
Hari telah berganti malam. Tubuh Paijo tergeletak lemas di lantai teras rumah Aman. Lebih dari dua belas jam remaja itu tidak sadarkan diri.
"Aku masih hidup?" Paijo heran dengan kondisinya.
Serangan singa listrik bukan serangan abal-abal. Paijo yang menerima serangan tersebut dengan telak sedikitpun tidak mampu menahannya. Hanya dari kenyataan tersebut dapat dipastikan jika serangan sang singa cukup mematikan. Paijo tidak tahu bagaimana bisa selamat dari serangan seperti itu.
Dengan perlahan Paijo mengambil posisi duduk. Lalu mencoba menggerakan tubuhnya dengan hati-hati. Setiap persendian digerakkan dengan perlahan, memastikan apakah ada yang tidak beres dengan struktur tulang dan jaringan di tubuhnya. Dia juga meraba sekujur tubuh untuk memeriksa apakah menderita luka luar atau tidak.
"Tidak ada yang sakit? Aku baik-baik saja?" Paijo mempertanyakan keadaannya sendiri. "Ini aneh. Bagaimana aku bisa tidak terluka?" lanjutnya tidak percaya.
Wajar jika Paijo merasa aneh dengan kondisi tubuhnya. Seharusnya serangan singa listrik membuatnya terluka parah atau bahkan mengantarnya ke akhirat. Tapi kenyataan tidak seperti itu.
Paijo merasakannya sendiri bagaimana serangan singa listrik menghantam tubuhnya dengan dahsyat. Hanya dalam sekejap langsung mencelupkan Paijo ke dalam kolam kesakitan. Tubuhnya mengalami luka bakar hebat. Paijo meyakini hal tersebut karena sesaat sebelum pingsan sempat mencium aroma daging terbakar. Selain itu ada banyak lubang bekas terbakar menghiasi pakaiannya. Dari fakta tersebut seharusnya Paijo sedang terluka parah sekarang.
"Apa guru yang menyembuhkanku?" Paijo teringat pada gurunya. "Sepertinya memang guru yang menyelamatkanku." lanjutnya penuh keyakinan. Paijo berpikir seperti itu karena hanya gurunya yang ada di pertanian saat Paijo dihajar habis-habisan oleh singa listrik.
Paijo menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri yang tiba-tiba tersengat rasa syukur dan lega. Senyumnya merekah lebar karena usahanya untuk menuntut ilmu di Pertanian Aman tidak sia-sia. Paijo merasa apa yang didapat di tempat ini melebihi ekspektasinya sendiri. Siapa yang menyangka Paijo akan berguru pada sosok sehebat Aman?
Banyak alasan yang membuat Paijo merasa beruntung memiliki guru seperti Aman. Walau sedikit kejam dalam memberi pelatihan, Paijo sangat bangga sekaligus hormat pada sosoknya yang ternyata memiliki skill tingkat tinggi. Semua penghuni Gedhetenan Land tahu jika skill Creation merupakan skill legendaris yang sulit untuk dikuasai. Walau semua orang bisa mempelajarinya, namun hanya lima persen saja yang sanggup menguasainya hingga berguna di tengah pertempuran.
Sama halnya dengan skill penyembuhan. Hampir semua orang mempelajari bakat yang berhubungan dengan skill penyembuhan. Alasannya karena dengan mempunyai skill tersebut mereka bisa memberi pertolongan pertama baik itu pada diri sendiri maupun orang lain. Namun hampir sembilan puluh delapan persen hanya sanggup menguasai dasarnya. Hal tersebut dikarenakan skill penyembuhan menuntut kecerdasan tinggi dan pemahaman terhadap anatomi tubuh makhluk hidup. Selain itu dalam penggunaannya akan menguras banyak energi.
Itulah alasannya kenapa Paijo menduga jika gurunya bukan sosok sembarang. Dia yakin Aman merupakan sebuah eksistensi yang telah menorehkan banyak sejarah di Gedhetenan Land.
"Akhirnya kau sadar juga." suara Aman tiba-tiba menggema di tengah kegelapan.
Mendengar suara gurunya berkumandang di telinga, Paijo segera mencari keberadaannya. Kedua mata Paijo memindai seluruh area teras, setiap sudutnya diamati dengan seksama. Begitu juga dengan kursi yang sebelumnya menjadi tempat peraduan sosok dari ras Matandur itu. Namun di sana tidak ada siapa-siapa. Kursi tersebut kosong.
__ADS_1
"Guru, kau ada dimana?" tanya Paijo bingung karena tidak menemukan sosok Aman di teras rumah.
"Aku tidak ada di pertanian. Jadi tidak usah mencariku seperti orang bodoh!" balasnya tegas.
"Eh! Guru tidak ada di sini? Lalu bagaimana suara guru bisa ada di sini? Apa guru berbicara denganku menggunakan skill? Tapi kenapa? Bukankah guru bisa meneleponku?"
"Dasar bodoh! Apa kau pikir telepon bisa digunakan di semua wilayah Gedhetenan Land?" suara Aman meninggi. Ada sedikit amarah yang ikut mengalun di kata-katanya. "Sudahlah! Tidak usah membahas hal tidak penting seperti itu. Lebih baik persiapkan dirimu! Karena aku akan memberimu tugas. Anggap saja ini sebagai latihan tambahan di malam hari." lanjutnya. Nada suara Aman kembali datar.
Mendengar kata latihan, sekujur tubuh Paijo bergetar. Mulutnya spontan menelan ludah, dan keringat dingin membasahi pelipis dan punggungnya. Latihan macam apa yang akan diberikan Aman? Seandainya sama seperti menu latihan sebelumnya, kali ini Paijo akan memberanikan diri untuk menolak dan meminta latihan lain yang lebih ringan.
"Tenang saja! Tidak usah panik dan berpikir macam-macam! Aku tidak akan memberi menu latihan yang sama seperti tadi. Aku yakin kali ini kau akan menyukainya. Kenapa? Karena kau bisa berlatih sambil jalan-jalan menikmati keindahan kota. Bagaimana? Menyenangkan bukan?"
Bukannya tersenyum senang, wajah Paijo malah berubah masam. Paijo tidak mempercayai perkataan gurunya. Apalagi setelah apa yang menimpa Paijo sebelumnya. Paijo semakin yakin jika akan ada hal buruk yang menimpanya setelah mendengar kata-kata gurunya yang meluncur santai dari mulutnya dan tidak terkesan serius sama sekali. Itu yang juga terjadi tadi pagi. Dengan kata lain menu latihan yang akan Paijo jalani akan sama beratnya dengan sebelumnya, atau mungkin jauh lebih kejam.
Karena Paijo tidak juga kunjung bicara, Aman melanjutkan kata-katanya. "Tugasmu hanya mengirim peti-peti yang telah aku siapkan di depan lumbung ke lokasi yang telah aku tandai. Lokasinya sudah aku kirim kepadamu. Ingat! Kau harus menyelesaikannya sebelum matahari terbit! Jika tidak kau akan mendapat menu latihan yang jauh lebih kejam dari sebelumnya. Apa kau mengerti?"
"Bagus! Kalau begitu selamat bersenang-senang."
Walau tubuh masih berpeluh letih, Paijo segera berdiri dan beranjak ke depan lumbung yang masih satu area dengan rumah Aman. Tepat di depan lumbung-lumbung yang berbaris rapi membentuk huruf U, berjajar tumpukan-tumpukan peti yang telah dipisah-pisahkan.
Ada sepuluh peti di setiap tumpukan dan ada dua puluh tumpukan sejauh mata memandang. Melihat jumlahnya yang sangat banyak, Paijo hanya bisa menghela nafas panjang. Sudah tentu apa yang ada di hadapannya bukan menu latihan yang bisa diselesaikan sembari menikmati suasana malam kota. Apalagi peti yang memiliki panjang satu meter di setiap sisinya itu memiliki berat mencapai tiga puluh kilogram. Ini sama saja dengan penyiksaan.
Derita Paijo tidak sampai di situ. Setelah memeriksa setiap lumbung dan area sekitarnya Paijo hanya menemukan sebuah gerobak kayu usang yang bisa digunakan untuk mengangkut peti-peti. Gerobak tersebut memiliki panjang tiga meter dan lebar tidak lebih dari dua meter. Sedangkan di setiap sisi gerobak hanya dihiasi barisan papan kayu setinggi setengah meter, beberapa di antaranya berlubang dan rapuh.
"Ini semakin tidak masuk akal." gerutu Paijo sembari mengamati gerobak dihadapkannya dengan miris. "Sepertinya guru memang ingin menyiksaku." lanjutnya pasrah karena baru menyadari jika sejak tadi tidak menemukan seekor kuda atau hewan lain di sekitar komplek lumbung yang bisa membantunya menarik gerobak. Itu berarti pula jika Paijo yang akan membawa gerobak ke dua puluh tempat berbeda seorang diri.
Dari apa saja yang ditemukan, Paijo menyimpulkan jika menu latihan malamnya berfokus pada kekuatan dan daya tahan. Pertama, Paijo akan berlatih angkat beban dengan memindahkan peti ke atas gerobak. Lalu membawanya ke lokasi yang telah ditentukan dan membongkarnya di sana sebelum kembali lagi ke pertanian dan mengulang prosesnya hingga seluruh peti berhasil dikirim ke dua puluh lokasi berbeda.
__ADS_1
Ini bukan latihan! Melainkan penyiksaan seorang guru terhadap muridnya. Siapa saja yang berada di posisi Paijo Pasti akan berpendapat sama seperti itu. Bahkan mungkin ada yang menganggapnya sebagai perbudakan.
Sekilas Paijo sempat berniat untuk memprotes Aman dan melakukan mogok latihan karena menu yang disodorkan terasa mustahil diselesaikan. Namun hal tersebut Paijo urungkan. Entah kenapa ada sebuah kepercayaan di dalam diri Paijo yang menyatakan jika gurunya memiliki maksud tersembunyi. Tentu saja maksud yang mengarah ke hal positif.
Gedhetenan Land tidak bisa disamakan dengan bumi. Apa yang ada di dunia ini beribu-ribu kali lipat lebih berbahaya dari tanah kelahiran para manusia itu. Paijo menyadari hal tersebut. Jadi memang tidak ada salahnya jika seorang guru yang sudah hidup lebih lama di dunia yang penuh dengan kekerasan dan bahaya melatih muridnya dengan sangat keras.
"Pesan!" kata Paijo di dalam benak, membuka pesan yang dikirim gurunya.
Dalam sekejap muncul barisan kata-kata di depan pandangan Paijo. Lalu dengan pikirannya Paijo membuka satu-satunya pesan masuk yang terpampang di hadapannya. Sebuah peta seketika itu pula muncul. Peta tersebut adalah peta Kota Astrois. Tanda silang berwarna merah terukir di berbagai sudut kota. Tanda itulah yang menjadi tujuan Paijo.
Setelah memuat sepuluh peti pertama ke atas gerobak, Paijo menarik alat beroda empat itu. Kedua tangannya mencengkram kayu yang memang difungsikan sebagai pegangan saat ditarik atau didorong seseorang. Paijo juga tidak lupa melilitkan tali kekang gerobak ke tubuhnya untuk menambah daya tarik ke depan. Sedangkan kakinya mulai mendorong ke depan hingga roda-roda kayunya berputar perlahan, menuju ke titik koordinat gerbang rahasia yang juga ditandai di peta.
"Ke arah sini!" seru Paijo saat berada di percabangan jalan. Langkahnya mengarah ke jalan di sebelah kiri yang berlawanan dengan jalan yang mengarah ke gerbang utama pertanian.
Tidak membutuhkan waktu lama hingga Paijo sampai di titik koordinat pintu rahasia. Paijo berhenti melangkah saat pijakannya hampir mencapai ujung jalan. Sesaat pandangannya terlempar ke kiri dan kanan yang dipenuhi tanaman padi raksasa, lalu beralih ke pagar di depan yang menghalangi jalannya. Pagar tersebut memiliki tinggi empat meter dan tersusun dari tanaman merambat yang saling merajut.
"Apa ini mungkin?" Paijo menaruh curiga pada pagar di depannya. Dia berpikir jika gerbang rahasia yang dimaksud gurunya adalah rajutan tanaman merambat di ujung jalan. Otaknya juga mulai memikirkan sesuatu yang tidak logis, menyimpulkan jika tanaman merambat tersebut akan melepas rajutannya dengan sendirinya saat didekati, sehingga menciptakan jalan yang bisa dilalui.
Sebenarnya Paijo tidak terlalu setuju dengan pemikiran liar otaknya yang sangat tidak masuk akal. Namun setelah mengingat apa yang telah dialami hingga sejauh ini yang tentu saja sangat jauh dari kata logis dan masuk akal, Paijo mulai mempertimbangkan pemikiran liar otaknya. Langkahnya pun kembali terayun. Selangkah demi selangkah semakin mendekati pagar, dan sesuatu yang bisa disebut sebuah keajaiban pun akhirnya terjadi di hadapan Paijo.
Tepat seperti yang terlintas di otak Paijo. Saat kakinya hanya menyisakan ruang kosong sejauh dua meter dari pagar, kumpulan tanaman merambat yang menjadi pagar pembatas pertanian tiba-tiba bergerak. Mereka melepas rajutannya satu sama lain. Saat itu juga gemerisik dedaunan mengalun menyayat kesunyian malam. Suaranya terasa begitu mendominasi dan cukup dramatis.
Seiring bergesernya tanaman merambat ke samping, sebuah lobang muncul dari bagian tengah pagar. Perlahan namun pasti lobang tersebut membesar hingga selebar tiga meter.
Mendapati jalan di depannya telah terbuka, Paijo langsung melanjutkan perjalanan. Sosoknya melewati gerbang rahasia dengan perlahan. Kagum sekaligus takjub menghiasi setiap sudut wajah Paijo. Tidak bisa dipungkiri jika kejadian barusan mulai membuat remaja berambut cepak itu sulit membedakan mana yang wajar dan tidak.
Setelah melewati gerbang, tanaman merambat kembali saling merajut hingga pagar kembali kebentuk semula. Perjuangan Paijo mengelilingi kota pun dimulai. Perjalanan yang dapat dipastikan akan menghabiskan waktu satu malam penuh. Sebuah langkah yang tentu saja bukan untuk menikmati suasana malam kota, atau berjalan-jalan tengah hiruk pikuk orang-orang. Ini adalah menu latihan yang akan mengantar Paijo pada sebuah tahapan baru.
__ADS_1