
Ada seratus lima puluh enam ras yang mendiami Gedhetenan Land. Dari ratusan ras tersebut terbentuk kelompok-kelompok yang tak terhitung banyaknya. Dari yang hanya beranggotakan beberapa orang hingga yang beranggotakan ratusan ribu dan sangat berpengaruh di wilayah tertentu, atau biasa dikenal sebagai guild.
Tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah kelompok yang ada, namun yang pasti dari kelompok-kelompok tersebut terbentuklah sebuah peradaban. Dimulai dari yang terkecil seperti desa, lalu berkembang menjadi kota. Kota-kota di suatu wilayah yang memiliki visi dan misi sama akhirnya memutuskan untuk bergabung dan membentuk sebuah kerajaan, sebelum akhirnya terbentuk kekaisaran. Semua berlangsung dengan proses yang sangat panjang dan rumit, serta banyak menumpahkan darah peperangan dimana-mana.
Karena kekacauan merajalela dan menyengsarakan banyak orang, sebuah organisasi yang berfungsi untuk menjembatani semua golongan dan menekan konflik yang dapat memicu peperangan akhirnya dibentuk. Dengan kata lain organisasi ini menjunjung tinggi perdamaian. Organisasi tersebut bernama United Freedom.
Sejak berdirinya United Freedom atau disingkat UF, konflik dan peperangan di Gedhetenan Land terus berkurang dan akhirnya hanya menyisakan segelintir saja. Seiring berjalannya waktu UF pun dikenal sebagai penjaga perdamaian. Sedangkan sekarang UF juga digadang-gadang sebagai ujung tombak kebebasan seluruh ras. Menjadi satu-satunya harapan bagi semua orang agar bisa pulang ke tanah kelahiran.
Selain selalu menebar keamanan dimana-mana, rutinitas utama UF adalah mengadakan konferensi tingkat tinggi setiap enam bulan sekali. Di dalam konferensi tersebut masalah perdamaian akan menjadi pembahasan pertama, lalu dilanjutkan dengan kondisi seluruh penghuni Gedhetenan Land, dan diakhiri dengan perkembangan internal UF sendiri, termasuk perekrutan dan pelatihan.
Namun ada yang berbeda dengan konferensi yang sedang berlangsung saat ini. Ada agenda khusus yang sengaja disisipkan di akhir agenda pokok. Sebuah agenda yang segera disiapkan untuk merespon munculnya pewaris kekuatan Sang Pemimpin.
"Kita harus segera merekrutnya dan memberinya pelatihan terbaik." sebuah suara menggema dari salah satu kursi di barisan meja terdepan. Suara tersebut meluncur dari sosok humanoid kalajengking.
"Selain itu kita juga harus menjaganya. Jangan sampai Tangan Kanan Iblis mendahului kita! Jika kalian setuju, biar aku yang melindunginya. Akan aku pertaruhkan nyawaku untuk Sang Pemimpin." Sosok humanoid singa menambahi. Sosoknya yang memiliki surai lebat di leher itu juga duduk di kursi barisan terdepan.
"Untuk mencarinya, kalian bisa mengandalkan kami." Sosok humanoid kucing menambahi. Pakaiannya yang serba hitam terlihat mencolok di barisan kursi terdepan.
"Kami akan mencari dari ketinggian." sosok humanoid elang ikut menyambar.
"Aku juga akan membantu."
"Sang Pemimpin harus segera kita temukan."
Sahutan demi sahutan berkumandang di seluruh ruangan. Suaranya menggema dan melengking dengan meriah. Semuanya bernada penuh semangat. Harapan besar membalut setiap kata-katanya. Tidak aneh jika semua sependapat dan rela melakukan apa saja untuk menemukan Sang Pemimpin. Karena bagi mereka munculnya sosok yang digadang-gadang akan membuka jalan pulang merupakan momen yang selama ini ditunggu.
"Kenapa kalian terlalu bersemangat seperti itu?" sebuah pertanyaan tiba-tiba mengalun lantang, menelan hiruk pikuk kata-kata di seluruh ruang konferensi. Memaksa semua orang menutup mulut dan membuat perhatian mereka tertuju pada satu titik, ke sebuah anak tangga di antara dua kursi di barisan paling belakang. Seseorang sedang berdiri di sana. Tubuhnya terbalut jubah merah dari kepala hingga ujung kaki.
"Main Gear!"
"Ronald Sang Pendekar Pedang!"
"Bagaimana dia bisa ada di sini?"
Berbagai macam komentar seketika meluncur dari berbagai sudut ruangan. Sebagian besar mengisyaratkan keterkejutan, dan sisanya menggambarkan kekaguman. Tidak aneh jika ada banyak orang yang berekspresi seperti itu di tempat konferensi tingkat tinggi mengingat sosok di hadapan mereka bukan orang sembarangan.
Main Gear merupakan nama yang dikaitkan dengan sekelompok pemilik kekuatan legendaris. Dengan kata lain kelompok ini berisikan orang-orang terkuat di jagat Gedhetenan Land. Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan kelompok tersebut dinamakan Main Gear. Namun nama tersebut dipakai dikarenakan setiap orang di kelompok tersebut tak ayal seperti gerigi utama yang menggerakan setiap bagian mesin kendaraan super besar yang diyakini dapat mengantar semua orang pulang ke kampung halaman.
"Kenapa kau kemari?" tanya sosok humanoid singa. Tatapannya tajam dan tidak bersahabat. "Apa kau ingin mengacaukan pertemuan ini? Kau tahu… "
__ADS_1
"Tidak! Tentu saja tidak!" potong Ronald. Nada suaranya riang. "Mana mungkin aku akan mengacau di tempat sakral seperti ini. Asal kau tahu, UF juga penting bagiku. Sama seperti kalian semua."
"Lalu…"
"Aku belum selesai bicara, sobat." potong Ronald lagi. "Sebenarnya aku tidak ingin datang ke tempat ini walau sebenarnya aku ada urusan di kota ini. Hanya saja saat tahu ada agenda pembahasan Sang Pemimpin yang sengaja ditambahkan, tentu saja aku jadi penasaran. Dan aku akan bilang pada kalian semua jika apa yang akan kalian bahas hanya akan berakhir sia-sia."
"Apa maksudmu?"
"Ayolah! Jangan berlagak bodoh seperti itu! Kalian semua pasti juga tahu jika Main Gear hanya sebuah sebutan nama. Nyatanya kelompok itu tidak pernah ada. Walau penyebutannya dikhususkan pada para pemilik kekuatan legendaris, tetap saja hal tersebut tidak bisa menyembunyikan fakta jika kami tidak saling mengenal dan asing satu sama lain."
Semua terdiam. Tidak ada yang berkomentar atau menyanggah. Apa yang dikatakan Ronald sepenuhnya benar. Semua peserta konferensi bukan orang sembarangan. Mereka merupakan tokoh penting yang selalu menelaah semua informasi yang menerjang gendang telinga dengan seksama. Fakta jika nama Main Gear hanya sebagai sebutan untuk para pemilik kekuatan legendaris memang tidak bisa disangkal. Semua tidak bisa membantah hal tersebut. Apalagi mereka juga tahu jika para pemilik kekuatan legendaris memang tidak saling mengenal. Dengan kata lain mereka memang bukan sebuah kelompok. Tapi kenapa nama Main Gear sangat dikenal oleh semua penghuni Gedhetenan Land? Itu karena harapan mereka yang terlalu tinggi pada sosok-sosok yang entah apa alasannya disangkut-pautkan dengan nama tersebut.
"Satu lagi yang seharusnya kalian sadari." Ronald menambahi. Sesaat pandangannya menyapu seluruh ruang konferensi, menatap jajaran kursi dan meja yang membentuk lima formasi lingkaran dengan susunan layaknya tribun penonton. "Siapapun itu pemilik kekuatan legendaris, dia sama seperti kita semua. Semua selalu dimulai dari nol. Semua harus mengenali kekuatan di dalam diri masing-masing dan tentu saja setelah itu mengasahnya dengan seluruh waktu dan tenaga yang kita miliki. Dengan kata lain pemilik kekuatan Sang Pemimpin sekarang tidak ada bedanya dengan para Zerenian baru. Dia rentan dibunuh dan kemungkinan besar tidak menyadari jika memiliki kekuatan besar di dalam dirinya.
Mulut-mulut yang sebelumnya berceloteh dengan penuh semangat kini hanya bisa menggertakkan gigi. Lidah-lidah mereka kaku karena tersengat kenyataan pahit yang sesungguhnya telah mereka sadari sejak lama. Sedangkan harapan yang sebelumnya bergelora di setiap peserta konferensi kini berubah menjadi kekhawatiran.
...----- @@ -----...
"Apa masih jauh?" Tanya Paijo. Kakinya menerobos semak belukar, mengikuti jalan setapak yang hampir menghilang karena tertutup rimbunnya tanaman.
Sudah setengah hari berlalu sejak Paijo menerima misi dari Dodoran. Sang Pemilik Toko Aksesoris itu meminta Paijo untuk merebut batu pelangi dari penguasa hutan tanah hitam. Sebenarnya Paijo berniat menolak permintaan tersebut setelah mendengar penjelasan detail dari misinya. Alasan utamanya karena kemungkinan besar penguasa hutan tanah hitam memiliki level seratus. Itu berarti empat kali lipat dari levelnya saat ini.
"Tempatnya ada di balik bukit di depan sana. Tidak jauh lagi. Tenang saja. Semua pasti berjalan lancar." jawab Babanyu dengan penuh keyakinan. Nada suaranya tenang, tidak sedikit pun menggetarkan ketakutan atau pun rasa panik.
"Kenapa kau bisa seyakin itu? ingat! Lawan kita berlevel seratus dan sudah meluluh lantahkan banyak kelompok. Kau tahu? Ini benar-benar gila. Dan sekarang kau malah berbicara seolah kita sedang pergi ke kebun dan dipastikan akan pulang dengan sekarung buah-buahan."
Babanyu tertawa. Tidak langsung menanggapi.
"Dasar psikopat! Kenapa kau malah tertawa?"
"Maaf! Aku memang tidak bisa menahan tawa
saat melihat ras sepertimu sedang panik dan ketakutan. Kau tahu itu, kan?"
"Terserah! Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya mengalahkan monster itu? Apa kita memiliki peluang mengalahkannya?"
Untuk sesaat Babanyu tidak menanggapi lagi. Gelak tawanya perlahan mereda sebelum akhirnya hilang seutuhnya. "Peluang kita menang sebesar nol persen. Ya. Itu perhitunganku. Dan aku sangat yakin dengan perhitunganku."
"Jika seperti itu kenapa kau memaksaku untuk menerima misi bunuh diri ini?"
__ADS_1
"Bukan seperti itu. Tenanglah dulu!" Babanyu mencoba menjernihkan suasana yang mulai terkontaminasi pesimistis. "Dari semua kejadian dan fakta yang telah terjadi memang dapat dipastikan kesempatan menang kita nol persen. Siapa saja pasti akan memiliki penilaian seperti itu mengingat dimata mereka kau menyerang seorang diri. Di mata mereka pula kau akan langsung di anggap gila. Kenapa? Karena pernah ada satu kelompok yang terdiri dari seratus orang berlevel seratus melakukan penyerangan dan berakhir gagal total. Tidak ada satupun dari mereka yang keluar hidup-hidup. Sedangkan sekarang kita menyerang hanya berdua. Apalagi kalau tidak disebut gila?"
Paijo menghela nafas panjang. "Jika sudah tahu seperti itu kenapa kau tetap memaksaku menerima misi ini?"
"Karena aku merasa kau bisa mengatasinya. Entah apa dasarnya. Tapi yang jelas aku sangat yakin jika kau sanggup membawa pulang batu pelangi."
"Kau itu benar-benar gila! Jadi apa yang akan kita lakukan nanti hanya berdasarkan perasaanmu saja? Kau tahu, aku menyesal telah menerimamu di dalam tubuhku. Aku pasti akan mati konyol jika tetap menuruti ide-ide gila di otakmu itu."
"Jangan mengeluh dulu! Kita putuskan nanti setelah melihat situasinya. Jadi cepatlah melangkah!"
Tidak ada pilihan lain bagi Paijo selain tetap menuruti keinginan Babanyu. Nasi telah menjadi bubur. Waktu telah dikorbankan untuk sampai di tempat ini. Sedangkan tujuan hanya tinggal selemparan batu. Seraya menyisihkan sesal yang bercokol di benak, Paijo tetap mengayunkan langkah. Bergerak perlahan ke arah yang ditunjuk Babanyu, dan tak berselang lama langkahnya berhenti di puncak bukit. Berdiam di samping pohon dan melempar pandangan ke depan.
Di kejauhan sana terhampar sebuah lembah. Lembah tersebut diapit oleh beberapa bukit dan memiliki kontur tanah datar. Tidak ada satupun pohon maupun semak belukar di sana, begitu juga dengan batu-batu besar.
"Kau yakin ini tempatnya?" tanya Paijo meragukan.
Keraguan Paijo wajar. Di matanya tidak ada yang aneh dengan tempat yang baru dia datangi. Bahkan jika diperhatikan dengan seksama, tanah lapang yang memiliki luas sekitar sepuluh kali luas lapangan sepak bola itu terkesan tenang dan damai. Tidak ada yang mencurigakan di sana.
"Percayalah padaku. Ini tempatnya." jawab Babayu penuh keyakinan.
"Tapi tempat ini terlalu tenang. Bahkan sejak memasuki hutan, tidak ada monster yang menghadang kita."
"Kau itu bodoh atau pura-pura bodoh?" komentar Babanyu. "Tentu saja tidak ada monster di tempat ini. Semakin berbahaya suatu tempat maka akan semakin dihindari oleh siapapun, baik itu monster ataupun binatang."
"Lalu dimana penguasa hutan ini?"
"Lihatlah ke bagian tengah lembah. Di sana ada sebagian area yang tertutup kabut. Di sanalah monster yang sedang kita cari berada."
Paijo melempar pandangan lebih jauh. Tepat di tengah lembah memang ada sebagian area yang tertutup kabut. Kabut tersebut terlihat berputar dengan perlahan hingga membentuk setengah bola. Setelah melihat apa yang ada di tempat ini, Paijo tidak menemukan sesuatu yang bisa menguntungkan dirinya saat berhadapan dengan monster yang digadang-gadang telah membantai banyak kelompok.
Menurut Paijo misi harus dibatalkan. Dengan kondisi sekarang tidak ada kesempatan baginya untuk bisa membawa pulang batu pelangi. Tidak ada tempat bersembunyi. Tidak ada tempat untuk melarikan diri. Melawan sama saja dengan bunuh diri.
"Kita harus… "
Paijo berhenti bicara, perhatiannya beralih pada barisan pepohonan di sebelah kiri. Sekitar dua ratus meter jauhnya, semak belukar setinggi satu setengah meter di antara pepohonan bergerak-gerak. Suara kemeresaknya menyayat kesunyian yang sejak tadi berkuasa di puncak bukit. Alunan derap langkah kaki terdengar samar di baliknya, perlahan mengeras hingga akhirnya suaranya mendominasi. Paijo juga bisa mendengar gemeletuk perlengkapan yang saling menyahut dan celotehan ringan beberapa orang. Dan Tak berselang lama beberapa sosok menampakan diri di puncak bukit. Sosok-sosok tersebut mengenakan perlengkapan lengkap dan terlihat kuat. Lalu diikuti sosok-sosok lain yang terus bermunculan tanpa henti hingga memenuhi puncak bukit sebelum melanjutkan perjalanan ke dasar lembah. Mereka berjumlah ratusan.
"Siapa mereka?" Celetuk Paijo. Penasaran tergurat jelas di wajahnya.
"Mereka-- UF!" balas Babanyu. Suaranya sedikit bergetar.
__ADS_1