The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 29 - Persiapan Invasi


__ADS_3

Saat kematian Raja Iblis sedang menjadi perbincangan hampir di semua sudut peradaban Zerenian, hal yang tidak pernah diduga oleh siapapun mulai mempertontonkan taringnya. Di belahan dunia lain, tempat yang tidak pernah diketahui oleh para Zerenian, tepat di kaki sebuah gunung, pengumpulan kekuatan yang sangat besar sedang berlangsung. Ratusan ribu tenda telah berjajar rapi, dan ribuan lainnya sedang didirikan dengan tergesa-gesa.


Dari empat penjuru arah mata angin, barisan prajurit berjajar rapi mengikuti jalanan, memasuki perkemahan yang semakin membesar. Langkah mereka berderap perlahan, menapak dengan mantap hingga tanah di bawah pijakan memadat sempurna. Tidak ada yang bersuara. Tidak ada pula yang memprotes ataupun mencaci. Semua bergerak dengan keyakinan penuh. Siap mendukung pimpinan mereka untuk merebut tanah yang sudah lama diinginkan. Tanpa ada sedikitpun rasa takut pada kematian.


Obor dengan api berwarna biru kehitaman menyala di seantero perkemahan, menerangi kegelapan yang cukup pekat dan menjadi teman bagi seluruh penghuninya. Tidak terkecuali pada area di ujung perkemahan, di depan dinding tebing yang sebagian permukaannya dihiasi berbagai macam simbol dan tulisan.


"Bagaimana perkembangannya?" tanya sosok humanoid bertubuh tinggi besar. Tubuhnya yang berwarna merah kehitaman sedang berdiri tegak menatap lurus ke dinding tebing. Tanduk besar di dahinya melengkung sedikit ke arah belakang dengan penuh dominasi. Api berwarna merah kehitaman yang cukup besar melayang angkuh di antara ujung kedua tanduk.


"Tidak lama lagi Jenderal. Portal itu akan terbuka tepat satu minggu dari sekarang." Sosok bertubuh lebih kecil menjawab. Dengan gerakan penuh penghormatan, sosok yang berbalut pakaian ala penyihir hitam itu membungkukan badan diakhiri kalimatnya. Berusaha bersikap sopan dan menghormati.


"Bagus! Kali ini aku sendiri yang akan pertama kali memasuki portal. Aku tidak akan membiarkan kejadian seperti sebelumnya terulang." balas sosok bertubuh besar. Tatapannya tajam.


"Kami akan selalu mendukungmu Jenderal." kata salah satu sosok yang berdiri di belakang sosok yang disebut-sebut sebagai Jenderal itu.


"Persiapkan diri kalian semua. Kali ini kita akan menikam barisan belakang makhluk-makhluk rendahan itu." sosok yang menyandang gelar Jenderal itu mengakhiri kalimatnya dengan sebuah tawa lantang.


"Hidup Iblis! Keabadian akan selalu menyertai kita semua!" kata sosok-sosok lain di sekitar Sang Jenderal secara bersamaan.


...----- @@ -----...


Lempengan batu selebar lima puluh sentimeter menjadi alas duduk Paijo. Sebentuk api unggun kecil meringkuk tepat di depan remaja laki-laki itu. Lidah apinya bergoyang lembut di bawah gemerlap jutaan bintang, membakar sejumlah batang pohon yang sengaja ditumpuk hingga menyerupai kerucut.


"Jadi apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

__ADS_1


Paijo menoleh ke kanan. Tatapannya terhujam pada segumpal awan putih sebesar kepalan orang dewasa yang sedang melayang tak jauh dari bahunya. Sosok yang juga terlihat menyerupai seonggok kapas itu terbang ke sana kemari dengan lincah, membuat guratan-guratan siluet mata dan mulutnya semakin terlihat.


"Sepertinya aku akan menjual hasil perburuanku kemarin terlebih dahulu." jawab Paijo. Pandangannya kembali terjatuh pada api unggun di depannya. "Aku pasti akan mendapat banyak uang setelah itu."


"Oke. Tidak masalah. Tapi sesudahnya kau harus mendatangi UF untuk memperingatkan mereka."


"Ya. Aku pasti akan ke sana."


Gumpalan awan yang terus terbang ke sana kemari itu tak lain dan tak bukan adalah Alvaronizam. Setelah menyerahkan inti kehidupannya, Raja Iblis keadilan itu kini mendiami jantung Paijo, dan akan berwujud awan kecil saat keluar dari tempat persemayamannya.


"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" Paijo menuntut penjelasan yang sebelumnya sempat tertunda.


Alvaronizam tidak langsung menjawab. "Sebaiknya aku mulai menjelaskannya dari mana, ya? Bagaimana kalau kau bertanya apa yang ingin kau ketahui terlebih dahulu? Jadi aku bisa menjelaskannya dengan lebih mudah."


Paijo menghela napas, cukup kecewa dengan permintaan Alvaronizam yang memintanya untuk mengorek informasi yang seharusnya bisa dia ketahuan hanya dengan membuka lebar-lebar indra pendengarannya.


"Portal."


"Portal?" Paijo mengulang, memastikan jika apa yang merasuki gendang telinganya benar.


Alvaronizam bergerak naik turun sebagai isyarat sebuah anggukan. "Kau tidak salah dengar. Portal yang menghubungkan Hutan Tanah Hitam dengan suatu tempat di sisi lain Gedhetenan Land. Tepatnya di wilayah kekuasaan Kaisar Iblis Galahad."


"Kaisar Iblis?" Sekali lagi Paijo mengulang.

__ADS_1


Mendengar celetukkan manusia di sebelahnya, Alvaronizam mengalihkan perhatian ke Paijo. Guratan mata yang terlihat samar di tubuh awannya itu mengamati dengan seksama, mencoba mencari sesuatu yang mungkin tidak dia sadari. Namun setelah mengobservasi selama beberapa detik, sesuatu yang sempat dia cemaskan tidak sedikitpun terbukti. Tatapan Paijo tajam. Hal itu menandakan jika dirinya mendengar dengan seksama. Sudut matanya fokus dan selalu terlihat sedang berpikir.


"Ya. Kaisar Iblis yang menjadi panutanku." Alvaronizam melanjutkan karena lawan bicaranya sedang memperhatikan dengan serius.


"Lalu apa hubungannya dengan portal yang baru saja kau katakan?"


"Tentu saja sangat berhubungan dan menjadi kunci utama atas hancur atau tidaknya sebuah peradaban di tempat ini." Alvaronizam diam sejenak. Dia terbang berputar mengelilingi Paijo sebelum kembali mematung di dekat bahu kiri manusia muda itu. "Walau baik dan membenci kekerasan, Kaisar Galahad termasuk iblis yang mudah diperdaya. Maksudku dia akan lebih mudah mempercayai iblis yang sudah dia anggap sempurna. Tentu saja hanya sebatas kriterianya. Karena kebiasaan buruknya itu, tanpa dia sadari, Raja Iblis yang selalu dia banggakan sebenarnya memiliki sifat yang bertolak belakang dengan visi dan misinya. Hanya dengan sedikit permainan kata, seburuk apapun informasi mengenai sosok tersebut pasti akan langsung diabaikan oleh Sang Kaisar."


"Itu sangat tidak baik." Komentar Paijo.


Alvaronizam mengangguk setuju. "Oleh karena itu tanpa sepengetahuan Kaisar aku memutuskan untuk berusaha menghentikan rencana keji salah satu Raja Iblis kepercayaannya itu. Aku berpura-pura mendukungnya hingga berhasil menutup portal secara sepihak sebelum sesuatu yang sangat mengerikan sempat terjadi. Dan aku pun berakhir menjadi Bos Hutan Tanah Hitam selama berpuluh-puluh tahun."


"Seberapa besar portalnya?"


Tubuh awan Alvaronizam naik turun sesaat, sangat tertarik dengan pertanyaan yang baru di lontarkan padanya. Apalagi di setiap kata yang melintasi pendengarannya tersebut tersembunyi sebuah pemikiran yang cukup mendalam. "Lima puluh meter."


Mata Paijo terbelalak. Pengakuan Alvaronizam seketika menyadarkan Paijo pada sebuah malapetaka yang mustahil bisa dihentikan dengan mudah. Pemikiran tersebut muncul didasari atas pengalaman Paijo saat pertama kali menapaki Gedhetenan Land. Di hari pemindahan tersebut, Paijo masih sangat ingat dengan portal selebar dua ratus meter yang dikhususkan untuk manusia. Dengan portal sebesar itu, manusia yang jumlahnya hampir mencapai satu juta jiwa itu dapat dipindahkan ke tempat lain hanya dalam beberapa jam. Itu pun juga karena semua manusia yang baru dipindahkan terpencar dimana-mana. Lalu bagaimana jika semua sudah dipersiapkan dengan matang? Tentu saja proses pemindahan akan jauh lebih cepat, kemungkinan tidak akan lebih dari satu jam.


"Dari ekspresimu seperti kau mulai memahami situasinya."


Dengan otak encer yang mengisi rongga tengkoraknya tentu saja Paijo langsung mengerti situasi yang sedang terjadi. Inti dari permasalahan yang sedang dibahas tentu bukan sekedar portal yang dapat memindahkan siapa saja dari satu titik ke titik lain yang jaraknya sangat berjauhan, melainkan siapa yang akan menggunakannya. Karena iblis yang akan menjadi pengguna utamanya tentu saja hanya akan ada hal buruk yang terjadi, dan yang pertama kali meletup di otak Paijo adalah pengiriman pasukan melalui portal tersebut.


"Berapa jumlah pasukan yang telah dipersiapkan oleh Raja Iblis itu?"

__ADS_1


Alvaronizam membisu sejenak. Mencoba mengkalkulasi jumlah pasukan yang pernah dia saksikan sebelum berhasil menutup portal secara sepihak. "Sepuluh juta. Semuanya mengenakan perlengkapan lengkap dan memiliki level dua ratus. Dan jika perhitunganku benar, portal lain yang entah dimana letaknya akan muncul dalam kurun waktu tidak lebih dari satu minggu."


Telinga Paijo terasa seperti akan meledak saat informasi tersebut merasuk ke dalam gendang telinganya. Tidak hanya jumlahnya yang mencengangkan, melainkan juga level setiap individunya. Paijo harus segera memberikan informasi tersebut pada UF. Hanya organisasi tersebutlah yang dapat menangani invasi pasukan Iblis. Hanya mereka yang sanggup menghentikan malapetaka yang akan terjadi tidak lama lagi.


__ADS_2