Intan dan para pengawal pribadinya terparkir agak jauh dari rumahnya. Bahkan beberapa pengawalnya terlihat mengawasi rumah Paijo dari kejauhan. Namun keberuntungan masih memihak Paijo. Dengan mengendap-ngendap dan memanfaatkan kegelapan yang lumayan pekat Paijo berhasil pergi tanpa diketahui siapapun dan kini sedang berdiri di bibir tebing. Di depannya terhampar luasnya lautan.


"Sudah waktunya ya!"


Tanda di pergelangan tangan Paijo telah menunjukkan angka nol di setiap digitnya. Tak berselang lama asap hitam menyeruak keluar dari sana. Sedikit demi sedikit membalut tangan Paijo dan dengan konstan merambat ke seluruh tubuh. Paijo memejamkan mata saat asap tersebut melewati leher dan bersiap menahan rasa sakit seperti yang pernah membekapnya saat pertama kali menerima tanda.


Satu menit berlalu. Dua menit, tiga menit dan menit-menit lainnya juga berlalu begitu saja. Tidak ada rasa sakit sedikitpun yang menikam Paijo. Tidak ada satu perubahan pun yang terasa di dalam dirinya. Paijo mulai merasakan keanehan. Selain tidak ada apapun yang mengusik, dia juga tidak lagi mendengar deburan ombak yang seharusnya menguasai tempat dimana Paijo berada sebelumnya. Hembusan angin juga tidak lagi terasa di sekitarnya, begitu juga dengan siulannya yang kini senyap tak bersuara. Karena penasaran, Paijo membuka mata.

__ADS_1


"Di mana ini?" Paijo terkejut sekaligus bingung dengan apa yang tertangkap oleh kedua matanya.


Dengan perlahan Paijo mengamati sekeliling. Sekarang Paijo berada di sebuah ruangan berbentuk kubus dengan dinding, langit-langit dan lantainya berwarna putih. Tidak ada orang lain di sini selain dirinya. Tidak ada apapun di tempat ini selain sebuah meja yang juga berwarna putih di salah satu sisi ruangan. Di atasnya bertengger sebuah kacamata yang seluruh bagiannya terbuat dari bahan transparan dan sebuah kotak kecil.


"Selamat datang." Tiba-tiba sebuah suara menggema lembut.


Spontan, Paijo berbalik dan mencari keberadaan sosok yang tiba-tiba bersuara. Namun Paijo tidak menemukan siapapun. Hanya dia yang ada di dalam ruangan seperti sebelumnya.


"Siapa kau? Tunjukan dirimu! "


"Mendekatlah ke meja!" Suara tersebut kembali terdengar.


Ekspresi Paijo berubah masam karena merasa diacuhkan. Walau amarah sempat meletup, namun Paijo menahannya. Alasannya tentu saja demi keselamatannya sendiri. Menurutnya di tempat asing seperti ini bukan tempat yang tepat untuk bertingkah seolah memiliki hak bicara. Paijo sadar di sini dia bukan siapa-siapa. Bahkan bisa dibilang dia adalah tahanan yang kehidupannya baru saja dicengkram. Oleh siapa? Tentu saja oleh pemilik suara yang barusan menggema di telinganya. Hal terbaik yang bisa dilakukan sekarang adalah menurut.


"Gunakan kacamata di depanmu!" Perintah suara misterius untuk kedua kalinya saat langkah Paijo berhenti di depan meja.


Tanpa pikir panjang Paijo mengambil benda yang dimaksud suara misterius dan mengenakannya. Tak berselang lama kacamata tersebut seketika menggeliat. Setiap bagiannya melebar hingga membalut seluruh bagian kepala Paijo.


Paijo yang tak pernah menyangka dengan apa yang baru saja terjadi hanya sanggup panik dan mencoba melepas benda di kepalanya. Namun usahanya sia-sia. Jemarinya berulang kali terpeleset di permukaan benda yang kini lebih terlihat seperti topeng transparan.


Berselang satu detik rasa sakit meledak di sekujur kepala remaja itu. Sayatan demi sayatan terasa merobek-robek otaknya. Tusukan demi tusukan menghujam tanpa belas kasihan. Paijo berteriak sekencang yang dia bisa demi menyuarakan dahsyatnya rasa sakit di kepala. Tubuhnya berguling-guling di lantai. Kedua tangannya mencengkram erat kepala seolah berusaha meraih rasa sakit yang terus menggila hingga lebih dari satu menit.


"Penanaman implan berhasil." Suara tersebut kembali terdengar.


Sakit di kepala Paijo perlahan mereda hingga akhirnya sirna sepenuhnya. Tubuh Paijo tergeletak lemas di lantai. Napasnya memburu dan pandangan lesunya tersorot ke langit-langit. Benda yang sebelumnya membekap setiap sudut kepala Paijo perlahan kembali kebentuknya semula. Dengan lemas Paijo meraih kacamata tersebut dan membuangnya ke lantai. Keringat membanjiri wajah Paijo dan membasahi rambutnya.


"Sekarang tempelkan benda yang ada di dalam kotak ke tanda di pergelangan tangan."


Lagi-lagi suara tersebut kembali mengalun. Masih dengan nada memerintah dan tentu saja tak menerima sanggahan apapun. Paijo yang sudah memahaminya sejak awal bergegas berdiri dan kembali mendekati meja dengan sempoyongan. Tangannya juga langsung meraih kotak yang masih bertengger di tempatnya dan membukanya. Sebuah plat berukuran tiga kali empat sentimeter tersimpan di dalamnya. Tanpa ada keraguan dan niat untuk menanyakan apapun, Paijo segera meletakan benda berwarna putih tersebut di atas tanda di pergelangan tangan. Hal tidak terduga kembali terjadi. Plat tersebut seketika menempel di kulit dan melebar hingga membentuk sebuah bentuk menyerupai gelang dengan lebar tiga sentimeter. Kali ini tak terasa sakit sedikitpun.


"Sinkronisasi selesai! Silahkan melewati portal di seberang ruangan. Semoga beruntung, Zerenian!"


"Zerenian? Jadi kau menyebut kami seperti itu ya? Sepertinya ini akan menarik."


Paijo berbalik, menatap tajam sebentuk asap hitam yang terus berputar hingga membentuk sebuah lingkaran. Gerakannya yang konstan membuat asap tersebut terlihat seperti pusaran air. Tanpa dihantui keraguan Paijo mendekati portal dan bersiap memasukinya. Siap untuk menguak semua misteri yang ada di baliknya.


__ADS_1


__ADS_2