
Sebelum ledakan terjadi, Paijo sempat melihat ada sesuatu yang tiba-tiba berhamburan keluar dari tanah disekitarnya. Di tengah situasi genting dan dalam waktu yang teramat singkat, Paijo tak berniat memikirkan apa yang baru tertangkap mata dan lebih memilih mengacuhkannya. Sesuatu yang misterius itu berkumpul dan membentuk kubah kecil di sekeliling Paijo. Tepat saat kubah terbentuk sempurna sebuah hantaman mengenainya dengan sangat keras hingga sebagian besar kubah hancur dan debu berterbangan hingga radius beberapa meter. Tentu saja penyebab utamanya adalah kepalan tangan besar yang sebelumnya terhujam ke arah Paijo.
Sesaat Paijo tetap diam dengan posisi meringkuk di tanah. Kedua tangannya melingkar melindungi kepala. Paijo tidak pernah menyangka nyawanya akan langsung terancam saat baru menapaki tanah antah berantah.
"Gila! Gila! Gila! Sebenarnya apa yang terjadi di dunia ini? Ini benar-benar gila! Ini sama saja dengan bunuh diri." racau Paijo. Tidak bisa menerima kenyataan yang ada.
Makhluk humanoid gajah yang tahu serangannya gagal langsung meraung. Amarah seketika menghiasi sekujur wajahnya. Tapi bukan itu yang membuat keadaan semakin rumit, melainkan dirinya yang sadar jika ada yang mengganggu pertarungannya yang sudah dapat dipastikan kemenangan ada di tangannya.
Setelah beberapa saat mengamati sekitar, makhluk humanoid gajah memfokuskan perhatian ke sosok makhluk berkulit hijau muda yang sedang berjongkok sekitar sepuluh meter di sebelah kanannya. Paijo yang menyadari ekspresi penuh kebencian sosok yang hendak mengakhiri hidupnya itu langsung menoleh ke tempat yang sama. Dia juga menemukan sosok yang dimaksud calon malaikat pembunuhnya itu.
"Apa kau tidak malu dengan tubuh besarmu itu? Apa kau sepengecut itu hingga memilih lawan yang bahkan tidak bisa melukaimu? Dasar sampah! Dasar makhluk menjijikan tidak tahu diri!" kata sosok berkulit hijau muda. Suaranya lantang dan dipenuhi permusuhan.
"Apa katamu?" sosok Humanoid Gajah tidak terima. Harga dirinya terasa diinjak-injak oleh setiap kata sosok yang berada di ujung pandangannya.
"Dasar pengecut!"
Mendengar dirinya kembali dihina oleh makhluk yang ukurannya jauh lebih kecil, makhluk humanoid gajah semakin geram. Tanpa pikir panjang dia langsung mengalihkan target serangannya. Namun sebelum sempat melangkah, sosok bertubuh besar itu membatalkan niatnya dan malah tertawa terbahak seolah telah menemukan cara jitu untuk memenangkan pertarungan dengan makhluk berambut rumput. Suaranya menggema hingga puluhan meter jauhnya.
"Terserah kau mau menyebutku apa. Tapi yang jelas aku akan membuatmu menyesal karena telah bersikap sok pahlawan di hadapanku. Aku akan membuatmu putus asa. Aku akan membuatmu merasa yang paling tidak berguna di dunia ini."
__ADS_1
"Kau tidak akan bisa melakukan itu."
"Tentu aku bisa melakukannya. Dengan cara apa?" sosok humanoid gajah sejenak diam. Menatap sosok berkulit hijau muda dengan tatapan meremehkan, berusaha menyerang psikis lawannya dengan kata-kata. "Tentu saja dengan membunuh makhluk lemah ini. Kau pasti mengerti maksudku bukan?"
Ekspresi makhluk berkulit hijau muda berubah suram. Dia sangat memahami maksud perkataan sosok yang menjadi lawannya itu. Tujuan utama bagi sosok yang berniat melindungi sosok lain tentu saja adalah untuk menyelamatkan sosok yang ingin dilindungi. Selama sosok tersebut tetap selamat dan hidup, itu sudah cukup untuk menjadi sebuah kemenangan besar walau dalam prosesnya harus mengalami luka parah atau bahkan terbunuh.
Namun jika yang terjadi sebaliknya tentu saja sang penolong akan merasakan sebuah penyesalan besar karena tidak sanggup mewujudkan cita-cita mulianya. Yang lebih buruk lagi sosok tersebut akan merasa bersalah selama sisa hidupnya hingga membuatnya tak sanggup lagi berpikir jernih dan menganggap dirinya sebagai makhluk gagal.
Di tengah situasi yang semakin menegangkan dan mempertaruhkan nyawa, Paijo malah disibukan dengan pikirannya sendiri. Setelah mendengar sosok yang baru menyelamatkannya bicara dan Paijo memahami apa yang dia katakan, sebentuk rasa penasaran meletup di benak. Paijo cukup terkejut dengan apa yang terjadi. Baginya ini aneh. Sebagai makhluk yang berasal dari dunia dan ras yang berbeda tentu saja untuk saling mengerti bahasa satu sama lain akan membutuhkan waktu yang sangat panjang. Namun kenyataannya bahasa yang seharusnya menjadi kendala di dunia ini benar-benar telah ditiadakan. Paijo menduga jika apa yang terjadi di ruangan sebelumnya yang membuat semua ini terjadi, dan yang menjadi penyebab utamanya tentu saja implan yang dimaksud suara misterius tersebut.
"Mati kau!"
Mendengar teriakan penuh amarah dan kebencian menggedor gendang telinga, perhatian Paijo kembali terjatuh pada sosok bertubuh besar di depannya. Mata Paijo terbelalak, mulutnya menganga lebar, keringat dingin mengalir deras di pelipis, sedangkan ekspresinya berubah sangat suram saat mendapati sosok tersebut sedang bersiap menghujamkan serangan untuk yang kedua kalinya. Menyadari nyawanya kembali berada di ujung tanduk, Paijo bergegas menjauh. Namun nasib berkata lain, saat hendak beringsut pergi, ternyata salah satu kaki Paijo terperangkap di bawah reruntuhan kubah, membuat dirinya tak sanggup berpindah walau hanya satu inchi.
"Sial! Tapi aku tidak akan diam saja." kata makhluk berkulit hijau muda. Lalu kembali membenamkan salah satu tangannya ke rerumputan di kepala dan mengeluarkan lagi sebutir biji. Dengan kecepatan yang sama, sosok tersebut kembali membenamkan biji ke tanah dan membekapnya dengan kedua tangan.
Tidak ada waktu lagi bagi makhluk berkulit hijau muda itu. Sedikit saja terlambat maka usahanya akan sia-sia dan sosok yang ingin ditolongnya akan mati tepat di depan matanya. Namun sepertinya dewa kesialan juga sedang mencintai makhluk tersebut. Skill yang sebelumnya berhasil menyelamatkan Paijo kini gagal dieksekusi. Biji yang berada di bawah bekapan tangannya masih utuh.
"Cepat pergi! Gunakan semua yang kau miliki! Cepat selamatkan dirimu!" teriak makhluk berkulit hijau muda saat tidak ada yang bisa dilakukan lagi.
__ADS_1
Paijo yang mendengar teriakan putus asa dari sosok penolongnya hanya bisa mengutuk. Apa yang bisa dilakukan Paijo di saat seperti ini? Paijo bukan manusia yang biasa menggunakan kekuatan saat berada di bumi. Walau dia sanggup membajak berpetak-petak sawah, tapi itu berkat bantuan dua kerbaunya yang selalu menarik alat pembajak. Sedangkan Paijo hanya berdiri di atas alat tersebut sebagai beban dan mengarahkan hewan peliharaan berkulit abu-abunya itu.
Untuk menyingkirkan sisa-sisa kubah yang terbuat dari kumpulan akar tentu saja suatu hal yang mustahil dilakukan, dan itu terbukti saat Paijo mencoba menendang salah satu sisi kubah yang menjerat kakinya. Usahanya seratus persen sia-sia. Tendangannya tidak mampu menggerakkan sisa reruntuhan kubah yang masih tertancap di tanah walau hanya satu milimeter.
Putus asa! Itulah yang sedang menggerayangi Paijo sekarang. Sekeras apapun usahanya untuk membebaskan diri hanya akan berujung pada kematian. Hanya dengan sekali serangan tinju sosok humanoid gajah dapat dipastikan Paijo akan langsung diterbangkan ke akhirat.
Ini adalah detik-detik krusial bagi hidup Paijo. Sebenarnya remaja manusia itu tidak ingin menyerah dan merelakan nyawanya melayang begitu saja. Namun kenyataan sepertinya tidak sedang ingin mengabulkan harapannya. Paijo hanya bisa pasrah dan membiarkan kepalan tangan super besar sosok humanoid gajah menghujam tubuhnya. Ya, hanya itu yang akan terjadi di penghujung hidup remaja manusia yang dikenal sebagai seorang jenius muda. Paijo memejamkan mata, berusaha untuk tidak melihat kematiannya sendiri.
Namun tepat saat mata Paijo tertutup sempurna sebuah dentuman yang cukup memekakan telinga mengalun lantang. Suaranya sesaat sempat membuat gendang telinga Paijo sakit. Bagi Paijo apa yang baru saja terjadi cukup aneh. Dengan sangat jelas remaja manusia itu mendengar suara sebuah hantaman yang cukup dahsyat. Tapi di saat yang sama entah kenapa dia tidak merasakan sengatan rasa sakit yang seharusnya menghentak sekujur tubuhnya.
"Apa aku sudah mati?" tanya Paijo pada dirinya sendiri. Merasa aneh dengan kenyataan yang menurutnya tidak sejalan dengan peristiwa yang dialami.
Karena penasaran, Paijo membuka mata dengan perlahan. Hal pertama yang tertangkap indra penglihatannya adalah sebuah kaki yang sedang menapak kuat beberapa sentimeter dari kepalanya. Kaki tersebut terbalut oleh lempengan logam berwarna biru. Merasa familiar dengan wujud yang ada di dekatnya, Paijo menggeser pandangan ke atas, melewati pinggang, lalu ke punggung sebelum akhirnya berhenti pada bagian kepala. Di saat itu juga mata Paijo melebar. Lega seketika mengguyur sekujur tubuhnya karena mengenali bentuk wajah sosok yang sedang berdiri di depannya.
"Apa kau baik-baik saja, Nak?" kata sosok yang kini sedang sedikit menoleh ke arah Paijo.
"Kau… Manusia?" celetuk Paijo memastikan jika yang sedang dilihatnya bukan sebuah ilusi.
"Tentu saja aku manusia. Apa ada yang salah dengan itu?" jawab sosok tersebut santai. Senyum lebat menghiasi bibirnya.
__ADS_1
Paijo menggeleng. Tidak ada kata-kata yang kembali meluncur dari pangkal tenggorokan, seolah suaranya tercekat karena kenyataan yang menyatakan jika ada manusia lain di tempat ini. Seseorang baru saja menyelamatkannya.