The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 19 - Toko Aksesoris


__ADS_3

Sebelum berburu, Paijo dan Babanyu memutuskan pergi ke toko aksesoris terlebih dahulu untuk membeli sebuah topeng. Awalnya Paijo menolak atas saran tersebut. Selain tidak memiliki uang untuk membelinya, menurut Paijo topeng bukan perlengkapan yang dibutuhkan untuk saat ini. Kalaupun ada tambahan status dari perlengkapan penutup wajah itu tetap saja tidak akan memberi banyak dampak. Namun setelah Babanyu menjelaskan panjang lebar alasannya yang merupakan akibat atas apa yang telah Paijo lakukan sehari sebelumnya, Paijo mulai berpikiran logis.


Sebenarnya Paijo sulit mempercayai setiap perkataan Babanyu mengenai efek dari perbuatannya kemarin karena merasa apa yang terjadi terlalu dibesar-besarkan. Paijo beranggapan jika apa yang dia lakukan pada gerombolan Little Hell Pig hanya hasil dari sebuah perhitungan sederhana dan perlengkapan tidak berguna yang sudah lama teronggok di gudang Pertanian Aman.


Paijo tidak pernah berpikir jika tindakannya akan menjadi trending topik di AZTube dengan total penonton lebih dari satu miliar dan masih terus bertambah. Apalagi dengan belasan juta penonton yang menyukainya dan lebih dari setatus juta kali dikomentari. Hampir semua komentar mengutarakan kekaguman dan ketidakpercayaan atas apa yang mereka lihat.


Setelah melihat video yang ternyata diunggah oleh seorang AZTuber terkenal bernama Lukman, Paijo langsung serius memikirkan semua ucapan Babanyu. Dinilai dari sisi manapun Babanyu benar adanya. Menjadi viral memang sama saja dengan menciptakan dinding kebebasan. Baik itu di bumi maupun di Gedhetenan Land, sosok yang menjadi objek keviralan akan kesulitan dalam memijaki kehidupan sampai sosok tersebut terlupakan. Paijo sangat memahami hal tersebut. Apalagi sejak meninggalkan Pertanian Aman, banyak orang meneriaki dirinya dengan berbagai macam kekaguman dan harapan. Bahkan ada beberapa guild yang mencoba merekrutnya dengan iming-iming penghasilan besar dan dijadikan petinggi. Seperti kata Babanyu, semua itu sangat mengganggu dan satu-satunya cara untuk menghindarinya tentu saja dengan menyembunyikan identitas. Salah satunya dengan menggunakan topeng.


"Nah! Di sini tempatnya! Toko aksesoris terbaik di kota pemula. Bukan. Tapi yang terbaik di seantero Gedhetenan Land." kata Babanyu dengan penuh bangga. Suaranya menggema di kepala Paijo.


Ekspresi Paijo berubah masam. Saat kakinya berhenti melangkah di ujung gang, tepat di depan sebuah toko berukuran kecil, ragu seketika meletup di benak Paijo. Keraguan Paijo wajar karena selama perjalanan ke tempat ini Babanyu terus mengoceh tentang kehebatan toko yang akan didatangi. Baik itu kualitasnya, harganya yang murah, hingga pemiliknya yang ramah dan baik hati, serta berbagai macam hal kebaikan yang dapat membuat siapa saja pendengarnya akan merasa antusias untuk datang ke toko tersebut. Tapi kenyataannya semua ocehan Babanyu terasa seperti omong kosong belaka sekarang.


"Kau yakin ini tempatnya?" Paijo mencoba meyakinkan. Berharap teman barunya itu salah tempat atau lupa dimana letak tokonya. "Sepertinya-- tempat ini… "


"Cepat masuk! Tidak usah banyak tanya!" Babanyu memotong.


Paijo mengamati sekeliling. Jika diperhatikan dengan seksama, bangunan-bangunan yang mengapit gang tempat dimana Paijo berdiri sekarang terlihat terawat dan sangat layak dihuni, bahkan ada beberapa yang berlantai dua. Berbeda dengan toko dihadapan Paijo. Bagian depan bangunan tersebut hanya memiliki lebar tidak lebih dari tiga meter. Cat coklat di dindingnya sudah banyak yang mengelupas. Sedangkan papan nama bertulisan Dodoran di atas pintu terlihat rapuh dimakan usia, tidak lagi dilapisi cat dan memiliki banyak lubang bekas gigitan rayap. Jika tidak memperhatikan dengan seksama, tidak akan ada yang pernah mengira jika bangunan tersebut merupakan sebuah toko.


Paijo tidak memiliki pilihan lain selain memasuki toko di hadapannya. Di tengah situasi saat ini, Paijo tidak bisa berkeliling kota seenaknya. Semua penghuni kota pasti akan langsung mengenali Paijo saat berada didekatnya. Paijo sadar hal tersebut sangat tidak menguntungkan baginya. Apalagi Paijo telah menjadi daftar buronan bagi lima ras teratas. Dengan kata lain nyawa Paijo akan selalu terancam dimanapun dia berada.


"Sepertinya aku memang tidak punya pilihan lain." Paijo akhirnya menyerah. Langkahnya terayun mantap mendekati pintu toko. "Semoga saja ada keberuntungan di tempat ini."


Saat memasuki toko, kesan pertama yang meluap di benak Paijo adalah kecewa. Biasanya, jika ada yang merekomendasikan sesuatu pasti ada dua hal di balik rekomendasi tersebut. Pertama tentu saja sesuatu yang berkesan positif, sedangkan yang kedua sudah pasti sebuah akal-akalan seseorang demi mendapat sebuah keuntungan, atau biasa dikenal sebagai penipuan.


Setelah melihat dengan mata kepala sendiri, saat itu juga Paijo langsung merasa ditipu oleh satu-satunya teman yang kini mendiami tubuhnya. Paijo merasa seperti itu karena apa yang terpampang di hadapannya tidak bisa disebut sebagai toko. Mungkin lebih tepatnya sebagai toko yang baru saja mengalami kebangkrutan.


Sejauh mata memandang, lemari kaca dan rak-rak yang menempel di dinding hampir semuanya kosong dan berdebu. Sedangkan beberapa perlengkapan seperti cincin, kalung, mahkota dan topeng yang terpajang terlihat sangat kusam dan tidak terurus. Paijo juga yakin perlengkapan yang berbalut debu dan sarang laba-laba itu hanya perlengkapan biasa.


"Cepat tekan bel yang ada di ujung sana. Ingat! Pertama, lakukan sebanyak 4 kali, lalu tiga kali, lima dan yang terakhir dua kali. Jangan lupa untuk memberi jeda beberapa detik di setiap angkanya."


"Apa itu sebuah kode?" tanya spontan Paijo, menyadari jika jumlah penekanan bel bukan angka-angka sembarangan.

__ADS_1


"Bisa dibilang seperti itu. Ayo cepat!"


Paijo menurut. Tidak ada salahnya mengikuti perkataan Babanyu sekarang karena cara bicara sosok dari ras Kotostos itu tentang tempat ini memang terkesan penuh keyakinan walau sampai detik ini tidak ada hal positif yang dapat membuat Paijo girang. Sesampainya di depan sebuah meja kayu di ujung ruangan, Paijo langsung menekan bel berbahan logam yang ada di atasnya sesuai dengan arahan Babanyu.


Tak berselang lama, setelah denting terakhir menggema di seluruh ruangan, pintu di belakang meja terbuka perlahan. Dari baliknya muncul sesosok makhluk berperawakan menyerupai manusia. Bentuk kepala, tangan dan kakinya bak seorang lelaki dewasa dengan rambut gimbal dan memiliki brewok panjang. Seandainya Paijo tidak memperhatikan dengan teliti bagian dagunya yang dihiasi tanduk kecil di kedua sudutnya dan telapak tangannya yang berwarna hitam dan tebal seperti kapalan Paijo pasti akan mengira sosok tersebut sebagai manusia.


"Apa maumu?" Tanya sosok berambut hitam kelam itu. Setelah menutup pintu, dia langsung mendekati Paijo. Tatapan sosok yang tubuhnya lebih tinggi dua puluh sentimeter dari Paijo itu tajam. Wajahnya garang dan penuh ancaman. Tidak ada sedikitpun gurat senyum di sudut-sudut bibirnya.


Seketika Paijo merasa tertekan. Entah kenapa Paijo merasa ada sesuatu di dalam sosok di hadapannya itu yang seolah sedang memberi hentakan kuat di sekujur tubuhnya.


"Aku-- aku-- mencari topeng."


"Topeng?"


Paijo mengangguk cepat. "Ya. Untuk menutupi wajahku. Semakin tertutup maka semakin baik."


Tanpa ada perubahan ekspresi di wajahnya, sosok berambut hitam itu menatap Paijo tanpa berkedip. Tatapannya semakin tajam dan dahinya mengerut seolah sedang memikirkan sesuatu. "Jika kau hanya ingin mencari topeng, ada satu di sebelah sana." balas sosok berambut gimbal, perhatiannya berpindah ke sudut ruangan di sebelah pintu, tertuju pada sebuah topeng hitam legam di lemari berkaca.


"Apa-- anda memiliki koleksi-- lain?" Paijo berusaha bersikap setenang mungkin. Namun walau begitu tetap saja kata-katanya ada yang terbatah, seolah ada sesuatu yang menghalau pita suaranya agar tetap diam.


Sosok di balik meja menggeleng. "Hanya itu topeng yang aku punya."


"Kalau begitu… "


"Semua yang datang kemari harus membeli sesuatu." tiba-tiba sosok berbrewok panjang itu mendekatkan wajahnya ke Paijo. Matanya tajam penuh ancaman. "Jadi kau harus membeli sesuatu dari tokoku. Jika tidak-- kau akan kehilangan satu tahun kehidupan di dunia ini."


Paijo menelan ludah. Dia sangat memahami maksud dari setiap ucapan sosok di depannya. Dari ekspresinya yang mulai dihiasi amarah membuktikan jika sosok tersebut tidak sedang bercanda. "Kalau begitu-- berapa harganya?"


Senyum seketika mengembang di bibir Sang Pemilik toko. Dengan sigap, dia kembali berdiri tegak. "Sepuluh juta duwit."


"Eh! Berapa?" Paijo merasa ada yang salah dengan kata-kata Sang Pemilik toko.

__ADS_1


"Harganya sepuluh juta duwit. Kau tidak salah mendengarnya."


Ternyata tidak ada kesalahan di sini. Baik telinga Paijo maupun mulut Sang Pemilik toko, semuanya baik-baik saja dan dalam keadaan normal. Namun yang menjadi masalah adalah Paijo tidak memiliki uang sebanyak itu. Di gelang penyimpanannya hanya ada seratus duwit, itu pun sumbangan belas kasihan saat berada di tanah lapang sebulan lalu.


Paijo bingung. Mustahil Paijo pergi tanpa membawa apapun. Paijo juga tidak mungkin menawar atau menilai jika harga tersebut sangat mahal. Alasannya tentu saja karena keberadaan sosok di depannya yang bisa kapan saja mengirimnya ke alam baka.


"Bukannya aku… "


"Apa?" potong Sang Pemilik toko. Senyumnya menghilang, sedangkan tatapannya berubah tajam penuh ancaman. "Jangan bilang kalau kau tidak punya uang!"


Paijo memaksakan tawa meluncur dari mulutnya. "Itu-- sepertinya-- kau memang benar."


"Ternyata kau memang ingin mati." Sang Pemilik toko murka. Otot-otot di wajahnya menggembung di balik kulitnya yang penuh amarah. Dengan satu tangan, sosok yang telah kehilangan kesabaran itu mengangkat meja di depannya dan melemparnya ke pintu hingga hancur. Tidak berhenti disitu, juga dengan mudahnya, kedua tangannya meraih lemari rak setinggi Paijo dan kembali melemparnya ke arah pintu.


Menyaksikan luapan amarah yang tak terkendali di depan mata, Paijo menjauh perlahan. Keringat dingin mengucur deras di tubuhnya. Paijo berniat lari, namun kemana harus mengambil langkah mengingat pintu toko telah terhalang puing-puing. Seandainya pun bisa menerobos paksa pintu toko, tetap saja pelariannya akan sia-sia karena dapat dipastikan sosok di hadapannya berlevel tinggi.


Paijo berusaha tetap tenang, mencoba berpikir jernih dan mencari cara untuk keluar dari situasi kacau ini. Menurut Paijo, melawan atau melarikan diri bukan pilihan yang bisa diambil. Satu-satunya jalan keluarnya adalah dengan membeli topeng hitam itu. Tapi uang sebanyak sepuluh juta duwit bukan sesuatu yang pernah terbayangkan Paijo. Bahkan sejak menginjakkan kaki di Gedhetenan Land sampai detik ini Paijo tak pernah menyimpan lebih dari seratus duwit pun. Jadi harus ada cara lain agar Paijo tetap bisa membeli topeng tersebut? Paijo mencoba menghubungi Babanyu, namun sosok tersebut tak menanggapi.


"Bagaimana jika aku membelinya dengan cara lain?" kata Paijo cepat. Suaranya lantang hingga menggema ke seluruh ruangan.


Sang Pemilik Toko yang baru saja mengangkat sebuah kotak kayu dan hendak melemparnya ke Paijo seketika mematung. Ekspresinya sedikit melunak. Sedangkan rasa penasaran mulai tergurat di sudut-sudut matanya.


"Apa maksudmu?" tanya balik Sang Pemilik Toko seraya kembali meletakkan kotak kayu di lantai.


"Maksudku-- aku akan membelinya dengan jasa." Paijo tetap merekahkan senyum terpaksa, mencoba melelehkan ketegangan. "Seandainya kau membutuhkan sesuatu mungkin aku bisa mencarikannya untukmu. Aku rasa seperti itu-- contohnya."


Sebenarnya Paijo asal bicara dan tidak mengharapkan lebih dari perkataannya sendiri. Karena sebanyak apapun jasa yang Paijo lakukan tetap saja akan sulit menutupi uang sebanyak sepuluh juta duwit. Walau pun bisa, pasti akan memerlukan banyak pekerjaan.


Sang Pemilik Toko mendekati Paijo. Langkahnya mantap dan cepat. Seolah tidak ingin kehilangan kesempatan terbaik yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Murka dan amarah yang sebelumnya membekap sekujur tubuh lenyap tak bersisa dan tergantikan dengan senyum ramah dan penuh persahabatan. Sesampainya di depan Paijo, Sang Pemilik Toko menyodorkan tangan sebagai tanda ajakan untuk berjabat tangan.


"Aku setuju."

__ADS_1



__ADS_2