The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 16 - Sang Parasit


__ADS_3

Napas Paijo terengah hebat. Keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Panik dan ngeri tergurat jelas di wajahnya.


"Sial! Kenapa malah jadi seperti ini?"


Paijo tidak pernah menyangka jika ras-ras yang membenci manusia akan merespon dengan cepat. Tidak sampai satu jam setelah kehebohan yang terjadi, lima ras yang berada dalam sepuluh besar daftar ras terkuat sedang memburu Paijo. Tujuan utama mereka adalah melenyapkan Paijo dari muka Gedhetenan Land, salah satu cara jitu untuk menghentikan perkembangan seseorangan atau kelompok. Karena siapapun yang mengalami kematian maka akan dihidupkan kembali setelah satu tahun waktu Gedhetenan Land. Itu berarti waktu selama satu tahun penuh akan terbuang sia-sia.


Sepuluh menit telah berlalu sejak Paijo berhasil meloloskan diri dari kejaran ribuan Zerenian yang hendak mencabut nyawanya. Benar-benar jumlah yang tidak bisa dianggap remeh, apalagi bagi Paijo yang baru menapaki dunia Gedhetenan Land selama satu bulan. Dengan perlahan, Paijo mengintip ke luar jendela. Hal pertama yang Paijo periksa adalah langit. Tujuannya untuk mencari keberadaan sosok bersayap yang terus mengejar dengan cara terbang rendah.


"Untung kecoa itu tidak berkeliaran di langit." Paijo lega karena tidak mendapati satu pun sosok humanoid kecoa terbang hilir mudik di ketinggian langit.


Paijo melempar pandangan ke bawah. Posisinya yang berada di lantai empat sebuah bangunan tak berpenghuni membuatnya mendapat sudut pandang terbaik. Di bawah sana, di jalanan di antara gedung-gedung bertingkat, puluhan sosok humanoid gajah dan kadal berlarian. Pandangan mereka terlempar ke sana kemari, berusaha menemukan sesosok manusia yang tak lain adalah Paijo.


Sedangkan di jalanan yang agak jauh dari tempat persembunyian Paijo terlihat sosok-sosok humanoid banteng dan cheetah yang juga sedang melakukan pencarian. Dari perlengkapan tingkat dasar yang membalut tubuh mereka dapat dipastikan jika sosok-sosok yang menginginkan kematian Paijo tersebut merupakan Zerenian baru.


"Apa yang telah kau lakukan sampai dikejar-kejar mereka."


Sebuah suara tiba-tiba mengalun di antara dinding-dinding gedung yang telah termakan usia. Paijo yang mendengar suara tersebut dengan sangat jelas segera berbalik dan menarik pedang pendek dari sarungnya. Mata Paijo dengan cepat memindai seluruh ruangan, mengamati setiap sudut-sudutnya dengan seksama.


"Siapa kau?" Paijo menggenggam kuat gagang pedangnya. Bersikap waspada dan menggunakan seluruh indera di tubuhnya semaksimal mungkin. Bersiap jika ada serangan tiba-tiba.


Bukannya segera menjawab, sosok yang entah dimana keberadaannya itu tertawa terbahak-bahak. Suaranya lantang dan menggema ke seluruh ruangan yang tak berhias satu pun perabotan. Menyadari gelak tawa tersebut cukup keras, panik dan takut seketika menikam Paijo. Alasannya tentu saja karena gelak tawa tersebut dapat menarik perhatian sosok-sosok di jalanan yang masih hilir mudik mencari keberadaan Paijo.


"Diam! Hentikan tawamu!" geram Paijo dengan suara tertahan.


"Kenapa ekspresi makhluk sepertimu selalu saja terlihat lucu saat sedang panik dan takut? Kau tahu? Ekspresi seperti yang sedang kau tunjukan itu selalu bisa menghiburku."


"Lucu?"


Paijo bingung harus berkomentar apa. Sebagai manusia dan di mata manusia tidak ada yang pernah menganggap kepanikan dan ketakutan seseorang sebagai sesuatu yang lucu atau menjadi bahan gelak tawa kecuali jika dia mengalami gangguan jiwa.


"Apa dia psikopat?" tanya Paijo pelan pada kehampaan dinsekitarnya.


Setelah menganalisa singkat, tubuh Paijo bergetar hebat karena ucapan yang meresap ke dalam gendang telinganya tak ayal seperti sosok yang sudah terbiasa menghabisi nyawa dengan cara tak wajar dan menjadikannya sebuah permainan. Di saat yang sama Paijo menelan ludah, berusaha membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba mengering.


Setelah gelak tawa berkumandangan lebih dari satu menit, suasana tiba-tiba berubah sunyi. Karena tidak ingin disergap dan dijadikan alat bermain, Paijo mengarahkan pedangnya ake depan. Sedangkan mata Paijo memindai setiap sudut ruangan tanpa sekalipun berkedip. Siap menghadapi siapa saja musuhnya.


Sudut-sudut ruangan kini terasa begitu dingin dan mencekam. Begitu juga dengan lubang-lubang di dinding-dinding berbahan kayunya. Namun bukan itu ancaman utama yang mengintai, melainkan lubang-lubang menganga di atap. Siapa saja bisa melancarkan serangan jarak jauh dari sana. Atau siapa saja bisa datang menyergap dari tempat tinggi tersebut.


Sadar berada pada posisi tidak menguntungkan, Paijo bergeser perlahan ke kanan. Selangkah demi selangkah berpijak tanpa bersuara ke sudut dinding yang masih berpayungkan atap. Paijo sengaja mengarah ke posisi tersebut agar peluang tersergap dari atas berubah menjadi nol. Namun pemikirannya salah. Tindakannya ternyata membuat keselamatan Paijo terancam. Baru tiga langkah berpindah, ada sesuatu yang menetes di tubuh Paijo.

__ADS_1


"Apa ini?" Paijo penasaran. Di saat bersamaan, panik dan takut juga menyerang dirinya.


Sebentuk cairan berwarna biru muda dan transparan baru saja menetes di lengan Paijo. Walau hanya memberi efek sejuk di kulit, remaja tujuh belas tahun itu bergeser cepat ke samping dan mengusap cairan aneh tersebut dengan lengan lainnya. Karena penasaran dan ingin mengetahui cairan apa yang mengenai dirinya, Paijo melempar pandangan ke atas. Di ketinggian sana, tepat di rangka penyangga atap, terlihat sebentuk siluet.


Paijo menajamkan penglihatan, mencoba mencari tahu apa yang ada di atasnya. Dari bentuknya yang hanya seperti gumpalan, dapat dipastikan jika siluet tersebut bukan sosok Zerenian. Apa itu mosnter? Paijo mencoba berasumsi. Namun jika benar itu mosnter, bagaimana monster itu bisa ada di dalam kota yang terselubungi sihir pelindung? Ini aneh dan tidak masuk akal. Lalu apa sebenarnya yang ada di atas sana? Apa itu hantu?


"Jangan berpikir macam-macam! Aku bukan monster atau hantu gentayangan!" suara tersebut kembali terdengar. Kali ini nada suaranya meninggi dan berbalut amarah.


Paijo bingung. Bagaimana bisa pemilik suara tersebut mengetahui apa yang baru saja terlintas di pikirannya? Karena tidak ingin terus dihantui penasaran dan rasa takut atas pemilik suara misterius, Paijo membalas, "Apa kau yang ada di atas sana?"


"Tentu saja itu aku."


Mendengar pernyataan tersebut, Paijo sedikit lega. Ketakutannya mereda dan panik yang sejak tadi merongrong tubuhnya perlahan menghilang. Paijo merasa seperti itu karena suara yang sejak tadi bergaung di telinga dapat diajak bicara, dan sosok yang ada di atas sana bukan monster atau hantu gentayangan.


"Jika ada urusan denganku, turunlah!" pinta Paijo tegas.


"Oke!"


Siluet tersebut terjun bebas dan mendarat beberapa meter di depan Paijo. Sedangkan Paijo yang tidak pernah menyangka akan langsung direspon, sedikit terkejut hingga membuatnya spontan menjauh selangkah. Namun bukan itu yang membuat situasi berubah. Melainkan apa yang ada di hadapan Paijo sekarang.


"Eh! Se-- sebenarnya kau itu apa?"


"Kenapa bertanya seperti itu? Bukankah semua makhluk yang ada di dunia ini memiliki bentuk yang tidak wajar?"


Apa yang dikatakan sosok tersebut memang benar. Ada lebih dari seratus lima puluh ras di dunia ini. Mereka memiliki beragam bentuk dan keunikan tersendiri. Namun tetap saja Paijo belum terbiasa dengan hal tersebut. Apalagi terhadap sosok di hadapannya yang baru pertama kali ini dia lihat.


"Kau slime?" celetuk Paijo memastikan.


"Slime? Kenapa ras sepertimu selalu menyebut kami dengan sebutan itu? Asal kau tahu, tidak ada yang namanya slime di duniaku. Bahkan kami tidak tahu apa itu slime."


"Benarkah?"


"Tentu saja benar. Dan kami adalah ras Kotostos. Ingat itu baik-baik!"


"Kotostos? Tapi tetap saja kau seperti slime." Paijo bersikeras.


Sosok berbentuk cairan lengket itu diam. Tidak ada yang tahu apakah sosok tersebut sedang mengamati lawan bicaranya atau tidak karena tidak ada bola mata di tubuh menjijikannya. Begitu juga dengan organ penghasil suara bernama mulut.


Sesaat suasana berubah sunyi. Baik Paijo maupun sosok slime tidak berinisiatif kembali membuka pembicaraan. Bagi Paijo suasana canggung ini membuatnya tidak nyaman. Pikirannya pun mulai berkeliaran kemana-mana, terutama ke arah merasa bersalah. Paijo merasa seperti itu tentu saja karena menyadari ucapannya barusan cukup menyakitkan. Karena alasan itu pula Paijo kembali waspada dan bersiap menghadapi pertarungan yang bisa terjadi kapan saja dengan sosok di hadapannya.

__ADS_1


"Kenapa semua orang selalu menatap seperti itu saat melihat kami? Kau tahu, itu sangat menyinggung kami?"


Nada suara sosok bertubuh cairan itu meninggi dan berhias amarah. Menyadari hal tersebut, Paijo menjauh perlahan, mencoba membuat jarak agar memiliki kesempatan menghindar atau menangkis serangan yang terarah padanya. Sebuah keputusan cerdas mengingat tidak ada informasi yang Paijo ketahui dari lawannya. Lebih baik tetap berhati-hati dan selalu waspada.


"Ma-af! Tapi aku tidak pernah berniat seperti Itu." Paijo berusaha menjaga situasi tetap kondusif.


"Tapi ekspresimu tidak sesuai dengan perkataanmu. Kau tahu? Kau semakin membuatku kesal. Dan jika aku kesal, aku selalu ingin menebas sesuatu."


Mendengar perkataan lawannya, Paijo semakin bergeser ke sudut ruangan. Genggaman tangannya menguat dipegangan pedang, siap mengayun jika situasi memburuk. Di sisi lain, sosok yang sejak tadi hanya diam mulai melakukan pergerakan. Wujud cairan kentalnya mulai bergerak-gerak, semakin lama menjadi bergolak dan meninggi. Perlahan namun pasti wujudnya membentuk sepasang kaki, sepasang tangan, tubuh dan kepala hingga membuatnya terlihat seperti humanoid. Sekujur tubuhnya tetap terlihat transparan.


"Bersiaplah!" Asap hitam muncul dari pergelangan tangan kanan sosok tersebut. Dengan cepat asap tersebut merayap hingga ke ujung tangannya, dan dalam sekejap sebentuk pedang pendek muncul di genggaman tangan sosok tersebut sesaat sebelum asap hitam kembali terserap ke dalam gelang putih.


"Tu-tunggu! Aku tidak ingin menambah musuh! Bisakah kita selesaikan kesalahpahaman ini dengan damai? Aku benar-benar tidak ingin bermusuhan dengan ras sepertimu!"


Sosok slime tidak langsung menanggapi. Dia mematung di tempat. Bola mata transparannya mengamati Paijo dengan seksama. Sesekali dia menggeram seolah sedang menyimpulkan sesuatu.


"Baiklah. Tapi dengan satu syarat."


"Oke! Hanya satu. Tidak lebih."


Sosok dihadapan Paijo mengangguk. Dia kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Matanya kembali mengamati Paijo. Kali ini sorot matanya menggerayangi sekujur tubuh Paijo dengan lebih seksama. Bahkan sosok tersebut juga mendekat dan memutari objek penglihatannya. Sebuah tindakan yang tidak pernah disangka oleh siapapun, termasuk Paijo yang mulai merasa tidak nyaman atas tingkah polah sosok di dekatnya itu.


"Aku ingin kau menjadi inangku." Sosok Slime kembali bersuara setelah lebih dari dua menit mengamati setiap inci tubuh Paijo dengan penuh pertimbangan. Dia juga sempat menjauh beberapa langkah dan kembali mengamati seolah apa yang ada di hadapannya sebuah maha karya seorang seniman.


"Eh! inang?"


Sosok slime mengangguk mantap. Mata transparannya dipenuhi antusias dan harapan. Sedangkan Paijo seketika merasa kepalanya kosong. Otak yang biasanya memunculkan berbagai macam gagasan dan pemikiran tiba-tiba berhenti bekerja. Penyebabnya tentu saja karena pernyataan sang slime.


Paijo sangat memahami apa itu yang dinamakan inang. Yang membuatnya syok dan tak sanggup menanggapi adalah permintaan tidak masuk akal dari Sang Slime. Siapa saja pasti akan bersikap sama seperti Paijo jika ada yang meminta dirinya menjadi suplai makanan bagi makhluk lain. Sederhananya tidak ada yang akan mau menjadi rumah bagi parasit. Ya, otak Paijo pun akhirnya merespon dan menyimpulkan jika sosok slime di hadapannya adalah makhluk parasit.


"Apa lagi yang kau pikirkan? Mau atau tidak? Lagi pula ini juga demi keselamatanmu. Jika kau setuju, aku bisa membantumu melarikan diri dan menyelamatkan nyawamu dari mereka. Kita tidak punya banyak waktu lagi. Jadi cepat putuskan!" Sosok Slime mendesak. Nada bicaranya yang berubah cepat dan sedikit meninggi menandakan jika ada yang tidak beres.


Walau menyadari ada yang salah dengan sosok di hadapannya, Paijo tidak terlalu peduli dan lebih tertarik dengan ucapan sosok tersebut yang dapat membantunya lolos dari kejaran para Zerenian yang hendak menghabisi nyawanya. Tanpa pikir panjang lagi Paijo memutuskan untuk menyetujui apa yang diinginkan slime di hadapannya itu. Apalagi cepat atau lambat tempat persembunyiannya saat ini akan ditemukan, dan saat itu tiba Paijo tidak akan sanggup berbuat apa-apa selain menerima kematiannya.


"Baiklah! Aku setuju. Aku akan menjadi inangmu."


Senyum lebar merekah di bibir transparan sosok slime. Kekhawatiran atas penolakan yang akan dilontarkan Paijo kini tidak lagi menghiasi sudut-sudut wajahnya. "Terima kasih! Kau begitu bersiaplah!"


Setelah menyimpan kembali pedang pendeknya ke dalam gelang putih, dengan sekali lompatan dan gerakan yang sangat cepat, sosok slime membalut sekujur tubuh Paijo. Tubuh cairan lengketnya membekap setiap inci tubuh Paijo, membungkus dari ujung rambut hingga ujung kaki. Paijo yang tidak menyangka akan diperlakukan seperti sesuatu yang hendak ditelan hidup-hidup hanya bisa meronta-ronta liar sebelum akhirnya pandangannya memudar dan tak sadarkan diri.

__ADS_1



__ADS_2