
Semua sudah dipersiapkan UF dengan matang. Segala macam kemungkinan telah diperhitungkan oleh para ahli strategi mereka dengan sangat teliti. Tiga ratus lebih orang telah menjalani pelatihan sesuai dengan menu latihan yang tak ayal bagaikan neraka. Tidak ada kata main-main di benak dan pikiran mereka. Rasa sakit dan lelah tidak lagi menjadi keluhan dan ratapan. Suka atau tidak suka mereka akan menerimanya tanpa ada protes. Semua itu mereka lakukan demi menyelesaikan misi yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya belum juga terselesaikan.
Ada pepatah mengatakan usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Entah siapa yang pertama kali mengumandangkan kata-kata naif itu? Namun bagi pasukan UF yang terdiri lebih dari tiga ratus orang, kata-kata tersebut bagai sebuah kebenaran yang paling benar di dunia ini. Mereka berpikir seperti itu karena apa yang telah mereka jalani selama ini di pusat pelatihan membuahkan hasil. Strategi penyerangan yang telah disimulasikan sebanyak ratusan kali pun berakhir dengan keberhasilan.
Bagi Paijo apa yang dilakukan pasukan UF cukup cerdas walau sebelumnya sempat meragukannya di awal-awal penyerangan yang bisa dikatakan gagal total. Apalagi belasan pasukan anggota mereka terbunuh hanya dalam sekejap. Bahkan Paijo juga menganggap tindakan barisan penyerang jarak dekat mereka yang memutilasi boss tempat ini sebagai tindakan bunuh diri. Alasannya tentu saja karena skill pasif monster bertubuh hitam kelam itu.
Menurut penjelasan Babanyu, penguasa hutan tanah hitam memiliki skill pasif yang cukup mengerikan sekaligus berbahaya. Skill yang mampu membuat pemiliknya memperbanyak diri dari potongan tubuh itu akan selalu menjadi malapetaka bagi semua lawannya. Setelah mengetahui sosok tersebut memiliki skill di luar nalar, tentu saja Paijo langsung dihujani pesimistis.
Sudah menjadi rahasia umum jika jenis skill pengganda akan selalu merepotkan bagi siapa saja yang menjadi lawannya. Yang membuatnya semakin terasa mustahil ditaklukan adalah tingkat kekuatannya sama persis dengan aslinya. Sederhananya semakin banyak dicincang maka akan semakin memperkuat sosok
tersebut. Dengan kata lain, pasukan UF yang sebelumnya unggul dalam jumlah dapat dipastikan lambat laun akan berbalik kalah jumlah sebelum akhirnya dimusnahkan sepenuhnya.
Namun setelah melihat apa yang sedang terjadi, Paijo berubah optimis. Keyakinan atas kemenangan UF melambung tinggi hingga membuatnya mulai menaruh kekaguman pada organisasi perdamaian tersebut. Untuk sesaat tidak ada pergerakan dari penyerang jarak dekat yang sebagian besar bersenjatakan pedang. Mereka menunggu dan mengamati setiap bagian tubuh boss dengan seksama. Tatapan mereka fokus. Tidak ada niat sedikitpun untuk mengalihkan perhatian.
"Sekarang apa? Apa yang akan kalian lakukan?" Paijo penasaran sekaligus antusias.
"Strategi baru! Kita lihat saja. Apakah mereka bisa mengalahkannya atau tidak." Babanyu menanggapi sembari tetap mengamati medan pertempuran bersama Paijo.
__ADS_1
Potongan-potongan tubuh Boss Hutan Tanah Hitam secara bersamaan berubah menjadi gumpalan-gumpalan cairan menyerupai slime, berwarna hitam dan bergerak-gerak seperti sedang menggeliat. Setiap gumpalan perlahan membesar dan mulai membentuk satu persatu anggota tubuh. Saat mencapai seperempat ukuran aslinya, sebentuk bola sebesar bola voli terbentuk di tengah setiap gumpalan. Bola tersebut berwarna hitam dan memancarkan cahaya keunguan di setiap bagiannya.
Di detik yang sama sebuah teriakan tiba-tiba menggema di udara, melengking tajam, memecah kesunyian yang sempat membekap. Suara tersebut meluncur dari pangkal tenggorokan sosok humanoid singa yang sejak awal hanya mengamati dari kejauhan.
"Sekarang! Hancurkan bola-bola itu dalam sekali tebasan!"
Mendengar perintah tersebut, seluruh anggota penyerang jarak dekat serempak mengayunkan senjata di tangan masing-masing. Gerakan mereka mantap dan cepat, serta tidak ada keraguan sedikitpun. Desisan demi desisan sayatan mengalun nyaring sesaat kemudian sebelum akhirnya tergantikan oleh rentetan pecahan kaca dari hancurkan bola-bola hitam. Gumpalan-gumpalan cairan hitam pun pecah dan berhamburan ke segala arah. Membasahi tanah dan tubuh anggota UF di sekitarnya.
Mendapati ancaman menghilang satu persatu di depan mata, ekspresi lega dan senang seketika terukir di seluruh wajah pasukan UF. Senyuman merekah lebar di bibir. Sorakan-sorakan penuh kemenangan membahana tanpa ada niat untuk berhenti. Tak terkecuali pemimpin mereka yang hanya bisa menyaksikan dari luar dinding pelindung.
"Mereka benar-benar mengalahkannya." komentar Babanyu. Kagum membalut setiap kata-katanya. "Kemenangan ini akan tercatat dalam sejarah."
Paijo yang mendengar celetukan Babanyu tidak menanggapi apapun. Bagi Paijo komentar Babanyu wajar terucap mengingat sudah tak terhitung banyaknya nyawa yang meregang di tempat ini. Namun di balik semua itu, walau euforia masih bergelora di dada, ada sepercik kekecewaan yang mengusik Paijo. Sebuah rasa kecewa yang kemungkinan besar akan menempatkan dirinya dalam bahaya. Atau lebih tepatnya sebuah kekecewaan yang menjadi pembuka gerbang kekhawatiran atas kelangsungan hidupnya di masa mendatang. Ya. Paijo khawatir dirinya akan langsung dibinasakan saat melaporkan kegagalan misinya pada Dodoran. Hanya dengan membayangkan hal tersebut tubuh Paijo bergidik hebat.
Di tengah kekhawatiran atas keselamatan dirinya di hadapan Sang Pemilik Toko Aksesoris, Paijo mencoba mengalihkan perhatian ke pasukan UF yang masih bersukacita di tengah medan perang. Suasana di sana benar-benar dipenuhi kebahagiaan dan rasa syukur. Saat sedang asyik mengamati kelompok besar yang masih belum berniat pulang itu, tatapan Paijo terhenti pada sosok humanoid berambut rumput. Sosok tersebut berbalut pakaian serba hijau dan cukup ketat.
"Ternyata dia hebat juga." celetuk Paijo. Kagum pada sosok yang sedang menjadi fokus penglihatan kedua matanya. Sosok tersebut tak lain dan tak bukan adalah malaikat penyelamatnya.
__ADS_1
"Apa temanmu ada di sana?" Tanya Babanyu.
"Bisa dibilang seperti itu." jawab Paijo santai. "Aku berhutang nyawa padanya. Mungkin setelah ini aku harus…"
Sebelum Paijo sempat menyelesaikan ucapannya, sebuah getaran ringan tiba-tiba terasa di bawah kaki. Sesuatu yang menyerupai gempa itu memaksa Paijo menghentikan kata-katanya. Seketika itu juga membuatnya bersikap waspada.
Hal yang sama juga terjadi pada seluruh pasukan UF. Sorak sorai yang sebelumnya meluncur riang dari mulut setiap anggotanya kini tak lagi terdengar. Sikap santai dan lega mereka pun seketika terganti oleh kewaspadaan. Semua mengamati sekeliling, berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tangan-tangan terlatih mereka pun kembali menggenggam senjata. Semua bersiap dengan kuda-kuda terbaik. Menunggu sesuatu yang bisa kapan saja muncul di depan pelupuk mata.
Sebagai petualang ataupun prajurit yang telah banyak dihadapkan pada sebuah pertarungan, baik itu di tempat pelatihan atau di tengah sebuah misi pasti mampu menilai situasi di sekitarnya dengan cepat. Hanya dalam sekejap insting mereka akan menentukan tingkat bahaya yang sedang mengintai di luar sana. Hal tersebut sedang terjadi pada semua orang yang ada di sekitar lembah Hutan Tanah Hitam, termasuk Paijo dan Babanyu, serta sosok humanoid singa yang menjadi pemimpin pasukan penyerang UF. Mereka semua memiliki kesimpulan yang sama, yaitu bahaya tingkat ekstrim sedang mengincar seluruh pasukan UF yang masih berada di dalam kubah pelindung.
"Semuanya mundur! Lari! Cepat keluar dari sana!" teriak Sang Pemimpin pasukan UF. Panik sekaligus ngeri tergurat jelas di wajah singanya.
Mendengar perintah yang disuarakan dengan sangat lantang, seluruh pasukan UF yang sebelumnya hanya berdiam diri di tempat bergegas mengambil langkah seribu. Kaki-kaki mereka menghentak kuat dan bergerak secepat mungkin. Baik penyerang jarak jauh maupun dekat, semua bergerak ke arah mereka datang sebelumnya. Tidak ada lagi yang memperdulikan formasi. Semua melaju seperti sedang dikejar kematian. Tidak ada kata berhenti atau pun berniat menoleh ke belakang. Rasa takut dan ngeri telah merasuk hingga ke relung jiwa terdalam. Hanya satu keinginan mereka saat ini, yaitu ingin segera keluar dari medan pertempuran.
Sayang seribu sayang, secepat apapun pasukan UF berlari, usaha mereka berakhir dengan sia-sia. Saat jarak dengan kubah pelindung hanya tersisa tidak lebih dari tiga ratus meter, tanah di hadapan mereka tiba-tiba mengalami keretakan hebat. Celah-celah terbentuk dan menyebar dengan sangat cepat ke segala arah, memaksa langkah-langkah penyelamat nyawa berhenti bergerak dan mematung ditempat. Namun itu hanya permulaan. Hal yang jauh lebih mengerikan dan tak pernah terduga oleh siapapun sebenarnya sedang bersembunyi di bawah retakan.
__ADS_1