
Deru kobaran api terasa semakin mencekam. Baik Paijo maupun sosok misterius tidak sepatah katapun berucap. Paijo menunggu jawaban dari pertanyaan yang telah diajukan beberapa saat sebelumnya. Paijo lebih memilih untuk bersabar dan tidak menuntut lawan bicaranya untuk segera menanggapi agar sosok yang bersangkutan mampu mengutarakan apa yang seharusnya diutarakan. Dengan begitu apa yang akan didengar Paijo merupakan serangkaian jawaban yang telah dipikirkan matang-matang.
Di sisi lain, sosok misterius masih sibuk mempertimbangkan apakah harus menanggapi dengan jawaban yang sebenarnya atau tidak. Walau ada kekaguman yang merasuki dirinya terhadap lawan bicaranya tetap saja masih ada keraguan yang bercokol di benaknya. Baginya ini bukan masalah kejujuran atau kebohongan, melainkan sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang menyangkut banyak kehidupan di dunia ini.
"Bagaimana jika aku tidak ingin menjawabnya?"
"Berarti aku tidak bisa membantumu."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Entahlah! Aku belum berfikir sampai sejauh itu. Aku mengira kau akan memberitahuku begitu saja."
Sosok misterius diam sesaat. Kepalanya sejenak menoleh ke kiri dan kanan. Beberapa kali kakinya menendang bongkahan batubara kecil di sekitarnya. Lalu dengan gerakan mantap kembali menatap Paijo. Tatapannya kali ini lebih tajam dan penuh perhitungan.
"Apa kau berniat membunuhku?"
Senyum Paijo sekilas sempat merekah lebih lebar. Entah kenapa Paijo merasa ada keputusasaan di setiap kata-katanya. Seolah ada yang sedang dicari sosok misterius dari pertanyaannya barusan.
Paijo menggelang. "Tidak. Tapi ada kemungkinan aku akan mencoba membunuhmu. Itupun tergantung dari penilaianku terhadapmu."
"Tergantung penilaianmu?"
"Ya. Apakah kau pantas dibinasakan atau tidak. Oleh karena itu aku menanyakan beberapa hal padamu. Jika menurutku jawabanmu membahayakan banyak orang maka aku akan mencoba memintamu untuk menghentikan rencanamu."
"Bagaimana jika aku tidak mau menuruti permintaanmu? Asal kau tahu saja, aku ini sangat kuat."
Untuk kesekian kalinya senyum Paijo merekah lebih lebar untuk sesaat. "Aku tahu kau sangat kuat. Bahkan aku tidak bisa disamakan dengan debu jika berada di hadapanmu. Tapi aku tidak peduli itu. Aku akan tetap mencoba menghentikanmu. Lagipula kau tidak bisa-- menyentuhku. Benar, bukan?" Paijo mengakhiri ucapannya dengan sebuah senyuman jahat.
Mendengar pernyataan terakhir Paijo dan melihat senyumnya yang terkesan sangat percaya diri sekaligus merendahkan tersebut, membuat tubuh sosok berkulit putih itu bergidik. Dia sangat yakin jika lawan bicaranya memahami situasi yang ada. Sebuah situasi yang membuatnya tak sanggup melancarkan satu serangan pun pada lawan di hadapannya sekarang.
"Lalu bagaimana jika aku menjelaskan semuanya padamu? Apa kau akan mengampuniku?" sosok misterius kembali melontarkan pertanyaan.
__ADS_1
"Aku akan membiarkanmu pergi."
"Serius? Kau tidak ingin menangkap dan mengurungku? Jika kau melepasku bukankah itu akan membahayakan dirimu? Aku bisa membalasmu suatu saat nanti. Selain itu aku juga bisa dengan leluasa mengacau di tempat lain. Apa kau tidak mengkhawatirkan hal semacam itu?"
"Tentu saja aku memikirkan semua itu. Memang terkesan seperti menggali kuburan sendiri jika melepasmu begitu saja, tapi bagiku siapa saja yang dengan sukarela menjunjung tinggi sebuah kejujuran patut diberi kesempatan. Lagipula apa salahnya berharap seseorang bisa berubah menjadi lebih baik? Ya, memang sangat naif. Tapi itu patut untuk dicoba."
Senyum sosok misterius merekah lebar. Pedang yang sejak tadi bertengger di kedua tangannya tiba-tiba lenyap. Lalu dengan perlahan sosok yang sejak tadi berdiam diri di tempatnya mendekati Paijo.
"Cepat hunus pedangmu!" perintah sosok yang hanya berbalut celana sebatas lutut itu.
"Untuk apa?" balas Paijo curiga.
"Lakukan saja! Bukankah kau menginginkan kejujuran dariku? Jika memang itu maumu seharusnya kau menuruti perkataanku."
Paijo melihat keseriusan sosok yang kini hanya berjarak selangkah darinya. Sedangkan wajahnya memancarkan ketenangan dan guratan persahabatan terukir jelas di sudut-sudut matanya. Karena hal tersebut kini Paijo bingung apakah harus menuruti sosok di hadapannya atau tidak. Bagaimanapun juga perintah untuk menghunuskan pedang pada sosok yang tidak ingin memulai pertarungan bukan sesuatu yang pantas dilakukan.
"Kenapa sekarang kau malah banyak berpikir?" Dengan sekali gerakan sederhana sosok misterius menarik pedang Paijo yang masih bergelantungan di pinggangnya, tersimpan rapi di sarungnya. Lalu tangan yang lain meraih tangan Paijo dan menggenggamkannya ke pegangan pedang, membuat bilahnya berdiri tegak di antara keduanya.
"Sssttt!"
Sosok misterius berdesis. Senyumnya semakin merekah lebar. Lalu tanpa diduga, dengan gerakkan lembut namun mantap sosok misterius menusukan pedang Paijo ke perutnya sendiri. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Paijo yang masih mencekram pegangan pedang. Cairan berwarna putih keluar dari area sekitar tusukan, sedikit menyembur hingga mengotori tangan Paijo. Cairan yang sesungguhnya adalah darah itu juga mengalir dari sudut-sudut bibirnya.
"Aku Alvaronizam-- Raja Iblis Keadilan-- dengan suka rela menyerahkan inti kehidupan padamu."
Di akhir ucapannya, sedikit demi sedikit tubuh Alvaronizam terurai menjadi butiran cahaya putih. Mulai dari kaki, tangan, tubuh hingga terakhir kepala. Senyum puas dan penuh kemenangan terukir jelas di bibir Alvaronizam sebelum akhirnya menghilang. Sesaat butiran cahaya yang tak terhitung jumlahnya itu melayang-layang di udara. Lalu dengan serentak melesat masuk ke tubuh Paijo, berhamburan ke satu titik area, tepat di jantung.
...----- @@ -----...
[ Seseorang telah membunuh Raja Iblis. Kekuatannya patut dipuji dan dijadikan panutan. Semoga kedamaian selalu menyertainya. ]
Sebuah pengumuman serentak muncul di pelupuk mata semua orang. Seketika itu pula kehebohan terjadi di seluruh peradaban. Hampir semua orang mengumandangkan ketidakpercayaan atas apa yang baru saja terjadi. Banyak yang terkejut. Ada juga yang menganggapnya sebagai sebuah candaan. Tidak sedikit pula yang menganggapnya hanya seperti mimpi. Namun ada juga yang langsung mempercayai dan memuji sosok di balik pemberitahuan tersebut. Bahkan banyak yang langsung terang-terangan mengumandangkan kekaguman pada sosok yang sesungguhnya tidak mereka ketahui itu.
__ADS_1
Wajar jika ada banyak respon yang tercurahkan. Siapa saja pasti tahu seberapa kuat sosok yang menyandang gelar raja iblis. Walau selama ini tidak ada yang pernah berhadapan langsung dengan sosok sekuat itu, tetap saja pengetahuan mereka tentang gelar sudah merasuk ke dalam otak.
Hal yang sama juga terjadi pada pasukan barisan depan. Baik UF maupun kelompok-kelompok lain yang memang mendedikasikan diri untuk menjadi perisai pertama penahan laju invasi iblis juga mengalami kehebohan. Mereka cukup terkejut dan sulit mempercayai pemberitahuan yang baru saja muncul, namun yang membuat mereka sangat merasa tertampar keras di wajah adalah ketidaktahuan mereka atas dalang sebenarnya di balik fakta tersebut.
Di salah satu perkemahan militer yang berada sangat jauh dari kota awal dan berdekatan dengan garis depan pertempuran, di dalam sebuah tenda yang cukup besar, sekelompok orang tiba-tiba menghentikan pembicaraan penting mereka. Penyebabnya tentu saja pemberitahuan yang sedang menjadi perbincangan panas.
"Menarik." kata seseorang yang sedang duduk menikmati segelas minuman berwarna hijau. Sosok berperawakan atletis itu merekahkan senyuman. "Aku jadi ingin melihat area bekas pertarungan mereka." lanjutnya seraya mengusap kulit lengannya yang berupa sisik berwarna coklat.
"SIAL!" sosok yang lain berteriak. "Siapa yang berani mendahului membunuh targetku? Ini tidak bisa dibiarkan!" lanjutnya Dengan penuh amarah. Jemari logamnya yang setajam pisau menampar meja di depannya. Seketika itu pula meja kayu yang cukup besar terbelah menjadi beberapa potongan.
"Kenapa kau malah marah-marah tidak jelas? Dan kenapa kau juga harus merusak mejanya?" sosok di seberang meja protes. Dua buah tentakel menyerupai lengan gurita menyilang di depan sosok tersebut, menahan efek serangan sosok di hadapannya.
Menyadari tindakannya berlebihan, sosok berjemari setajam pisau itu merekahkan senyum terpaksa. "Maaf-- maaf! Aku kelepasan."
"Apa mungkin pihak UF adalah dalangnya?" celetuk sosok yang sedang berdiri di dekat pintu tenda. Kulit sosok tersebut berkilauan saat terkena temaram cahaya obor.
"Aku rasa tidak. Mereka juga sama bingungnya dengan kita. Begitu juga dengan kelompok lain yang berada di garis depan." Jawab sosok yang sedang duduk di sebuah kursi besar di sudut ruangan. Sosok tersebut memiliki rambut berwarna silver dan panjang hingga sepinggang, bertekstur tebal dan mengembang. Tato garis lurus dan lengkung menghiasi sekujur tubuhnya. "Aman apa kau memiliki pendapat tentang ini?" lanjutnya seraya melirik ke sudut lain ruangan.
Aman tersedak. Terkejut karena namanya tiba-tiba disebut. Seraya mengusap bibirnya dengan punggung tangan, sosok dari ras Matandur itu menggeleng. "Aku tidak ada gambaran sama sekali." balasnya enteng.
"Bagaimana dengan muridmu yang baru saja menggemparkan seisi dunia?"
Sekali lagi Aman tersedak. Kali ini lebih banyak dan sedikit menyembur. "Apa maksudmu?"
Sosok yang masih duduk di singgasananya merekahkan senyum lebar. "Jangan menutup-nutupi! Kami semua tahu tentang manusia itu. Tidak hanya kami. Tapi aku rasa semua petinggi di pasukan barisan depan mengetahuinya."
Aman berdiri dari tempat duduknya seraya menyimpan kembali cangkir kayunya yang telah kosong ke dalam gelang putih. Wajah berubah masam dan ada guratan kesal sekaligus kecewa di sudut matanya. "Dimana barang yang harus aku bawa? Sudah waktunya aku kembali ke kelompokku." Aman mengalihkan pembicaraan. Berusaha menghindari percakapan yang mulai fokus pada dirinya.
Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya dalang di balik terbunuhnya Raja Iblis. Pemberitahuan yang telah menjadi pembicaraan semua orang itu kini telah menorehkan sebuah harapan besar. Harapan akan munculnya sosok yang mampu memenangkan pertempuran di garis depan. Harapan yang mungkin akan menciptakan kedamaian di Gedhetenan Land.
Sayang, semua itu hanya serangkaian kenaifan semanata. Seandainya mereka tahu jika dalang utama dibalik kehebohan tersebut hanyalah seorang manusia berlevel rendah pasti yang akan menjadi akhir celetukan mereka hanyalah helaan napas kekecewaan. Harapan besar mereka akan dengan cepat menguap entah kemana.
__ADS_1