The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 23 - Pembantaian


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Tanya Babanyu. Bingung membalut setiap kata-katanya. "Bukankah mereka sudah membunuh Boss tempat ini?"


Paijo tidak menjawab pertanyaan Babanyu yang sesungguhnya memang tidak ditujukan khusus padanya. Namun apa yang ditanyakan Babanyu dapat dipastikan akan menjadi buah bibir bagi siapa saja yang menjadi saksi mata pertempuran di tempat ini. Semua pasti akan merasa aneh dengan apa yang sedang terjadi. Bahkan kemungkinan besar ada yang tidak bisa mempercayai perubahan situasi yang secara tiba-tiba dialami seluruh pasukan UF.


Sebenarnya Paijo juga memiliki pemikiran sama seperti Babanyu. Apa yang terpampang di hadapannya seperti sesuatu yang mustahil terjadi. Namun Paijo juga sadar jika ini bukan mimpi atau rekayasa semata. Kejadian yang sedang terjadi nyata adanya. Terlebih lagi reaksi yang diperlihatkan sosok humanoid singa di luar dinding pelindung sangat jelas menggambarkan kepanikan.


"Seharusnya ini tidak mungkin." Paijo mencoba berpikir. Otaknya berusaha mengumpulkan semua informasi yang berhubungan dengan munculnya gempa dan terbentuknya retakan di tanah.


Tidak dapat dipungkiri jika Boss Hutan Tanah Hitam berhasil dimusnahkan. Kepanikan dan ketakutan yang tiba-tiba melanda seluruh pasukan UF juga bukan sebuah kebohongan. Bahkan di mata mereka terpampang sebuah kematian yang siap menghampiri kapan saja. Dari semua informasi tersebut memang tidak ada keterkaitan yang sanggup membentuk sebuah kesimpulan yang wajar. Semua terkesan bertolak belakang. Sulit untuk bisa diterima begitu saja.


"Kubahnya!" paijo teringat dengan pelindung yang hampir menyelubungi seluruh bagian lembah.


Dengan gerakan sederhana, Paijo mengarahkan pandangan sedikit ke atas. Hanya dalam waktu singkat remaja manusia itu menemukan apa yang ingin dia lihat. Sebentuk dinding kasat mata masih bertengger di tempatnya seperti sebelumnya, terlihat utuh dan masih kokoh. Mendapati hal tersebut Paijo mulai bisa menarik kesimpulan. Sebuah kesimpulan yang sesungguhnya tidak pernah diharapkan siapapun. Kesimpulan yang menyatakan jika pertempuran belum selesai.


"Gawat!" Panik dan khawatir menggila di benak Paijo.


"Apa maksudmu?"


"Pertempuran belum… "


Sebelum Paijo sempat menyelesaikan kata-katanya, gempa yang terjadi bertambah kuat. Tanah yang menjadi pijakan bergetar begitu hebat, menggoyang pepohonan hingga dedaunan bergemerisik liar, memaksa burung-burung beterbangan pergi seraya berkicau penuh ketakutan. Tak berselang lama kejadian tak terduga muncul di hadapan semua orang. Sebuah situasi yang menenggelamkan seluruh pasukan UF ke kubangan malapetaka.


Tak berselang lama dentuman-dentuman mengalun. Suaranya tak terlalu keras dan berhias gemeletuk bebatuan. Ekspresi Paijo berubah suram saat pandangannya beralih ke sumber suara. Tepat di sekeliling pasukan UF yang sedang berjuang mati-matian melarikan diri, tanah yang sebelumnya mengalami keretakan di mana-mana kini terkoyak hebat dalam sebuah formasi lingkaran besar. Debu hitam mengepul tepat di atas formasi tersebut hingga terlihat seperti dinding pembatas antara pasukan UF dengan dunia luar.


Semua orang menunggu. Khawatir, takut dan ngeri kini bercampur aduk di sekujur tubuh setiap anggota UF. Ekspresi mereka jauh dari kata tenang dan santai. Semua tegang dan bingung harus bertindak seperti apa demi merespon situasi yang ada di depan mata. Tidak ada di antara mereka yang bicara atau mencoba melakukan sesuatu. Entah disadari atau tidak, tubuh mereka bergetar hebat. Seolah insting yang selama ini menemani jalan petualangan mereka telah menggambarkan seberapa bahayanya situasi yang ada.

__ADS_1


Sedetik kemudian derap langkah kaki mengalun di udara. Suaranya sangat mendominasi. Hentakannya terasa kuat dan menggetarkan hingga ke sumsum tulang. Gemeletuk bebatuan menjadi satu-satunya suara pengiring alunan pengantar kematian tersebut.


"Ini-- tidak-- mungkin!" seru salah satu pasukan UF. Suaranya terbatah hebat karena ngeri melihat apa yang baru saja terpampang di pelupuk matanya.


"Bagaimana kita-- melawannya?"


"Aku tidak ingin mati!"


"Tolong! Siapa saja tolong kami!"


Berbagai macam kalimat keputusasaan bersahutan. Kata-kata yang seharusnya menjadi pantangan bagi pasukan penyerang yang sudah siap memasuki jurang kematian kini terucap begitu nyaring. Penyebab utamanya tentu saja pemandangan yang kini menjadi satu-satunya tontonan gratis bagi mereka.


Dari balik debu hitam yang perlahan memudar, sosok-sosok yang sebelumnya tidak pernah ada kini sedang berjalan mendekat. Tidak ada yang mau mempercayai apa yang ada di ujung pandangan semua orang. Tidak ada yang bisa menerimanya begitu saja dengan hati riang. Namun mau tidak mau, suka atau tidak, mereka harus menghadapi kenyataan yang sedang tersaji. Sebuah kenyataan yang mempertontonkan barisan makhluk bertubuh hitam legam sedang mengelilingi seluruh pasukan UF. Mereka berjumlah puluhan dan berwujud sama seperti Boss Hutan Tanah Hitam.


"Ini mustahil!" Babanyu syok. "Bukankah tadi mereka sudah menghancurkan setiap potongan tubuhnya? Seharusnya pertarungan sudah selesai saat itu juga, kan? Aku yakin tidak ada satu potongan tubuh pun yang mereka lewatkan."


Siapa saja yang nyawanya berada di ujung tanduk pasti tidak ingin mempercayai apa yang akan menimpa diri mereka. Dalam sekejap, otak akan memanipulasi kesadaran hingga memaksa alam bawah sadar meyakini jika apa yang sedang terjadi hanya sebuah mimpi atau ilusi. Itu yang sedang dialami oleh semua pasukan penakluk hutan tanah hitam UF. Mereka tidak sanggup menerima kenyataan yang sedang menari riang di depan mata. Apa yang sedang terjadi sepenuhnya telah menghancurkan mental dan semangat dalam menapaki kehidupan.


Putus asa! Hanya itu yang terpancar dari bola mata setiap anggota pasukan UF. Sekeras apapun mereka berpikir, tidak ada cara yang bisa mereka temukan untuk melarikan diri dari medan pembantaian. Situasi memang membuat siapa saja yang berada di posisi mereka akan berakhir dengan kengerian. Terlebih sekarang ada puluhan Bos Hutan Tanah Hitam.


"Kita harus membantu mereka!" seru Paijo seraya meninggalkan tempat persembunyiannya. Langkahnya cepat dan tidak ada keraguan sedikitpun saat menuruni bukit.


"Apa? Tunggu-tunggu!" Babanyu terkejut dengan keputusan sepihak Paijo. "Berhenti! Berhenti! Apa kau ingin membuat kita terbunuh? Stop! Cepat berhenti! Kita sama sekali bukan tandingan boss tempat ini. Apalagi sekarang ada puluhan di sana."


"Tenang saja! Kesempatan kita lima puluh berbanding lima puluh."

__ADS_1


"Jangan gila! Kau menghitung dari mana? Sudah jelas kesempatan kita nol persen. Jadi cepat berhenti! Kita tidak akan bisa menghentikan skill pasif monster itu."


"Skill pasif? Tidak ada skill pasif yang dimiliki monster itu." kata Paijo dengan penuh keyakinan. Dia juga sempat terkekeh ringan setelah menanggapi Babanyu.


"Apa maksudmu?" tanya Babanyu penasaran. Ekspresi panik, takut dan ngeri yang sebelumnya membalut setiap katanya berganti serius. Seolah apa yang baru saja melewati indra pendengarannya tak ayal seperti sebuah informasi penting yang wajib didengar dan dimengerti.


"Skill pasif pengganda diri yang selama ini menjadi momok semua orang sebenarnya tidak ada."


"Tidak mungkin! Jangan...."


"Skill Creation!" Paijo memotong ucapan Babanyu. "Apa yang selama ini terlihat adalah perwujudan dari skill itu."


Babanyu mencoba memikirkan semua pendapat Paijo. Jika diperhatikan dengan seksama apa yang telah terjadi memang berada di luar batas kewajaran. Pasukan UF berhasil menghabisi boss tempat ini. Tetapi yang terjadi setelah itu muncul puluhan boss dengan perwujudan yang sama. Satu-satunya cara yang memungkinkan hal tersebut bisa terjadi memang hanya skill legendaris bernama Creation. Skill yang mampu menciptakan apa saja sesuai imajinasi. "Jika apa yang kau katakan benar berarti sang pemilik skill ada di dalam kubah. Benarkan seperti itu?"


Paijo mengangguk. "Jadi untuk memenangkan pertempuran, kita harus mengalahkan siapapun itu pemilik skill tersebut."


"Tapi tetap saja kita bukan tandingannya." nada suara Babanyu kembali meninggi. Tetap memprotes keputusan Paijo untuk memasuki lobang kematian yang sudah jelas akan melahap mereka hidup-hidup.


Langkah Paijo tetap terayun. Protes Babanyu tidak mampu mempengaruhi keputusannya untuk memberi bantuan pasukan UF. Walau sadar dirinya bukan tandingan siapapun yang ada di dalam kubah pelindung, Paijo tetap tidak bisa hanya berdiam diri dan menyaksikan pembantaian terjadi di depan matanya. Ini memang keputusan yang dapat diartikan sebagai bunuh diri. Sebuah keegoisan yang dipenuhi kekonyolan dan kebodohan. Tapi Paijo tidak peduli atas semua itu. Bagi Paijo sekecil apapun itu bantuan, pasti dapat memberi perbedaan di tengah kekacauan yang sedang tidak berpihak pada pasukan UF. Hanya dengan sedikit bantuan, kesempatan hidup yang sebelumnya hanya sebesar nol persen ada kemungkingkinan berubah lebih besar.


Di tengah tindakan sepihaknya, Paijo berharap dirinya sempat memasuki medan pertempuran sebelum puluhan Boss Hutan Tanah Hitam beraksi. Oleh karena itu Paijo sengaja mengacuhkan ocehan Babanyu yang tak pernah berhenti dan terasa berdengung di telinga. Namun harapan hanya tinggal harapan. Sekitar lima puluh meter sebelum memasuki kubah, sosok-sosok mengerikan bertubuh hitam legam itu memulai aksinya.


Melihat pergerakan lawan yang sangat mendominasi, pasukan UF yang telah terdesak tak mampu berbuat banyak. Sebagian besar di antara mereka hanya sanggup menatap dengan penuh kengerian. Tubuh mereka membeku karena rasa takut yang terlanjur membekap sekujur tubuh. Sedangkan sisanya yang masih memiliki akal dan keinginan hidup berusaha mencari cara menyelamatkan diri. Namun sayang, sekeras apapun usaha mereka tetap saja hanya menemui jalan buntu. Kemanapun mereka melihat dan melangkah selalu mendapati serangan pengantar kematian.


Suasana seketika berubah ricuh dan kacau. Dengan mudahnya puluhan monster berlengan enam itu merangsek ke depan, memporak-porandakan formasi bertahan pasukan UF yang sesungguhnya telah rapuh. Tebasan demi tebasan pedang api hitam terayun dengan sangat cepat dan kuat, membelah udara hingga mengalunkan deru sebelum akhirnya mengenai target. Di saat bersamaan lengkingan teriakan bersahutan liar, mengumandangkan kengerian sekaligus rasa sakit akibat terpotongnya salah satu anggota tubuh.

__ADS_1



__ADS_2