The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 24 - Bantuan


__ADS_3

Segala macam pertempuran jika didominasi oleh salah satu pihak dapat dipastikan hanya akan berlangsung singkat. Sama halnya dengan apa yang sedang menimpa pasukan UF di Hutan Tanah Hitam. Hanya dalam kurun waktu tidak lebih dari dua menit, seperempat pasukan UF telah meregang nyawa. Mereka terbunuh dengan cara yang sangat tragis. Tubuh terpotong-potong, terbelah dengan bekas irisan yang sangat rapi. Pertanda jika tubuh mereka tertebas dengan sekali ayunan.


Darah mengucur kemana-mana, menyembur di udara laksana air mancur dan terciprat di tanah layaknya pupuk cair di ladang perkebunan. Teriakan histeris dan dipenuhi rasa sakit menjadi satu-satunya irama pengiring pertempuran. Bagi anggota pasukan UF yang tak sanggup menghadapi apa yang tertangkap mata, dapat dipastikan nyawa mereka akan melayang. Alasanya tentu saja karena tubuh mereka terlanjur membeku, otot dan persendian mereka tak sanggup menerima tikaman rasa ngeri hingga akhirnya membuatnya kehilangan tenaga. Yang bisa mereka lakukan di saat seperti itu hanyalah menatap, menyaksikan detik-detik terakhir kehidupan mereka direnggut, merelakan tubuh berubah menjadi kabut hitam dan menghilang di tengah ketiadaan.


Sedangkan bagi yang masih memiliki semangat juang hidup, mereka mencoba melakukan apa yang mereka bisa. Ada yang membalas serangan dengan kekuatan seadanya. Ada yang menggunakan kelincahan mereka untuk menghindar atau mencari celah untuk melarikan diri dari medan pertempuran. Ada juga yang berusaha bertahan sekuat tenaga dengan memanfaatkan tingginya status pertahanan mereka. Bahkan ada sebagian kecil dari mereka yang membentuk ulang kelompok-kelompok kecil dan menyusun kembali formasi pertempuran. Namun, walau terkesan heroik dan pantang menyerah, di mata siapa saja yang menjadi penonton pertempuran apa yang dilakukan setiap anggota pasukan UF terkesan sia-sia karena mereka terlanjur terperosok terlalu dalam ke jurang kematian, dan hanya kematian yang akan menghentikan perjuangan mereka.


Paijo sadar tindakannya tidak akan mengubah apapun. Tapi Paijo juga tidak bisa hanya tinggal diam menyaksikan pembantaian di depan matanya. Walau semua Zerenian dapat hidup kembali satu tahun kemudian, tetap saja rasa sakit dan beban mental saat menghadapi kematian bukan sesuatu yang bisa dilupakan begitu saja. Bahkan hampir semuanya akan mengalami trauma. Entah itu hanya trauma ringan yang dapat dihilangkan setelah beberapa hari ataupun trauma berat yang memaksa siapa saja penderitanya tak lagi bisa menjalani kehidupan dengan normal.


"Bom es!" seru Paijo pelan saat melewati kubah pelindung. Sepersekian detik kemudian asap hitam menyeruak keluar dari gelang putih, merayap cepat ke telapak tangan dan meninggalkan sebentuk tabung berbahan logam di sana sebelum kembali terserap ke tempatnya semula. Tabung tersebut sama seperti peledak yang digunakan Paijo saat membantai ribuan babi. Yang berbeda ada sepuluh batu berwarna biru muda yang menempel di permukaannya. Batu yang tersusun rapi itu memiliki diameter tidak lebih dari satu sentimeter.


"Apa itu?" tanya Babanyu penasaran. Selama hidup di Gedhetenan Land dia belum pernah melihat benda seperti yang sedang di genggam Paijo.


Paijo tidak menjawab. Perhatiannya terfokus pada boss yang sedang berhadapan dengan salah satu anggota UF. Sosok tersebut memiliki rambut berupa rumput dan sedang terdesak. Dengan sisa tenaga yang ada, sosok bertubuh tak lebih tinggi dari Paijo itu terus menciptakan dinding pelindung dari akar. Tapi secepat dan setebal apapun pelindung yang dia ciptakan tetap saja setiap serangan lawannya mudah mengoyaknya.


"Rasakan ini!" lanjut Paijo seraya menekan pemicu di ujung tabung, lalu melempar ke boss yang menjadi target saat hanya berjarak lima meter.


Ledakan cukup besar terjadi sesaat kemudian tepat di tubuh monster tersebut. Kabut es seketika menyebar dari pusat ledakan. Sangat pekat hingga menyebar dalam radius tiga meter. Di saat bersamaan suara keretak es mengalun nyaring, menandakan jika ada yang baru saja membeku dengan sangat cepat.


Monster yang sebelumnya berwarna hitam legam itu kini berubah menjadi putih kebiruan. Tubuhnya membeku dengan posisi menebas. Memaksa salah satu pedang api hitamnya berhenti di udara, tepat sekitar lima sentimeter dari dahi sosok berambut rumput.


Mengetahui usahanya membuahkan hasil, Paijo berlari ke boss monster lain terdekat dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, lalu berpindah-pindah lagi hingga remaja manusia itu berhasil membekukan tujuh boss di sekitarnya.


Mendapati lawan tak lagi bergerak, baik sosok berambut rumput maupun belasan anggota UF melempar pandangan ke sekeliling sebelum terhenti pada Paijo yang baru saja membekukan salah satu bos. Bagi para anggota UF yang baru saja dijauhkan dari jurang kematian untuk dapat menemukan dalang utama dari apa yang terjadi barusan bukan hal sulit. Paijo bukan Zerenian berlevel tinggi. Bahkan dia belum menembus meditasi tahap pertamanya. Jadi dengan kekurangan itu tentu saja secepat apapun gerakan Paijo tetap saja akan dengan mudah tertangkap mata oleh semua anggota UF di medan pertempuran mengingat level mereka semua jauh di atas Paijo.


"Hai! Apa itu kau yang waktu itu?" Sebuah pertanyaan tiba-tiba menyambar telinga Paijo. Suaranya lembut dengan sedikit bumbu serak di setiap katanya.


Spontan Paijo menoleh ke sumber suara. Sekitar lima belas meter dari tempatnya berdiri, Paijo melihat sesosok makhluk berkulit hijau muda sedang mendekat.


"Hai! Apa kau baik-baik saja?" tanya Paijo balik.


Sosok berambut rumput itu mengangguk sesampainya di depan Paijo. "Thanks! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kau tidak datang. Ini benar-benar... "

__ADS_1


"Sudahlah! Tidak usah-- dipikirkan!" Paijo memotong. Nafasnya sedikit tersengal karena terus berlari sejak meninggalkan tempat bersembunyinya. "Aku hanya melakukan seperti apa yang pernah kau lakukan padaku. Jadi-- "


"Tapi-- "


"Sebaiknya kita bicarakan itu nanti!" Paijo kembali memotong. Seraya mendekat, Paijo mengeluarkan lima bom es. "Gunakan ini untuk menyelamatkan teman-temanmu."


"Apa ini?" tanya sosok berambut rumput. Walau penasaran dan tidak tahu apa yang disodorkan Paijo, sosok tersebut tetap menerimanya. Sesaat dia mengamati salah satu bom es, mencoba memahami apa yang ada di tangannya itu.


"Itu bom es. Peledak pembeku seperti yang aku gunakan barusan." Paijo menjelaskan secara singkat. "Sekarang kau bantu aku menyelamatkan teman-temanmu. Gunakan bom itu untuk membuka jalan kabur."


Setelah mendengar permintaan mendadak Paijo dan memahami cara kerja peledak di tangannya, sosok berambut rumput bergegas pergi, menghampiri bos-bos lain untuk segera menyelamatkan anggota UF lainnya. Untuk mempercepat penyelamatan, Paijo juga memberikan bom es pada anggota UF yang sempat dia selamatkan. Dengan banyaknya bala bantuan, Paijo yakin akan ada banyak anggota UF yang dapat diselamatkan dari lubang kematian.


Karena tidak ingin membuang waktu, Paijo menyusul. Dia berlari ke bagian tengah medan pertempuran yang dipenuhi seperempat pasukan UF. Paijo berharap sesampainya di sana dapat mengkoordinir mereka dan membekali sebagian dari mereka dengan bom es sebagai alat pembuka jalan. Namun saat baru lima puluh meter berlari, sesuatu yang tidak pernah diharapkan oleh siapapun menghentikan langkah Paijo. Sebuah pukulan yang entah dari mana datangnya tiba-tiba menghujam tubuh Paijo dengan sangat keras, sekejap membuat tubuh kecil manusianya terbang sejauh puluhan meter sebelum akhirnya berhenti menghantam tanah hingga porak poranda.


"Apa kau baik-baik saja?" Babanyu panik.


Paijo terbatuk-batuk. Darah segar tersembur dari mulutnya. Wajah Paijo merah menyala karena menahan rasa sakit yang menggila di sekujur tubuh.


Di saat itu juga empat octagon sihir hijau muncul di sekeliling Paijo dengan sangat dramatis. Untaian garisnya tergurat di udara secara tiba-tiba, membentuk berbagai macam simbol dan tulisan kuno yang tidak bisa dipahami oleh siapapun. Setelah octagon sihir terbentuk sempurna hanya dalam sepersekian detik, simbol penciptaan sihir tersebut bercahaya terang dan berputar pada porosnya. Di saat bersamaan butiran cahaya hijau berhamburan dari seluruh permukaannya, membasuh Paijo hingga sekujur tubuhnya berselimut aura hijau.


"Thanks!" seru Paijo. Perlahan wajahnya yang merah menyala kembali seperti semula. Guratan penderitaan karena menahan rasa sakit sedikit demi sedikit juga lenyap dari wajahnya. "Untung kau memiliki skill penyembuhan. Ini benar-- benar sangat membantu."


Paijo mencoba berdiri. Namun karena rasa sakit kembali menghantam tubuhnya, remaja manusia itu kembali tersungkur. Walau tak terlalu menyakitkan, tetap saja luka yang baru diterimanya cukup parah. Paijo tidak menyerah. Sekali lagi mencoba berdiri, tetapi usahanya kembali sia-sia dan membuat dirinya kembali tersungkur di antara puing-puing tanah yang berserakan di sekitarnya.


"Ini… " Perhatian Paijo tidak sengaja tertuju pada sebentuk cairan lengket dan kental yang membalut tangannya. "Apa ini ulahmu?" tanya Paijo sembari mengamati sekujur tubuh. Ternyata cairan lengket berwarna biru muda menyerupai gel itu juga membalut Paijo dari kepala hingga kaki.


"Ya. Skill pelindung terkuat yang kumiliki." jawab Babanyu. "Sepertinya kita memang terlalu lemah untuk berada di sini. Padahal skill itu meniadakan tujuh puluh lima persen serangan fisik dan lima puluh persen serangan sihir."


Paijo cukup terkejut dengan penjelasan Babanyu. Tujuh puluh lima persen bukan angka yang sedikit. Namun efek serangan yang diterima Paijo masih sangat kuat. Bahkan setelah diberi skill penyembuhan Paijo masih belum bisa berdiri. Bagaimana jika Babanyu terlambat sedikit saja menggunakan skillnya? Tentu saja Paijo akan meregang nyawa saat itu juga.


"High Health!" seru seseorang.

__ADS_1


Delapan octagon hijau muncul di sekitar Paijo dari ketiadaan. Ukurannya dua kali lipat dari octagon sihir penyembuhan Babanyu. Cahaya yang dipancarkan juga jauh lebih terang. Begitu juga dengan putarannya yang tentu saja juga lebih cepat. Mendapati hal tersebut, baik Babanyu maupun Paijo tidak berkomentar apapun. Namun ada satu hal yang terlintas di otak mereka, sebuah pemikiran yang menyimpulkan jika sihir tersebut ditujukan pada Paijo.


Rasa nyaman dan tenang seketika dirasakan Paijo saat butiran cahaya hijau membasuh sekujur tubuh. Rasa sakit yang sangat menyiksa perlahan mereda seiring berjalannya waktu. Tubuh yang sebelumnya tidak bisa digerakan satu persatu dapat berfungsi dengan baik. Proses penyembuhan terjadi hanya dalam dua detik. Di waktu yang sesingkat itu pula rasa sakit menghilang tak bersisa.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya seseorang. Suaranya sama dengan sosok perapal skill penyembuhan beberapa detik sebelumnya. "Aku tadi melihatmu... "


"Sekarang aku baik-baik saja." potong Paijo. Sesaat pandangannya terlempar ke sumber suara. Lalu tersenyum saat mengetahui jika penolongnya adalah sosok berambut rumput. "Thanks!"


"Lebih baik kau segera pergi! Tempat ini terlalu berbahaya untukmu." kata sosok berambut rumput yang kini berdiri tidak jauh dari Paijo. "Dengan levelmu sekarang itu sama saja-- bunuh diri." lanjutnya dengan sedikit sungkan saat menyelesaikan ucapannya.


"Dia benar." Babanyu menyetujui. "Level kita terlalu rendah untuk bisa memberi perlawanan. Kita bisa kembali lagi setelah level kita mendekati seratus. Lagi pula yang terpenting kita sudah mengetahui rahasia bos tempat ini." lanjut Babanyu dengan suara yang hanya bisa didengar Paijo.


"Tunggu apa lagi! Cepat pergi dari sini!" desak sosok berambut rumput. "Kau sudah banyak membantu kami. Berkatmu hampir setengah dari kami yang berhasil selamat. Ini sudah cukup. Tugasmu sudah selesai di sini."


Untuk sesaat Paijo tidak menanggapi. Dia diam dalam pemikirannya sendiri. Bagaimanapun juga apa yang dikatakan Babanyu maupun sosok berambut rumput tidak bisa disanggah. Semua yang mereka katakan benar dan tentu saja demi keselamatan Paijo. Namun bagi Paijo, apa Yang telah terjadi tidak seharusnya berakhir begitu saja dengan hasil merugikan di pihak Zerenian.


Paijo yakin masih ada cara untuk mengakhiri pertarungan untuk selamanya. Tapi apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut? Sekeras apapun berpikir, Paijo kesulitan menemukannya. Jika dilihat dari level, siapapun yang ada di dalam kubah pelindung tidak bisa menyaingi tingkatan level Boss tempat ini. Sedangkan jika melihat situasi dan kondisi sekarang, apa yang terjadi sangat tidak menguntungkan pihak UF mengingat ada banyak sosok bos yang dapat mengikis perbedaan jumlah di kedua belah pihak. Dilihat dari manapun dan dengan cara apapun, Paijo yakin jika pertempuran akan sepenuhnya dimenangkan Bos Hutan Tanah Hitam. Itu mutlak dan harus diterima oleh dirinya.


Namun saat keputusasaan mulai menggelayuti, tanpa sengaja perhatian Paijo terfokus pada sebongkah batu di dekat tangannya. Masih dengan kondisi tersungkur, Paijo meraih batu berwarna hitam itu. Selama beberapa detik Paijo mengamati dan mencoba mengingat sesuatu yang kemungkinan tersimpan di otak. Selain warnanya yang hitam pekat, permukaan batu tersebut mengkilap, dan dari aromanya tercium sesuatu menyerupai bahan bakar.


"Jangan-jangan ini-- batubara?" Paijo menyimpulkan. Suaranya pelan hingga terdengar seperti gumaman.


"Apa katamu?" tanya sosok berambut rumput.


Paijo berdiri dari tempat tersungkurnya. Tatapannya tajam dan dipenuhi keoptimisan. Seraya menatap sosok berambut rumput Paijo bertanya, nada suaranya tenang tanpa terbalut takut ataupun ngeri, "Siapa namamu?"


"Yenyen."


"Aku Paijo." Balas Paijo memperkenalkan diri. "Dengar baik-baik apa yang akan aku katakan. Ingat! Jangan sampai ada yang terlewat. Kenapa? Karena aku memiliki cara untuk mengakhiri pertempuran ini untuk selamanya."


__ADS_1


__ADS_2