The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 26 - Akhirnya Menemukan


__ADS_3

Sebuah ledakan api tiba-tiba mengoyak senja yang hampir sepenuhnya tenggelam ke dalam gelapnya malam di ketinggian langit. Hempasan kobarannya menjadikannya pelita di tengah redupnya cahaya Sang Mentari. Walau hanya menerangi area sekitar selama sepersekian detik, hal tersebut sudah cukup bagi seluruh pasukan UF untuk mengetahui jika tahap kedua siap untuk dilaksanakan.


"Sebenarnya bom-bom aneh itu kau dapat dari mana? Selama ini aku tidak pernah melihat ada bom dengan efek seperti yang kau miliki." Babanyu melempar pertanyaan sesaat setelah Paijo melempar sebuah bom ke atas. Bom tersebut serupa dengan bom yang sebelumnya digunakan Paijo untuk memberi efek membeku pada Bos Hutan Tanah Hitam. Yang membedakannya di permukaan bom tersebut berhias batu-batu berwarna merah.


"Sebaiknya kau bersiap meningkatkan skill pelindung milikmu!" bukannya menjawab Paijo malah melontarkan perintah pada parasit di tubuhnya itu. Menurut Paijo sekarang bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan sesuatu yang tidak berhubungan dengan pertempuran. "Tingkatkan skillmu saat area di sekitar kita terbakar!"


Di tempat lain, tepat di sisi terluar kubah, ratusan octagon sihir berwarna merah bermunculan dengan beraneka ragam ukuran. Simbol atas keberadaan sihir itu berputar dengan kecepatan berbeda-beda di depan telapak tangan pasukan UF dengan cukup dramatis. Sedetik kemudian bola-bola api berhamburan keluar dari bagian tengah simbol, terbang ke segala arah layaknya meteor sebelum akhirnya menyentuh tanah yang telah hancur berantakan.


Ledakan pun terjadi dimana-mana dalam rentang waktu yang hampir bersamaan. Seketika itu juga api berkobar hebat di seluruh bagian dalam kubah. Melenyapkan kegelapan yang semakin mendominasi dan menggantikannya dengan cahaya bara api. Suhu di dalam kubah meningkat drastis dengan kecepatan di luar nalar.


Hanya dalam sepersekian detik Babanyu langsung memperkuat skill pelindungnya. Lapisan jelly yang sebelumnya hanya setebal tiga sentimeter dengan cepat bertambah tebal hingga mencapai lima sentimeter. Paijo yang merasakan perubahan di sekujur tubuhnya melebarkan senyuman. Ternyata skill pelindung Babanyu berfungsi dengan baik. Panas yang seharusnya melepuhkan sekujur tubuh hanya dalam beberapa detik kini hanya setara dengan suhu ruangan.


Di tengah kobaran api setinggi lebih dari dua meter Paijo berjalan perlahan ke arah altar yang sebelumnya sempat terlihat di tengah kabut. Seraya melangkah Paijo juga mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencoba menemukan kejanggalan di sekitarnya.


"Apa yang sedang kau cari?" tanya Babanyu penasaran. Menurutnya tingkah Paijo cukup aneh. Sudah sangat jelas jika hanya ada api di tempat ini. Jadi sejauh mata memandang tidak akan ada hal lain selain lidah api yang akan terus berkobar dalam beberapa waktu kedepan.


"Penguasa sebenarnya tempat ini."


Babanyu tidak langsung menanggapi Paijo. Sosok dari ras Kotostos itu kembali memikirkan perkataan inangnya yang menyebut jika Bos Hutan Tanah Hitam yang selama ini dikenal hanyalah skill Creation milik seseorang. Sebenarnya Babanyu tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Namun setelah melihat dengan mata kepala sendiri kemunculan puluhan bos lainnya di saat bersamaan membuat pemikirannya terbuka. Hanya dengan melihat kejadian tersebut siapa saja yang memiliki otak pasti akan berpikiran sama seperti Paijo.


"Sekarang aku paham." kata Babanyu cepat. Ada kegembiraan yang ikut mengalun di setiap katanya. "Jadi membakar seluruh tempat ini adalah cara jitu agar orang yang menciptakan monster-monster hitam itu menunjukan diri?"


Paijo mengangguk.


"Rencana cerdas!" Babanyu mengagumi. "Tapi bagaimana jika orang itu kebal terhadap api? Atau memiliki skill penghalau panas sepertiku? Bukankah rencanamu akan sia-sia."

__ADS_1


"Jika itu yang terjadi berarti kita akan mati di sini." balas Paijo enteng. Tidak ada kekhawatiran di setiap katanya.


Mendengar inangnya membicarakan kematian dengan nada suara santai membuat Babanyu kehilangan kata-kata. Tenggorokannya seketika kering karena terkejut dengan apa yang baru saja melintasi gendang telinganya. Babanyu tidak tahu harus merespon seperti apa.


"Apa-- tidak sebaiknya kita pergi saja dari tempat ini." Babanyu mencoba mempengaruhi. "Bukankah kau sudah menyelamatkan banyak anggota UF? Bukankah itu sudah cukup bagus? Jadi aku rasa kembali ke kota dan membeli makanan akan menjadi sesuatu yang menyenangkan setelah melakukan semua ini. Iya, kan?"


"Apa kau takut mati?" Tanya Paijo balik. Suaranya tidak terlalu kencang, namun tegas.


"Bu-- bukan itu maksudku. Hanya saja ini seperti..."


"Percayalah padaku! Kita pasti bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan utuh. Jadi tenangkan dirimu! Kau harus tenang agar bisa membantuku saat genting."


"Baiklah!"


Sebagai parasit, Babanyu tidak mempunyai pilihan selain mengikuti inangnya. Seberbahaya apapun itu Babanyu tidak memiliki kuasa untuk menghentikannya. Bahkan jika Paijo berniat menjatuhkan diri ke jurang, Babanyu akan dengan senang hati mengikuti. Itulah salah satu ketakberdayaan sosok yang selama hidupnya hanya bisa bergantung pada makhluk lainnya.


"Ya. Sepertinya aku akan sepenuhnya percaya padamu." Komentar Babanyu sekali lagi. Kali ini dia mengatakannya tanpa ada sedikitpun kekhawatiran. Bahkan rasa takut akan gagalnya rencana Paijo kini menghilang sepenuhnya, berganti dengan keyakinan jika rencana yang telah disusun akan berjalan lancar tanpa ada hambatan.


Paijo mempercepat langkahnya ke arah altar. Kakinya bergerak lincah menapaki bongkahan batubara yang sedang membara, tubuhnya menerobos kobaran api tanpa mendapat kesulitan sedikit pun. Namun saat akan mencapai altar, sekitar hanya menyisakan lima meter, Paijo menghentikan langkahnya. Disaat bersamaan pandangannya terlempar ke area di sekitar altar.


"Sepertinya rencanamu berhasil." celetuk Babanyu di dalam pikiran Paijo. "Lalu apa yang akan kita lakukan? Kita tidak mungkin beradu kekuatan, kan?"


Paijo menghela napas. Seraya mendekati altar dengan gerakan lebih pelan dan tenang, Paijo membalas, "Lebih baik kita lihat dulu situasinya. Jika memang harus pertarung, kita tidak punya pilihan lain selain melawan."


Di Kejauhan, tepat di sisi lain altar, Paijo melihat sebuah siluet seseorang. Siluet tersebut terlihat bergerak ke sana kemari. Masih dengan perlahan, Paijo terus mendekat. Ekspresinya terlihat tenang, bahkan ada guratan santai di ujung matanya. Menandakan jika tingkat ketakutannya masih di batas normal. Paijo bisa bersikap seperti itu karena siluet yang tertangkap matanya berbentuk sesosok humanoid. Dapat dipastikan jika dia yang menciptakan Bos Hutan Tanah Hitam dengan skill Creation.

__ADS_1


"Sial! Kenapa apinya sulit dipadamkan? Jika seperti ini terus aku bisa mati karena kehabisan energi." lantunan kata-kata yang dipenuhi kekesalan dan amarah mengalun samar di antara deru kobaran api. "Lalu apaan-apaan ledakan es tadi? Itu benar-benar di luar dugaan. Dasar sial! Kenapa hal merepotkan seperti itu harus muncul sekarang?"


Paijo terus mendekat. Selangkah demi selangkah kakinya berpindah dari balik satu bongkahan besar batubara ke bongkahan lainnya. Kobaran apinya yang cukup tinggi dimanfaatkan Paijo untuk menyembunyikan diri. Tidak sampai satu menit Paijo berhasil mendekat hingga hanya menyisakan jarak tidak lebih dari sepuluh meter dari sosok yang kini sedang sibuk menyingkirkan bongkahan batu bara ke luar altar.


Sembari bersembunyi di balik bongkahan batubara terakhir, Paijo mengamati situasi. Sesaat dia mengamati daerah sekitar yang tentu saja masih berselimut api. Tujuan Paijo yaitu untuk memastikan jika sosok yang hanya terlihat siluetnya itu tidak memiliki rekan. Hasilnya, sosok tersebut memang sendirian. Paijo tidak menemukan pergerakan atau keanehan di sekitar altar yang berukuran cukup luas.


"Sebaiknya kau bekukan dia dahulu!" Saran Babanyu dari dalam tubuh Paijo. "Jangan sampai ketahuan dan lakukan dengan cepat."


"Aku tahu." Kata Paijo seraya kembali mengamati sosok di sisi lain altar. Lalu Paijo mengeluarkan sebuah bom es dan menekan pemicu dengan Ibu Jari sebelum bergeser ke samping dan melempar bom sekuat tenaga.


Bom es melesat cepat ke sosok yang masih sibuk menyingkirkan batubara dengan kedua kakinya, menerjang kobaran api tanpa ada perlawanan sedikitpun hambatan. Batu-batu biru di permukaannya terlihat sekilas berkilau di bawah temaram cahaya api. Meter demi meter pun dilewati dengan sangat cepat dan tidak disadari sasarannya.


Namun apa yang diharapkan tiba-tiba sirna saat bom kehilangan target di detik-detik terakhir. Wujudnya yang berbentuk tabung hanya sanggup menampar angin tepat beberapa milimeter di samping leher sang target dan menabrak sebongkah batu bara setinggi satu meter. Ledakan pun terjadi di titik tabrakan. Efek membeku pun seketika menyebar ke berbagai arah, memadamkan kobaran api dan memberi efek membeku ke semua benda yang berada di jangkauannya. Membuat sekitar area ledakan terlihat berwarna keputihan.


"Siapa yang menyerangku? Dasar pengecut!" sosok yang sejak tadi sibuk menyingkirkan batubara di altar langsung berpaling ke arah Paijo. Di waktu yang tepat dia berhasil menghindari lemparan bom es dengan sedikit bergeser ke samping. "Cepat keluar! Jika tidak aku akan membunuhmu sekarang."


Mendapat ancaman dari sosok misterius yang kemungkinan besar dapat mengakhiri hidupnya dengan mudah, Paijo keluar dari tempat persembunyian. Kemudian dengan enteng langkahnya terayun mendekati sosok tersebut.


Babanyu yang sedang mengakses seluruh indra Paijo tentu saja tidak bisa menerima tindakan inangnya. Entah itu mau dilihat dari sisi manapun, keputusan Paijo yang dengan mudahnya menuruti lawannya merupakan tindakan gila. Keputusan yang tidak masuk akal dan tidak wajar.


"Hei! Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Babanyu tidak terima, memprotes keras tingkah Paijo yang seolah apa yang sedang dia lakukan hanya sebuah permainan. "Cepat pergi! Apa kau ingin bunuh diri? Ayo cepat pergi dari sini!"


Siapapun yang berada di posisi Babanyu pasti akan dilanda kepanikan. Baik itu Paijo maupun Babanyu, mereka tahu jika siapa pun yang sanggup menciptakan skill Creation seperti Bos Hutan Tanah Hitam bukan sosok berlevel rendah. Bahkan kemungkinan besar minimal berada pada level seratus. Karena itulah Babanyu langsung bersikap keras saat Paijo keluar begitu saja dari tempat persembunyian dan menghampiri sosok tersebut.


Paijo yang memiliki penilaiannya sendiri mengacuhkan Babanyu. Dia tetap mengayunkan langkah dengan santai. Entah kenapa insting Paijo mengatakan jika sosok yang menjadi momok sebenarnya di tempat ini tidak akan pernah menyerangnya.

__ADS_1


"Hai!" seru Paijo sesampainya di hadapan sosok misterius. Senyumnya merekah lebar. Aura persahabatan keluar dari setiap sudut wajahnya. "Apa kau itu monster?"


__ADS_2