The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 18 - Pemimpin Sejati


__ADS_3

[Kekuatan seorang pemimpin sejati telah diwariskan. Semoga dengan kekuatannya kebebasan bisa diraih bersama.]


Sebuah pengumunan tiba-tiba muncul di depan pandangan semua penghuni Gedhetenan Land. Disaat itu pula kehebohan terjadi dimana-mana. Segala macam ekspresi terukir di wajah setiap orang. Berbagai macam tanggapan dan celotehan bergaung layaknya deru angin di tengah badai. Semua bersuara, mengumandangkan semangat dan harapan.


Semua memiliki pemikiran masing-masing atas apa yang baru saja terjadi. Guild-guild besar langsung berniat mencari siapa sosok yang dimaksud di dalam pengumuman dan mencoba merekrutnya. Ada yang mengirim assassin untuk menyelidiki Sang pewaris kekuatan. Ada juga yang hanya berkomentar biasa saja karena sudah merasa putus asa atas kehidupan di Gedhetenan Land. Dan ada banyak yang mendekatkan diri ingin mengisi barisan pasukan Sang Pemimpin. Namun dari semua perbedaan yang ada hanya satu persamaan di otak mereka, yaitu pengumuman itu sendiri.


Semua sepakat jika pengumuman yang tergurat dengan tinta emas dan terbingkai dengan mewah itu merupakan pengumuman tingkat legenda. Sebuah pengumuman yang akhirnya muncul setelah lebih dari lima puluh tahun tak pernah menampakan diri. Pengumuman yang kemungkinan besar akan mengubah benang merah kehidupan di Gedhetenan Land. Oleh karena itu tidak aneh jika kini ada harapan baru bagi semua penghuninya.


Namun tidak semua orang akan menganggap pengumuman tersebut sebagai hal baik. Terutama bagi kelompok yang menamakan diri mereka Tangan Kanan Iblis. Kelompok yang konon dipercaya sebagai utusan langsung Iblis itu dipimpin oleh lima orang dan memiliki ratusan ribu bawahan. Bagi mereka pengumuman yang menjadi harapan baru tersebut tak ayal seperti bom waktu yang kapan saja bisa memusnahkan mereka.


Sebuah langkah cepat langsung diambil para pengikut iblis tersebut. Kelima pemimpin segera mengadakan pertemuan tingkat tinggi yang juga dihadiri para petinggi Tangan Kanan Iblis. Semua bersatu dan dalam satu pemikiran yang sama, yaitu secepat mungkin mengakhiri krisis yang sudah dapat dipastikan membahayakan keseluruhan kelompok.


"Kami serahkan misi ini pada kalian berlima." Sebuah suara berkarakter berat menggema di dalam sebuah gua raksasa.


"Kami tidak menerima kegagalan. Kalian mengertikan maksudnya, kan?" Suara lain menambahi. Nada suaranya dingin dan dipenuhi ancaman.


"Jika bisa bawa dia hidup-hidup. Tapi jika tidak, kalian bisa mencincangnya sesuka hati." Suara seorang perempuan ikut berkumandangan. Karakternya tenang dan datar.


"Jangan terlalu kejam! Bagaimanapun juga ada kemungkinan dia bisa membawa kita pulang. Benar kan, Zero?" Suara berkarakter riang dan terdengar seperti anak-anak mengalun kemudian.


"Aku cuma mau pulang!" sahut Zero singkat.


"Kami berlima akan menyelesaikan misi ini."


Lima sosok dengan perlengkapan serba hitam sedang berlutut dengan penuh hormat di depan sebuah bola energi berdiameter tiga meter, diikuti puluhan lainnya di belakangnya. Sosok penuh intimidasi yang hanya terlihat siluetnya silih berganti muncul di bola berwarna putih keunguan itu. Tidak ada yang berani menatap sosok-sosok di bola yang tak lain dan tak bukan adalah para pemimpin Tangan Kanan Iblis.


Setelah misi selesai diberikan, bola energi yang berfungsi sebagai alat komunikasi itu perlahan mengecil sebelum akhirnya menghilang di tengah temaram cahaya api ungu. Sedangkan kelima sosok penerima misi segera bergerak. Mereka pergi ke arah yang berbeda dengan kecepat di luar nalar. Begitu juga dengan puluhan sosok lainnya.


Misi telah ditetapkan. Di saat itu juga semua anggota Tangan Kanan Iblis bergerak. Ini adalah misi tingkat tinggi. Misi yang dengan otomatis menjadi prioritas utama bagi semua anggotanya.


...----- @@ -----...


Matahari merangkak lesu keluar dari tempat peraduan. Cahayanya mengintip dengan antusias di antara celah-celah pegunungan, menghantarkan kehangatan bagi semua penghuni Gedhetenan Land. Menggiring kelamnya malam yang dingin ke sisi lain dunia dan membiarkan fajar harapan menyingsing. Hari kembali berganti, membuka lembaran hidup baru bagi para Zerenian untuk mewujudkan impian-impian mereka yang naif.


Mata Paijo masih tertutup rapat. Posisi tubuhnya juga masih tersungkur di lantai dekat dengan dinding. Dari pori-pori telapak tangan kirinya sebentuk cairan berwarna biru transparan merembes keluar. Perlahan cairan itu menggenang, sebelum akhirnya membentuk sebentuk tubuh dari kepala hingga pinggang. Perwujudan humanoidnya mendekati kepala Paijo dengan perlahan, dengan bagian bawah memanjang layaknya ular. Sosok tersebut adalah Babanyu yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Kenapa dia tiduran di sini?" Tanya Babanyu. Kedua matanya mengamati Paijo. Lalu sesaat kemudian melihat ke seisi ruangan, memperhatikan dengan seksama, mencari-cari sesuatu yang mencurigakan sebelum kembali menatap Paijo. "Paijo! Bangun!"


Tidak ada tanggapan. Paijo tetap terbujur di tempatnya.


Babanyu yang mendapati inangnya tidak bergerak seperti mayat mulai dirundung khawatir. Bagaimanapun juga Paijo adalah sumber makanan Babanyu. Walau Paijo tidak meregang nyawa, tapi tetap saja tak sadarkan diri dalam kurun waktu lama akan membahayakan keduanya, terutama bagi Babanyu.


Sebagai ras Kotostos yang hidupnya hanya bergantung dari inangnya sebenarnya memiliki batasan dalam penyerapan energi kehidupan. Tubuh kotostos akan terus menyerap energi inangnya dalam keadaan apapun, entah itu saat sakit maupun sehat, saat terluka parah ataupun segar bugar, bahkan saat tertidur atau tak sadarkan diri. Hanya saja proses penyerapan energi akan terhenti begitu saja saat nyawa inangnya berada di ujung tanduk, saat energi sang inang hanya sanggup digunakan untuk mempertahankan diri dari kematian.


Ras kotostos tidak akan bisa melepaskan diri dari inangnya begitu saja. Mereka harus mendapat persetujuan dari inangnya agar dapat melepaskan diri. Jika tidak disetujui dan memaksa secara sepihak, itu sama saja bunuh diri. Ini sama halnya dengan apa yang sedang dihadapi Babanyu. Walau Paijo hanya tak sadarkan diri, tetap saja apa yang terjadi pada inangnya cukup mengkhawatirkan.


Bagaimana jika Paijo pingsan selama berhari-hari tanpa makan dan minum? Tentu saja tubuh Paijo akan melemas hingga ke titik kritis. Berarti pula energi Paijo akan terus menyusut hingga ke ambang hidup dan mati. Di saat itulah Babanyu tidak akan mendapat suplai energi dan hanya dalam dua hari nyawanya akan meregang dengan sendirinya.


"Hai Paijo! Jangan bercanda! Ini tidak lucu."


Babanyu pantas panik. Seburuk-buruknya kondisi Paijo, dirinyalah yang pertama kali akan meregang nyawa.


"Ayo bangun! Jangan membuatku ketakutan!" Dengan tangan slimenya, Babanyu mengguncang tubuh Paijo, lalu menepuk-nepuk dan menampar pipinya. Namun hasilnya nihil. Paijo tetap diam dengan tubuh tak berdaya. "Kalau begitu-- maaf teman. Aku terpaksa menggunakannya. Semoga kepalamu tidak pecah." lanjut Babanyu seraya mengarahkan telapak tangannya ke wajah Paijo.


"Water Shot!"

__ADS_1


Octagon sihir muncul di depan telapak tangan Babanyu. Garis-garis berwarna biru tergurat di udara dengan penuh dramatis, membentuk garis-garis dan berbagai macam bentuk simbol yang unik dan misterius. Sepersekian detik kemudian segumpal air sebesar bola voli melesat keluar dari pusat octagon sihir, meluncur cepat ke wajah Paijo.


Seketika Paijo terbangun. Nafasnya tersengal hebat hingga mulutnya terbuka. Matanya terbelalak, secepat mungkin memindai keadaan walau kesadaran Paijo belum pulih sepenuhnya.


"Aku tenggelam! Tolong! Selamatkan aku! Aku tidak bisa berenang!" Spontan Paijo meracau. Tangan dan kakinya spontan menggeser tubuh beberapa meter ke samping seperti sedang berusaha menyelamatkan diri.


"Sadarlah! Lihat sekelilingmu!" Babanyu membentak karena respon Paijo yang terkesan berlebihan. Di saat yang sama makhluk dari ras kotostos itu juga merasa lega karena usahanya menyadarkan inangnya tak berdampak buruk. Dengan kata lain usahanya mengurangi daya hancur skillnya sukses besar.


Paijo yang mendengar ucapan Babanyu seketika berubah lebih tenang. Tubuhnya tak lagi meronta tidak jelas. Dengan kepala yang masih basah kuyup, Paijo mengamati sekeliling. Matanya menyorot seisi ruangan dan langsung merasa lega saat sadar jika masih di rumah gurunya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Babanyu penasaran.


"Apa maksud pertanyaanmu itu?"


"Kenapa kau tidur di lantai? Apa terjadi sesuatu saat aku tidur? Apa kau tahu jika kau tidur seperti mayat?"


"Oh-- itu-- Entahlah! Aku juga tidak mengerti." balas Paijo seraya mengusap wajahnya dengan lengan.


"Tidak mengerti?"


Paijo mengangguk. "Seingatku kemarin aku sedang membaca skill book. Lalu tiba-tiba keadaan menjadi tak terkendali, dan aku pingsan. Ya. Kurang lebih seperti itu."


Babanyu tidak langsung menanggapi. Sejenak sosok bertubuh biru transparan itu berpikir. Sudah beberapa kali dirinya membaca skill book dan selalu berakhir baik-baik saja. Bahkan tidak merasa terganggu sedikit pun. Begitu juga dengan orang-orang yang pernah dekat dengannya. Semua memiliki pengalaman sama seperti penggambaran yang ada di buku panduan. Babanyu tidak bisa memahami apa yang dialami Paijo.


"Skill Book apa yang kau baca?" Tanya Babanyu.


"Skill book untuk menjadi petani."


Dahi Babanyu mengernyit. Menurutnya skill book yang dikatakan Paijo aneh. Baik di buku panduan maupun info yang selama ini beredar di seantero Gedhetenan Land skill book merupakan buku yang akan memberi skill pada pembacanya. Tidak pernah ada catatan atau rumor tentang skill book yang bisa menjadikan seseorang menjadi sesuatu seperti petani.


"Setelah membacanya apakah kau mendapat skill?"


Nama: Paijo


Ras: Manusia


Zerenian


Job: Farmer


Level 25 (189.078/ 189.078)


Rank: -


Rebith 0


Bakat: -


STR : 270 (+270)


AGI : 90 (+90)


VIT : 180 (+180)


INT : 270 (+270)

__ADS_1


DEX : 90 (+90)


Kesehatan 9100 (+9000)


Energi 4150 (+4050)


Serangan Fisik 1360 (+1350)


Serangan Sihir 1360 (+1350)


Pertahanan Fisik 730 (+720)


pertahanan Sihir 810 (+810)


Poin dasar: 50


Skill:


Seed Of Creation (Legendary)


Teknik legendaris yang dapat menciptakan berbagai macam biji.


Energi cost: 100 - ??????


Exp Cost: 10.000 - ??????????


Paijo cukup terkejut dengan perubahan atribut statusnya. Penambahan poin yang didapat dari Babanyu cukup tinggi. Dari jumlahnya, dapat dipastikan Babanyu memiliki level di atas tiga puluh. Sebuah level yang cukup tinggi bagi para pemula.


Selain perubahan angka-angka, perhatian Paijo juga tertuju pada dua kata yang sebelumnya tidak ada di daftar statusnya. Menurutnya apa yang tiba-tiba tertulis di sana seharusnya tidak pernah ada. Paijo sangat yakin akan hal tersebut karena semua yang ada di daftar status sudah tercatat di buku panduan. Lalu kenapa sekarang ada info job farmer di daftar statusnya? Apa ini hanya sebuah kesalahan kecil dari gelang putih dan implan di otak? Paijo menggeleng, yakin jika bukan itu alasannya.


"Hai! Bagaimana? Ada tidak?" Tanya Babanyu dengan suara agak tinggi karena Paijo tidak juga kunjung memberitahunya.


"Iya ada." balas Paijo setelah tersadar dari pemikirannya sendiri. "Ini lihatlah!" lanjutnya seraya membagikan daftar skill miliknya pada Babanyu.


Babanyu mengamati daftar skill milik Paijo dengan sangat serius. Selama beberapa saat Babanyu membisu. Berulang kali dia mengusap janggutnya dengan jemari tangan yang menandakan jika sedang berpikir.


"Legendary? Creation?" kata Babanyu pelan, namun tidak terlalu pelan hingga dapat didengar Paijo. "Ah! Mungkin apa yang terjadi padamu karena skill book yang kau baca memiliki tingkat legendary. Ya. Pasti itu penyebabnya. Apalagi skill yang kau dapat termasuk skill langka. Tidak. Bukan hanya langka, tapi skill bertipe creation juga sulit dikuasai."


"Jadi seperti itu. Jika memang itu alasannya sepertinya tidak ada masalah lagi. Semua aman terkendali."


Paijo berdiri. Dia lebih memilih berhenti membahas statusnya karena tidak ingin menyinggung job farmer yang muncul di daftar statusnya. Bukannya Paijo tidak mempercayai Babanyu, melainkan hanya ingin menanyakannya pada gurunya. Di mata Paijo gurunya lebih memiliki pengalaman hidup di Gedhetenan Land dan dikarenakan juga gurunya yang memberi skill book tersebut.


"Eh. Apa ini?" Paijo yang hendak meregangkan badan terganggu dengan cairan lengket di salah satu telapak tangannya. Beberapa saat Paijo sempat mengibas-ibaskan tangan agar sesuatu yang menempel tersebut lepas.


"Hentikan! Apa yang kau lakukan?"


"Ini-- tunggu!" Paijo melempar pandangan ke Babanyu. Matanya menajam, mengamati sosok slime di hadapannya dengan teliti dari kepala hingga ke pinggang, lalu mengikuti bagian bawahnya yang memanjang seperti ular hingga terhubung ke salah satu telapak tangan Paijo. Menyadari apa yang sejak tadi mengganggu indra perabanya, ekspresi Paijo berubah masam sekaligus jijik. "Jadi ini… "


"Ya. Itu tubuhku." sambar Babanyu.


"Dasar menjijikan! Kenapa kau harus keluar dari telapak tanganku? Apa tidak bisa dari bagian tubuhku yang lain?"


"Itu… "


Seketika suasana memanas. Percakapan yang sebelumnya dipenuhi pemikiran dan terasa cukup menyenangkan berubah menjadi pertikaian. Alasannya? Tentu saja hanya karena kurangnya komunikasi di antara keduanya yang sebenarnya wajar terjadi pada dua orang yang baru sehari mengikat sebuah hubungan. Paijo tidak suka Babanyu dengan seenaknya keluar dari tubuhnya. Itu karena area tempat keluar Babanyu akan terasa basah, lengket dan menjijikan. Sedangkan Babanyu merasa tidak bersalah karena memang belum ada kesepakatan akan hal tersebut.

__ADS_1


Beruntung, pertikaian tidak berlangsung lama. Mereka berdua akhirnya berpikir jernih dan berhenti memperdebatkan sesuatu yang seharusnya tak menjadi masalah. Lalu dengan kesepakatan bersama mereka memutuskan untuk pergi berburu.



__ADS_2