The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 14 - Analisa Gagal


__ADS_3

Gelang putih tidak hanya sebuah aksesoris yang menjadi penghias pergelangan tangan seseorang. Banyak hal yang bisa dilakukan gelang tersebut bersama dengan implan yang tertanam di otak. Beberapa diantaranya adalah merekam video dan adanya situs berbagi video. Ya. Memang cukup mencengangkan jika ada hal semacam itu di dunia yang dipenuhi kekerasan seperti Gedhetenan Land. Namun jika mengingat apa yang terjadi di dunia ini, hal semacam itu memang seharusnya bukan sesuatu yang mustahil terjadi.


Sayang, tidak semua orang bisa menggunakan perekam video. Itulah batasan yang diberikan dunia ini. Hanya orang-orang yang memiliki bakat reporter dan minimal berada pada tingkat S yang bisa menggunakan alat perekam video dengan bebas.


AZ Tube, itulah nama situs berbagi video yang ada di Gedhetenan Land. Sudah ada jutaan video yang diunggah ke situs tersebut. Sebagian berisi tips dan trik menjalani kehidupan, yang selalu berada di urutan pertama dalam pencarian.


Tidak bisa dielakkan jika hampir semua orang memerlukan hal semacam itu untuk tetap bisa menapaki kejamnya kehidupan di dunia antah berantah seperti Gedhetenan Land.


Petualangan, pertarungan, kehidupan pribadi, berita dan masih banyak lagi jenis video yang sudah diunggah dan menjadi hiburan bagi semua orang. Namun selain semua itu ada satu hal yang cukup dinanti oleh para penikmat AZ Tube, yaitu siaran langsung. Memang tidak semua siaran langsung akan menarik banyak perhatian. Tapi jika ada satu saja siaran langsung yang sangat menarik, hanya dalam hitungan detik siaran tersebut akan langsung menjadi trending topik. Seperti yang sedang terjadi sekarang.


Lebih dari sepuluh juta penonton sedang menyaksikan siaran langsung yang baru satu menit lalu dimulai, dan angkanya terus meningkat dengan cukup pesat. Siaran tersebut mempertontonkan sesosok manusia yang sedang tunggang langgang melarikan diri dari kejaran ribuan monster babi. Dalam pelariannya, manusia tersebut terus berteriak meminta tolong untuk segera diselamatkan. Di saat yang sama dia juga terus memaki kawanan monster babi yang dapat dipastikan sangat ingin membunuhnya. Dia adalah Paijo. Sosok manusia yang baru saja meremukkan senjata suci boss monster kawanan tersebut.


Hanya dalam sekejap, jutaan komentar membanjiri siaran tersebut. Hampir semuanya menorehkan hal-hal negatif. Ada yang hanya menertawakan, menganggap bodoh Paijo dan ras manusia, mengutuk, hingga menghina dan merendahkan dengan berbagai macam sumpah serapah. Tapi disisi lain, saat komentar penyayat hati terus bermunculan, tanpa disadari oleh siapapun, hampir semua orang yang menonton telah jatuh pada keangkuhan mereka masing-masing.


Tidak bisa dipungkiri jika semua yang berkomentar ingin segera menyaksikan akhir dari kekonyolan Paijo. Mereka semua berharap tokoh utama dalam siaran tersebut segera kelelahan dan menjadi bulan-bulanan kawanan monster babi tersebut.


Paijo yang tidak mengetahui jika sedang menjadi pusat perhatian dan ditonton oleh jutaan pasang mata, terus berlari tanpa sedikitpun menurunkan kecepatan. Dengan perhitungan matang, remaja laki-laki itu menjaga kecepatannya tetap stabil hingga jarak antara dirinya dengan kawanan Little Hell Pig selalu sama seiring berjalannya waktu.


Tidak ada yang menyadari tindakan Paijo. Tidak satu pun di antara jutaan pasang mata yang sadar jika kecepatan Paijo selalu konstan. Itulah yang terjadi. Mereka tidak akan pernah memperdulikan hal tidak penting semacam itu. Mereka lebih senang melihat penderitaan Paijo yang sedang kesulitan meloloskan diri dari kematian. Bagi mereka hal semacam itulah yang bisa menjadi hiburan tersendiri.

__ADS_1


Sayang seribu sayang. Harapan atas terbunuhnya Paijo oleh kawanan Little Hell Pig hanya akan menjadi angan semata. Setelah selama sebulan penuh selalu bisa menyelesaikan semua menu latihan yang diberikan Aman, kondisi fisik Paijo jauh di atas rata-rata Zerenian berlevel satu. Tubuhnya terlihat lebih berisi dan kekar. Bahkan setelah lebih dari tiga puluh menit berlari kesana kemari menghindari gerombolan monster babi, Paijo tidak merasa kelelahan sedikit pun. Walau terkadang kecepatan Paijo terlihat menurun, itu memang disengaja agar kawanan babi tetap bersemangat mengejar. Itu berarti pula semua kejadian yang sedang menjadi tontonan sepenuhnya berada dalam kendali Paijo.


Tidak ada yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tidak satu pun pasang mata yang menyadari jika apa yang ada di depan pelupuk mata mereka telah dirancang dengan sangat matang oleh Paijo. Seandainya saja Paijo tahu apa yang sedang terjadi di AZ Tube, dia pasti akan terbahak-bahak menertawakan ketololan para penonton yang terus menginginkan kematian atas dirinya. Harapan tinggi mereka akan berakhir menjadi harapan kosong. Tidak lama lagi semua penonton akan melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah terlintas di otak mereka. Sesuatu yang akan membuat mindset yang selama ini telah mengakar di Gedhetenan Lain akan berubah.


Senyum Paijo merekah lebar. Sangat lebar karena baru saja menemukan apa yang selama beberapa menit terakhir sedang dia cari. Sekitar seratus meter di depan, sebuah dahan pohon setinggi setengah meter terlihat menancap di tanah. Selembar kain putih terikat di ujung dahan tersebut dan sedang melambai indah karena terpaan angin.


Setelah melihat tanda tersebut, Paijo mempercepat langkah kakinya seraya menyebut 'pemicu' di dalam benak. Lalu sepersekian detik kemudian asap hitam keluar dari gelang putih di tangannya dan memunculkan benda berbentuk tabung di genggaman Paijo. Di ujung benda berbahan logam itu terdapat sebuah tombol berwarna merah yang dilindungi semacam cangkang transparan. Tanpa pikir panjang, Paijo segera membuka cangkang tersebut. Kemudian lompat hingga melewati tanda bendera dan mendarat di sebuah cekungan tanah. Sesuai rencana, Paijo langsung menekan tombol berwarna merah yang sejak tadi sudah berada di bawah jempol tangannya.


BOOOOMMM!


Ledakan besar tiba-tiba terjadi tepat di bawah kaki seluruh kawanan Little Hell Pig. Di detik itu juga semua penonton siaran langsung seketika ternganga. Sedangkan kolom percakapan yang selalu dijejali komentar tidak menyenangkan seketika berhenti.


...-----@@-----...


"Tidak mungkin!" Mata sosok humanoid serigala terbelalak hebat. Mulutnya menganga memperlihatkan barisan gigi tajam di rongga mulutnya. Sulit mempercayai apa yang sedang menjadi tontonan sepasang indra penglihatannya.


"Ini bohong, kan?" Hal yang sama juga terjadi pada sosok humanoid kera. Beberapa kali perempuan itu mengusap kedua mata untuk memastikan kenyataan yang sedang terpampang di hadapannya.


Kedua sosok yang digadang-gadang menjadi ujung tombak peradaban dalam memerangi invasi iblis itu sedang sibuk mengamati layar siaran langsung yang terpampang di pelupuk mata masing-masing. Mereka mengamati setiap detail gambar yang tersaji dengan penuh perhitungan, mencoba memahami siaran yang sedang memperlihatkan sebuah padang rumput. Area yang cukup luas itu dipenuhi asap dan debu.

__ADS_1


Bagi para veteran yang sudah terbiasa menghadapi berbagai macam pertarungan dan pertempuran, menganalisa area bekas pertumpahan darah memang sudah menjadi sebuah kebiasaan. Hal tersebut dilakukan agar bisa memahami bagaimana jalannya pertarungan dari awal hingga akhir. Bagaimanapun juga siapapun yang menjadi penyebabnya ada kemungkinan akan menjadi lawan di masa depan. Jadi mengetahui sedikit saja informasi lawan akan dapat mengubah jalannya pertarungan.


Itulah yang sedang dilakukan kedua sosok berbeda ras itu. Mereka sedang berusaha menganalisa area bekas ledakan. Sedetik saja pandangan mereka tidak pernah beralih ke tempat lain. Menit demi menit pun berlalu begitu saja bagi mereka. Kedua sosok yang selalu haus akan informasi pertarungan itu tetap mengamati apa yang sedang tersaji di pelupuk mata. Namun selama itu pula mereka tidak bisa menemukan sebuah kesimpulan yang bisa menjelaskan akhir dari pertempuran.


"Percuma mencoba menganalisanya. Kalian tidak akan pernah bisa menarik kesimpulan dengan tepat." kata Aman santai seraya menyeruput minuman di cangkir kayunya.


Aman berkata seperti itu karena tahu pola pikir kedua teman seperjuangannya itu tidak lebih baik darinya. Sebenarnya Aman juga terkejut jika pertempuran yang berat sebelah itu berakhir dengan sebuah ledakan besar yang menimpa seluruh gerombolan Little Hell Pig. Aman tahu seberapa baik kondisi fisik sosok manusia yang menjadi sumber kehebohan di seantero Gedhetenan Land itu. Memang tidak bisa dipungkiri jika perkembangan anak didiknya itu sangat jauh melampaui perkiraannya. Namun dia lebih tidak menyangka jika sosok yang selama ini dia tempa dengan berbagai macam menu latihan mampu melenyapkan ribuan monster dalam sekejap mata.


Ekspresi kedua teman Aman semakin suram. Dahinya mengernyit hebat hingga kerutan disekitar matanya semakin tergurat jelas di balik bulu-bulu halus wajahnya. Sejauh ingatan mereka tidak ada yang bisa menggunakan skill penghancur sehebat yang baru saja mereka lihat di awal petualangan seseorang. Apalagi Aman juga pernah memastikan jika muridnya itu masih berada di level satu. Hal tersebut semakin membuatnya sulit untuk bisa diterima dengan akal sehat.


Seandainya mendapat bantuan, baik sosok humanoid serigala maupun kera pasti bisa menemukan keberadaan sosok tersebut dengan mudah. Namun nyatanya mereka tidak menemukan sisa-sisa penggunaan sihir berdaya hancur tinggi di tempat kejadian. Meyakini hal tersebut, akhirnya keduanya menarik kesimpulan jika ledakan tersebut berasal dari sebuah perlengkapan. Hanya saja mereka tidak tahu jenis perlengkapan apa yang digunakan. Lagi-lagi mereka terjebak pada kesimpulan mereka sendiri. Semua analisa mereka selalu saja menemui jalan buntu.


"Menyerah saja! Kalian tidak akan pernah bisa menyimpulkan dengan benar." kata Aman lagi. Mencoba menyindir dua sosok yang masih sibuk dengan siaran yang masih berjalan dengan penuh misteri.


Kedua teman Aman tidak menanggapi. Mereka tetap fokus pada aktivitas masing-masing. Namun seiring berjalannya waktu dan semakin keras usaha mereka menganalisa tindakan Paijo, tanpa disadari, mereka mulai menaruh perhatian pada sosok yang memiliki garis keturunan dari ras terlemah itu. Sosok yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh mereka kini menjadi setitik cahaya di tengah kelamnya kenyataan. Tanpa mereka sadari pula, alam bawah sadar mereka menyatakan sesuatu yang selama ini terasa mustahil terjadi.


"Tidak lama lagi kita semua akan segera pulang!"


__ADS_1


__ADS_2