
Sebilah pedang satu tangan tingkat normal kini bergelantungan di pinggang Paijo, satu dari beberapa item yang dibagikan pada para Zerenian baru di akhir pengarahan sebelum meninggalkan padang rumput, tentunya selain roti, ramuan penyembuh dan ramuan energi. Ramuan penyembuh hanya berfungsi sebagai obat pertolongan pertama yang berguna untuk menutup luka luar. Sedangkan untuk penyembuhan total, para Zerenian harus pergi ke rumah sakit atau disembuhkan oleh sihir penyembuhan. Lalu untuk ramuan energi tentu saja untuk mengembalikan energi yang digunakan untuk mengaktifkan skill. Item-item tersebut kini tersimpan rapi di ruang penyimpanan dimensi gelang putih.
Paijo merasakan gejolak di perutnya, suara-suara aneh berkumandang tanpa henti di sana. "Sepertinya aku sudah lapar."
Kehidupan miskin Paijo di bumi membuat remaja itu sudah terbiasa menahan lapar, bahkan sering kali menghiraukannya hingga terkadang lupa jika tubuhnya memerlukan asupan makanan. Seperti yang sedang dialami Paijo sekarang. Sebenarnya sejak meninggalkan padang rumput, rasa lapar sudah merongrong Paijo. Tapi karena penasaran dengan Kota Astrois yang menjadi titik awal mula petualangannya, Paijo memutuskan untuk berkeliling terlebih dahulu.
Kota Astrois merupakan satu dari lima puluh kota awal yang menjadi titik awal para Zerenian. Ada seratus lima puluh lima juta lebih Zerenian baru yang disebar di lima puluh kota tersebut dari seratus lima puluh enam ras. Dengan perhitungan kasar ada hampir sembilan ratus ribu makhluk terbunuh di awal pemindahan. Itu berarti pula setiap kota akan dijejali tiga juta lebih Zerenian baru.
Karena rasa lapar yang terus berteriak, Paijo memutuskan untuk istirahat dan mengisi perut. Paijo mengarahkan langkah ke sebuah taman di sebelah rumah sakit. Lalu mencari kursi taman yang kosong dan duduk di sana.
"Aku hanya perlu membayangkannya saja, kan?" Paijo mengingat kembali penjelasan mengenai ruang penyimpanan dimensi.
Setelah menengadahkan tangan kirinya, Paijo membayangkan sebuah roti bulat berwarna coklat dan menyebut nama makanan tersebut di dalam hati. Asap hitam seketika menyeruak keluar dari gelang putih di pergelangan tangan, tepatnya pada area yang sebelumnya ditandai. Dengan cukup cepat asap tersebut bergerak ke telapak tangan dan berkumpul sesaat di sana sebelum kembali terhisap ke dalam gelang, meninggalkan sebentuk roti bulat coklat.
"Wah berhasil!" Paijo kagum dengan pemandangan yang baru tertangkap matanya. Bagaimanapun juga apa yang baru saja dilihatnya tidak pernah ada di bumi dan tidak akan pernah ada yang bisa melakukannya di sana. "Semoga saja rasanya enak."
Tuukk!
"Eh! Ini…" Paijo terkejut saat barisan giginya menyentuh roti. Bukannya terpotong, roti tersebut malah mengeluarkan suara menyerupai ketukan ringan. Sederhananya, roti di tangan Paijo keras. Tapi karena lapar Paijo kembali menggigit, kali ini dengan lebih bertenaga. Namun sekali lagi suara ketukan kembali terdengar.
"Ini makanan atau batu?" Paijo mulai kesal dengan seonggok roti di tangannya. Lalu membentur-benturkannya ke sandaran kursi, saat itu juga suara ketukan kembali mengalun nyaring. "Bagaimana aku bisa makan makanan sekeras ini? Ini gila. Siapa orang yang membuat makanan tidak wajar ini? Apa dia ingin mencelakai orang? Dasar sial!"
Paijo kesal karena apa yang diharapkan sangat jauh dari kata wajar. Semiskin miskinnya di bumi, Paijo tidak pernah memakan makanan seperti yang ada di tangannya sekarang. Seandainya digunakan sebagai senjata lempar, roti di tangannya itu pasti bisa langsung melukai bahkan membunuh hewan liar.
"Bukankah seharusnya dicelupkan ke air dahulu?" kata seseorang. Suaranya perlahan mengeras.
Merasa pertanyaan tersebut ditujukan padanya, Paijo menoleh ke samping. Sekitar sepuluh meter jauhnya terlihat sesosok makhluk dengan tubuh seperti tumpukan batu. Tingginya tidak lebih tinggi dari Paijo, namun tubuhnya besar dan terlihat sangat keras.
"Kau bicara denganku?" Wajah Paijo berubah curiga dan langsung bersikap waspada. Salah satu tangannya perlahan menyentuh gagang pedang di pinggangnya. Wajar jika Paijo mencurigai sosok tersebut mengingat dirinya pernah hampir terbunuh hanya karena hal sepele. Apalagi sosok yang sedang mendekatinya terlihat cukup mengancam dan garang.
__ADS_1
"Hah! Apa-apaan sikapmu itu? Apa aku terlihat seperti penjahat?" protes sosok bertubuh batu. Ekspresinya berubah kecewa dan memutuskan berhenti sekitar tiga meter dari Paijo.
Paijo mengangguk dengan enteng. Sekilas dia mengamati sosok di depannya dari atas hingga bawah dan hanya hal-hal negatif yang memenuhi otaknya saat melihat lebih detail sosok tersebut. "Apa kau golem?" Tanya Paijo spontan mengungkapkan apa yang terlintas di otaknya.
Mendengar pertanyaan Paijo, sosok yang tubuhnya terbalut baju dan celana coklat itu beringsut mendekati Paijo dan berdiri di depannya, kemudian mencondongkan tubuh hingga wajah mereka saling berdekatan. Ekspresinya dipenuhi amarah.
"Apa kau bilang? Aku golem?"
Paijo mengangguk cepat. Keringat menetes di pelipisnya. Sedangkan wajahnya berubah pucat karena takut. Sangat tertekan dengan intimidasi yang sedang dilakukan sosok di depannya.
Setelah satu menit wajah mereka berdekatan dan saling menatap, sosok bertubuh batu kembali berdiri tegak. Dia menghela napas. Gurat amarah di wajahnya perlahan lenyap, berganti pasrah. "Jangan samakan aku dengan monster rendahan tak berotak itu! Dasar sialan!"
"Eh! Kau bukan golem?"
Sosok bertubuh batu menggeleng, kemudian mundur beberapa langkah. "Tentu saja bukan. Entah seperti apa golem yang kau maksud, tapi yang jelas golem di tanah kelahiranku tidak bisa melakukan ini." Sosok tersebut memasang kuda-kuda dan menekuk tangan kirinya seolah sedang memegang perisai di depan tubuh. Dari ujung jari hingga siku, kulit bertekstur batu sosok tersebut melebar secara vertikal. Terus melebar seraya mengeluarkan suara gemeretak hingga terlihat menyerupai perisai. Sedangkan tangan yang lain juga mengalami perubahan. Kepalan tangannya yang cukup besar perubahan menjadi bola duri.
"Wow!" Paijo hanya bisa terkagum-kagum menyaksikan kemampuan sosok di depannya.
Sejauh ingatan Paijo tidak ada golem yang mampu mengubah bagian tubuhnya menjadi sesuatu. Dari berbagai macam game, tubuh golem hanya terbuat dari susunan tumpukan batu besar serta terkadang menguasai salah satu elemen alam. Walau sama-sama terlihat seperti itu, golem yang diingat Paijo di dalam game sangat berbeda dengan sosok di depannya. Tubuh sosok di depannya lebih kecil dan ramping, sedangkan susunan batu di tubuhnya juga berukuran kecil dan berjumlah banyak.
"Dari mana kau mendapatkan skill itu?" Paijo melontarkan pertanyaan dengan penuh antusias.
Dahi dan alis sosok bertubuh batu mengernyit. Pandangannya tajam penuh pemikiran. Seraya kembali berdiri tegak, sosok tersebut mengembalikan bentuk kedua tangannya seperti semula dan balik bertanya, "Skill? Apa kau serius bertanya seperti itu? Ayolah! Kau tidak sedang bercanda, kan?"
Paijo yang mendengar lawan bicaranya balik bertanya menjadi bingung. "Aku tidak bercanda. Ayo! Beritahu aku dimana kau belajar skill itu? Bisakah kau mengantarku kesana?"
Mendengar balasan Paijo yang tidak sesuai dengan perkiraannya, sosok bertubuh batu itu menghela napas pasrah. Lalu duduk di sebelah Paijo dan mengeluarkan sebuah roti dan sebotol air dari penyimpanan dimensinya. "Ini! Siram air ini ke rotimu. Tunggu beberapa saat hingga tekstur rotimu itu melunak." kata sosok bertubuh batu sambil menyodorkan sebotol air ke Paijo.
Tanpa basa basi Paijo mengikuti instruksi sosok di sebelahnya. Setelah beberapa saat disiram air, tekstur roti benar-benar berubah lunak. Paijo memakannya dengan rakus, menjejalkan semua roti ke mulutnya hingga pipinya menggembung.
__ADS_1
"Kenyangnya!" Paijo mengelus perutnya yang kini tak lagi bersuara. "Ngomong-ngomong dari mana kau tahu roti keras ini bisa dilunakan hanya dengan disiram air? Padahal kau bisa memakannya langsung."
"Aku melihat Zerenian dari rasmu memakannya seperti itu. Dan saat melihatmu memakannya dengan bodoh, aku langsung merasa kasihan dan menghampirimu. Jadi sebenarnya kau itu ras macam apa?"
Mendapati kesan serius di pertanyaan terakhir sosok bertubuh batu, ekspresi Paijo ikut berubah serius. Walau hanya pertanyaan sederhana mengenai ras, namun Paijo merasa ada belas kasihan yang hendak disampaikan padanya.
"Manusia! Apa ada yang salah dengan rasku?"
Sosok bertubuh batu tidak langsung menjawab. Dia berusaha memilah kata-kata agar apa yang ingin disampaikan tidak menyinggung Paijo. "Begini! Tapi sebelumnya aku minta maaf. Aku sama sekali tidak berniat untuk menghina atau merendahkan. Tapi menurutku rasmu sangat lemah."
Apa yang diungkapkan sosok bertubuh batu cukup mengejutkan Paijo. Walau cukup menyakitkan saat mendengar pendapat makhluk dari ras lain mengenai lemahnya manusia, Paijo tetap bersikap tenang. Menurutnya lebih baik mendengar alasan sosok tersebut kenapa berpendapat seperti itu.
"Bagaimana bisa? Apa karena...?"
"Entahlah! Karena itu aku bertanya padamu. Tapi setelah bicara denganmu, walau hanya sebentar, alasan kenapa kalian begitu lemah pasti karena rasmu tidak memiliki skill dasar."
"Skill dasar? Memangnya ada yang seperti itu?"
Sosok bertubuh batu tersenyum. Tentunya sebuah senyuman yang dipenuhi keprihatinan. "Dari banyaknya ras yang pernah aku temui, semuanya memiliki skill dasar. Tentu saja setiap ras memiliki skill dasar berbeda. Contohnya seperti yang aku lakukan tadi. Mungkin karena tidak memiliki skill dasar banyak di antara kalian yang terbunuh."
"Terbunuh?"
"Ya. Hari ini saja lebih dari seribu yang terbunuh saat berburu. Sedangkan yang terluka, baik itu ringan maupun berat, hampir mendekati angka sepuluh ribu. Itu hanya di kota ini saja. Maka dari itu ras manusia di cap sebagai ras terlemah dan sangat tidak dihargai oleh ras lainnya. Dan itu sudah berlangsung sejak gelombang pertama Zerenian dipindahkan ke dunia ini."
Paijo mencoba mengingat apa yang dia lihat saat mengelilingi kota. Jika diperhatikan memang banyak manusia yang dipapah di jalanan dengan berbagai macam luka. Bahkan di depan rumah sakit mereka juga terlihat sedang mengantri. Banyak juga di antara mereka yang tubuhnya diperban.
Kenyataan yang sangat menyedihkan. Paijo sebenarnya tidak terlalu peduli dengan sebutan ras terlemah atau dipandang sebelah mata oleh ras lainnya. Namun saat mendengar begitu banyak manusia yang terbunuh dan terluka, kesedihan langsung hinggap dan membuat Paijo tak sanggup berkata apa-apa. Walau semua Zerenian yang mati akan hidup kembali setelah satu tahun waktu dunia Gedhetenan Land, atau sepuluh tahun waktu bumi, tetap saja kematian mereka membuat siapa saja yang mengenalnya akan merasa kehilangan.
Ini adalah kenyataan yang harus diterima. Walau Paijo tidak mengenal mereka, tetap saja mereka satu ras dengannya. Hanya saja kenapa tidak ada yang memperingatkan hal mengerikan ini sejak awal? Kenapa juga tidak ada yang menjelaskan skill dasar pada saat di padang rumput? Ini sama saja mengarahkan ras manusia ke dalam jurang kematian.
__ADS_1