The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 25 - Rencana


__ADS_3

Yenyen menatap Paijo dengan penuh tanda tanya. Dia tidak tahu apakah harus mempercayai Paijo atau mengabaikannya. Jika harus percaya, apa yang bisa dipercaya dari ucapan Paijo mengingat situasi sekarang mustahil untuk bisa memihak pasukan UF. Apalagi beberapa bos yang sempat dibekukan Paijo sudah bisa bergerak dan kembali melancarkan serangan pada anggota UF yang sedang berjuang melarikan diri. Tapi jika diabaikan, itu sama saja membuang sebuah peluang yang kemungkinan memang bisa mengakhiri pertempuran di tempat ini untuk selamanya. Yenyen berpikiran seperti itu karena dapat melihat keoptimisan di mata Paijo.


"Apa maksudmu?" Tanya Yenyen seraya memegang tongkat sihir yang terbuat dari sejenis akar-akaran dengan dua tangan. Yenyen sengaja bertanya seperti itu untuk memutuskan apakah dirinya akan mengikuti setiap rencana Paijo atau mengabaikannya.


"Percayalah padaku!" balas Paijo tanpa menjawab pertanyaan Yenyen. "Untuk menjalankan rencana ini aku membutuhkan bantuan dari kalian semua."


"Bantuan kami?"


Paijo mengangguk. "Terutama dari rasmu."


"Rasku?" sekali lagi Yenyen terpaksa harus memastikan perkataan Paijo. Entah apa yang dipikiran sosok depannya itu, tapi menurut Yenyen rasnya hanya ras yang mahir dalam mendukung sebuah pertempuran, baik itu menciptakan pelindung atau menjerat lawan dengan skill dasar pengendali tanamannya. "Apa kau yakin? Kami bukan petarung garis depan. Kami hanya barisan pendukung yang selalu beroperasi di barisan belakang. Kami benar-benar tidak memiliki skill serangan."


"Tolong percayalah padaku! Dan kita harus melakukannya sekarang." Paijo sedikit mendesak.


"Ba-- baik! Jadi apa rencanamu?"


"Pertama berapa jumlah rasmu yang tersisa dan dapat menggunakan skill?"


Sesaat Yenyen mengamati sekeliling, mencoba menemukan sosok-sosok yang memiliki ciri sama seperti dirinya. "Mungkin sekitar empat puluh."


"Aku tidak tahu apakah jumlah itu cukup untuk menjalankan rencanaku atau tidak. Tapi aku berharap banyak darimu dan teman-temanmu untuk memenangkan pertempuran ini."


"Kalau begitu apa yang harus kami lakukan?" tanya Yenyen. Akhirnya memutuskan untuk mendukung Paijo, sosok yang sebenarnya tidak dia kenal.


"Apa kalian bisa memporak-porandakan tempat ini? Maksudku seluruh tanah yang ada di dalam kubah pelindung? Kalian bisa mengaduk-aduknya atau apapun itu. Yang penting tanah di dalam kubah hancur berantakan."


"Jika hanya itu kami bisa melakukannya dengan mudah. Bahkan kami tidak perlu menghabiskan banyak energi. Hanya saja kami memerlukan sedikit waktu untuk melakukannya mengingat areanya yang cukup luas. Mungkin sekitar empat hingga lima menit."


"Aku akan mencoba mengulur waktu sebanyak mungkin." Paijo mengangguk pada Yenyen, mencoba meyakinkan jika semua akan berjalan lancar. "Lalu hal kedua yang harus kalian lakukan-- maksudku seluruh pasukan UF lakukan adalah menggunakan sihir berelemen api. Arahkan serangan kalian ke seluruh area di dalam kubah. Utamakan skill yang memiliki efek membakar. Setelah itu serahkan sisanya padaku!"


"Baik! Kalau begitu aku kembali ke pasukanku dahulu. Dan kau berhati-hatilah!" kata Yenyen penuh harap. Lalu dengan kecepatan tercepatnya kembali ke sisa pasukannya yang sedang berkumpul di luar kubah bersama pimpinan mereka.


"Sebenarnya apa rencanamu?" tanya Babanyu tiba-tiba setelah sekian lama hanya membisu mendengar pembicaraan inangnya.


"Nanti kau akan tahu sendiri." balas Paijo santai seraya menoleh ke tempat berkumpul pasukan UF.


Di kejauhan terlihat Yenyen sedang berbicara dengan pimpinan pasukannya. Lalu tak berselang lama seluruh pasukan UF yang tersisa menyebar di sekeliling kubah pelindung. Mereka berlari secepat yang mereka bisa dan membentuk Kelompok-kelompok kecil di sepanjang sisi luar kubah.


"Terserah apa maumu! Mau tidak mau aku pasti terpaksa akan percaya padamu." balas Babanyu kecewa.


"Aku suka keputusanmu. Sebagai parasit kau memang harus mempercayai inangnya." Komentar Paijo senang. "Aku mau tanya. Berapa derajat skill pelindungmu ini mampu menahan panas?"

__ADS_1


"Eh! Bagaimana kau tahu skillku ini bisa menahan panas?" Babanyu terkejut mendengar pertanyaan Paijo. Seingat Babanyu dirinya tidak pernah membeberkan semua detail kemampuan skill pelindungnya. "Apa kau memiliki skill yang sama? Atau apa mungkin kau pernah diberitahu orang lain tentang skill milikku?"


"Aku hanya berspekulasi. Hanya menduga jika wujud skill seperti milikmu yang berelemen dasar air pasti memiliki ketahanan terhadap panas. Dengan kemampuannya yang menurutku sangat gila pasti ketahanannya terhadap panas juga tidak masuk akal."


Babanyu tertawa puas. Suaranya menggema di pikiran Paijo. "Sepertinya aku mendapat inang seorang jenius. Tapi, ya, kau benar. Skillku sanggup menahan suhu hingga seribu derajat celcius. Hebat bukan?"


"Apa bisa ditingkatkan hingga dua kali lipatnya?"


"Dua kali lipat?"


"Ya. Dua ribu derajat celcius."


Babanyu tidak langsung menanggapi. Secara normal skill pelindung miliknya memang mampu menahan panas hingga seribu derajat celcius. Namun semua jenis skill di dunia Gedhetenan Land tidak memiliki angka pasti. Dengan kata lain semua bisa mengatur tingkatan skill yang dimiliki. Entah itu menurunkan atau meningkatkan kemampuannya. Hal tersebut tentu akan berpengaruh pada hemat atau borosnya seseorang dalam penggunaan energi.


Sedangkan bagi Babanyu, dirinya belum pernah meningkatkan ketahan panas pada skill pelindungnya. Walau harus dipaksa, dapat dipastikan Babanyu akan menggunakan energi tiga atau empat kali lipat lebih banyak. Itu sama saja dengan percobaan bunuh diri mengingat hidup Babanyu sepenuhnya bergantung pada energi yang dia miliki.


"Kau juga bisa menggunakan energiku jika memang diperlukan." lanjut Paijo karena Babanyu tidak juga kunjung membalas. Sesaat Paijo mengamati pelindung Babanyu yang masih membalut tubuhnya. Cairan bertekstur jelly dan berwarna biru muda itu memiliki ketebalan sekitar tiga sentimeter, terasa sejuk di kulit dan fleksibel.


"Delapan menit. Mungkin paling lama sepuluh menit."


"Aku rasa itu cukup."


"Tentu saja melarikan diri dari mereka."


"Eh! Sejak kapan mereka mengepung kita?" Babanyu terkejut, baru sadar jika keberadaan Paijo sedang di ujung tanduk. Tepat di sekelilingnya, puluhan Bos Hutan Tanah Hitam mengepung Paijo tanpa ada sedikit celah untuk melarikan diri.


Paijo terkekeh pelan mendengar keterkejutan parasit di tubuhnya. "Sejak kita bicara tadi."


"Kenapa kau tidak memberitahuku?"


"Untuk apa memberitahumu? Lagipula itu juga salahmu sendiri kenapa memutus koneksi dengan penglihatanku."


"Emm… tetap saja ini sangat berbahaya." nada suara Babanyu meninggi. Protes keras dilontarkan olehnya karena Paijo menanggapi dengan enteng.


Sebagai parasit, Babanyu memiliki kemampuan untuk mengakses semua indra inangnya. Dengan kata lain apa yang dilihat, didengar dan dirasa Paijo dapat diakses atau diblokir Babanyu. Walau sebagai parasit yang notabene merugikan, tapi bagi Babanyu kemampuan tersebut sangat berguna untuk dirinya maupun inangnya. Dengan mengetahui keadaan sekitar, Babanyu dapat dengan mudah bersikap atau menggunakan skillnya untuk membantu. Seperti yang sebelumnya pernah Babanyu lakukan sesaat sebelum Paijo menerima pukulan bos monster. Dengan kecakapannya Babanyu berhasil menggunakan skill pelindungnya dan menyelamatkan Paijo dari kematian.


Itulah alasannya kenapa Babanyu protes keras saat Paijo tidak memberitahu jika keadaan sedang diujung tanduk. Sejak beberapa saat sebelumnya Babanyu memang sempat memblokir penglihatan Paijo. Dia melakukannya untuk mempercepat regenerasi energinya yang sempat berkurang karena menggunakan skill.


Sebagai ras Kotostos yang termasuk salah satu ras unik di Gedhetenan Land, untuk mengembalikan energi yang menjadi satu-satunya sumber kehidupan, Babanyu harus memblokir sebagian atau semua indra inangnya. Dengan melakukan hal tersebut Babanyu dapat meregenerasi energinya dengan lebih cepat. Atau secara sederhana, pemblokiran tersebut dapat disamakan dengan tidur. Dengan kata lain tidak ada yang bisa dilakukan oleh siapapun yang sedang berada pada fase tidur. Jadi wajar jika Babanyu tiba-tiba meninggikan suara karena tidak mengetahui keadaan sekitar. Hal tersebut akan menyebabkan dirinya tidak sanggup menggunakan skill tepat pada waktunya.


"Aku harap kau memiliki cara untuk lepas dari kematian." Babanyu berharap. Tidak bisa dipungkiri jika dirinya memang merasa ngeri dan takut dengan apa yang sedang terjadi. Jika dihitung dengan angka, kesempatan hidup dari situasi sekarang adalah nol persen, mengingat baik Paijo maupun Babanyu hanya berlevel kecil jika dibandingkan dengan bos monster Hutan Tanah Hitam.

__ADS_1


"Semoga saja aku bisa mengabulkan harapanmu." kata Paijo santai. Senyumnya melebar sedangkan tatapannya tajam dipenuhi fokus.


Babanyu yang bisa merasakan apa yang sedang terjadi pada Paijo hanya bisa tersenyum kecut. Dia tidak tahu harus berkata apa untuk menyikapi Paijo. Entah itu Babanyu atau siapa saja yang melihatnya pasti tidak akan pernah menganggap remaja manusia itu waras. Ekspresinya sulit untuk digambarkan. Disaat bersamaan Paijo terlihat sangat senang sekaligus takut dan ngeri. Matanya sangat tajam seolah sedang menilai situasi sekitar dan menarik kesimpulan secara bersamaan. Selama hidup, Babanyu tidak pernah melihat ada orang yang bersikap seperti Paijo. Apalagi disaat kematian hampir sepenuhnya menjadi akhir perjalanan hidupnya.


Dengan gerakan secepat yang bisa dilakukan, Paijo mengeluarkan dua bom es lalu melemparnya ke dua bos monster di hadapannya. Dalam sekejap dua makhluk bertubuh hitam legam itu membeku. Di detik yang sama Paijo juga mengayunkan langkah cepat ke depan. Dengan gerakan lincah meliuk melewati celah di antara tubuh bos monster yang tengah menjadi patung es. Paijo kembali mengeluarkan bom es dari ruang penyimpanan gelang putih dan kembali membekukan bos monster terdekat sebelum melewatinya begitu saja tanpa ada perlawanan.


Paijo terus melempar bom es dan melewati bos monster yang sedang terpengaruh efek membeku hingga berhasil keluar dari kepungan. Walau tahu kecepatannya tidak sebanding dengan lawannya, Paijo tetap mencoba mengulur waktu agar rencananya berjalan sukses. Tidak ada setitik kemudahan atas apa yang sedang dilakukan Paijo. Siapapun pasti dapat melihat hal tersebut dengan mudah, termasuk semua pasukan UF yang baru saja keluar dari jerat kematian Penguasa Hutan Tanah Hitam.


Mereka merasa tindakan Paijo seperti bunuh diri. Pemikiran tersebut muncul tentu saja karena mengetahui fakta jika sosok yang sedang lari tunggang langgang dikejar kematian itu memiliki level jauh di bawah mereka. Namun kenyataan tersebutlah yang membuat mereka merasa tidak berguna. Usaha yang selama ini mereka perjuangkan demi kesuksesan misi terasa sia-sia. Di saat bersamaan mereka juga berharap pada Paijo yang tidak mereka kenal. Oleh sebab itu tanpa memprotes mereka menuruti semua rencana Paijo.


Waktu terus berlalu. Paijo yang sejak awal menjadi umpan mulai kelelahan. Tubuhnya yang selama ini ditempa dengan sistem pelatihan yang terbilang tidak masuk akal perlahan kehilangan kemampuannya sedikit demi sedikit. Paijo yang mengetahui pasti bagaimana kondisinya hanya bisa menggeleng tidak percaya. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menyerah. Bagaimanapun juga Paijo harus tetap bisa menjaga kecepatannya dan tetap menjaga jarak cukup jauh dari gerombolan bos monster yang terus mengejarnya layaknya kucing mengejar tikus.


Ratusan bom es telah digunakan untuk menghambat pergerakan bos monster. Sudah banyak sumber daya yang digunakan Paijo untuk bisa bertahan hingga sejauh ini. Selelah apapun itu Paijo tidak akan pernah menghentikan ayunan kakinya. Apalagi waktu yang sudah ditentukan tidak lama lagi akan tercapai. Waktu yang akan sepenuhnya mengubah keadaan.


"Berapa lama lagi?" tanya Paijo dengan napas tersengal hebat.


"Seharusnya mereka sudah bertindak." jawab Babanyu cepat.


Tepat di akhir perkataan Babanyu, gemuruh mengalun dengan penuh ancaman, suaranya mendayu-dayu di udara seolah sedang memperingatkan akan adanya bahaya. Paijo yang hampir kehilangan asa segera menoleh ke bibir kubah pelindung, senyumnya langsung merekah lebar.


Tepat dari sisi terluar kubah, tanah berhamburan ke udara, teraduk-aduk oleh sesuatu berwujud panjang dan berwarna coklat gelap, yang tak lain dan tak bukan adalah akar. Perlahan namun pasti fenomena yang dapat dipastikan buah dari skill Yenyen dan rekan-rekannya itu terus mengarah ke pusat kubah. Semakin lama semakin bergerak liar. Jumlahnya yang tak terhitung silih berganti menggeliat ke berbagai arah, menghancurkan tanah hingga kedalaman dua meter, membuat semua terlihat hancur berantakan.


Mengetahui rencana telah dijalankan, Paijo mengubah arah larinya. Dia berbelok ke pusat kubah yang kembali diselimuti kabut seperti sebelumnya. Paijo sengaja berganti arah agar tidak terkena skill perusak tanah tersebut yang dapat dipastikan akan melukainya dengan parah jika mengenai dirinya. Selain itu dengan mengubah arah secara tiba-tiba, Paijo berharap dapat mengacaukan pergerakan gerombolan bos monster.


"Mereka seperti ternak bodoh yang sedang mengejar makanan." komentar Babanyu saat mendapati gerombolan bos monster mengalami kekacauan.


Paijo tidak menanggapi. Dia hanya tersenyum lebar dan cukup terkejut karena perhitungan dan harapan pada keputusannya untuk mengubah jalur lari seketika membuahkan hasil. Gerombolan sosok hitam di belakangnya terkejut hingga membuat pijakan kaki mereka tidak stabil. Alhasil, barisan terdepan mereka terpeleset hingga tersungkur ke tanah, membuat tubuh tak berdayanya menjadi batu sandungan bagi sosok-sosok di belakangnya.


Tidak sampai di situ. Sesaat sebelum sempat berpijak dengan benar, puluhan akar berukuran cukup besar menghantam tubuh besar mereka. Setiap ayunan akar yang tercipta selalu bisa menerbangkan beberapa bos monster secara bersamaan. Ini adalah momentum tidak terduga. Hanya dalam sekejap gerombolan bos monster beterbangan ke sama kemari. Tanpa sanggup melawan, sebagian besar di antara mereka terlempar jauh. Sedangkan beberapa di antaranya terhimpit dan terlilit akar hingga membuatnya tidak bisa bergerak.


Mendapat momen terbaik untuk bisa lepas dari kejaran gerombolan bos monster, Paijo semakin mempercepat langkahnya memasuki kabut. Tubuh manusianya seketika menghilang dari pandangan. Begitu juga sebaliknya, penglihatan Paijo tidak bisa melihat apapun selain kabut putih.


Sebenarnya situasi Paijo sekarang sangat tidak menguntungkan. Seandainya ada musuh di dalam kabut dapat dipastikan Paijo tidak akan bisa melihat arah serangan lawan. Dengan kata lain Paijo akan dengan mudah dikalahkan tanpa ada perlawanan sedikitpun.


Ini memang sangat beresiko. Namun Paijo memiliki pemikirannya sendiri. Menurutnya semakin berada di titik tengah kubah maka dirinya akan dengan mudah menghindari akar-akaran yang sedang memporak-porandakan seluruh permukaan tanah di dalam kubah. Bagaimanapun juga akar-akar yang menjadi buah skill Yenyen dan rekan-rekannya itu cukup mematikan mengingat bagaimana mudahnya gerombolan bos monster dibuat beterbangan kesana kemari.


Tidak berselang lama apa yang diwaspadai Paijo datang ke arahnya. Hanya dengan sekali lompatan ke atas Paijo berhasil menghindari puluhan akar yang dengan cepat menghancurkan tanah di bawah kakinya.


"Saatnya melanjutkan ke tahap kedua!"


__ADS_1


__ADS_2