
Seiring berjalannya waktu, pola hidup dan cara berpikir semua penghuni Gedhetenan Land perlahan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada. Sedikit demi sedikit mereka membiasakan diri dengan berbagai macam kesulitan yang selalu menjadi penghalang kebahagiaan. Satu persatu masalah mereka coba selesaikan demi sebuah kehidupan yang lebih baik dari hari sebelumnya.
Semua ras berusaha menjalani hidup sebaik yang bisa mereka lakukan. Mau tidak mau mereka harus menerima fakta jika kehidupan nyaman di dunia sebelumnya kini hanya tinggal kenangan. Tidak ada pengecualian. Tidak ada yang mendapat keringanan. Semua harus melanjutkan hidup dengan kemampuan sendiri.
Sampai suatu ketika, saat kehidupan mencapai titik tertentu, insting bertahan hidup mereka bertindak. Mereka mulai menyadari jika apa yang sedang mereka jalani tidak bisa dibandingkan dengan kehidupan yang ada di dunia asal mereka. Karena alasan tersebut dan berbekal ingatan masa lalu, semua penghuni Gedhetenan Land mulai menciptakan segala macam peralatan yang mampu meringankan hidup.
Satu persatu peralatan pun tercipta. Semua berkreasi. Semua berusaha menciptakan lingkungan seperti yang pernah mereka tinggali sebelum dibawa ke Gedhetenan Land dengan memanfaatkan peralatan yang sudah dengan susah payah diciptakan. Tidak ada yang salah dengan keinginan naif tersebut. Tidak juga ada larangan bagi siapa saja untuk menjalani kehidupan seperti yang dimau. Namun, mereka juga harus menyadari jika tempat tinggal yang sedang mereka pijak tidak bisa dibandingkan dengan dunia tempat kelahiran mereka.
Dunia ini benar-benar berbeda. Jauh lebih buruk dan berbahaya. Sekeras apapun berusaha, mereka tidak akan pernah bisa mewujudkan keinginan mulia tersebut. Walaupun bisa, itu hanya beberapa persen kemiripan yang bisa dihadirkan ke dunia Gedhetenan Land.
Di sebuah peradaban yang cukup maju, tepatnya di ruangan di salah satu gedung di pusat peradaban tersebut, sesosok manusia yang menjadi salah satu tokoh pentingi ras manusia sedang duduk bersandar di singgasananya. Tatapan sosok tersebut tajam, terfokus pada sebentuk layar berukuran dua kali empat meter yang menempel di dinding, tepat di seberang ruangan.
Layar yang berwujud menyerupai kaca itu merupakan salah satu peralatan ciptaan manusia. Benda tersebut berfungsi sebagai media perantara gelang putih dan implan di otak. Baik video, gambar maupun berbagai informasi yang ada di gelang putih dapat dibagikan ke layar tersebut agar dapat dilihat bersama orang lain.
Tidak sedetikpun pandangan sosok berbalut baju zirah berwarna biru itu beralih dari layar yang sedang mempertontonkan sebuah siaran langsung yang sedang menjadi pusat perhatian di seantero jagad Gedhetenan Land. Walau terlihat serius, ekspresi sosok tersebut dipenuhi antusias. Senyum merekah lebar di bibirnya. Sedangkan matanya berbinar puas.
"Ketua Adam, bukankah dia…"
"Ya. Dia yang waktu itu." Adam cepat-cepat memotong sebelum wanita berambut panjang hitam di sampingnya menyelesaikan kata-katanya. Pakaian ala penyihir berwarna kombinasi putih dan biru membalut sosok tersebut. Sebuah buku usang yang juga berwarna putih bertengger di tangannya.
"Apa kita akan merekrutnya?" tanya Sang Wanita cepat. Kagum terpancar jelas dari sorot matanya yang terpaku pada layar di dinding.
Adam menggeleng. Pandangannya sejenak terpaku pada sebuah globe raksasa di salah satu sudut ruangan. Benda setinggi tiga meter dan berbahan logam itu berputar perlahan pada porosnya. Beberapa bendera berwarna biru berjajar di kedua sisi miniatur planet bumi itu. Simbol globe menghiasi bagian tengah setiap bendera.
"Tidak. Biarkan dia menentukan jalan hidupnya sendiri. Dengan otak seencer itu pasti akan ada banyak hal yang bisa dia lakukan. Kirim saja beberapa orang untuk mengawasi dan melindunginya. Untuk saat ini hanya itu yang bisa kita lakukan."
Ada sebuah harapan besar yang tiba-tiba menyeruak keluar dari tumpukan pesimistis yang telah menggunung di benak Adam. Satu harapan yang mungkin bisa mewujudkan impian yang selama ini hanya menjadi angan di otaknya. Harapan yang juga menjadi keinginan semua penghuni Gedhetenan Land, yaitu kembali ke tanah kelahiran.
...-----@@-----...
Kerlap-kerlip cahaya sebesar butiran pasir berhamburan keluar dari area bekas ledakan. Mereka melayang-layang di antara asap dan debu. Lalu secara bersamaan terbang ke arah Paijo, menabrak dan menerobos masuk ke dalam tubuh seolah ada penghisap yang sengaja menyerapnya. Paijo yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa ternganga. Takjub sekaligus bingung dengan apa yang sedang menimpanya.
Ting! Ting! Ting!
__ADS_1
Dentingan tiba-tiba menggema sesaat setelah semua butiran cahaya habis tak bersisa. Suaranya terdengar nyaring dan lembut saat mengusik gendang telinga Paijo. Lalu tak berselang lama sebuah pemberitahuan muncul di pelupuk mata remaja berambut hitam cepak itu.
[ Anda mendapat 3.146.129 poin pengalaman]
[ Anda naik ke level 25 ]
[ Karena tidak memiliki penampung poin pengalaman, sisa poin pengalaman yang tidak terpakai akan terbuang ]
Paijo hanya tersenyum saat mendapati pemberitahuan yang muncul secara beruntun tersebut. Menurutnya apa yang terjadi cukup tidak masuk akal. Namun walau merasa seperti itu Paijo tetap bisa menerimanya mengingat segala hal yang mustahil di bumi bisa menjadi sebuah kenyataan di dunia ini. Termasuk peningkatan level yang baru dia alami, yang sesungguhnya hanya ada di dalam gim.
"Jadi kerlap-kerlip cahaya tadi adalah poin pengalaman?" Paijo berkomentar ringan, mencoba memahami situasi. "Lalu apa itu penampung poin pengalaman? Sepertinya tidak ada yang pernah membahasnya."
Sebuah tanda tanya besar merasuki otak Paijo. Sejauh ingatannya memang tidak ada yang pernah membicarakan tentang penampung poin pengalaman, baik itu di forum diskusi yang tersedia di gelang putih maupun di buku panduan. Paijo cukup terkejut setelah sadar jika memang tidak ada catatan satupun tentang hal tersebut di buku panduan.
Bagi Paijo ini sangat aneh mengingat buku panduan merupakan catatan yang dibuat semua orang. Berbagai macam hal mengenai dunia Gedhetenan Land telah dibubuhkan di buku tersebut, tentunya semuanya berdasarkan pengalaman hidup. Menilik hal tersebut dan pemberitahuan yang baru diterima Paijo dapat disimpulkan jika sejauh ini tidak ada yang pernah mendapat pemberitahuan tentang penampung poin pengalaman. Dengan kata lain informasi tersebut hanya diketahui Paijo.
Ting!
Dentingan lain kembali mengalun sesaat kemudian. Sebuah pemberitahuan lain langsung terpampang di pelupuk mata Paijo.
"Rekor?" celetuk Paijo. "Apa ini seperti catatan rekor yang ada di bumi? Cukup menarik. Tapi lebih baik jika tidak ada yang mengetahui identitasku." lanjutnya berbicara sendiri, menanggapi pemberitahuan yang ada.
Setelah Paijo memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, suara dentingan sekali lagi terdengar. Pengumuman lain pun seketika muncul di depan mata Paijo.
[Rekor baru: Seorang Zerenian level satu berhasil membunuh monster empat level di atasnya sebanyak tiga ribu lima ratus enam puluh tiga dalam sekali serang.]
[Rekor baru: Seorang Zerenian level satu berhasil membunuh boss monster empat belas level di atasnya.]
"Tiga ribu lima ratus lebih? Sebanyak itu? Ini benar-benar gila. Jauh di luar dugaan." Paijo berkomentar.
Rencana awal Paijo meleset jauh dari prediksi. Walau ke arah positif, tetap saja membunuh lima puluh kali lipat dari jumlah monster yang diprediksi tentu sangat mengejutkan. Oleh karena itu keputusan Paijo untuk menyembunyikan identitas merupakan keputusan terbaik.
Paijo tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika seluruh Gedhetenan Land mengetahui identitasnya. Yang pasti hidup Paijo akan semakin rumit jika hal tersebut benar-benar terjadi. Semua akan mencari Paijo untuk kepentingan pribadi mereka masing-masing. Hal terburuk dari semua itu ada kemungkinan nyawa Paijo terancam.
__ADS_1
Apa yang baru saja terjadi sebenarnya tidak luput dari yang namanya kebetulan dan keberuntungan, serta kebebasan yang diberikan Aman. Setelah menyelesaikan sesi menu latihan mengirim peti, Aman tiba-tiba menginstruksikan Paijo untuk mengambil hari libur dari rutinitas latihannya. Aman juga menyarankan Paijo untuk mencoba berburu monster di sekitar kota dan meminta muridnya itu untuk tidak memaksakan diri. Selain itu Paijo juga diijinkan untuk menggunakan semua peralatan yang ada di pertanian.
Walau terkesan wajar, sebenarnya perintah Aman cukup aneh mengingat selama ini selalu menggaung-gaungkan untuk berlatih tanpa henti. Paijo yang memahami gurunya tentu tidak begitu saja menelan mentah-mentah perintah tersebut dan malah menyimpulkan jika apa yang dikatakan gurunya adalah sebuah latihan khusus yang menuntutnya untuk bertindak dan mengambil keputusan dengan tepat.
Karena pemikiran liar tersebut, otak Paijo malah meletupkan kewaspadaan dan rasa takut secara bersamaan. Dengan level yang masih berada di angka satu tentu saja membuat Paijo tidak bisa bertindak sembarangan. Apalagi Paijo belum mengalokasikan satu pun poin dasar ke statusnya. Sedikit saja salah bertindak itu sama saja dengan mati.
Mengetahui seberapa renta dan lemahnya dirinya, Paijo mencoba membuat beberapa alternatif perburuan. Mulai dari menggunakan panah dan melakukan hit and run, bergabung dalam sebuah party, hingga yang terburuk dengan mengganggu perburuan Zerenian lain dan mencuri Last Hit. Namun dari semua itu tidak ada yang dapat menjamin nyawa Paijo seratus persen tetap utuh. Semua masih sangat beresiko. Sampai suatu ketika, saat memeriksa gudang di belakang rumah Aman, Paijo mendapat ide cemerlang yang dapat membuat nyawanya tetap aman.
Di salah satu sudut gudang yang dipenuhi berbagai macam peralatan pertanian, Paijo menemukan dua buah peti kayu berukuran besar. Salah satunya berisi paku sepanjang tiga puluh sentimeter. Sedangkan lainnya dipenuhi benda-benda berbentuk tabung, memiliki panjang dua puluh sentimeter dan berdiameter tidak lebih dari tiga sentimeter. Tabung-tabung tersebut berbahan logam dan di salah satu ujungnya terdapat sebuah lampu kecil berwarna merah dan tombol on/ off. Di antara tabung-tabung tersebut terdapat satu tabung yang sedikit lebih kecil dengan sebuah tombol di salah satu ujungnya. Tombol tersebut dilindungi semacam cangkang transparan.
Dinamit. Itulah benda yang ditemukan Paijo di salah satu peti. Sebuah peledak yang konon katanya cukup mematikan di bumi. Tetapi tidak di Gedhetenan Land. Dari statusnya, dinamit hanya menghasilkan kerusakan kecil pada radius satu meter dan mampu memberi daya dorong maksimal sejauh tiga meter. Hanya dengan mengetahui hal tersebut, siapa saja di Gedherenan Land akan langsung menganggap benda tersebut hanya sampah tidak berguna. Namun tidak bagi Paijo. Menurutnya peledak dan paku yang dia temukan dapat menjadi senjata rahasia yang cukup mematikan.
Setelah menyimpan semua dinamit dan paku ke ruang dimensi, Paijo bergegas pergi ke bagian timur Kota Astrois. Di sana Paijo mengamati dengan seksama area perburuan yang berupa padang rumput luas. Selain itu Paijo juga mencari informasi mengenai monster Little Hell Pig yang menjadi monster utama di timur Kota Astrois di buku panduan.
Alhasil, Paijo mendapat ide untuk menjebak kawanan monster tersebut. Dengan perhitungan matang semua dinamit ditanam di tanah dengan jarak tiga meter. Setiap dinamit telah kombinasi dengan paku. Sebuah kombinasi yang cukup efektif untuk meningkatkan daya ledak dan efek kerusakan yang lebih mematikan. Hasilnya ribuan Little Hell Pig mati dalam sekejap.
"Baiklah! Sebaiknya segera mengumpulkan semua drop item dari kawanan monster babi itu."
Setelah sebagian besar debu dan asap sisa ledakan terbawa hembusan angin, Paijo segera keluar dari tempat persembunyian. Matanya seketika terbelalak, sedangkan wajahnya memutih karena rasa mual tiba-tiba bergejolak di perut Paijo saat pandangannya terlempar ke bekas area ledakan yang seluas lapangan sepak bola.
Ternyata efek ledakan yang dihasilkan dari semua dinamit dan paku yang ditanam jauh lebih buruk dari bayangan Paijo. Apa yang terjadi bisa dikatakan sebagai pembantaian. Hampir dari setengah kawanan babi tidak lagi berbentuk. Tubuh mereka terkoyak hebat dan terpotong-potong. Sedangkan sisanya yang masih memiliki wujud, seluruh tubuhnya tertancap paku. Termasuk Boss Little Hell Pig.
"Hai! Apa kau baik-baik saja?" Seseorang berteriak dari kejauhan.
Paijo yang mendengar pertanyaan penuh kekhawatiran tersebut menoleh ke sumber suara. Di kejauhan terlihat sesosok manusia bersenjatakan pedang besar sedang berlari menghampiri. Puluhan orang mengikuti di belakangnya. Mereka adalah party yang sebelumnya sempat menarik perhatian Paijo karena jumlahnya yang sangat mencolok.
"Ya. Aku baik-baik saja." jawab Paijo setelah menyimpan pemicu yang sejak tadi bersembunyi di genggaman tangannya.
"Syukur kalau begitu. Jadi jumlah kita tidak berkurang lagi."
"Berkurang lagi?"
Laki-laki berwajah khas eropa itu mengangguk. Ekspresinya sedikit berubah masam. Ada empati yang tergurat di sudut-sudut matanya. "Manusia di kota ini hanya tersisa tidak lebih dari sepuluh persen. Jumlah kita yang paling sedikit di kota ini. Belum lagi intimidasi dari ras lain yang selalu merendahkan. Itu benar-benar mengganggu mental kita. Tapi setelah apa yang kau lakukan sepertinya persepsi mereka pada kita sedikit berubah."
__ADS_1
Melihat senyuman lebar merekah di bibir sosok berambut pirang itu membuat Paijo senang sekaligus ngeri. Paijo merasa senang karena usahanya mampu mengubah citra buruk ras manusia. Namun di sisi lain Paijo juga merasakan sebuah ancaman yang cukup serius. Jika apa yang dikatakan sosok berambut pirang benar, itu berarti akan ada pihak lain yang iri atas pencapaian Paijo.