
Fajar sedang merangkak di kejauhan. Kaki Paijo silih berganti berayun, menapaki jalan setapak yang sebelumnya dia lalui, ke arah Kota Astrois. Nyanyian serangga menjadi salah satu teman seperjalanan, begitu juga dengan lantunan Sang Kodok yang terkadang melengking dari tempat peraduannya.
Di ketinggian langit sepasang bulan bersinar terang. Salah satu di antaranya memancarkan semburat biru, sedangkan lainnya menebar cahaya hijau. Tidak satu detik pun Paijo berhenti berlari sejak meninggalkan tempat kamping sesaatnya, sekitar tiga jam lalu. Rasa lelah menggelayut dengan riang di sekujur tubuh manusia remaja itu. Walau napas tersengal hebat dan keringat mengalir tak ayal seperti arus sungai, tidak sedikitpun terbesit niat untuk meringkuk ke dalam peraduan.
"Lebih baik kau istirahat dulu sebentar!" Saran Alvaronizam. Wujud awannya mengekor sedikit di belakang Paijo. "Kau akan lebih banyak membuang waktu jika sampai pingsan."
Paijo menggeleng. "Aku tahu itu." Balas Paijo dengan napas yang memburu hebat. "Jangan khawatir! Kau tenang saja! Aku pasti akan baik-baik saja. Aku tahu batasanku."
Alvaronizam menghela napas kecewa. Sudah berulang kali dia menyarankan Paijo untuk istirahat sejenak demi mengembalikan kondisi fisiknya yang sudah terlalu dipaksakan. Sebagai Raja Iblis, sosok yang kini berwujud awan itu sangat tahu bagaimana kondisi Paijo. Tubuh Paijo sudah sangat terbebani. Namun sayang, semua saran Alvaronizam ditolak mentah-mentah.
"Aku tahu kau terburu-buru. Tapi tolong… " Alvaronizam tiba-tiba berhenti bicara. Perhatiannya terlempar pada barisan pepohonan di sisi kanan jalan setapak.
Hal yang sama juga terjadi pada Paijo. Walau langkahnya tidak terpengaruh sedikitpun, namun pandangannya juga mencoba menemukan sesuatu di tengah kegelapan di antara pepohonan yang diam seribu bahasa. Suara ledakan dan dentingan logam yang saling beradu terdengar samar dari kejauhan.
"Apa kau tidak ingin memeriksanya?" tanya Alvaronizam.
Paijo berhenti. Untuk sesaat otaknya sibuk memutuskan apakah kali ini harus mengikuti saran Alvaronizam atau tidak.
"Kita tidak punya banyak waktu." kata Paijo akhirnya, masih merasa jika rencananya mendatangi UF tetap menjadi tujuan utamanya. "Apapun yang terjadi di sana tidak sebanding dengan apa yang akan terjadi seminggu yang akan datang."
"Aku paham maksudmu. Tapi apa salahnya jika hanya melihat? Aku rasa kau tidak akan membuang banyak waktu jika melakukannya. Anggap saja ini sebagai waktu istirahatmu." Alvaronizam mengutarakan pendapatnya. "Lagipula bagaimana jika seandainya salah satu pihak yang sedang saling menghunus pedang itu adalah UF? Bukankah kau akan lebih mudah memberikan informasi dariku pada mereka?"
Paijo juga berpikiran sama seperti Alvaronizam. Walau kemungkinannya kecil, memang tidak ada salahnya sejenak melihat kegaduhan yang sedang terjadi.
"Baiklah! Kita lihat apa yang ada di sana. Tapi jika tidak ada satupun anggota UF, aku akan langsung melanjutkan perjalanan."
Dengan sedikit mengendap, Paijo keluar dari jalan setapak dan menerobos semak belukar di depannya. Langkahnya bergerak perlahan dan senyap. Pendengarannya terfokus pada keramaian pertarungan yang perlahan semakin mengeras. Sedangkan pandangan Paijo terus memindai situasi, memeriksa apakah ada kejanggalan di sekitarnya atau tidak.
Sepuluh menit berlalu. Barisan pepohonan dan semak belukar yang sebelumnya menjadi pemandangan utama di bawah sinar rembulan perlahan menunjukan batasnya. Sekitar seratus meter di depan, sebentuk tanah lapang berlapis rerumputan terlihat. Bebatuan setinggi tidak lebih dari setengah meter meringkuk tak berdaya di beberapa sudutnya.
"Bersembunyilah di balik pohon besar itu!"
Paijo mengikuti arahan Alvaronizam. Seraya merapatkan tubuh ke batang pohonnya yang besar, remaja yang rambutnya mulai memanjang itu melempar pandangan sedikit jauh ke padang rumput. Di sana ada dua kelompok yang sedang bertarung habis-habisan.
"Sepertinya makhluk-makhluk batu itu sedang terdesak." Komentar Alvaronizam
Sekitar belasan sosok bertubuh batu sedang dikepung oleh puluhan sosok berjubah hitam. Pertarungan mereka sangat berat sebelah. Sosok-sosok berjubah terus melancarkan serangan dari berbagai arah. Ayunan pedang mereka tidak pernah berhenti menebas. Satu serangan diikuti serangan lainnya. Kombinasi serangan mereka juga beragam. Berbagai macam sihir mereka juga tidak kalah mematikan. Serangan jarak dekat, diikuti serangan jarak jauh dan disusul serangan sihir. Semuanya terjadi dengan sangat cepat.
Sedangkan sosok-sosok bertubuh batu berusaha bertahan sebaik mungkin. Selain kalah jumlah, mereka juga kesulitan melancarkan serangan. Gerakan mereka lambat dan cukup monoton. Yang bisa mereka lakukan hanya bertahan, bertahan dan bertahan. Kedua tangan mereka yang membentuk perisai menjadi satu-satunya pelindung dari kematian yang terus merongrong.
"Sepertinya aku tidak asing dengan lambang di jubah sosok-sosok itu." kata Alvaronizam mengingat-ngingat sesuatu. Sesaat otaknya membuka satu persatu gudang ingatan masa lalunya.
Mendengar celotehan Alvaronizam, Paijo mengamati bagian punggung sosok-sosok berjubah. Di sana terdapat sebuah gambar tangan berwarna abu-abu keunguan. Tangan tersebut seperti sedang berusaha meraih siapa saja yang sedang menatapnya.
"Apa mereka salah satu kelompok yang pernah kau lenyapkan di Hutan Tanah Hitam?" tanya Paijo. Ada rasa penasaran yang meletup di benaknya.
Alvaronizam menggeleng. "Tidak. Bukan ditempat itu. Kalau tidak salah aku pernah melihatnya di salah satu kota di wilayah kekuasaan Kaisar Iblis Galahad. Ya. Aku yakin melihatnya di sana. Di salah satu kota di dekat garis pertempuran."
__ADS_1
"Jika kau benar, kenapa mereka juga ada di tempat ini?"
"Entahlah! Tapi yang jelas kelompok itu berbahaya."
Paijo mengangguk setuju. "Lebih baik kita tidak berurusan dengan mereka. Semakin cepat kita pergi maka akan semakin baik!"
"Apa kau tidak ingin membantu mereka. Maksudku makhluk-makhluk batu itu. Sepertinya mereka baik."
"Aku tahu mereka tidak jahat. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk melibatkan diri pada sesuatu yang merepotkan. Apalagi kita memiliki misi yang jauh… " Paijo tiba-tiba berhenti bicara. Perhatiannya tertuju pada salah satu sosok bertubuh batu. Sosok tersebut mengenakan anting berbentuk segitiga di salah satu telinganya, sedangkan lehernya berhias kalung berbahan biji-bijian.
Seketika itu pula Paijo teringat pada Keran yang pernah memberinya sebotol air di salah satu taman di Kota Astrois. Sebelum berpisah, saat itu Keran meminta Paijo untuk mengingat bentuk anting di telinganya dan kalung di lehernya. Keran meminta hal tersebut karena tahu jika ras lain cukup kesulitan untuk membedakan setiap individu dari rasnya. Paijo masih mengingat semua itu dengan sangat jelas.
"Keran? Apa yang membuatnya berurusan dengan mereka." gumam Paijo seraya mengurungkan niatnya untuk segera pergi.
"Apa kau mengenal salah satu dari mereka?"
"Ya."
"Lalu?"
"Aku harus menolongnya."
"Jangan bodoh! Kau bukan tandingan mereka. Niatmu membantu hanya akan mengantarmu pada kematian. Apalagi teman parasitmu sedang tidur nyenyak sekarang. Sedangkan perlengkapan anehmu tidak akan berpengaruh pada orang-orang seperti mereka."
Apa yang dikatakan Alvaronizam sepenuhnya benar. Paijo menyadari hal tersebut. Sekuat apapun dirinya saat ini tidak akan pernah bisa disejajarkan dengan kelompok berjubah hitam itu. Kedatangannya dapat dipastikan hanya akan membuatnya terbunuh dengan sekejap.
Tapi Paijo juga tidak bisa membiarkan sosok yang pernah membantunya itu berada di ujung tanduk dan kemungkinan besar akan terjun bebas ke lembah kematian. Paijo benar-benar tidak berdaya. Keinginannya untuk menolong Keran sangat besar, hingga membuat dadanya terasa sesak. Namun di saat bersamaan Paijo juga tidak bisa bertindak seenaknya mengingat hanya dirinya yang memiliki informasi tentang invasi iblis.
"Aku akan membantumu."
"Membantu?" Paijo melirik Alvaronizam. Tatapannya tajam dan penuh perhitungan. "Apa maksudmu? Bukankah kau tidak memiliki tubuh fisik untuk melancarkan serangan? Kau juga tidak bisa menggunakan sihir karena tidak memiliki energi kehidupan."
"Semua yang kau katakan benar." Alvaronizam tidak menyanggah sedikit pun. "Aku mempunyai cara lain untuk menolong temanmu. Hanya saja setelah itu aku akan tertidur cukup lama. Bagaimana? Apa kau ada masalah dengan itu?"
Paijo menggeleng. "Aku sudah terbiasa dengan hal semacam itu."
"Kalau begitu bersiaplah. Waktumu hanya sepuluh detik untuk menyelesaikan semuanya. Dan gunakanlah topi aneh yang ada di punggungmu."
Tubuh awan Alvaronizam tiba-tiba memancarkan cahaya putih yang cukup menyilaukan. Sedetik kemudian terpecah menjadi butiran sebesar pasir sebelum akhirnya merasuk ke tubuh Paijo.
Di saat yang sama Paijo merasakan sebuah kekuatan yang sangat besar meluap-luap di dalam dirinya. Tubuhnya perlahan mengeluarkan asap putih. Semakin lama semakin banyak dan memendarkan cahaya. Sepersekian detik kemudian hal yang sangat menakjubkan terjadi. Semua yang ada di sekitar Paijo bergerak dengan sangat lambat, bahkan hampir mendekati tidak bergerak. Pertarungan yang sebelumnya sulit untuk diikuti pun kini tak ayal seperti sebuah video yang diperlambat ribuan kali. Semua gerakan mereka terlihat dengan sangat jelas.
Tanpa banyak membuang waktu, Paijo segera mengenakan topi caping yang selama ini hanya bertengger di punggungnya. Dia juga menarik pedang dari sarungnya.
"Status!" Kata Paijo pelan. Penasaran dengan statusnya saat ini. Karena bagaimanapun juga kekuatan yang baru saja merasukinya pasti akan berdampak signifikan pada status Paijo.
Nama: Paijo
__ADS_1
Ras: Manusia
Zerenian
Job: Farmer
Level 25 (189.078/ 189.078)
Rank: -
Rebith 0
Bakat: -
STR : 47770 (+47770)
AGI : 37590 (+37590)
VIT : 30180 (+30180)
INT : 25270 (+25270)
DEX : 20090 (+20090)
Kesehatan 15099100 (+15099000)
Energi 3794650 (+3794600)
Serangan Fisik 4778360 (+4778350)
Serangan Sihir 2528360 (+2528350)
Pertahanan Fisik 2703980 (+2703970)
pertahanan Sihir 1896060 (+1896050)
"Ini gila!" Mata Paijo terbelalak hebat. Tidak percaya dengan statusnya saat ini.
Karena tidak ingin terbuai dengan kekuatan yang sedang merasuki dirinya, Paijo kembali fokus pada pertempuran kecil di depannya. Dengan kecepatan maksimal remaja itu menghampiri salah satu sosok berjubah hitam yang sedang bersiap melontarkan sihir api ke arah Keran. Tanpa ragu Paijo mengayunkan pedang ke leher sosok tersebut. Bilah pedangnya mengiris kulit, daging dan tulangnya dengan sangat mudah. Karena kecepatannya yang jauh di luar nalar, kepala target pertama Paijo masih tetap berada di posisinya, bahkan darah yang seharusnya menyembur tidak setetes pun terlihat.
Paijo benar-benar tidak ingin membuang waktu, dengan gerakan sederhana namun sangat cepat, Paijo menyerang sosok berjubah lain di dekatnya. Kali ini dia mengarahkan tebasan ke pinggang, memotong dari sisi kanan ke sisi lainnya dengan sempurna. Bahkan salah satu tangannya yang berada pada jalur serangan juga ikut terpotong.
Serangan Paijo tidak berhenti. Semua sosok berjubah yang berada dalam jangkauan penglihatannya menjadi target. Tebasan demi tebasan berayun dengan bringas, memotong apa saja yang berada pada jalurnya. Gerakan Paijo sangat lincah, meliuk-liuk di tengah pertempuran tanpa ada yang bisa menghentikannya.
Satu korban disusul korban lainnya. Hingga tanpa sadar sudah lebih dari seratus sosok berjubah hitam menerima ajalnya. Tidak hanya fisik Paijo yang mendapat efek kekuatan yang diberikan Alvaronizam, melainkan juga kedua matanya. Indera penglihatan Paijo kini mampu melihat sosok-sosok berjubah lain yang sedang bersembunyi menggunakan skill menghilang. Tentu saja mereka juga tidak lepas dari belaian pedang Paijo. Semua kejadian mengerikan tersebut hanya berlangsung tidak lebih dari satu detik.
Sesaat kemudian, saat pertempuran masih berjalan sengit dan berat sebelah, sosok-sosok berjubah hitam serentak berjatuhan ke tanah. Tubuh mereka terpotong-potong. Darah terpercik kemana-mana, membasahi apa saja yang berada pada jalur lontarannya. Sosok-sosok itu pun seketika tak bernyawa.
__ADS_1
Di sisi lain, belasan sosok bertubuh batu terkejut dengan kejadian yang tidak pernah mereka sangka. Situasi yang sebelumnya menyudutkan mereka hingga ke tepian jurang kematian kini lenyap begitu saja tersapu oleh angin. Tidak ada kata-kata yang bisa meluncur dari tenggorokan mereka. Bahkan otak yang bersembunyi di dalam kepala batu mereka cukup kesulitan merespon situasi yang ada. Mata mereka terbelalak hebat, sedangkan mulut ternganga lebar. Hanya itu yang bisa mereka lakukan di tengah situasi yang sesungguhnya tidak pernah bisa mereka pahami.
"Hantu Putih!" celetuk Keran tiba-tiba. Pandangannya tertuju ke arah hutan. Tepat di ujung pandangannya sekelebat sosok bertubuh putih tertangkap matanya.