The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 4 - Perjalanan


__ADS_3

Ratusan ribu manusia berkumpul di sebuah padang rumput. Tubuh mereka terbalut berbagai macam model pakaian, mulai dari yang sangat tradisional hingga modern khas penduduk perkotaan. Ada juga yang mengenakan seragam militer dan polisi. Sedangkan dari penampilan fisik, mereka terlihat berada di rentang umur remaja hingga dewasa


Diantara kumpulan manusia yang jumlahnya di luar nalar tersebut ada seorang remaja yang terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada satu pun kemewahan yang menghiasi sosok tersebut. Bahkan jika diperhatikan, pakaian yang membalut tubuh kecilnya itu terkesan seolah sudah puluhan tahun digunakan tanpa pernah diganti hingga warnanya menjadi sangat kusam. Hanya satu hal yang membuatnya terlihat berbeda dari yang lain, yaitu kepalanya yang dihiasi topi caping khas seorang petani. Ya. Dia adalah Paijo. Seorang manusia yang nyawanya hampir saja melayang beberapa saat lalu.


Keberuntungan benar-benar mendatangi Paijo di saat yang sangat tepat. Seandainya saja manusia berbaju zirah biru itu terlambat sepersekian detik dapat dipastikan Paijo tidak akan pernah ada di tempat ini. Setelah kemunculan sosok tersebut, keadaan seketika berbalik. Serangan makhluk humanoid gajah yang terarah ke Paijo dapat ditangkis dengan mudah menggunakan perisai miliknya. Kuda-kuda dan posisi menangkisnya sangat kokoh dan sempurna, membuatnya terlihat seolah serangan yang tertuju padanya hanya seperti gerakan seorang balita. Bahkan hanya dengan gerakan sederhana dia mampu melancarkan serangan balik dengan pedang satu tangan hingga menorehkan luka melintang di dada makhluk bertubuh besar itu.


Rasa syukur tentu saja dipanjatkan Paijo setelah nyawanya dijauhkan dari lubang akhirat. Berulang kali dia berterima kasih pada sosok penolongnya hingga membuat sosok tersebut kesal dan akhirnya memaksa Paijo untuk segera pergi ke sisi lain lembah. Disana Paijo diminta untuk memasuki portal yang dikhususkan bagi manusia.


Sebelum pergi, Paijo menyempatkan diri untuk berterima kasih pada Makhluk berkulit hijau muda. Lalu mengangguk penuh hormat sebagai isyarat jika dirinya tidak akan pernah melupakan kebaikan sosok tersebut. Sedangkan makhluk humanoid gajah tentu saja berakhir dengan babak belur. Tubuh tinggi besarnya bukan tandingan sosok berbaju zirah biru.


Aneh? Tentu saja akan terlihat aneh jika yang melihat kejadian tersebut hanya orang awam yang tidak mengetahui latar belakang kehidupan mereka. Bahkan Paijo juga sempat tidak mempercayai jika ada seorang manusia setinggi tidak lebih dari seratus delapan puluh sentimeter dapat menumbangkan sesosok makhluk setinggi empat meter tanpa terluka sedikit pun. Dari fakta yang ada dapat disimpulkan jika manusia berbaju zirah biru itu mendapatkan kekuatan di dunia ini. Dengan kata lain semua makhluk yang baru dipindahkan ke dunia ini akan mendapatkan kekuatan yang sama, tak terkecuali Paijo.


Awalnya Paijo ragu apakah harus mengikuti perintah sosok berbaju zirah biru atau tetap tinggal untuk sementara waktu sampai ada sosok kuat yang mau menemaninya. Apa yang terbesit di benak Paijo sebenarnya wajar mengingat nyawanya baru hampir melayang. Tidak salah jika remaja manusia itu mengalami trauma dan bersikap lebih waspada. Namun karena terus didesak untuk segera pergi, akhirnya Paijo terpaksa mengikuti perintah. Dia melangkah perlahan dan selalu mengamati sekeliling agar tidak bersenggolan dengan makhluk lain dan menyulut keributan seperti sebelumnya.


Namun setelah langkah demi langkah terayun dan meter demi meter terlewati, situasi terlihat semakin kondusif. Semua makhluk berjalan santai dan tenang. Tidak ada yang berusaha memprovokasi ataupun terprovokasi. Tidak ada yang bersikap agresif ataupun arogan. Penyebabnya tentu saja karena keberadaan sosok-sosok kuat seperti manusia berbaju zirah biru yang tersebar di mana-mana. Hanya saja mereka tidak hanya manusia, melainkan dari berbagai ras yang tentu saja juga dipindahkan di dunia ini. Mereka terus memperingatkan untuk tidak membuat keributan dan memberikan arahan dengan suara lantang dan tegas.

__ADS_1


Melihat situasi yang keamanannya sudah terjamin, Paijo menyingkirkan semua kewaspadaannya dan bersikap lebih santai seperti yang lain. Dia terus berjalan tanpa berbicara dengan siapapun. Alasannya tentu saja karena Paijo tidak mengenal siapapun di sini. Selain itu juga agar tidak menyulut kerusuhan karena tidak sengaja menyinggung makhluk lain.


Dengan banyaknya ras yang tidak saling mengetahui sifat dan kebiasaan satu sama lain dalam satu tempat dapat dipastikan akan meningkatkan kesalahpahaman, walaupun itu hanya dengan sebuah tatapan. Oleh karena itu semua lebih memilih menutup mulut rapat-rapat dan menatap ke depan sambil terus berjalan, termasuk Paijo.


Jarak yang ditempuh ternyata cukup jauh dari yang dibayangkan siapapun. Walau tidak ada bahaya yang mengancam, tetap saja berjalan dengan mulut terkunci bukan sesuatu yang menyenangkan. Namun hanya itu yang bisa dilakukan di saat seperti ini. Sebenarnya banyak di antara mereka yang ingin mengeluh atau memprotes, tapi pada siapa hal tersebut bisa dilakukan? Apa pada sosok-sosok yang sejak tadi bertingkah layaknya penjaga? Sepertinya itu bukan pilihan tepat. Mereka pasti akan mengacuhkan keluh kesah siapapun dan hanya akan memberi arahan apa yang harus dilakukan.


Bagi Paijo diam bukan sesuatu yang buruk. Apalagi memang tidak ada yang perlu dikatakan di saat seperti ini. Jadi dia memilih untuk tidak mengeluh dan menggunakan semua tenaganya di perjalanan yang cukup lama ini.


Sesampainya di ujung lembah yang lain terlihat ratusan portal selebar dua ratus meter berjajar rapi di dinding tebing seperti portal-portal sebelumnya, dan setiap portal dijaga oleh ribuan sosok dari setiap ras. Paijo pun langsung memasuki portal yang dijaga manusia dan disinilah dia berada sekarang. Berdiri mematung di atas padang rumput bersama manusia lainnya.


"Apa yang kau lakukan disini nak?" tanya seseorang.


"Eh anda…!" Paijo terkejut karena mendapati sosok tersebut sudah berdiri di dekatnya, dan lebih terkejut lagi karena ternyata dia masih mengenalinya. "Aku benar-benar sangat berterima kasih untuk yang tadi Tuan."


Sosok berbaju zirah yang mendengar ucapan Paijo langsung berubah masam. "Sudahlah! Sudah ratusan kali kau mengatakan itu. Kau tahu? Itu sangat menyebalkan."

__ADS_1


Paijo menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memaksakan tawa. "Maaf Tuan. Hanya saja aku benar-benar sangat berterima... "


Sebelum Paijo menyelesaikan ucapannya, sosok berbaju zirah biru memotong cepat-cepat. "Sudah-sudah! Percuma memperingatkanmu. Sepertinya kau tipe orang yang suka menghargai bantuan orang lain."


"Sepertinya memang seperti itu." balas Paijo spontan. Tawa terpaksa masih menghiasi bibirnya.


"Itu bagus. Hanya saja jangan terlalu berlebihan dalam menyikapinya. Kenapa? Karena tidak semua bantuan bertujuan baik. Kau pasti tahu itu kan?"


Paijo mengangguk. Apa yang dikatakan sosok berbaju zirah biru itu benar. Tidak semua yang terlihat baik akan selalu berakhir dengan baik. Begitu pula sebaliknya. Itulah kenyataan yang ada. Sebagai makhluk berotak kita memang harus menilai segala hal dari berbagai sudut.


"Ya. Aku mengerti Tuan." Kata Paijo.


"Bagus jika kau paham. Dan satu lagi…"


Tiba-tiba wanita berpenampilan penyihir berbisik pada sosok berbaju zirah biru. Entah apa yang dikatakan wanita itu, namun dari ekspresinya yang serius dan lamanya bicara dapat diduga jika ada hal penting yang sedang disampaikan.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus pergi, nak." kata sosok berbaju zirah biru sesaat setelah rekan wanitanya selesai mengatakan apa yang ingin dia katakan. Lalu melangkah maju sambil kembali bicara, "Perhatikan dengan seksama dan ingat apa yang akan kau dengar di tempat ini. Jadilah kuat dan ungkap alasan kenapa kita ada di dunia ini!"



__ADS_2