The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 12 - Absolute Pure Thinker


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu. Hari demi hari terus berganti dengan peluh lelah. Tidak seharipun Paijo mengeluh atas menu latihan yang sangat padat dan menyiksa. Walau berulang kali jatuh pingsan, tapi api semangat untuk menjadi seorang petani terus dikobarkan Paijo di dalam hati.


Aman benar-benar melatih muridnya dengan sangat keras. Mungkin juga bisa dibilang kejam. Sedikitpun tidak ada belas kasihan atau kelonggaran bagi Paijo. Menurutnya selama tidak merugikan, Aman akan dengan senang hati menambah porsi dan kualitas daftar menu latihan buatannya.


Selama satu bulan ini perkembangan Paijo bisa dibilang sangat memuaskan. Latihan lari yang awalnya hanya berlangsung singkat dan jarak yang ditempuh sangat pendek kini dapat diselesaikan dalam beberapa jam saja. Itupun dengan tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi dan komplek, serta dengan jumlah putaran tiga kali lipat dari sebelumnya.


Mengetahui gurunya mempersulit menu latihan lari dengan menambahkan berbagai macam halang rintang di sepanjang jalurnya, Paijo tidak memprotes atau mengeluh. Begitu juga saat gurunya menambahkan tujuh singa lain dengan atribut elemen yang berbeda, yaitu api, angin, air, tanah, cahaya, kegelapan dan racun. Paijo selalu bisa menerima dengan senang hati segala menu latihan yang diberikan padanya karena yakin jika apa yang dilakukan gurunya hanya untuk menjadikannya seorang petani yang tidak biasa-biasa saja.


Sama halnya dengan menu latihan pengiriman peti. Aman juga menambah kesulitannya dengan meningkatkan jumlah peti sebanyak empat kali lipat. Paijo juga tidak memprotesnya walau harus mengirim di tempat yang sama sebanyak dua kali karena gerobak yang selalu menjadi teman seperjalanannya hanya sanggup mengangkut dua puluh peti sekaligus. Itu pun setelah Paijo memodifikasinya.


Proses memang tidak pernah mengecewakan hasil. Perjuangan Paijo yang tidak pernah diiringi keluh kesah perlahan menggugah hati makhluk-makhluk di tempat penampungan. Walau tidak banyak, ada di antara mereka yang dengan sukarela membantu saat Paijo terlihat di kejauhan. Mereka berbondong-bondong ikut mendorong gerobak dan menurunkan semua isinya. Ada juga yang diam-diam mulai memperhitungkan sosok Paijo secara individu.


"Tinggal setengah lagi."


Nafas Paijo terengah-engah. Keringat mengucur deras dari pori-pori kulitnya. Sedangkan tubuhnya menggelepar lemas di depan rumah Aman dengan posisi terlentang. Di sisi kanannya berjajar pot-pot kecil berisi tanaman setinggi satu meter. Sedangkan di sisi lainnya berjajar puluhan pot kosong dan semangkuk biji-bijian sebesar kuku orang dewasa.


Sekarang Paijo di tengah waktu latihannya. Bukan latihan lari yang menjadi menu di pagi hari, maupun pengiriman peti yang menjadi rutinitasnya saat tengah malam. Apa yang sedang dijalani Paijo merupakan latihan tambahan yang diberikan Aman sejak dua minggu lalu. Sebuah menu latihan yang mewajibkan Paijo menumbuhkan tanaman dari biji hingga tumbuh dan memiliki tinggi satu meter. Tentu saja dengan bantuan skill bernama 'Growth Seed'. Skill yang sengaja dipinjamkan Aman pada Paijo. Lalu tujuannya? Hanya Aman yang tahu.


"Sepertinya sudah cukup istirahatnya. Lebih baik aku latihan lagi." kata Paijo dengan penuh semangat.


Sekitar lima menit Paijo membiarkan tubuhnya terkapar di tanah. Lima menit di Gedhetenan Land sama dengan lima puluh menit di bumi. Dengan waktu sebanyak itu sudah cukup bagi Paijo untuk mengembalikan energi di tubuhnya yang habis karena penggunaan skill Growth Seed secara terus menerus.


Walau lelah masih menggelayuti, Paijo memaksa tubuhnya dalam posisi duduk. Lalu mengambil salah satu pot kosong dan membenamkan sebuah biji ke tanah di tengahnya.


"Growth Seed!" ucap Paijo seraya mengarahkan kedua tangannya ke pot.


Cahaya hijau muncul di tangan Paijo. Semakin lama cahaya semakin terang, dan tak berselang lama sebentuk kabut hijau meluncur dari tangan Paijo ke tanah yang menjadi tempat bersemayam sebutir biji. Hanya dalam satu detik sebentuk bibit tanaman menyeruak keluar dari tanah. Secara konstan tumbuh hingga mencapai tinggi sekitar sepuluh sentimeter.


Tanpa jeda istirahat, Paijo kembali menggunakan skill yang sama, dan sebuah keajaiban terjadi. Bibit kembali tumbuh. Batangnya memanjang dan daun-daun muda melebar dengan penuh keanggunan. Setelah tumbuh mencapai ketinggian tertentu dan proses pertumbuhan berhenti, untuk kesekian kalinya Paijo kembali menggunakan skill yang sama, lagi, lagi dan lagi hingga tanaman tumbuh mencapai satu meter, memiliki banyak cabang dan berdaun rimbun. Paijo mengulang proses yang sama satu kali lagi sebelum akhirnya kembali tersungkur ke tanah dalam posisi terlentang. Sepenuhnya istirahat untuk mengembalikan energi yang baru saja terpakai.

__ADS_1


"Ini benar-benar melelahkan. Seandainya salah perhitungan, aku pasti sudah pingsan. Guru, sebenarnya apa tujuanmu memberiku menu latihan seperti ini? Apa latihan ini akan mempengaruhi seberapa hebatnya aku saat menjadi seorang petani? jika memang itu tujuanmu, apapun itu menunya, aku akan menjalaninya, guru. Tapi-- ini sangat melelahkan."


Kehabisan energi itu sama saja dengan pingsan. Semua orang memahami hal tersebut. Termasuk Paijo. Oleh karena itu Paijo tidak memaksakan diri dalam pelatihannya kali ini. Paijo lebih memilih untuk berhati-hati daripada harus kehilangan sesi latihan hanya karena pingsan. Tentu saja hal tersebut akan menjadi sebuah kekonyolan jika benar-benar terjadi.


Paijo tidak menyangka jika niatnya untuk bisa menghasilkan sesuatu yang bisa dimakan dan dijual harus menjalani semua latihan keras ini. Bila dipikir, menu latihan Aman lebih tepat diterapkan pada mereka yang ingin menguasai bakat pertarungan. Apa yang dialami Paijo memang di luar nalar. Namun Paijo tetap pada pendiriannya dan menjalani semuanya dengan sebaik mungkin. Apalagi setelah Aman selalu mengatakan jika petani juga seorang petarung.


Paijo tidak pernah bisa mengomentari pernyataan tersebut. Siapapun yang mendengarnya pasti tidak akan pernah sependapat dengan Aman. Dari manapun menilainya, petani bukan petarung. Petani hanya sosok tidak penting. Sebuah bakat yang sudah dapat dipastikan hanya berguna untuk memproduksi bahan pangan. Bakat yang tidak banyak diminati karena tidak berguna di tengah pertempuran.


Waktu terus berjalan seperti biasanya. Paijo melanjutkan latihannya hingga beberapa jam kemudian. Pot-pot yang sebelumnya kosong kini telah ditumbuhi tanaman setinggi satu meter. Semuanya tertata rapi di depan rumah Aman. Sedangkan Paijo kini tersungkur dalam lelah. Matanya tertutup rapat, terbekap lelah yang teramat sangat. Terlelap dalam buaian malam. Merelakan diri diperbudak mimpi agar dapat menjalankan menu latihan selanjutnya.


...-----@@-----...


Di suatu tempat yang hanya berupa daratan gersang tanpa ada satu tanaman pun tumbuh di sana, sebentuk gajah setinggi dua ratus meter dengan tubuh terbuat dari tanah sedang berjalan perlahan ke arah utara. Keempat kaki raksasanya silih berganti berayun dan menapak, menembus kerumunan puluhan ribu laba-laba setinggi sepuluh meter. Awan gelap yang sangat tebal membalut lutut-lutut hewan ciptaan dari skill Creation itu. Dari awan tersebut petir menyambar-nyambar liar, menghujam ke bawah dengan penuh kemurkaan, menghantam laba-laba yang terus mencoba mendaki ke atas. Membunuhnya seketika dalam keadaan tubuh hangus.


Di atas punggung sang gajah sesosok laki-laki berambut dan berjanggut putih sedang duduk sambil menyesap secangkir minuman hangat. Lembaran-lembaran besar berwarna merah kehitaman menghiasi sekujur leher sosok berkulit keriput itu hingga terlihat seperti sebuah mahkota bunga. Pandangan sosok tersebut lurus ke depan, mengacuhkan dua sosok lain di dekatnya.


"Sepertinya ada yang salah dengan otakmu, Aman. Pasti kepalamu terhantam kuat di pertempuran terakhir kita. Ya. Aku yakin pasti karena itu. Kau tahu? Keputusanmu untuk melatih makhluk dari ras terlemah pasti karena ada yang rusak dengan otakmu."


"Aku tidak rela jika kau membuang waktu hanya untuk sesuatu yang tidak berguna seperti melatih manusia. Ingat! Kita adalah ujung tombak seluruh peradaban. Kita adalah penentu dari seluruh kehidupan di dunia ini. Apa kau tidak mengerti semua itu?"


Aman bisa memahami kenapa sosok di sebelahnya meluapkan amarahnya. Apa yang dilakukan Aman dengan melatihan Paijo memang seperti sesuatu yang sia-sia. Di Gedhetenan Land manusia sudah di cap sebagai ras terlemah dan tidak berguna di dalam pertarungan. Aman juga mengetahui hal tersebut. Namun dibalik semua itu Aman mengetahui yang tidak diketahui makhluk lainnya. Sebuah rahasia di balik lemahnya ras manusia.


"Apapun tujuanmu, kau memang patut disalahkan, Aman." sosok yang sejak tadi diam dan hanya berdiri di atas kepala gajah raksasa berceletuk. Sosok tersebut merupakan humanoid seekor kera. Bulunya berwarna merah darah dan memiliki ekor panjang. "Siapapun pasti akan memarahimu jika mengetahui apa yang kau lakukan akhir-akhir ini."


"Lihat! monyet perempuan itu juga sependapat denganku. Jadi, apa kau akan tetap pada pendirianmu? Melatih makhluk yang hanya akan mati dengan mudah di medan pertempuran?"


"Percuma bicara panjang lebar dengan kalian. Lebih baik kalian lihat ini!" Aman segera mengirim beberapa gambar ke dua sosok yang menjadi teman seperjalanannya.


Setelah melihat gambar kiriman Aman yang berupa screenshot dari skill Absolute God Eye yang dapat melihat semua status seseorang, ekspresi kedua teman Aman berubah bingung. Beberapa kali mereka melirik Aman dan mengamati gambar yang terpampang di depan pandangan mereka dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


Aman yang memahami ekspresi kedua temannya segera bicara, "Bukan persentase peningkatan atribut yang harus kalian perhatikan, melainkan tulisan yang ada di bawah daftar bakat."


"Thinker?"


"High Thinker?"


"Ya. Itu adalah skill dasar manusia. Aku melihatnya dari dua manusia yang berbeda." Aman menanggapi celetukan kedua temannya. Sesaat kembali menyesap minuman di cangkir sebelum kembali bicara, "Thinker atau bisa diartikan sebagai sosok yang selalu memikirkan sesuatu. Memang bukan skill yang berguna saat beradu kekuatan. Tapi jika skill ini sering dilatih maka akan menjadi sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh ras lainnya. Terlebih skill ini tidak membutuhkan energi. Dengan kata lain bisa digunakan kapan saja."


"Apa ada hal semacam itu di dunia ini?" sosok humanoid kera meragukan.


"Tidak ada jika manusia tidak pernah dibawa ke dunia ini. Dan aku yakin di dunia asal mereka skill ini menjadi senjata utama dalam bertahan hidup. Entah sekeras apapun dunia tempat tinggal mereka, siapapun yang berada di puncak dapat dipastikan seorang pemikir hebat."


"Ini hanya skill sampah. Kenapa kau melebih-lebihkannya, Aman." Protes sosok humanoid serigala.


Senyum Aman merekah lebar saat mendengar protes salah satu temannya. "Apa kau masih ingat saat harus mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli sebuah roti dari manusia berlevel sepuluh?" Aman melirik sejenak ke teman serigalanya. Setelah sosok berbulu biru kehitaman itu mengangguk, Aman kembali bicara, "Aku yakin sampai detik ini kau tidak sadar jika keputusanmu membeli roti dengan harga selangit akibat dari skill dasar manusia tersebut."


"Jangan bercanda!"


"Aku sama sekali tidak bercanda. Tadi aku sudah mengatakan jika skill dasar manusia bisa menjadi sesuatu yang tak pernah terbayangkan siapapun, kan? Dalam kasusmu, kau telah dibodohi. Aku yakin saat memutuskan untuk menyetujui harga yang ditawarkan manusia itu kau sedang kelaparan hebat, dan di sisi lain kau juga merasa kasihan padanya. Jadi kau tidak memperdulikan hal lain selain segera mengisi perut. Inilah mengerikannya skill dasar manusia. Sebuah skill yang tidak memiliki batasan apapun dan tidak akan pernah bisa terdeteksi kecuali lawannya juga memiliki kecerdasan tinggi."


"Jika seperti itu… "


"Sebelum kalian mulai memperhitungkan manusia, lebih baik liat ini lebih dulu." Aman kembali mengirim gambar hasil screenshot skill Absolute God Eye miliknya.


"Ini-- Absolute Pure Thinker!" Kata sosok humanoid kera dengan suara bergetar hebat.


"Bagaimana bisa persentase peningkatan atributnya setinggi ini?" sosok humanoid serigala menambahi.


"Ini atribut-- monster!" kata kedua teman Aman secara bersaman.

__ADS_1



__ADS_2