The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 21 - Bos Hutan Tanah Hitam


__ADS_3

Dari penjelasan Babanyu, Paijo menyimpulkan jika UF di dunia ini sama halnya dengan Perserikatan Bangsa Bangsa atau PBB di bumi. Mereka dibentuk untuk melindungi perdamaian di antara banyak kelompok. Berbekal fakta sederhana tersebut, baik Paijo maupun Babanyu langsung mencurigai tindakan UF yang tiba-tiba mengirim banyak anggotanya untuk menyerang Boss Hutan Tanah Hitam.


Bagi babanyu yang hidup lebih lama di Gedhetenan Land merasa apa yang ada di hadapannya tidak wajar. Baru pertama kali ini dia melihat satu kelompok besar hendak menaklukan penguasa tempat ini. Apalagi kelompok tersebut di bawah naungan UF. Ini aneh dan pantas dicurigai. Pasti ada sebuah rahasia yang hanya diketahui UF.


Sejak kemunculan pasukan UF, Paijo dan Babanyu hanya mengamati dari tempat persembunyian. Mereka tidak berniat mendatangi dan menanyakan apa yang hendak dilakukan kelompok tersebut. Diam, mengamati dan mencoba menyimpulkan apa yang ada di depan mata merupakan hal terbaik yang bisa mereka lakukan saat ini.


Pasukan UF yang terdiri lebih dari tiga ratus anggota itu berbaris rapi. Salah satu diantara mereka yang dapat dipastikan sebagai pimpinan kelompok berdiri di depan, menghadap ke arah bukit dan mengamati seluruh bawahannya dengan seksama seraya mengumandangkan kata-kata bijak sekaligus provokatif seperti yang selalu dilakukan para pemimpin sebelum menuju ke medan perang. Dari perlengkapan yang melekat di tubuh dan ekspresi tenang di wajah mereka, dapat dipastikan jika pasukan tersebut telah dipersiapkan untuk menghadapi penguasa Hutan Tanah Hitam.


Secara kasat mata, siapa saja yang melihat barisan pasukan UF tersebut pasti akan memiliki kesimpulan yang sama, yaitu mereka kuat. Hal tersebut juga terlintas di benak Paijo dan Babanyu. Kemungkinan besar setiap individu dari pasukan tersebut memiliki level antara sembilan puluh hingga seratus. Selain itu komposisi mereka juga cukup lengkap. Semua tipe petarung ada di sana. Dengan kata lain kelompok besar tersebut dapat melakukan berbagai macam kombinasi serangan, dan itu merupakan sebuah keunggulan di dalam pertempuran.


Setelah lebih dari sepuluh menit pemimpin pasukan berceloteh panjang lebar, mereka akhirnya bergerak. Langkah mereka terayun perlahan, tatapan terhujam ke depan dengan penuh kewaspadaan. Senjata di tangan dihunuskan. Rapalan sihir pendukung dikumandangkan oleh para petarung tipe support, memberikan buff pada setiap anggota. Semua bergerak secara selaras. Sedikit demi sedikit formasi mereka melebar.


"Kenapa orang itu diam saja?" Perhatian Paijo tertuju pada Sang Pemimpin Pasukan. Sosok humanoid singa itu hanya berdiri ditempat sambil menyaksikan seluruh bawahannya menuju medan perang.


"Pasti karena dia memiliki level di atas seratus." Jawab Babanyu dengan penuh keyakinan.


"Di atas seratus?"


"Ya." Sahut Babanyu. "Lihatlah sedikit ke atas. Sekitar tiga puluh derajat ke arah langit! Jika diperhatikan dengan seksama, kau pasti bisa melihat pelindung yang menyelubungi seluruh lembah."


Paijo mengikuti arahan Babanyu. Dia sedikit mengarahkan pandangan ke atas. Setelah sesaat menajamkan penglihatan dan fokus pada satu titik, Paijo dapat melihat sesuatu menyerupai kaca. Sedikit berkerlip dan tentu saja tembus pandang.


"Aku melihatnya."


"Pelindung itu yang membuat orang itu hanya bisa diam dan menyaksikan jalannya pertempuran dari kejauhan. Kau tahu kenapa? Itu karena siapa saja yang memiliki level di atas seratus tidak akan bisa melewati pelindung itu. Dengan kata lain pelindung itu sama seperti penyaring kekuatan yang membuat penguasa tempat ini selalu bisa unggul dari semua lawannya."

__ADS_1


"Itu curang!"


"Ya. Kau benar. Itu memang curang. Dan yang lebih curang lagi pelindung itu tidak bisa dihancurkan. Bahkan dengan skill legendaris pengurai pelindung sekali pun."


Dari fakta yang ada, Paijo menyimpulkan jika memang ada suatu rahasia yang tersembunyi di tempat ini. Paijo berpikir seperti itu karena menurutnya pelindung yang ada di tempat ini terkesan terlalu berlebihan. Apalagi ditambah dengan penyerangan yang sedang dilakukan UF sekarang.


"Jadi apa tindakan kita selanjutnya?" Tanya Paijo. "Kita tidak mungkin ikut menyerang dan mati begitu saja disana. Aku yakin monster yang ada di dalam kabut itu sangat kuat bagi siapa saja berlevel di bawah seratus."


"Ya kau benar. Untuk sekarang lebih baik kita lihat saja pertempurannya terlebih


dahulu. Siapa tahu serangan kali ini bisa membuka celah bagi kita untuk mencuri batu pelangi dari tangan penguasa hutan tanah hitam."


"Baiklah!" Paijo merasa ide Babanyu tidak buruk. Jika celah yang dimaksud benar-benar terpampang di depan mata, tentu saja Paijo tidak akan menyia-nyiakannya.


Disana, tepat di tengah lembah, terdapat sebuah altar berbentuk persegi panjang. Di atas altar tersebut berdiri sesosok monster berwarna hitam legam. Tubuh bagian bawah monster itu menyerupai kalajengking dengan tiga sengat di bagian ekornya. Sedangkan tubuh bagian atasnya menyerupai humanoid dan memiliki tiga pasang lengan. Asap hitam mengepul dari sekujur tubuhnya.


Paijo yang baru pertama kali ini melihat Sang Penguasa Hutan Tanah Hitam langsung merasakan tekanan kuat. Entah kenapa ada perasaan tidak nyaman yang merengek di sekujur tubuh Paijo saat pandangannya terjatuh pada makhluk tersebut. Seolah ada sesosok iblis yang sedang berusaha membangkitkan kegelapan di dalam dirinya. Membuatnya ketakutan sekaligus marah di saat bersamaan.


Serangan pasukan UF terus berlanjut. Kali ini puluhan penyihir lain terbang ke atas. Secara serentak mereka mengarahkan tongkat sihir ke depan dan merapal mantra. Sedetik kemudian octagpn-octagon sihir berwarna hijau bermunculan di depan mereka, berputar cepat sebelum akhirnya bilah pisau angin berhamburan keluar. Melesat cepat ke tengah altar.


Di saat bersamaan para petarung jarak dekat melesat ke depan. Langkah mereka cepat, menyongsong lawan dengan penuh keberanian. Tatapan mereka tajam dan fokus. Sedangkan wajah mereka bersih dari guratan ketakutan.


Menyadari serangan mematikan terarah padanya, Sang Penguasa Hutan segera bertindak. Dia mengarahkan keenam tangannya ke jalur serangan ribuan pisau angin. Hanya dalam sepersekian detik sebuah octagon sihir berukuran cukup besar muncul di depan tubuhnya, berwarna hitam dan berhias asap yang juga berwarna hitam. Dari octagon sihir tersebut ribuan bola hitam seukuran bola tenis berhamburan keluar, melesat cepat ke atas dan menghantam pisau-pisau angin dengan sempurna. Dentuman ledakan pun mengalun saat itu juga, menggelegar dengan dahsyat dan cukup memekakan telinga. Sedangkan efek ledakannya menciptakan hembusan angin yang cukup kuat hingga memaksa para penyihir di udara sedikit terdorong ke belakang.


"Dark Sword!" Sebut Sang Penguasa Hutan.

__ADS_1


Enam octagon sihir hitam muncul di hadapan sosok yang masih berdiri tegak di atas altar. Dari masing-masing octagon sihir tersebut muncul pedang yang seluruh bagiannya terbuat dari api hitam. Dengan sigap Sang Penguasa Hutan meraih pedang-pedang panggilannya itu dan bersiap menghadapi para penyerang jarak dekat.


Dua puluh meter, sepuluh meter, seluruh pasukan UF yang berspesialisasi dalam serangan jarak dekat berlari sangat cepat. Hanya dalam kurun waktu tidak lebih dari sepuluh detik ruang kosong sejauh lebih dari dua ratus meter kini hanya menyisakan lima meter. Sedangkan senjata yang sejak awal sudah tergenggam kini siap terayun dan menebas apa saja yang menjadi target serangan.


Di sisi lain, Sang Penguasa Hutan yang menjadi target segera merespon dengan memasang kuda-kuda. Kaki-kaki kalajengkingnya sedikit tertekuk hingga tubuh besarnya yang setinggi tiga meter menjadi lebih rendah, membuat pertahanannya terlihat tak memiliki celah. Tiga sengat di ekornya meninggi dan sedikit mengarah ke belakang, siap melancarkan serangan pada siapa saja yang mendekat.


Bagi Sang Penguasa Hutan apa yang sedang terjadi bukan sesuatu yang mengejutkan. Bahkan dia tidak merasakan kekhawatiran sedikitpun. Karena sikap tenangnya itu sosok yang menjadi target utama penyerangan mampu berpikir jernih dan bergerak lebih efektif dan efisien. Alhasil saat para penyerang jarak dekat berhasil mengepung dan menyerang dengan berbagai skill, Sang Penguasa Hutan mampu merespon dengan tepat.


Walau tubuhnya besar, sosok yang entah dari mana asalnya itu mampu menghindari beberapa serangan dan menghalau serangan lain dengan keenam pedang dan ketiga ekornya. Bahkan tanpa disangka-sangka sosok besar itu mampu menyarangkan serangan balik hingga membunuh lawannya dalam sekejap, mengubah tubuh-tubuh tak bernyawa tersebut menjadi asap hitam.


Mengetahui gelombang serangan pertama gagal total, barisan terdepan pasukan UF mengalami syok berat. Mereka tiba-tiba berhenti bergerak dan menjaga jarak cukup jauh dari target. Selama beberapa detik mereka hanya mengamati, mencoba menyusun rencana penyerangan selanjutnya dengan menggunakan isyarat tatapan dan gerakan kepala.


"Kenapa berhenti? Apa hanya sampai di sini?" tanya Sang Penguasa Hutan, suaranya serak dan bernada berat. Karena mendapati lawannya tersudut di awal pertempuran, senyum lebar merekah di bibirnya. "Jika kalian…"


Kata-kata Sang Penguasa Hutan tercekat. Senyum di bibirnya juga menghilang entah kemana. Sedangkan perhatiannya beralih pada tanah di bawah kaki-kakinya. Tempat berpijaknya itu bergetar hebat, membuat kuda-kudanya goyah dan sedikit membuka pertahanannya. Tak berselang lama, dari kedalaman tanah, akar-akar berhamburan keluar, melesat ke setiap bagian tubuh Sang Penguasa Hutan dan langsung melilitnya. Monster berkaki kalajengking itu pun meronta, berusaha melepaskan diri dari jeratan yang memaksanya tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sial! Kenapa kalian selalu merepotkan!" Tatapan Sang Penguasa Hutan terlempar jauh ke barisan belakang pasukan UF. Kedua matanya memindai sosok-sosok berkulit hijau muda dan memiliki rambut berupa rerumputan dengan penuh kebencian. Sosok-sosok tersebut sedang berjongkok, kedua telapak tangannya menempel di tanah. Bibir mereka merekah dengan penuh kemenangan.


Mendapati targetnya terkena skill penjerat dari barisan belakang pasukan, para petarung jarang dekat tak membuang kesempatan yang ada. Dengan sigap, cepat dan penuh tenaga, para pengguna senjata tajam di barisan depan melancarkan serangan. Hanya dalam satu detik, sayatan yang tak terhitung jumlahnya membalut sekujur tubuh monster bertubuh hitam legam itu. Dari ribuan, puluhan di antaranya berhasil memutilasi tubuh besarnya. Membuatnya terpotong-potong dengan ukuran yang hampir sama.


"Semua bersiap!" Teriak Pemimpin pasukan dari luar dinding pelindung. Suaranya lantang dan menggelegar hingga ke seluruh bagian lembah. "Tunggu sampai inti kehidupannya terlihat! Setelah itu hancurkan dengan sekali serangan fisik!" Lanjutnya memberi perintahkan.


Seluruh pasukan mengikuti arahan. mereka segera membentuk kelompok-kelompok kecil dan mengepung setiap potongan tubuh Sang Penguasa Hutan Tanah Hitam.


__ADS_1


__ADS_2