The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 2 - Di Luar Dugaan


__ADS_3

"Ini… tidak mungkin. "


Siapa saja yang berada di posisi Paijo pasti akan terbelalak dan merasa apa yang ada di hadapannya hanya sebuah mimpi. Tapi ini bukan mimpi. Semua yang dilihat Paijo adalah nyata dan mau tidak mau harus bisa diterima. Bahkan jika ada yang berusaha menyangkal, sangkalan tersebut dapat dipastikan akan dianggap omong kosong.


Awalnya Paijo juga tidak bisa menerima apa yang sedang terpampang dengan jelas di depan mata. Namun setiap kali otaknya hendak menganggap apa yang ada di sekitarnya sebagai khayalan liar, dengan cepat dia menggelengkan kepala demi merontokan pemikiran-pemikiran tidak masuk akal yang hendak merasukinya. Paijo memilih memaksa dirinya untuk mempercayai semua yang ada karena menghilangnya orang-orang di bumi bukan isapan jempol belaka.


Paijo berusaha menenangkan diri, menahan panik yang menggila sejak pertama kali kakinya keluar dari portal. Bagaimanapun juga ribuan portal selebar sepuluh meter yang berjajar rapi di ujung sebuah lembah yang sangat luas bukan sebuah pemandangan biasa yang bisa diterima begitu saja oleh akal sehat. Apalagi ditambah dengan munculnya sosok-sosok yang tak terhitung jumlahnya dari portal-portal yang menempel di dinding tebing setinggi dua puluh meter itu.


Ini jauh melebihi dunia fantasi manapun yang pernah diciptakan oleh imajinasi siapapun di bumi. Ini melampaui novel-novel fantasi yang pernah ada. Bahkan novel terlaris yang pernah dicetak ulang hingga ratusan juta kali tidak bisa sedikitpun menandingi.


Sambil tetap menjaga ketenangan, Paijo mengamati sekeliling. Walau berulang kali meyakinkan diri jika yang sedang dialaminya nyata, tetap saja masih ada secuil alam bawah sadarnya yang menganggap semua ini hanya ilusi. Hal tersebut tidak aneh mengingat sosok-sosok yang tertangkap mata Paijo jauh dari kata wajar.


Semua makhluk yang ada di novel dan game VRMMORPG ada di tempat ini. Wujud mereka hampir sama seperti yang pernah digambarkan oleh penciptanya. Namun itu hanya sebagian kecil. Sisanya yang jauh lebih banyak merupakan makhluk-makhluk yang tidak pernah dilihat Paijo. Hanya satu ciri yang membuat mereka terlihat sama yaitu wujud humanoid mereka. Atau sederhananya mereka sama-sama memiliki dua kaki, dua tangan dan sebuah kepala.


"Ini benar-benar kacau."


Setelah sepenuhnya menerima kenyataan, Paijo baru menyadari jika keadaan di sekitarnya tidak terkendali. Teriakan penuh ketakutan melengking dari segala arah. Geraman, raungan dan segala macam suara yang berasal dari pita suara saling bersahutan, bercampur aduk dengan rentetan dentuman yang juga terus terdengar. Di kejauhan terlihat tubuh-tubuh tak berdaya terlempar ke udara, sesaat melayang sebelum akhirnya menghilang di tengah kerumunan. Bahkan ada di antara mereka terlempar ke arah Paijo hingga membuat remaja manusia itu bergegas bergeser ke samping untuk menghindari tubrukan yang dapat dipastikan akan melukainya.


"Aduh… duh… duh!" rintih Paijo setelah menabrak sesuatu yang berada dijalur hindarannya. "Dasar batu sialan!"


"Apa kau bilang?" Geram seseorang.


Paijo yang mendengarnya segera melihat ke sana kemari, mencoba menemukan pemilik suara yang baru saja menggetarkan gendang telinganya. Walau tidak yakin apakah pertanyaan tersebut ditujukan padanya atau tidak, Paijo tetap berusaha menemukannya. Tidak ada alasan khusus hingga remaja berumur tujuh belas tahun itu bersikeras untuk tetap mencari selain hanya karena apa yang dikatakan sosok tersebut dapat dipahami Paijo. Dengan kata lain pemilik suara tersebut adalah manusia seperti dirinya.


"Hai! Kau ada dimana? Keluarlah! Aku juga manusia sepertimu."


Paijo berteriak sekeras yang dia bisa. Matanya terus mengamati area sekitar. Mengintip di antara sosok-sosok yang berlalu lalang seraya sesekali kembali berteriak mencari keberadaannya. Namun tidak ada tanggapan sama sekali. Sosoknya seolah lenyap begitu saja.

__ADS_1


"Dasar makhluk kecil! Selain lemah sepertinya kau juga bodoh."


"Suaranya dekat."


Paijo terkejut seketika itu juga. Sosok yang sebelumnya dia cari tiba-tiba kembali bicara. Paijo merasa ada yang tidak beres. Dari suaranya yang sangat jelas dapat dipastikan jika jaraknya tidak lebih dari dua meter dan berada di atas kepala. Karena menemukan apa yang dicari, dengan senyum merekah di bibir, Paijo mendongak, mencari tahu seperti apa sosok manusia yang akan menjadi teman pertamanya di dunia ini.


"Eh! Kau bukan… manusia?"


Tanpa pikir panjang dan langsung dikendalikan insting, Paijo bergegas menjauh beberapa meter. Apa yang ada di hadapannya tidak seperti yang diperkirakan. Sosok yang berbicara dengannya ternyata bukan manusia.


"Manusia? Apa itu sebutan bagi makhluk kecil sepertimu?" sosok tersebut balik bertanya.


Paijo tidak menjawab. Bahkan tidak menganggap pertanyaan tersebut pernah ditanyakan kepadanya. Kenapa? Tentu saja karena kebiasaan Paijo yang selalu memperhatikan segala hal yang menyangkut dirinya. Kali ini Paijo menemukan sebuah ancaman dari sosok yang tubuhnya menyerupai gajah itu. Dari kata-katanya yang meremehkan sekaligus dingin, dapat dipastikan sosok tersebut akan menyerang tanpa ampun, dan tidak butuh waktu lama hingga apa yang diperkirakan Paijo menjadi kenyataan.


Makhluk berhidung panjang dan bertelinga lebar itu menatap bengis Paijo. Tubuh tingginya yang mencapai empat meter dan dipenuhi otot terlihat sangat mendominasi. Karena terlanjur dikendalikan amarah yang entah bagaimana bisa tersulut hanya karena kesalahpahaman kecil bergegas menghampiri Paijo. Kakinya menapak kuat hingga menggetarkan tanah dalam radius beberapa meter. Walau terkesan menakutkan, tapi gerakan sosok tersebut lambat dan terlihat berat.


"Jangan kemana-mana kau makhluk kecil! Kau harus merasakan pukulanku."


Waktu terus berlalu tanpa ada perubahan di kedua belah pihak. Paijo masih mampu menjaga jarak di depan, dan sosok pengejarnya juga masih terlihat segar walau sudah ratusan makhluk dia lempar ke segala arah. Jika seperti ini terus tentu saja Paijo yang akan mendapat kerugian pada akhirnya. Lambat laun Paijo akan kehabisan tenaga dan tak sanggup melarikan diri lagi. Saat itu terjadi sudah dapat dipastikan jika hal buruk akan menimpa Paijo. Kemungkinan besar Paijo akan terbunuh saat kepalan tangan sebesar dua kali bola basket itu menghantamnya.


Alangkah sialnya. Sepertinya dewa keberuntungan sedang terburu-buru menjauhi Paijo. Saat hendak menghindari sesosok makhluk berkulit hijau muda dan berambut rumput, kaki Paijo tersandung sesuatu dan seketika itu juga membuatnya terpelanting ke tanah.


"Akhirnya kau berhenti juga makhluk kecil."


Hanya memerlukan waktu dua detik bagi makhluk humanoid gajah itu untuk menyusul Paijo. Senyum kemenangan merekah lebar di wajahnya. Karena sudah tidak sabar untuk segera menghancurkan target buruan yang cukup menyusahkan, sosok tersebut mengangkat salah satu tangannya dan bersiap menyerang.


Paijo merasakan bahaya sedang menodong ke arah hidungnya. Hanya dengan melihat sekilas, keadaan Paijo benar-benar di ujung tanduk. Posisinya sekarang sangat tidak menguntungkan. Dia tidak bisa lari. Sedangkan jika melawan, kekuatan Paijo sangat tidak sebanding dengan lawannya yang dianugerahi otot di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


"Matilah!" kata makhluk berkulit abu-abu itu dengan puas.


Tidak ada yang bisa dilakukan Paijo di saat seperti ini. Hanya dengan waktu yang kurang dari satu detik, apa yang akan dilakukan Paijo hanya akan berakhir sia-sia. Tubuhnya akan terkena kepalan super besar itu dengan telak tanpa bisa menahannya. Tapi walau mengetahui semua itu dengan jelas, Paijo tetap mencoba memberi perlawanan. Dengan semua tenaga yang dia punya, Paijo menyilangkan kedua lengan di depan wajah seraya berharap keajaiban masih berbelas kasihan padanya.


...-----@@-----...


Sesosok makhluk berkulit hijau muda dan kepala bermahkotakan rimbunan rerumputan setinggi dua puluh sentimeter menatap tajam dengan penuh kebencian kepada makhluk bertubuh tinggi besar yang sedang mengangkat salah satu tangannya. Makhluk itu sedang berusaha menyerang makhluk lainnya yang jauh lebih kecil dan lemah.


"Kenapa kekuatan sebesar itu digunakan untuk menghancurkan? Dia bahkan sudah tidak bisa berdiri. Apa kau tidak memiliki belas kasihan?"


Amarah seketika itu juga bergejolak di dalam diri sosok berkulit hijau muda itu. Di dunia asalnya penindasan bisa dikatakan sebuah dosa besar. Semakin besar kekuatan seharusnya semakin besar pula manfaat yang bisa digunakan untuk menolong yang lebih lemah. Itulah yang selalu tertanam di benak semua makhluk yang berasal dari tanah kelahirannya. Di sana semua bisa hidup berdampingan dengan damai dan saling melengkapi satu sama lain.


"Aku harus menghentikannya."


Makhluk yang tubuhnya hanya tertutupi rajutan tanaman merambat di kedua bagian intimnya itu berjongkok, sedangkan salah satu tangannya merogoh rerumputan di kepala, meraih sebentuk biji berwarna coklat dan sebesar jempol orang dewasa. Tidak ada yang dipikirkan makhluk itu selain segera menggunakan kekuatannya untuk menolong sosok yang sesungguhnya tidak dia kenal. Jika bukan dirinya yang menolong, lalu siapa yang bisa melakukannya.


"Root Of Protection!"


Sesaat setelah biji dibenamkan ke tanah dan dibekap dengan kedua tangan, tanah di sekitar sosok tersebut retak hingga radius satu meter. Suara kemeresak mengalun setelahnya. Sedangkan senyum sosok tersebut merekah lebar. Penyebab utamanya tentu saja karena apa yang ingin dia lakukan berjalan lancar. Biji yang sebelumnya hanya berupa butiran kini telah menjulurkan akar dan terus memanjang di bawah tanah ke arah makhluk yang sedang tersungkur tak berdaya di kejauhan sana.


"Semoga sempat!"


Ada penyesalan yang menyertai tindakan sosok tersebut. Bahkan dia sempat mengutuk dirinya sendiri karena bersikap bodoh seperti seorang pengecut. Seharusnya dia tidak menjauh saat perseteruan kedua makhluk yang berujung pada niatan untuk membunuh datang menghampirinya. Seandainya saat itu tidak menjauh pasti sosok tersebut memiliki lebih banyak waktu lagi untuk bertindak. Tidak seperti sekarang yang sangat terbatasi oleh waktu. Terlambat sedikit saja dapat dipastikan akan berakhir dengan kengerian.


Tapi menyesal di saat seperti ini tidak akan mengubah apapun. Walau hanya memiliki waktu kurang dari satu detik sosok yang memiliki mata sedikit sipit itu mengerahkan semua kemampuannya. Alhasil akar-akar yang terus memanjang di dalam tanah mencuat keluar di sekeliling makhluk yang tersungkur di depan sana, membentuk sebuah kubah pelindung.


Boom!

__ADS_1


Tepat setelah kubah tersebut terbentuk sempurna, ledakan terjadi di sana. Penyebabnya tentu saja karena hantaman pukulan makhluk bertubuh besar tepat mengenai akar pelindung sosok berkulit hijau muda. Debu seketika beterbangan dan mengaburkan pandangan semua orang.



__ADS_2