The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 9 - Lari!


__ADS_3

Keesokan harinya, sesuai janji Aman, sepasang guru dan murid telah bersiap menjalankan pelatihan. Keduanya kini sedang berdiri di depan rumah. Paijo diam mematung di tempat, menunggu instruksi sang guru dengan penuh semangat dan antusias. Sedangkan Aman mondar-mandir di depan teras. Sosok tersebut sedang memikirkan sesuatu. Otaknya bekerja sangat keras, mencoba meracik daftar pelatihan Paijo.


"Seharusnya aku juga menguasai bakat guru."


Aman menyesal karena tidak pernah berniat untuk menguasai bakat guru. Seandainya saja menguasai bakat tersebut walau hanya beberapa tingkat, Aman pasti sudah bisa meramu bentuk pelatihan apa yang tepat bagi satu-satunya murid yang kini sedang haus akan ilmu darinya. Atau memanfaatkan skill tingkat rendahnya untuk membantu perkembangan Paijo.


Menyesal sekarang tidak akan mengubah apa-apa. Aman juga tidak mungkin mundur dan membuat Paijo kecewa berat. Namun Aman juga bingung harus melatih Paijo dengan cara seperti apa.


Sebenarnya beberapa saat lalu Aman dikejutkan oleh pengakuan Paijo mengenai dirinya yang belum mengalokasikan satu pun poin dasar ke statusnya. Hal tersebut benar-benar membuat Aman mengalami hentakan hebat di otak. Bagaimana tidak? Apa yang dilakukan Paijo merupakan sesuatu yang hanya dilakukan segelintir orang setelah menapaki Gedhetenan Land.


Jika orang awam mengetahui ketidakwajaran tersebut, pasti orang tersebut akan menganggap Paijo bodoh. Tapi tidak bagi Aman. Sosok yang sudah merasakan asam garam dan kejamnya dunia Gedhetenan Land menganggap tindakan Paijo sebagai sebuah kecerdasan sekaligus keberuntungan. Kenapa? Karena ada rahasia di balik poin dasar. Rahasia yang mampu meningkatkan poin atribut individu.


Misal pada kondisi normal, saat mengalokasikan satu poin status ke Strength maka akan menambah atribut serangan fisik sebesar seratus poin dan pertahanan fisik sebesar dua puluh lima poin. Namun jika orang tersebut mendapat pelatihan dan tubuhnya ditempa dengan benar maka satu poin strength bisa menambah atribut serangan fisik sebesar seratus dua puluh poin dan pertahanan fisik sebesar tiga puluh poin. Singkatnya penambahan atribut mendapat dua puluh persen lebih banyak.


Walau penambahan atribut bisa terjadi secara alami tergantung dari tubuh bawaan setiap ras, tetap saja menempa tubuh sebelum pengalokasian poin dasar merupakan hal yang sangat menguntungkan. Oleh karena itu membuat Aman berakhir dengan mondar mandir tidak karuan, bingung harus menyusun menu latihan seperti apa.


Paijo sekarang tak ayal seperti adonan tanah liat yang siap dibentuk sesuka hati. Jadi Aman berusaha sekeras mungkin memikirkan bentuk latihan yang dapat memaksimalkan penambahan poin di seluruh atribut Paijo.


"Baiklah! Sudah aku tentukan." Aman berhenti mengayunkan kedua kakinya. Lalu mendekati Paijo dengan ekspresi antusias dan kembali bicara, "Latihan pertamamu adalah lari."

__ADS_1


"Lari?"


Paijo yang mendengar ucapan Aman dengan sangat jelas langsung menatap curiga. Lari memang merupakan salah satu bentuk olahraga yang mampu meningkatkan stamina. Tapi apa hubungannya dengan menjadi seorang petani? Seketika itu pula Paijo dirundung cemas. Bakat petani berbeda dengan bakat bertipe pertarungan, jadi untuk apa melatih fisik? Paijo yang tidak mengetahui isi otak gurunya hanya sanggup menghela napas. Dia tidak berani memprotes karena takut dianggap sebagai murid kurang ajar dan akhirnya dicampakan begitu saja.


"Ya. Tapi tidak hanya lari. Kau akan ditemani…" Aman mengarahkan salah satu tangannya ke samping. Jemarinya terbuka lebar. "Lightning Creation - Lion!" lanjutnya dengan suara mantap dan tegas.


Sambaran-sambaran Petir seketika menyelimuti tangan Aman. Desisan-desisan khas suaranya bersahutan tanpa henti. Kilatan-kilatannya yang sebelumnya membalut tangan Aman bergerak ke depan cepat. Merambat di udara layaknya sulur-suluran, lalu memadat dan membentuk seekor singa jantan setinggi satu setengah meter. Singa tersebut langsung meraung saat Aman mengakhiri skillnya.


Paijo yang menyaksikan skill tersebut hanya sanggup terperangah. Walau Paijo sering menyaksikan hal tidak masuk akal di dunia game dan film-film fantasi, tetap saja melihat langsung sesuatu yang tidak masuk akal dengan mata kepala sendiri jauh lebih mengagumkan. Apalagi ini nyata, dan singa listrik di depan Paijo terlihat sangat mengancam.


"Dengar instruksiku baik-baik! Menu latihanmu hari ini hanya lari. Mudah kan? Tentu saja itu mudah. Tapi jika hanya seperti itu pasti tidak akan meningkatkan kemampuanmu secara signifikan. Oleh karena itu singa ini akan menemanimu."


Senyuman merekah lebar di bibir Aman. Sebuah senyuman yang mengandung kelicikan sekaligus kejailan. Paijo yang melihat tingkah gurunya langsung menyadari jika menu latihan yang hanya berupa lari tidak akan semudah yang dikatakan. Bahkan Paijo sudah bisa menduga jika latihannya akan terasa seperti di neraka.


Setelah mendengar instruksi sederhana gurunya, Paijo melakukan pemanasan sejenak sebelum berlari ke arah gerbang. Namun baru beberapa meter pergi, Aman kembali bicara dengan suara lantang, "Lebih baik kau lari lebih cepat! Karena satu menit lagi singaku akan mengejarmu. Dan jika jarak kalian kurang dari sepuluh meter, dia akan menyerang."


Peringatan Aman seketika menggetarkan tubuh Paijo. Keringat dingin tiba-tiba menetes di pelipis dan punggungnya. Jika perkataan Aman serius berarti pelatihan hari pertama yang seharusnya sebagai pengenalan berubah menjadi penyiksaan. Singa listrik ciptaan Aman pasti tidak memiliki rasa lelah. Sedangkan Paijo hanya seorang petani saat masih berada di bumi. Dengan kata lain singa itu dapat dipastikan akan menyerang Paijo tanpa henti dan ampun.


"Aku tidak akan pernah menyerah." kata Paijo menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Paijo tahu latihan yang sedang dijalaninya bukan sesuatu yang bisa dibilang mudah. Bahkan Paijo yakin cepat atau lambat akan kelelahan dan berhasil dikejar oleh singa buatan gurunya. Tapi Paijo tidak bisa terus terang memprotes bentuk pelatihan yang telah dirancang khusus untuknya, atau mengaku jika dirinya terlalu lemah dan meminta pelatihan yang lebih ringan.


Walau sebenarnya permintaan tersebut bukan sesuatu yang spektakuler, tetap saja Paijo tidak berani mengatakannya. Paijo takut gurunya akan langsung kecewa terhadap dirinya. Apalagi sehari sebelumnya Paijo telah berbicara panjang lebar mengenai keinginannya untuk menguasai apa yang dikuasai gurunya, dan mengungkap semua tujuannya menjadi seorang petani yang terkesan sangat mulia. Jadi jika Paijo tetap meminta keringanan dalam pelatihannya itu sama saja dengan membenarkan jika semua ucapannya sebelumnya hanya omong kosong belaka.


Satu menit akhirnya berlalu. Singa listrik buatan Aman langsung berlari menyusul Paijo. Gerakannya cepat. Sedikit lebih cepat dari Paijo. Sedangkan Paijo yang menyadari singa listrik telah bergerak dari tempatnya berusaha tetap tenang dan tidak bertindak gegabah.


Tanpa aba-aba aksi kejar-kejaran pun dimulai. Dengan sekuat tenaga Paijo berusaha menjaga kecepatannya tetap stabil. Sesekali manusia remaja itu menambah kecepatan agar jarak yang sempat terpotong oleh singa listrik dapat kembali melebar. Sedangkan singa listrik berlari dengan kecepatan konstan. Gerakannya mantap dan kakinya menapak lincah di atas tanah.


Tanpa terasa waktu telah bergulir selama beberapa menit. Gerakan Paijo yang awalnya penuh tenaga kini terlihat semakin sempoyongan. Nafasnya berat dan tersengal-sengal hebat. Keringat juga telah membanjir di sekujur tubuh Paijo. Mengetahui kondisinya menurun drastis hanya dalam beberapa menit, Paijo langsung dirundung pesimistis. Paijo yakin tidak akan bisa menyelesaikan latihannya di hari pertama. Bahkan bayang-bayang saat kucing besar ciptaaan gurunya itu menyerang mulai menghantui. Paijo tidak bisa membayangkan bagaimana kondisinya saat tubuhnya berakhir diterkam hewan tersebut.


Berbeda halnya dengan singa listrik. Sosoknya yang transparan dan berselimut kilatan listrik tidak sedikitpun menunjukan penurunan performa. Gerakannya stabil dan sedikit demi sedikit mengikis jarak dengan Paijo.


Mau tidak mau Paijo terpaksa menelan rasa malu. Kondisinya benar-benar memprihatinkan. Padahal baru beberapa menit berlalu, tetapi Paijo sudah tidak sanggup mengimbangi teman berlarinya yang terus menguntit di belakang. Sampai akhirnya sesuatu yang tidak pernah diharapkan Paijo terjadi.


Tepat saat gerbang terlihat di kejauhan, sebuah bola sebesar bola tenis melesat melewati Paijo. Bola tersebut berwujud transparan dan berselimut kilatan listrik. Saat menghantam tanah, bola tersebut meledak dan menyebarkan listrik hingga radius satu meter.


Melihat serangan mendadak yang hampir mengenai dirinya, Paijo langsung menoleh ke belakang, matanya terbelalak saat mendapati singa listrik telah masuk ke dalam jarak serangan. Tanpa memperdulikan apapun, singa listrik kembali melancarkan serangan. Lagi, lagi dan lagi.


Paijo tidak tinggal diam. Dengan kelincahan seadanya, Paijo berusaha menghindar. Tubuhnya bergerak ke kiri dan kanan, sesekali juga menunduk dan loncat. Gerakan Paijo cukup gesit. Kaki-kakinya berayun dengan ketepatan gerak sempurna. Walau tidak cepat, namun karena pergerakannya yang selalu pada momentum terbaik membuat remaja tujuh belas tahun itu berhasil selamat.

__ADS_1


Satu bola, dua bola, hingga belasan bola listrik berhasil dihindari. Mereka beterbangan dengan kecepatan tinggi di sekitar Paijo. Berdesis di udara layaknya ular dan meledak dengan penuh bahaya saat menyentuh tanah. Namun sayang seribu sayang, saat hampir mencapai ujung jalan, sebuah bola listrik menghantam punggung Paijo dengan sangat keras. Teriakan penuh kesakitan mengalun saat itu juga. Suaranya melengking tajam dan dibalut kengerian. Tubuh Paijo yang tak berdaya terdorong ke depan dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya menghantam garbang. Membuatnya seketika tidak sadarkan diri untuk yang kedua kalinya.



__ADS_2