The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 17 - Book of Farmer


__ADS_3

Hidup di dunia yang penuh dengan kekacauan seperti di Gedhetenan Land bukan sesuatu yang bisa dijalani hanya dengan mengandalkan logika. Paijo semakin menyadari hal tersebut setelah hidup di antah berantah tersebut selama satu bulan penuh. Semua sangat tidak masuk akal dan tidak akan pernah bisa dipahami oleh siapapun jika tidak pernah menjalaninya sendiri. Bahkan hanya akan terasa seperti mimpi bagi orang-orang yang tidak pernah mempercayai semua yang ada di dunia ini.


Beruntung atau sial? Kedua hal tersebut kini tidak ada bedanya bagi Paijo. Paijo merasa beruntung karena berhasil lolos dari kejaran lima ras teratas. Namun dia juga merasa sial karena harus menjadi rumah bagi sesosok parasit.


Setelah menyetujui kesepakatan dengan Si Slime, Paijo terus diberondong dengan berbagai macam hal tidak masuk akal. Diawali dengan sosok slime yang menelan dirinya bulat-bulat hingga membuatnya terasa seperti tenggelam di dalam cairan kental dan berakhir tak sadarkan diri. Lalu saat tersadar, Paijo mendapati dirinya tak lagi berwujud manusia, melainkan sesosok humanoid cheetah. Menyadari perubahan tersebut, Paijo sangat histeris dan tak sanggup menerima apa yang menimpa dirinya dan berniat mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan cara berteriak. Namun niat tersebut urung dilakukan karena menyadari nyawanya sedang diujung tanduk.


Saat matanya terbuka, hal kedua yang terpampang di hadapan Paijo adalah sosok-sosok humanoid cheetah dan kecoa. Jumlah mereka puluhan dan memenuhi setiap sudut ruangan. Mereka sedang sibuk mencari sesosok manusia yang tak lain dan tak bukan adalah Paijo.


Sesaat Paijo mencoba menelaah apa yang sedang terjadi. Dirinya adalah target dari sosok-sosok di hadapannya dan masih hidup. Bahkan sosok-sosok yang seharusnya membunuhnya itu terlihat bersahabat dan cukup mengkhawatirkan dirinya. Memang cukup aneh jika memikirkan kedua hal yang sangat bertolak belakang tersebut. Ingin tidak mempercayainya, tapi apa yang sedang terjadi bukan mimpi. Paijo tahu hal tersebut, dan dengan terpaksa memilih untuk menerima semuanya, mencoba memposisikan diri sebagai salah satu sosok dari ras yang berada dalam daftar sepuluh ras terkuat.


Karena tidak ada jalan lain selain membaur dengan situasi yang ada, Paijo berusaha menceritakan apa yang baru menimpanya senormal mungkin. Tentu saja apa yang meluncur dari mulutnya hanya kebohongan belaka. Paijo mengaku jika dirinya tiba-tiba di serang dari belakang saat memeriksa seisi ruangan dan pingsan begitu saja. Paijo juga menegaskan jika penyerangnya pasti manusia yang sedang menjadi target mereka. Paijo juga berakting seolah bagian belakang kepalanya sakit demi mempermanis kebohongannya.


Layaknya tenggelam dalam arus kuat, Paijo lebih memilih mengikuti alur kehidupan yang sedang bergolak. Paijo pun membaur dengan kelompok yang sedang mencari dirinya. Walau kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan dan benaknya haus akan penjelasan terhadap apa yang sedang menimpanya, Paijo berusaha mengesampingkan semua itu dan melanjutkan aktingnya. Paijo ikut melakukan pencarian bersama dengan yang lain hingga beberapa jam kedepan hingga akhirnya menemukan momentum untuk memisahkan diri dan pergi. Disaat itulah semua keanehan yang menimpa Paijo mendapat penjelasan.


Apa yang terjadi ternyata sepenuhnya disebabkan oleh sang slime. Sosok dari ras kotostos yang bernama Babanyu itu menjelaskan semuanya sejelas mungkin. Setelah persetujuan Paijo menjadi inang, Babanyu langsung melakukan ritual penyatuan. Dia harus menelan calon inangnya hidup-hidup sebelum memasuki tubuh inangnya dan menyatu. Proses yang cukup mengerikan itu memang selalu membuat sang inang tak sadarkan. Setelah proses penyatuan, dengan persetujuan sepihak, Babanyu melakukan skill dasar rasnya yang bernama kamuflase terhadap Paijo dan mengubah wujudnya menjadi humanoid cheetah.


"Jadi seperti itu?" Paijo berusaha menelaah semua ucapan Babanyu yang melewati gendang telinganya. Yang tak henti-hentinya berkumandang sejak berhasil memisahkan diri dari kelompok pengejar.


Dari semua perkataan babanyu memang tidak ada yang dirugikan secara sepihak. Bisa dibilang kesepakatan di antara Paijo dan Babanyu saling menguntungkan. Dengan menjadi inang, selain dapat berkamuflase menjadi makhluk humanoid apa saja, Paijo akan mendapat lima puluh persen dari status poin babanyu. Sedangkan dalam kondisi kamuflase akan mendapat empat puluh persen. Sebuah keuntungan yang dapat meningkatkan daya tempur.


Di sisi lain, babanyu yang mendiami tubuh Paijo akan mendapat suplai energi kehidupan yang menjadi satu-satunya makanan bagi tubuh slimenya. Dengan kata lain babanyu akan menyerap energi Paijo secara terus menerus. Hal tersebut tentu akan membuat Paijo lebih cepat kelelahan dan membatasi jumlah skill yang dapat digunakan dalam pertarungan. Namun untuk saat ini Paijo tak terlalu memikirkan hal tersebut. Selain memang karena tidak memiliki satupun skill, dengan penambahan atribut status yang diberikan babanyu itu sudah cukup bagi Paijo untuk mengimbangi musuh-musuhnya yang memiliki level dua kali lipat darinya. Apalagi ditambah dengan babanyu yang mampu menggunakan skillnya tanpa mengambil energi tambahan darinya.


"Lalu apa keuntungan terakhir yang kudapat? Ayo katakanlah! Jika aku tahu apa itu, aku pasti bisa memanfaatkannya sebaik mungkin."


"Sudah aku bilang itu rahasia." Suara Babanyu terngiang di kepala Paijo. Sebenarnya Paijo cukup terganggu dengan cara Babanyu bicara dengannya yang terasa seperti telepati. Suaranya benar-benar menggema di kepala. Walau terkesan aneh dan tidak wajar, tapi menurut Paijo cara berkomunikasi dengan Babanyu cukup menguntungkan mengingat dirinya hanya perlu membantin untuk membalas perkataannya. Jadi tidak akan ada orang lain yang mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.


"Dasar pelit!"


"Sudahlah! Tidak usah memaksa. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memberitahu keuntungan terakhir yang kau dapat dengan menjadi inangku. Yang jelas keuntungan tersebut sangat berguna untukmu."

__ADS_1


"Baik. Aku tidak akan bertanya lagi." Paijo menyerah. Sudah tak terhitung banyaknya Paijo memaksa Babanyu untuk memberitahu keuntungan terakhir menjadi inang ras Kotostos dan selalu berakhir tanpa jawaban memuaskan.


"Bagus!"


"Sekarang bisakah kau kembalikan wujudku? Sepertinya mereka tidak akan mencari sampai sini. Lagipula kita sudah hampir sampai ke pertanian."


"Itu mudah. Serahkan padaku."


Di akhir ucapan Babanyu, tubuh berbulu Paijo kehilangan warna dan bentuknya. Warna kuning dan bertotol-totol hitam khas seekor cheetah berubah menjadi biru transparan. Sedangkan struktur bentuknya berubah menjadi cairan lengket. Sesaat cairan yang dapat dipastikan milik Babanyu itu bergerak-gerak pelan seolah sedang mereposisi struktur molekulnya sebelum akhirnya terserap ke dalam pori-pori Paijo.


"Ini cukup menjijikan!" Komentar Paijo seraya mengamati proses perubahan bentuk tubuhnya.


"Sebaiknya kau mulai membiasakan diri. Dan sekarang aku akan tidur. Jadi jangan coba-coba membangunkanku jika tidak ingin sekujur tubuhmu kejang."


Mengesampingkan peringatan Babanyu yang sesungguhnya tidak dipahami Paijo, apa yang dikatakan Babanyu benar. Skill kamuflase bisa menjadi satu-satunya jalan keluar bagi Paijo untuk menghindari musuh-musuhnya. Walau terkesan cukup menjijikan di mata, skill tersebut sangat berguna untuk menyembunyikan identitas.


Tidak berselang lama gerbang rahasia pertanian Aman terlihat. Setelah melewatinya, Paijo langsung menuju ke rumah gurunya. Seperti biasa, tempat yang menjadi naungan Paijo selama sebulan terakhir ini tetap sepi. Namun ada yang menarik perhatian Paijo sesampainya di depan teras rumah. Kedua mata Paijo terfokus penuh ke pintu. Seharusnya pintu yang tak pernah dilewati Paijo itu tertutup rapat, tapi sekarang tidak. Pintu berbahan kayu itu sedikit terbuka.


Tidak ada jawaban. Bahkan setelah beberapa saat menunggu dan Paijo kembali memanggil dengan suara lantang, tetap saja tidak ada balasan. Karena penasaran sekaligus khawatir, Paijo mendekati pintu rumah dan matanya langsung memindai ruangan yang ada di baliknya. Tidak ada siapapun di dalam. Ruangan yang hanya dihiasi sebuah meja dan sepasang kursi di kedua sisinya terasa senyap.


"Guru!" Paijo kembali memanggil. Suaranya pelan, namun tidak terlalu pelan untuk bisa di dengar. "Apa kau sedang tidur?" lanjut Paijo seraya melempar pandangan ke pintu di sisi kanan ruangan. Pintu tersebut tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda jika ada yang membuka pintu tersebut. Lalu Paijo mengamati lorong di ujung ruangan yang mengarah ke bagian belakang rumah. Lorong yang hanya memiliki lebar tak lebih dari satu setengah meter itu juga terasa senyap seolah sudah lama tidak pernah dilewati siapapun.


Karena takut terjadi apa-apa pada gurunya, Paijo memutuskan untuk memeriksa ke dalam. Namun saat tangannya baru membuka pintu selebar tubuhnya sebuah pesan baru muncul di depan pandangan Paijo.


"Hai Paijo! Apa kabarmu setelah seharian berburu? Pasti baik-baik saja, kan? Tidak mungkin mati, kan? Tentu saja tidak, kan? Hahaha… !"


"Oke! Cukup basa-basinya dan kita langsung ke intinya. Sebagai satu-satunya muridku, mulai detik ini aku nyatakan kau lulus. Jadi tidak ada lagi yang bisa aku ajarkan padamu. Nasibmu selanjutnya tergantung pada dirimu sendiri. Seberapa besar perkembanganmu di masa depan tergantung seberapa besar usahamu. Jadi selamat berjuang dan jangan sampai mati! Oke."


Ekspresi Paijo berubah masam. Otaknya tak sanggup memahami maksud gurunya. Alasannya tentu saja karena selama ini gurunya tidak pernah melatihnya sekalipun. Apalagi mengajari sesuatu, entah itu teknik bertarung ataupun skill. Satu-satunya yang Paijo dapat selama satu bulan ini hanya pelatihan dasar yang lebih cocok disebut sebagai pemanasan walau sebenarnya semua perintah dan arahan Aman memang meningkatkan atribut dasar Paijo.

__ADS_1


"Nb: sebagai hadiah kelulusan, aku memberimu skill book yang selama ini kau inginkan. Aku menaruhnya di meja."


Paijo masih belum bisa memahami sepenuhnya. Paijo merasa belum melakukan apa yang seharusnya seorang murid lakukan, begitu juga dengan gurunya yang menurutnya juga belum bertingkah layaknya seorang guru. Dan sekarang, tanpa pernah diduga, Paijo dinyatakan lulus tanpa bekal ilmu sama sekali.


"Benar-benar di luar dugaan. Tapi biarlah. Paling tidak aku mendapat satu skill book."


Tanpa ragu, Paijo masuk dan langsung mengarahkan langkah ke meja. Di atas meja berbahan kayu yang ada di tengah ruangan teronggok sebuah buku usang. Buku dengan sampul berwarna emas itu terlihat sangat lusuh. Warnanya telah memudar dan memiliki bercak ke abu-abuan hampir di seluruh bagiannya.


"Status." Paijo membatin dan fokus pada buku di meja.


[Book of Farmer.


Sebuah buku kuno yang akan menjadikan pembacanya sebagai seorang petani.]


Paijo menghela napas. Buku yang ada di depannya sesuai dengan ekspektasi. Sebuah buku yang akan benar-benar mewujudkan tujuan awal Paijo datang ke Pertanian Aman, yaitu menjadi seorang petani.


Karena tidak ada yang harus dipertimbangkan lagi, Paijo mengambil buku di hadapannya dan berniat membacanya saat itu juga. Sesaat tangannya meraba sampulnya yang usang, lalu membukanya ke samping untuk mengaktifkan proses penyerapan skill.


Bintik-bintik cahaya emas seketika beterbangan keluar dari halaman di balik sampul. Seiring bertambahnya bintik cahaya yang keluar, halaman demi halaman terbuka satu persatu dengan sendirinya. Paijo yang menyaksikan proses tersebut tersenyum lebar. Selain cukup memukau, apa yang terjadi di hadapan matanya sesuai dengan penjelasan yang ada di buku panduan.


"Eh! Ini-- apa yang terjadi?" Paijo terkejut.


Bintik-bintik cahaya yang sebelumnya keluar secara perlahan seketika berhamburan keluar layaknya semprotan pemadam kebakaran, menghantam langit-langit dan menyebar ke seluruh ruangan. Sesaat bintik-bintik cahaya tersebut berputar-putar layaknya tornado, semakin lama putarannya semakin cepat hingga membuat dinding ruangan bergetar hebat.


Paijo panik. Situasi ternyata berubah diluar dugaan. Remaja tujuh belas tahun itu tidak tahu harus bertindak seperti apa. Apa yang sedang terjadi di hadapannya sangat berbeda dengan penggambaran yang ada di buku pedoman. Benar-benar sangat berbeda. Secara cepat, bintik-bintik cahaya merapat ke arah Paijo. Mereka berputar-putar dengan sangat cepat dan menjadikan Paijo sebagai pusatnya. Deru suara yang mereka ciptakan terasa menggetarkan jiwa.


Panik berubah menjadi takut. Paijo yang semakin terhimpit jutaan bintik cahaya merasa terancam. Paijo berniat menghindar, atau paling tidak bergeser ke samping demi menciptakan ruang kosong agar bisa mengamati situasi. Namun niat tersebut hanya menjadi niat semata. Paijo tidak bisa bergerak. Tubuhnya mematung di tempat. Sekuat apapun mencoba tetap saja persendian di sekujur tubuhnya membeku, seolah ada lem super kuat yang tiba-tiba membekapnya.


Situasi pun memuncak saat bintik-bintik cahaya bergerak secara bersamaan ke satu titik, yaitu tepat ke dahi Paijo. Paijo yang tidak pernah menduga akan menerima hantaman di kepala hanya sanggup terbelalak dan menganga. Teriakan tidak sempat berkumandangan dari mulutnya karena efek hantaman yang mengguncang otak. Tubuh Paijo pun terlontar, menghantam dinding di belakangnya dengan cukup kuat sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

__ADS_1



__ADS_2