The Legendary Farmer

The Legendary Farmer
Chapter 13 - Boss Little Hell Pig


__ADS_3

Sebuah teropong berbahan kayu bertengger di depan salah satu mata Paijo. Dari lensanya yang kecil namun dapat memangkas jarak pandang, Paijo mengamati dengan seksama setiap monster babi berbulu hitam legam yang memenuhi padang rumput di sebelah timur Kota Astrois. Dengan teliti, Paijo memperhatikan setiap gerak-gerik monster tersebut, begitu juga dengan setiap inci bagian tubuhnya.


"Dimana kau berada?" Gumam Paijo seraya tetap fokus dengan apa yang sedang menjadi aktivitas utamanya.


Tepat di hadapan Paijo, ribuan pertarungan terjadi hampir di seluruh area padang rumput. Tentu saja pertarungan antara monster bernama 'Little Hell Pig' dengan para Zerenian. Denting logam dari senjata yang beradu, teriakan penuh semangat, jerit kesakitan karena serangan monster, dan sorak kemenangan terus bergaung silih berganti.


Tidak ada Zerenian di tempat ini yang melakukan solo hunting. Mereka lebih memilih melakukan party demi keselamatan masing-masing. Hal yang wajar mengingat kematian bukan sesuatu yang diharapkan oleh siapapun. Dengan adanya party mereka bisa saling menjaga dan menjalankan sebuah strategi demi sebuah tujuan bersama, yaitu membunuh buruan mereka.


Di dunia Gedhetenan Land jumlah anggota dalam sebuah party ditentukan oleh tingkatan rank dan rebirth sang pemimpin party. Semakin tinggi rank maka dapat membuat party dengan jumlah anggota yang semakin banyak. Begitu juga dengan rebirth. Sedangkan yang tidak memiliki rank, jumlah anggota party maksimal yang bisa dibuat hanya berjumlah lima puluh orang.


Sejauh pandangan Paijo, jumlah anggota party di tempat ini beragam. Dari hanya beranggotakan dua orang hingga yang paling banyak adalah lima puluh orang. Ya. Lima puluh orang. Batas maksimal dari sebuah party yang anggotanya tidak ada yang memiliki rank. Lalu siapa yang dengan konyolnya membuat party dengan anggota sebanyak itu hanya untuk melawan seekor babi? Tentu saja mereka adalah manusia.


"Semakin lama diperhatikan tingkah mereka semakin konyol dan bodoh."


"Itulah yang terjadi jika menjadi ras tidak berguna."


"Biarkan saja mereka! Lemah tetaplah lemah!"


Mendengar kalimat penuh hinaan terhadap ras manusia, Paijo hanya bisa tersenyum masam dan menoleh sejenak ke sumber suara yang ternyata berasal dari sekelompok sosok humanoid badak. Paijo tidak berniat untuk menegur mereka dan membela ras manusia. Selain sadar hanya akan mati konyol jika melakukannya, apa yang dikatakan ketiga sosok tersebut ada benarnya. Dilihat dari sisi manapun apa yang dilakukan party manusia yang beranggotakan lima puluh orang itu memang terlihat konyol. Paijo juga sependapat dengan hal tersebut.


Namun tingkah yang terkesan konyol tersebut merupakan cara terbaik yang bisa dilakukan manusia sebagai ras terlemah. Dengan banyaknya anggota party yang menyerang secara bersamaan tentu dapat membingungkan monster yang menjadi target buruan.


Saat monster menyerang salah satu atau sebagian anggota party, mereka akan langsung mengambil tindakan melarikan diri, sedangkan sisa anggota party lainnya bisa dengan leluasa menyerang. Strategi semacam itu terus dilakukan hingga monster buruan dikalahkan. Memang terkesan pengecut, namun hal tersebut merupakan cara jitu untuk menjauhkan yang namanya kematian dan meminimalisir jumlah anggota yang terluka.


Saat sedang asyik memperhatikan sekumpulan manusia yang masih melakukan strategi hit and run, pandangan Paijo menangkap seekor Little Hell Pig bertingkah aneh. Monster tersebut terlihat berputar-putar di tempat seraya terus meraung. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda dari gerak-geriknya yang mengisyaratkan hendak menyerang. Benar-benar aneh. Jika diperhatikan penampilan monster tersebut tidak ada bedanya dengan yang lainnya, baik itu ukuran maupun bentuk tubuhnya.

__ADS_1


"Bingo! Akhirnya ketemu juga." seru Paijo penuh semangat.


Di dalam buku panduan digital yang tersimpan di gelang putih dan implan di otak menjelaskan jika Little Hell Pig merupakan monster agresif yang akan menyerang siapa saja yang memasuki habitatnya. Buku tersebut juga mengatakan jika Little Hell Pig merupakan monster kawanan, yang artinya ada satu pemimpin di antara mereka.


Paijo yakin jika monster yang sedang dia perhatikan merupakan pimpinan kawanannya. Selain tingkah anehnya dan menjadi satu-satunya monster yang tidak melakukan penyerangan terhadap Zerenian, setiap geraman monster tersebut selalu diiringi dengan pergerakan monster lainnya yang langsung melancarkan serangan. Seolah suara yang meluncur dari mulutnya tak ayal seperti teriakan perintah pada bawahan.


"Saatnya ke tahap selanjutnya."


Setelah memasukkan teropong ke ruang penyimpanan gelang putih, Paijo bergegas mendekati monster targetnya. Paijo bergerak penuh perhitungan di antara pertarungan-pertarungan yang sedang berlangsung sengit agar tidak terjebak di antara kericuhan yang ada. Sesekali Paijo juga bersembunyi di cekungan tanah saat Little Hell Pig tiba-tiba muncul dari dalam tanah.


Paijo tidak menyangka jika respawn monster babi hitam tersebut tak ayal seperti zombie yang bangkit dari kubur. Cukup menyeramkan. Apalagi tubuhnya ternyata lebih menyeramkan jika dilihat dari dekat. Asap hitam tipis membalut sekujur tubuh monster berkaki empat itu. Tubuhnya sangat berotot. Di Sekitar matanya tergurat jelas jaringan nadi yang memancarkan warna merah gelap.


Setelah berulang kali menghindari pertarungan dan mengendap-ngendap saat Little Hell Pig muncul dari dalam tanah, akhirnya Paijo berhasil mendekati monster yang diduga menjadi pimpinan kawanan atau boss monster di tempat ini. Sekarang Paijo sedang bersembunyi di balik sebuah gundukan sekitar dua puluh meter dari targetnya. Mata Paijo terus mengamati sekitar, mencoba menentukan langkah apa yang paling efektif dan efisien agar rencana yang sudah dipersiapkan sejak awal dapat berjalan lancar.


"Bagaimana jika melemparinya dengan batu?"


Sebuah ide sederhana tiba-tiba meletup di otak Paijo. Dengan membuat sedikit kontak dengan boss monster tersebut, Paijo berharap mendapat perhatian penuh darinya. Tanpa membuang waktu lagi, Paijo mengambil sebongkah batu sebesar kepalan tangan orang dewasa. Lalu keluar dari tempat persembunyiannya dan melempar batu ke arah boss monster.


Buuk!


Batu Paijo tepat mengenai kepala Boss Little Hell Pig. Sepersekian detik kemudian boss monster tersebut berbalik ke arah Paijo. Mata hitam kelamnya menatap dengan penuh perhitungan. Satu detik, dua detik, tiga detik monster tersebut tetap mengamati Paijo. Tidak ada sedikitpun pergerakan dari monster tersebut. Seolah kedua matanya sedang menimbang apakah harus menyerang dengan kekuatan penuh atau mempermainkan Paijo terlebih dahulu sebelum membunuhnya. Namun hal yang tak terduga terjadi. Di detik selanjutnya boss monster tersebut memalingkan wajah dan menjauhi dengan santai. Benar-benar tidak menganggap Paijo ada.


"Eh! Apa-apaan monster itu. Apa dia tidak menganggapku ada? Dasar monster kurang ajar!" karena terang-terangan diremehkan, Paijo mengecek status monster tersebut.


Little Hell Pig

__ADS_1


Boss Monster


Level: ???


Rank: ???


Wajah Paijo berubah masam setelah melihat status targetnya. Penyebabnya tentu saja karena simbol tanda tanya yang mengisi status level dan rank monster tersebut. Paijo lupa jika dirinya masih berada di level satu, sehingga tidak bisa melihat keseluruhan status targetnya yang memiliki level lebih tinggi.


Menurut buku panduan, Little Hell Pig berada pada level lima. Yang menjadi masalah adalah rank yang dimiliki boss monster tidak tercantum di dalam buku panduan. Tingkatan rank pada boss monster sama seperti para Zerenian, dimulai dari warrior hingga yang tertinggi Glorious Mythic. Setiap tingkatan yang dimiliki boss monster akan membuatnya setara dengan monster yang memiliki sepuluh level lebih tinggi. Semakin tinggi rank boss monster maka semakin tinggi pula level kesetaraannya. Itu berarti pula kekuatannya juga meningkat pesat.


Karena tidak ingin rencananya gagal total, Paijo kembali melempari boss monster babi itu. Batu-batu sebesar kepalan tangan hingga seukuran bola football melayang ke sekujur tubuh monster tersebut. Hasilnya? Tentu saja hasilnya berakhir dengan Paijo yang diacuhkan mentah-mentah. Boss babi itu benar-benar menganggap Paijo tidak pernah ada. Bahkan teriakan-teriakan Paijo yang dipenuhi ejekan tidak di dengar sekalipun. Hingga sebuah kejadian membuat harga diri Paijo hancur tak bersisa. Saat Paijo hendak melempar untuk yang kesekian kali, tanpa terduga Boss Little Hell Pig buang air besar. Seketika kerja keras yang sedang Paijo perjuangkan berubah menjadi keheningan yang menyesakkan. Langit seolah tiba-tiba runtuh dan menindih Paijo hingga tak berbentuk.


"Dasar babi ngepet sialan!"


Paijo yang tidak pernah menduga akan direndahkan seperti itu langsung terbakar amarahnya. Tanpa memperdulikan lagi keselamatannya, Paijo mengambil langkah seribu ke arah Boss monster yang masih menikmati aktivitas buang hajatnya. Hanya dalam waktu singkat Paijo telah berdiri di belakang monster tersebut dan menghujamkan tendangan tepat di selakangan kaki belakang monster tersebut.


Ngiiikkk!


Monster babi setinggi satu setengah meter itu menjerit lantang saat kaki Paijo mengenai senjata pusakanya. Tubuhnya berlompatan ke sana kemari menahan rasa sakit yang teramat sangat. Paijo puas dengan apa yang baru saja dia lakukan. Memang terkesan kejam dan tak berperikehewanan, Tapi Paijo merasa tindakannya setara dengan apa yang telah dilakukan Boss monster itu. Namun dibalik itu semua, sesuatu yang sejak awal dihindari Paijo terjadi.


Setelah bergelut dengan rasa sakit selama lebih dari satu menit, Boss Little Hell Pig sepenuhnya mengalihkan perhatian kepada Paijo. Matanya berubah bengis dan penuh ancaman. Sebuah tatapan yang mengisyaratkan jika pemiliknya ingin segera melenyapkan apa yang menjadi objek penglihatannya. Otot di seluruh tubuh monster tersebut membesar dua kali lipat. Sedangkan asap hitam tipis yang sebelumnya membungkus setiap inci tubuhnya kini berkobar layaknya api.


Paijo yang melihat perubahan tersebut, bergegas berbalik dan pergi secepat yang dia bisa. Langkahnya terayun lincah menjauhi jurang kematian yang bisa kapan saja menelannya. Di saat bersamaan, Boss Little Hell Pig yang melihat target buruannya melarikan diri segera bertindak. Monster yang kini tinggi tubuhnya hampir mencapai tiga meter itu meraung lantang. Sangat lantang hingga menggema ke sepenjuru Kota Astrois, membuat seluruh penduduknya terguyur rasa penasaran. Penasaran pada suara yang baru pertama kali ini menggema di telinga mereka.


__ADS_1


__ADS_2