
Paijo membuka matanya perlahan saat kesadarannya kembali. Lalu menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan dimana dirinya berada. Setelah sesaat mengamati sekitar dan sudah terbiasa dengan rasa sakit di bagian belakang kepala akibat hantaman sebelumnya, Paijo bangun dari tidur dan bersandar pada dinding di belakangnya. Paijo baru sadar jika ternyata ada di teras rumah yang sebelumnya dia datangi setelah selesai memindai keadaan sekitar dengan lebih teliti.
"Akhirnya kau sadar juga." kata seseorang.
Mendengar ada yang bicara, Paijo segera menoleh ke sumber suara. Sesosok makhluk humanoid sedang duduk di sudut teras lain. Sebentuk cangkir bertengger di tangannya yang menandakan jika sosok tersebut sedang menikmati minuman hangat.
Paijo tidak bisa menentukan sosok tersebut dari garis keturunan apa. Tapi jika dilihat secara kasat mata, wajah sosok tersebut memiliki tekstur seperti manusia, berkulit coklat tua dan dipenuhi keriput. Rambut putih berpotongan cepak di kepalanya terlihat tebal, setiap helainya berdiameter dua milimeter. Dia juga memiliki janggut yang juga berwarna putih dan panjang. Di sekeliling lehernya terdapat suatu lembaran-lembaran berwarna merah kehitaman menyerupai mahkota bunga, bertumpuk-tumpuk dan lebar.
"Status!" Paijo penasaran dengan sosok tersebut dan memutuskan untuk melihat siapa dia sebenarnya.
Nama: ???
Ras: Matandur
Verenian
Level ???
Rank: ???
Rebith ???
Bakat: ???
???: ???
"Ras Matandur! Tapi kenapa banyak tanda tanyanya? Ah! Pasti karena levelku masih rendah." Paijo bicara sendiri dengan sangat pelan hingga terdengar seperti sebuah desisan. Paijo sengaja mengeluarkan suara sepelan mungkin agar tidak mengganggu sosok yang masih asyik dengan cangkir minumannya.
__ADS_1
"Dasar tidak tahu sopan santun!" Sosok yang sejak tadi sibuk menikmati cairan di cangkir kayunya tiba-tiba meninggikan suara. Ada amarah yang membalut setiap kata-katanya.
Merasa amarah sosok di seberang teras tertuju pada dirinya, Paijo segera mengambil posisi bersujut dan berkata, "Maaf Tuan! Karena sudah masuk tanpa izin. Mohon ampuni aku yang lancang ini! "
Sikap spontan yang langsung merendahkan harga diri membuat Paijo yakin jika tindakannya menerobos masuk Pertanian Aman akan dimaafkan begitu saja. Namun apa yang terjadi melenceng jauh dari harapan Paijo. Bukannya memaafkan, sosok tersebut kembali bicara, kali ini dengan suara keras dan membentak. Paijo yang baru menyadari telah salah langkah hanya sanggup tersentak kaget dan bingung harus bersikap apa.
"Aku tidak sedang membahas itu. Tapi apa yang baru saja kau lakukan!"
"Apa yang baru saja aku lakukan?" Paijo bingung. Tidak paham dengan maksud sosok tersebut. Jika diingat, kesalahan terbesar Paijo tentu saja masuk ke Pertanian Aman tanpa ijin. Tapi bukan itu yang dimaksud. Lalu apa? Apa karena Paijo mengamati seisi pertanian dan mengingat apa yang dilihat di tempat ini? "Atau jangan-jangan..."
"Melihat status seseorang tanpa izin itu sama saja pelecehan. Apa kau tidak tahu itu? Apalagi pada seseorang yang berada jauh di atas levelmu." Sebelum Paijo sempat menyelesaikan kalimatnya, sosok yang masih duduk di tempatnya memotong. Nadanya penuh sindiran sekaligus ancaman. Walau sorot matanya terlempar jauh ke lahan pertanian, Paijo bisa merasakan amarah yang meledak di benak sosok tersebut.
"Eh! Jadi Tuan tahu jika..."
"Jangan samakan aku dengan yang lainnya! Dan jangan tanya bagaimana caraku mengetahuinya!"
Karena sudah mengetahui kesalahannya, Paijo bersujut lebih dalam dan memohon kembali, "Tolong maafkan aku Tuan! Tidak sedikitpun aku berniat melecehkan anda. Tapi jika Tuan memang merasa sangat tersinggung, aku siap dihukum dengan cara apapun. Aku siap melakukan apapun agar Tuan mau mengampuniku. Asal tidak memintaku untuk pergi dari tempat ini. Aku pasti akan memenuhinya. Karena aku…"
"Seharusnya dari awal kau tidak ada di sini. Apa kau tidak lihat tulisan dilarang masuk yang ada di gerbang?"
Paijo menggeleng. Paijo yakin tidak ada tulisan apapun di gerbang. Selain kedua daun pintunya yang masih kokoh dan papan nama yang bertengger di atas gapura, tidak ada hal lain seperti yang dimaksud sosok berkulit keriput itu. Walau ada itu hanya potongan-potongan kayu yang hancur karena dimakan rayap. Itu pun sudah teronggok di tanah dan tertutupi debu tebal.
"Sepertinya tulisan yang Tuan maksud sudah rusak." Setelah berpikir sejenak dan menimbang apa saja yang ada di gerbang depan, Paijo menduga jika potongan kayu yang hampir habis dimakan rayap adalah yang dimaksud.
"Benarkah?" Sosok di sudut teras cukup terkejut. Dia tidak menyangka jika apa yang selama ini menjadi alat untuk mengelabui siapa saja yang ingin mendatangi kediamannya telah hancur. Mendapati kenyataan tersebut sosok yang masih duduk di tempatnya menduga jika munculnya Paijo di tempat tinggalnya dipastikan karena sudah tidak adanya papan larangan di gerbang. Itu berarti pula Paijo tidak sepenuhnya salah. "Seharusnya dari awal aku menggunakan kayu yang lebih keras. Jadi apa tujuanmu datang kemari?"
Mendengar pertanyaan yang sejak awal sudah ditunggu-tunggu, Paijo segera menegakan badan. Ekspresinya berubah antusias sekaligus penuh harap. Tanpa perlu berpikir panjang lagi, Paijo menjawab, "Aku ingin belajar bertani. Aku ingin menguasai apa yang Tuan kuasai sebagai seorang Petani. Aku akan menguasai semuanya secepat yang tidak pernah Tuan bayangkan. Aku ingin menjadi seperti Tuan."
__ADS_1
Sosok di sudut teras menyemburkan minuman yang masih menggenang di rongga mulutnya. Ucapan Paijo tak ayal seperti pukulan telak bagi sosok tersebut. Bagaimana tidak? Selama hidupnya di Gedhetenan Land baru pertama kali ini ada seseorang yang ingin mempelajari bakat petani hingga seserius itu. Biasanya siapapun yang ingin bertani hanyalah orang-orang putus asa yang telah menyerah menjalani kehidupan keras di dunia ini, dan hanya ingin menjalani hidup tanpa memperdulikan apa itu yang namanya level. Asal bisa makan, maka itu sudah cukup bagi mereka. Apalagi bakat petani hanya sebuah bakat tingkat rendah yang hanya menghasilkan makanan. Berbeda dengan bakat-bakat bertipe petarung yang sangat berguna untuk menjelajahi dunia.
"Apa kau serius?"
Paijo mengangguk. Tidak ada keraguan yang terpancar dari matanya. "Sangat serius, Tuan!"
Melihat keseriusan Paijo, ekspresi sosok berambut putih juga berubah serius. Setelah meletakan cangkir kayunya di meja, sosok tersebut mengambil posisi duduk tegak. Matanya sekilas mengamati Paijo sebelum kembali terlempar ke lahan pertanian sambil berkata, "Apa tujuanmu? Lebih baik beri aku jawaban memuaskan. Jika tidak aku akan membunuhmu di tempat."
"Tujuanku? Tentu saja agar tidak kelaparan." Paijo mengatakan apa yang meletup di otaknya. Kata-katanya ringan seolah memang hanya itu yang menjadi titik akhir dari perjuangannya datang ke tempat ini. Bahkan sosok yang sejak tadi diam di tempat seketika berdiri dan menatap dengan penuh amarah. Tangannya mengepal karena merasa dipermainkan dan bersiap mengeksekusi salah satu skill miliknya untuk menghabisi Paijo. Namun sebelum hal tersebut terjadi Paijo kembali bicara.
"Bukan hanya untukku tapi juga untuk semua orang. Ya. Untuk semua orang yang kelaparan karena tak sanggup menghadapi kejamnya dunia ini. Dimanapun itu berada makanan merupakan pondasi dari kehidupan. Entah sekuat apapun itu, baik itu individu ataupun suatu kelompok besar, semua membutuhkan makanan agar tetap bisa menapaki terjalnya dunia. Aku yakin dengan menguasai bakat petani, aku bisa membantu orang lain walau itu hanya secuil makanan yang akan habis hanya dalam sekejap. Petani memang bukan sebuah bakat yang dapat mengubah dunia, tapi bakat yang akan selalu bisa memutar kehidupan."
Tawa tiba-tiba meledak dari mulut sosok di ujung teras. Suaranya lantang dan menggelegar hingga ke lahan pertanian. Ada sebuah kepuasan yang kini terpancar dari kedua matanya.
"Baik! Aku Aman akan mengangkatmu sebagai murid. Aku harap kau tidak akan mengecewakanku."
Paijo bergegas berdiri tegak dan sedikit membungkukan badan dan bicara, "Baik guru! Aku Paijo akan belajar sebaik dan secepat mungkin."
"Bagus. Aku suka semangatmu. Sekarang pulanglah! Dan kembalilah besok pagi!"
"Eh! Itu. Anu... " Paijo menggaruk kepalanya. Pandangannya seketika terjatuh ke lantai teras yang terbuat dari susunan potongan kayu. Bingung dan malu membuat Paijo ragu untuk melanjutkan kata-katanya. "Apa aku boleh tetap di sini saja?"
"Terserah! Tapi ingat! Jangan pernah masuk ke rumahku! Dan jangan pernah berniat untuk mengintip ke dalam."
"Baik guru!"
Inilah awal perjalanan Paijo. Sebuah awal yang akan mengubah seluruh jalan kehidupan di seantero Gedhetenan Land. Langkah awal yang akan membuat ras manusia yang sebelumnya selalu diremehkan dan dipandang sebelah maya akan sangat diperhitungkan dan disegani.
__ADS_1