The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 27 - Menang Tanpa Tergores


__ADS_3

Sebuah octagon sihir berwarna putih muncul di depan sosok misterius dari ketiadaan. Dengan perlahan dan cukup dramatis sebilah pedang muncul dari tengah simbol tersebut. Senjata yang seluruh bagiannya terbuat dari api putih itu keluar mulai dari pangkalnya.


"Apa aku terlihat seperti monster?" tanya sosok misterius seraya menarik pedang yang baru menampakan setengah wujudnya. Tatapan sosok tersebut tajam dan dipenuhi permusuhan.


"Entahlah! Tapi yang jelas kau terlihat berbeda." jawab Paijo santai. Tidak terpengaruh oleh sikap lawan bicaranya yang mencoba memprovokasi sebuah pertarungan.


Sejauh pengamatan Paijo, sosok di hadapannya itu terlihat aneh sekaligus unik. Kulit sosok tersebut berwarna putih bersih. Sedangkan anatomi tubuhnya hampir sama seperti manusia. Yang membedakannya, kuku di jemari tangannya cukup tebal, panjang dan runcing. Sepasang tanduk kecil juga menghiasi dahinya. Tepat di antara tanduk sepanjang dua sentimeter itu ada sesuatu yang terlihat seperti bola api kecil berwarna putih. Iris matanya berwarna abu-abu keputihan.


"Maaf! Jawaban anda salah! Jadi dengan terpaksa aku harus membunuhmu." balas sosok misterius datar.


Hanya dalam sekejap mata sosok berkulit putih itu menghilang dari tempatnya dan tiba-tiba muncul di depan Paijo. Tatapannya berubah dingin. Wajahnya datar. Tidak ada keraguan dan belas kasihan yang tergurat di wajahnya. Sedangkan tangan kanannya telah terangkat dan siap menghujamkan pedang ke Paijo.


"Terbakarlah!" lanjutnya seraya mengayunkan pedang ke Paijo, menebas tubuhnya secara diagonal.


Paijo yang menjadi target serangan hanya sanggup menutup mata. Gerakan sosok di hadapannya terlalu cepat hingga membuatnya tak sanggup merespon. Hanya dalam sepersekian detik semuanya terjadi begitu saja. Paijo tak sanggup berpikir apapun di waktu sesingkat itu. Otaknya tak mampu merespon situasi hingga membuat sekujur tubuh mematung. Sedangkan Babanyu yang terus mengakses semua indra inangnya hanya sanggup pasrah. Dia tahu jika lawan yang sedang dihadapi jauh lebih kuat. Jadi terbunuh dalam sekejap bukan sesuatu yang aneh.


Setelah serangan mematikan tersebut, Paijo merelakan apa yang baru saja terjadi padanya. Dia ikhlas jika harus terbunuh sekarang. Bahkan Paijo merasa bersyukur karena meregang nyawa tanpa harus merasakan sakit. Menurutnya hal tersebut adalah sebuah keberuntungan. Walau harus menunggu satu tahun untuk kembali dibangkitkan, mati dalam bekapan damai bukan sesuatu yang buruk.


Detik demi detik pun berlalu. Seiring berjalannya waktu, Paijo mulai merasakan kejanggalan. Menurut buku panduan, siapa saja yang terbunuh di Gedhetenan Land akan kehilangan semua fungsi inderanya setelah lima detik berselang. Gelap akan membalut pandangannya. Sunyi akan membekap pendengarannya. Sedangkan otaknya berhenti bekerja. Lalu setelah satu tahun berlalu, saat kehidupan kembali membasuh, semua indera akan berfungsi kembali.


Semua yang pernah mati sependapat jika proses kematian yang dialami tak ayal seperti berkedip. Mereka tidak merasakan sedikitpun kekosongan waktu selama satu tahun. Mereka juga tidak pernah mengklaim jika kematian yang dialami seperti mimpi. Mereka berpendapat seperti itu karena kematian yang dialami tidak terasa seperti sebuah kematian. Apa yang mereka alami bahkan terasa lebih singkat daripada pingsan selama beberapa detik.


Paijo yang masih bisa mendengar deru kobaran api di sekitarnya setelah lebih dari lima detik mulai meyakini jika ada yang tidak beres. Apalagi hidungnya juga masih bisa mencium bau asap dan otaknya tidak kehilangan kendali atas setiap anggota tubuh. Karena rasa penasaran yang tak sanggup lagi dibendung, Paijo memutuskan membuka mata.


Hal pertama yang tertangkap kedua indera penglihatan Paijo adalah punggung sosok misterius. Sosok yang hanya mengenakan celana sebatas lutut itu sedang berjalan menjauh. Layaknya api yang kehabisan bahan bakar, pedang di tangan kanannya perlahan menghilang.


"Kenapa kau tidak jadi membunuhku?" tanya Paijo spontan, bingung kenapa lawannya memutuskan untuk tidak mengakhiri hidupnya.


Mendengar ucapan Paijo, sosok misterius berhenti melangkah. Lalu dengan sekali gerakan memutar, sosok tersebut berbalik. Pandangannya langsung melayang ke Paijo, terbelalak hebat karena mendapati tubuh yang seharusnya tumbang ke tanah ternyata masih berdiri kokoh.


"Ti-- Tidak mungkin!" sosok misterius terbatah. Tidak percaya membalut setiap katanya. "Kenapa kau tidak mati?" lanjutnya dengan suara sedikit bergetar. Langkahnya kembali terayun ke Paijo.


"Tentu saja Karena kau tidak membunuhku. Pasti seranganmu tidak mengenaiku." Paijo berpendapat.

__ADS_1


"Jangan bercanda! Aku bukan amatiran. Jadi tidak mungkin seranganku meleset. Pasti kau melakukan sesuatu."


Paijo menghela nafas panjang. Bingung harus membalas lawan bicaranya dengan kalimat apa. Faktanya Paijo memang tidak tahu kenapa masih hidup setelah mendapat serangan telak seperti sebelumnya. Oleh karena itu dia mencoba memastikan apakah sosok misterius di depannya berubah pikiran karena berbelas kasihan padanya. Namun setelah melihat respon sosok tersebut, sepertinya dugaan Paijo salah. Berarti pula sosok tersebut memang serius menyerang dan sudah melakukannya.


Untuk beberapa detik kedepan Paijo tetap tidak membalas. Dia hanya mengamati lawannya yang terus melangkah mendekat. Kedua matanya mencoba mengamati lebih lekat sosok tersebut, baik gestur tubuh maupun ekspresinya terlihat tidak ada kejanggalan. Secara kasat mata tidak ada yang aneh dengan sosok berkulit putih itu. Tingkahnya wajar. Begitu juga dengan guratan amarah dan terkejut yang tertoreh di sekujur wajahnya.


Namun saat tatapan Paijo terpaku pada kedua mata sosok yang entah dari mana asalnya itu, ada sebercak ketakutan yang terlihat di sana. Seolah ada sesuatu di dalam diri Paijo yang membuat alam bawah sadarnya merasa sangat ketakutan.


"Bagaimana kalau kau mencobanya lagi." usul Paijo. Kata-katanya meluncur begitu saja. Sedikit pun tidak ada ketakutan yang membalutnya. Terkesan meremehkan.


Babanyu yang mendengar usulan gila inangnya langsung melontarkan protes keras, "Apa kau sudah gila? Apa kau ingin mati begitu saja di tangannya? Ayo cepat pergi! Ini kesempatan terbaik kita."


"Tenanglah! Ada yang ingin aku buktikan. Jadi diam saja di dalam dan percayalah padaku!" balas Paijo di dalam benak.


"Tapi--"


"Tolong kali ini percayakan semuanya padaku!"


Dengan langkah mantap, sosok bermata abu-abu keputihan itu mendekat lebih cepat. Dua octagon sihir berwarna putih muncul di depan sosok tersebut. Lalu dengan sekali gerakan, kedua tangannya meraih dua pedang yang muncul di tengah simbol.


"Kali ini akan kupastikan kematianmu!" seru sosok misterius seraya mempercepat langkahnya sebelum akhirnya loncat dan mendarat di depan Paijo. Di waktu yang sama kedua tangannya mengayunkan pedang secara menyilang.


Paijo tidak bergerak sedikitpun. Hanya dengan bermodal pengamatan singkat yang baru saja dilakukan, Paijo membuka matanya lebar-lebar. Apapun yang terjadi Paijo sudah bertekad untuk melihat semua kejadian yang akan menimpanya dengan mata kepalanya sendiri. Dia ingin membuktikan jika secuil ketakutan yang sempat terpancar dari mata lawannya itu merupakan kunci dari keanehan yang terjadi.


"Ini-- Seharusnya tidak ada yang bisa-- " sosok misterius terperangah. Matanya berkedut hebat. Sedangkan ucapannya terbatah-batah karena sulit mempercayai apa yang baru saja terjadi tepat di hadapannya.


Tidak ada yang bisa dikatakan Paijo sekarang. Bukan karena mulutnya tidak bisa digerakkan melainkan karena otaknya sulit memahami apa yang terjadi. Kedua pedang sosok misterius sepenuhnya menebas tubuhnya dari kedua sisi. Paijo sangat yakin dengan hal tersebut karena melihatnya sendiri. Seharusnya di saat itu pula tubuhnya terbelah dengan sempurna. Tapi yang terjadi Paijo masih tetap berdiri tegak di tempatnya.


"Tidak-- tidak-- seharusnya tidak ada orang sepertimu!" sosok misterius kembali terbatah. Kali ini setiap katanya diiringi ayunan pedang di kedua tangannya. Dengan beringas dan cepat kedua senjatanya yang terbuat dari api putih terhujam ke tubuh Paijo. Terus, terus, dan terus, tanpa ada yang bisa menghentikannya.


Tidak ada yang salah dengan teknik berpedang sosok misterius. Semua serangannya tepat mengenai Paijo yang menjadi sasarannya. Namun ada satu hal yang membuat semua tindakan mengerikannya tak ayal hanya seperti mimpi. Entah apa penyebabnya, bilah pedang yang seharusnya mengiris tubuh Paijo tiba-tiba menghilang tepat sesaat sebelum mengenai sasarannya, lalu kembali muncul setelah melewatinya. Hal tersebut terus terjadi setiap kali sosok misterius menghujamkan pedangnya ke tubuh Paijo.


Menyadari keanehan tersebut, Paijo tidak bisa menemukan alasan utamanya. Bagaimanapun juga kejadian yang sedang terjadi tepat di depan matanya itu tidak bisa dikatakan wajar. Ini benar-benar tidak masuk akal. Paijo yakin jika sosok misterius tahu alasannya.

__ADS_1


Setelah lebih dari dua menit melancarkan serangan, sosok misterius berhenti. Sudah tidak terhitung banyaknya kedua pedangnya menebas Paijo secara telak. Namun sayang tidak ada satu pun di antaranya yang mampu melukai Paijo, walaupun itu hanya sebuah goresan kecil.


"Aku mau tanya." sosok misterius terengah-engah.


"Silahkan!" balas Paijo seraya mengangguk.


"Apa kau tidak pernah berniat membunuhku?"


Paijo menggeleng. "Tidak."


"Walau sudah banyak dari kalian yang aku bunuh?"


Kali ini Paijo melebarkan senyuman, merasa miris karena dianggap sepicik itu oleh sosok di hadapannya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pemikiran sosok tersebut. Siapa saja yang berakal dan berhati serta memiliki solidaritas tinggi pasti akan terbakar dendam jika ada yang mencoba merusak kehidupan disekitarnya. Tak terkecuali Paijo.


Namun Paijo memiliki cara pandang sendiri dalam melihat segala hal. Dia berusaha menilai apa saja dari berbagai sudut pandang. Termasuk apa yang selama ini terjadi di Hutan Tanah Hitam. Siapa saja yang mengetahui apa yang pernah terjadi di tempat ini pasti akan langsung menghakimi dan menaruh dendam pada sosok misterius mengingat sudah tak terhitung banyaknya nyawa melayang di tangannya. Tapi berbeda dengan Paijo. Manusia remaja itu lebih memilih untuk mencoba mencari tahu alasan sebenarnya sosok yang telah sekian lama menjadi penguasa di tempat ini.


"Kau pasti memiliki alasan tersendiri." Akhirnya Paijo menanggapi. "Bolehkah aku mendengarnya? Anggap saja aku sedang mencoba membantumu." Paijo mengakhiri ucapannya dengan sebuah senyuman lebar.


Tatapan sosok berkulit putih itu menajam. Sesaat dia hanya mengamati Paijo dari tempatnya berdiri. "Beritahu aku alasanmu terlebih dahulu kenapa berpikir seperti itu!" katanya tegas.


Paijo langsung mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke atas. "Aku yakin pelindung yang mengelilingi tempat ini bukan pelindung biasa. Kau pasti berkorban banyak untuk menciptakannya. Benar, bukan?" sejenak Paijo terdiam. Tatapannya tajam dan penuh percaya diri. Senyumnya juga tidak pernah redup dari bibirnya. Paijo sengaja menjeda ucapannya agar mendapat respon dari lawan bicaranya dan tentu saja agar sedikit memiliki kendali atas arah pembicaraan.


"Anggap saja seperti itu."


"Untuk menjauhkan musuhmu yang sebenarnya dari tempat ini. Itu tujuan utamamu, kan?" sekali lagi Paijo berhenti sejenak. Namun karena tidak juga mendapat respon dari sosok di depannya, Paijo melanjutkan analisanya. "Semua yang ada di dunia ini pasti memiliki kelemahan. Termasuk pelindung yang selama ini menjadi dinding kokoh yang membatasi lembah ini dengan dunia luar. Semua orang tahu jika dinding ini tidak bisa dihancurkan bahkan dengan menggunakan skill legendaris. Itulah fakta yang telah menjadi rahasia umum. Dan kau mengetahui hal tersebut."


Sosok berkulit putih mendengar dengan seksama. Tidak satu kata pun ucapan Paijo yang terlewat begitu saja. Mulutnya yang sebelumnya ternganga karena kegagalannya membunuh lawannya kini mulai melengkungkan sebuah senyuman samar.


"Karena kau tahu jika pelindung bisa dihancurkan dengan teknik tertentu dan membutuhkan persiapan yang cukup banyak serta proses yang memakan waktu lama, maka kau membuat celah dengan memberi batasan level agar ada yang bisa memasukinya. Kau juga mencoba menciptakan situasi yang terkesan misterius seperti adanya kabut di tengah lembah. Jadi dengan begitu tempat ini tidak akan pernah lepas dari perhatian dunia luar. Dalam hal ini pihak UF yang menjadi targetnya." Paijo diam sejenak. Senyumnya semakin merekah lebar di bibir seolah siap melontarkan kata-kata pamungkas. "Dengan semua situasi dan kondisi yang sengaja kau ciptakan itu, maka musuhmu yang sebenarnya tidak akan pernah berani mencoba menghancurkan dinding pelindung di tempat ini. Kenapa? Karena mereka bukan pihak sembarangan yang bisa dikonsumsi khalayak umum."


Diakhiri ucapan Paijo sosok misterius tertawa terbahak-bahak. Ekspresinya penuh dengan keterkejutan sekaligus puas dan antusias. "Aku benar-benar tidak menyangka akan berhadapan dengan orang yang mampu menggunakan otaknya dengan baik. Kau tahu? Semua analisamu benar."


Senyum Paijo merekah sangat lebar. Kemenangan terukir jelas di sudut-sudut bibirnya. "Jadi apa yang sedang kau lindungi?"

__ADS_1


__ADS_2