The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 11 - Penampungan


__ADS_3

Empat roda berputar tanpa lelah menyusuri jalanan kota, memindahkan kereta berisi tumpukan peti kayu, mengikuti sesosok manusia yang juga tak kenal lelah mengayunkan langkah. Jam demi jam telah berlalu. Rasa lelah demi rasa lelah telah menumpuk di sekujur tubuh. Keringat menetes mengiringi deru nafas yang terengah hebat.


Walau tubuh bersimbah letih, tatapan Paijo tetap fokus dan tajam. Sudah lebih dari seratus kilometer Paijo mengarungi jalanan kota. Lelah? Tentu saja Paijo merasakan hal tersebut. Menyerah? Tidak! Tidak pernah sekalipun Paijo memikirkan hal sepengecut itu. Apapun yang terjadi, Paijo bertekad akan menyelesaikan menu latihannya kali ini.


"Akhirnya sampai juga." Senyuman merekah di bibir Paijo. Matanya berbinar bahagia karena perjuangannya selama semalaman membuahkan hasil manis.


Sebidang lahan seluas setengah lapangan sepak bola terlihat di kejauhan. Bendera berwarna biru dengan simbol tanaman padi dan gandum yang saling menyilang di tengahnya berkibar lembut di sudut-sudut lahan tersebut. Di bagian dalamnya berdiri kokoh sebentuk bangunan dua lantai yang tidak terlalu besar. Sebuah bendera yang sama berkibar di puncak atapnya. Sosok-sosok yang jumlahnya mencapai ratusan memenuhi lahan tersebut, dan ada puluhan lainnya yang tidak tertampung berdiri di jalanan.


Paijo mempercepat langkahnya, mengerahkan sisa-sisa tenaganya agar sampai di depan bangunan lebih cepat. Saat roda-roda menggelinding semakin mendekati lahan, tatapan-tatapan merendahkan sekaligus jijik berhamburan menikam Paijo.


"Apa-apaan manusia itu? Apa sekarang mereka juga bekerja seperti hewan?"


"Makhluk lemah tetaplah lemah!"


"Seharusnya ras manusia tidak pernah ada di dunia ini."


"Kalian memang lebih cocok menjadi budak!"


Berbagai macam hinaan dilontarkan pada Paijo, dan semakin banyak saat gerobak bawaannya memasuki lahan. Semua memandang rendah Paijo. Kata-kata yang terus meremehkan manusia terus bersahutan hingga membuat keadaan menjadi ricuh. Semua kompak. Semua memiliki satu pemikiran sama, yaitu manusia hanya ras lemah dan tidak berguna di seantero Gedhetenan Land.


Paijo tetap melangkah dengan mantap. Tidak sedikit pun Paijo mendengarkan ocehan-ocehan tidak berguna itu. Hanya diam yang bisa dilakukan Paijo untuk menanggapi mereka. Lagipula tidak ada yang bisa dibantah dari ucapan-ucapan menyakitkan yang melewati gendang telinga Paijo. Semua yang keluar dari mulut mereka benar adanya. Ras manusia memang lemah.


"Hai! Apa kalian tidak punya malu?" tiba-tiba seseorang berbicara dengan suara lantang. Kata-katanya menggelegar hingga ke setiap sudut lahan, seketika memaksa semua orang menutup mulut rapat-rapat. "Dasar tidak tahu diri! Seharusnya kalian berterima kasih padanya. Jika bukan karenanya kalian tidak akan mendapat makan hari ini." lanjut suara tersebut yang ternyata berasal dari sesosok humanoid beruang.


Mendengar ada yang membela, Paijo hanya bisa menanggapi dengan sebuah senyuman lebar dan anggukan penuh hormat pada sosok yang baru saja keluar dari satu-satunya gedung di tempat ini.


"Apa kau dari Pertanian Aman?"


"Benar!" balasnya singkat dengan nafas terengah-engah. Sekilas Paijo mengamati sosok yang tubuhnya berbalut baju zirah coklat itu. Di Punggungnya bertengger sebilah pedang besar. Walau perlengkapan yang menempel di tubuhnya terkesan berat, sosok tersebut menghampiri dengan cukup lincah dan cepat.


"Jangan dengar ucapan busuk mereka! Mereka itu tidak tahu apa-apa tentang kehidupan yang sesungguhnya." kata sosok humanoid beruang dengan penuh simpati, lalu ikut mendorong gerobak Paijo ke depan gedung.


Paijo bingung harus bersikap apa pada sosok yang menurutnya tidak berpikiran sempit itu. Sebenarnya perundungan yang dialami Paijo di tempat ini juga dialami di sembilan belas tempat pengiriman lainnya. Yang berbeda di sana tidak ada satupun yang membela seperti sosok humanoid beruang. Bahkan ada beberapa di antara mereka melempari Paijo dengan sampah. Sungguh tindakan yang sangat tidak terpuji.


Mendapati sikap tidak menyenangkan tersebut Paijo selalu saja diam dan tidak menanggapi. Menurutnya apa yang terjadi sungguh ironi. Sesungguhnya tempat yang menjadi titik pengiriman merupakan tempat penampungan. Sebuah tempat yang menyediakan makanan bagi para Zerenian yang tidak mampu menghasilkan uang. Dengan kata lain semua yang mendatangi tempat tersebut sama halnya dengan gelandangan. Karena terlanjur termakan kenyataan yang ada, mereka tidak pernah berkaca pada diri mereka sendiri dan lebih memilih untuk melampiaskan ketidakmampuan mereka dalam menjalani hidup pada manusia. Padahal dari semua penampungan yang Paijo datangi tidak ada satu pun manusia di sana.


"Terima kasih atas pembelaannya, Tuan!" kata Paijo tulus.


Sosok humanoid beruang membalas dengan sebuah senyuman. "Apa kau mendapat quest pengantaran dari Pertanian Aman?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Ekspresi Paijo berubah bingung. Tidak memahami pertanyaan yang diajukan padanya. "Quest?" Paijo balik bertanya. Dia sengaja melakukannya karena tidak mengerti maksud sebenarnya sosok di hadapannya itu. Sebenarnya Paijo tahu apa itu quest, hanya saja sedikit terkejut karena apa yang sedang dia lakukan dianggap sebagai quest.

__ADS_1


Quest merupakan sebuah permintaan dari seseorang untuk melakukan suatu hal. Dengan kata lain sebuah pekerjaan bagi siapa saja yang mengambilnya. Itu berarti pula akan adanya sejumlah uang yang didapat setelah menyelesaikan quest.


"Kau tahu? Ini tidak biasa. Baru pertama kali ini Pertanian Aman memberikan quest."


"Benarkah?"


Sosok humanoid beruang mengangguk. "Biasanya Pertanian Aman selalu menggunakan makhluk dari skill Creation untuk mengirim peti-peti itu kemari." katanya menjelaskan. Ada antusias dan rasa penasaran yang membalut setiap kata-katanya. "Jadi-- apa kau mendapatkan quest dari papan pengumuman di depan Pertanian Aman? Jika memang benar, sesekali aku juga ingin mengambil questnya."


"Maaf tuan! Tapi sebenarnya… "


"Aku tidak terlalu peduli dengan bayarannya." sosok humanoid beruang memotong, mengira Paijo sedang mempermasalahkan jumlah bayaran dari quest. "Asal kau tahu. Walau tidak di bayar sepeserpun, aku akan tetap mengerjakannya. Ya. Aku akan mengerjakannya dengan sepenuh hati. Jadi apa ada trik khusus agar bisa mendapatkan questnya?"


Paijo menggaruk-garuk kepalanya. Bingung bagaimana caranya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada sosok yang sudah terlanjur salah paham itu.


"Sebenarnya aku tidak sedang menjalankan quest, Tuan." kata Paijo cepat agar kata-katanya tidak dipotong untuk yang kedua kalinya.


Ekspresi sosok humanoid beruang berubah serius. Tatapannya menajam, mengamati setiap sudut wajah Paijo dengan seksama. Bahkan dia mendekat beberapa langkah untuk menemukan guratan kebohongan di sekitar mata Paijo.


"Tidak menjalankan quest?" sosok humanoid beruang mengulang pernyataan Paijo. "Apa maksudmu? Bisa kau jelaskan dengan kata-kata yang lebih sederhana!"


Paijo menelan ludah, merasa ada sebuah ancaman yang ikut membalut kata-kata sosok di depannya. Tidak hanya itu, Paijo juga merasa seperti sedang diintimidasi oleh sebuah kekuatan yang mustahil bisa dia tahan.


"Jadi-- aku melakukan ini semua karena perintah-- guruku." beberapa kali Paijo terbatah karena takut menyulut api pertikaian. Sedikit saja salah melontarkan kata-kata dapat dipastikan lawan bicaranya itu tidak akan segan-segan memukul Paijo.


Paijo mengangguk. "Benar Tuan. Guruku yang memintaku mengantar peti-peti ini ke lokasi yang sudah ditentukan. Tepatnya ada dua puluh tempat. Jadi ini seperti menu latihan darinya."


"Apa kau serius?"


Sekali lagi Paijo mengangguk. Melihat keseriusan Paijo saat menjawab pertanyaannya, sosok humanoid beruang malah membisu seribu bahasa. Sesaat dia mengamati Paijo dari atas hingga bawah sambil memasang ekspresi penuh pemikiran.


Sosok berbulu coklat muda itu dirundung bingung. Di satu sisi dia ragu dengan pernyataan Paijo. Sedangkan di sisi lain dia tidak menemukan guratan kebohongan di wajah manusia remaja itu. Selain itu dia juga mempertimbangkan rumor yang telah menjadi rahasia di kalangan elit Kota Astrois. Rumor tersebut mengatakan jika pemilik Pertanian Aman bukan orang sembarang dan sangat tertutup.


Pertanian Aman tidak akan membiarkan siapapun memasuki lahannya. Kalaupun ada yang sengaja menerobos masuk tanpa izin, dapat dipastikan nyawa mereka akan melayang. Karena alasan itu pula tidak ada yang berani mengaku-ngaku menjadi bagian dari pertanian tersebut. Apalagi mendeklarasikan diri sebagai murid di sana.


Sebenarnya sosok humanoid beruang teguh pada pendiriannya. Namun setelah melihat kondisi Paijo saat ini tanpa sadar sedikit mengubah pandangannya. Jika seseorang sedang mencoba membuat dirinya dipandang orang atau mencari celah dari kebohongan tentang pertanian Aman tidak mungkin mereka akan terlihat kacau seperti Paijo.


Dilihat dari sudut manapun, keadaan Paijo memang terlihat seperti orang yang baru saja menjalani pelatihan ekstrem. Tubuhnya terlihat sangat kelelahan, keringat mengucur deras hingga terus menetes ke tanah. Ditambah dengan pakaian Paijo yang memiliki banyak lobang bekas terbakar semakin membuat pernyataan Paijo terdengar benar. Bagi siapa saja yang sudah sering berada di medan pertempuran pasti akan langsung meyakini jika apa yang membalut tubuh remaja itu bukan sesuatu yang sengaja dibuat untuk mendapatkan simpati orang.


"Lebih baik kita turunkan peti-peti itu." sekali lagi sosok humanoid beruang mengalihkan pembicaraan. "Anak-anak cepat bantu turunkan peti-peti ini!" lanjutnya memberi perintah pada sekelompok sosok humanoid beruang yang sedang bersantai di sebelah pintu gedung.


Dengan sigap kelima sosok tersebut menghampiri gerobak. Langkah mereka cepat dan lincah. Tanpa menunggu aba-aba langsung mengangkat peti di gerobak dan membawanya ke sisi kanan gedung yang telah dipenuhi tumpukan peti.

__ADS_1


"Hai! Aku Errie!" sapa sosok humanoid beruang perempuan yang baru menyusul Paijo dan berjalan di sampingnya. Keduanya melangkah perlahan seraya membawa sebuah peti di tangan masing-masing.


"Hai! Kau bisa memanggilku Paijo." balas Paijo dengan penuh senyuman di bibir.


"Aku ikut berbelasungkawa atas apa yang terjadi pada rasmu." kata Errie dengan penuh simpati. Ekspresinya berubah muram. "Semoga masa-masa sulit kalian segera terlewati."


"Thanks." balas Paijo singkat. Senyumnya kembali merekah karena hal tidak terduga seperti yang baru dilakukan Errie.


Apa yang dilakukan sosok yang memiliki tinggi tidak lebih dari seratus tujuh puluh sentimeter itu membuat haru membanjiri benak Paijo. Hanya dari mendengar setiap kata yang meluncur dari mulutnya siapapun pasti akan merasakan apa yang dirasakan Paijo. Sebuah ketulusan yang murni menyeruak keluar dari dalam hati.


"Bagaimana kalau lain kali kita berburu bersama? Kau bergabung dengan partyku. Tidak perlu khawatir. Kami bukan orang kolot seperti mereka. Benarkan teman-teman?" Errie melempar pandangan ke empat sosok humanoid beruang di belakangnya yang juga sedang sibuk membawa peti.


"Ya. Kau benar bos. Kami bukan orang kolot seperti mereka." kata keempat teman Errie secara bersamaan. Cara bicara keempat sosok gadis tersebut seperti sekumpulan robot. Lalu terkekeh bersama sebelum mengangguk dan tersenyum penuh persahabatan pada Paijo.


Diperlakukan hangat oleh sosok-sosok dari ras Bebearus membuat Paijo merasa nyaman dan tenang. "Terima kasih atas tawarannya. Tapi untuk sekarang aku tidak ingin merepotkan siapapun. Aku tidak ingin menjadi beban."


"Baiklah jika itu keputusanmu! Tapi jika membutuhkan bantuan, kau bisa menghubungi aku." balas Errie seraya mengirim permintaan pertemanan pada Paijo.


Paijo langsung menerima permintaan pertemanan Errie. Lalu meletakkan peti di samping tumpukan peti lain yang telah menumpuk tinggi sebelum kembali gerobak dan menata peti tersisa di tempat yang telah ditentukan.


Paijo tahu jika Errie dan teman-temannya tidak pernah mempermasalahkan status Paijo. Bahkan jika seandainya mereka tahu jika Paijo masih level satu dan belum mengalokasikan satu pun poin dasar, dapat di pastikan mereka akan tetap menerima Paijo. Karena alasan itu, kali ini langkah Paijo terasa lebih ringan saat meninggalkan tempat penampungan. Dia baru saja menemukan sebuah ikatan persahabat.


...-----@@-----...


Di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil, sesosok laki-laki sedang berdiri di dekat jendela di lantai dua. Sosok tersebut memiliki kuping runcing. Tubuh rampingnya terbalut pakaian berbahan sutra. Rambut panjangnya yang berwarna perak terlihat sangat serasi dengan kulit putih di sekujur tubuhnya. Tatapan tajam dan penuh perhitungannya terlempar keluar jendela, terpaku pada sebuah gerobak yang sedang bergerak perlahan di tengah kerumunan.


Tak berselang lama sebuah ketukan mengalun nyaring. Setelah sosok bertelinga runcing mempersilahkan masuk, sesosok humanoid beruang dengan pedang besar di punggung dan mengenakan baju zirah lengkap berwarna coklat memasuki ruangan.


"Apa Tuan Solomon mencariku?" tanya sosok humanoid beruang sesampainya di tengah ruangan.


"Siapa manusia yang bicara denganmu tadi? Lalu kenapa dia yang mengantar peti-peti itu kemari?" Solomon yang masih mengamati satu-satunya gerobak barang itu balik bertanya.


"Itu… " sosok humanoid beruang ragu harus menjawab apa. Apakah harus menjelaskan apa adanya sesuai apa yang dia dengar, atau mencari aman dengan sedikit membahas peti kiriman dan segera mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Tapi sebelum sempat memutuskan, Solomon kembali bicara.


"Katakan saja!"


"Baik Tuan! Sebenarnya saya tidak tahu siapa manusia itu. Tapi dia mengaku sedang menjalankan tugas dari gurunya. Ha--hanya itu yang saya tahu, Tuan."


"Baiklah!" balas sosok bernama Solomon datar. "Sekarang kau boleh pergi. Kembalilah bertugas!"


Setelah kembali sendirian di ruangannya yang hanya dihiasi sebuah meja dan kursi berbahan kayu, Solomon mengambil gelas berisi cairan berwarna merah di meja, lalu menyesapnya sedikit hingga seluruh rongga mulut dan tenggorokannya dibanjiri rasa manis yang nikmat. Bibirnya kemudian menyunggingkan sebuah senyuman yang dipenuhi keantusiasan.

__ADS_1


"Ini menarik. Sepertinya tidak lama lagi dunia ini akan mengalami perubahan besar."



__ADS_2