THE ONE - SANG MALAPETAKA

THE ONE - SANG MALAPETAKA
SAMPAI JUGA


__ADS_3

Setelah hampir satu bulan melakukan perjalanan, Enzo akhirnya sampai di ibukota kerajaan Nusantara, impian untuk menjadi kesatria sihir yang hebat sudah selangkah lagi berada di depan mata.


Sama halnya dengan para masyarakat yang lain, ketika menginjakkan kaki pertama kali di ibukota Nusantara Enzo terpanah melihat keindahan dan kemegahan yang di pancarkan ibukota Nusantara.


Gedung-gedung tinggi megah memadati ibukota kerajaan Nusantara. Di tambah lagi adanya bukit-bukit hijau dan subur menyatu dengan alam melengkapi keindahan kota itu.


“Waaaaaaah, tempat ini bahkan lebih indah daripada kota Armadilo sebelumnya,” kagum Enzo dengan mata berkaca kaca.


Antrean pintu masuk panjang membuat Enzo sedikit kesal sebab tak sedikit dari masyarakat yang tidak mau mengantre alias saling serobot.


“Heeei!! Antri dulu jangan menyerobot antrean, apakah kau tidak melihat jika yang lain juga mengantri!” ucap kesal Enzo kepada seseorang yang menyerobot antreannya.


Orang itu terus menyerobot antrean tanpa memedulikan ucapan Enzo, alhasil pihak kepolisian yang berjaga langsung menangkapnya dan membawanya ke antrean paling belakang sebagai bentuk tidak kooperatif.


Setelah hampir dua jam Enzo mengantre panjang, ia pun akhirnya masuk ke dalam ibukota Nusantara. Dengan cepat Enzo bergegas menuju pusat ibukota, sebelum itu ia memutuskan membeli air minum terlebih dahulu. Tak tanggung-tanggung Enzo dan Kaiju menghabiskan satu galon tanpa menyisakan setetes.


“Kaiju kau harus segera kembali masuk ke dalam gerbang dimensi supaya tidak menimbulkan salah paham,” ucap Enzo sambil melihat kanan kiri.


“Tapi bos aku masih ingin menikmati keindahan kota ini serta membeli banyak makanan lezat,” jawab Kaiju.


“Jangan nanti akan ada yang mengetahui bahwa kau adalah iblis dan situasinya akan semakin memburuk, aku tidak mau hal seperti itu terjadi.” Enzo menyuruh Kaiju segerah masuk ke dalam gerbang dimensi iblis.


“Baik bos aku mengerti, sampai bertemu lagi,” jawab Kaiju.


Sesaat kemudian tercium aroma sedap dari salah satu pedagang. Dengan perut laparnya Enzo pun menghampirinya, aroma sedap itu berasal dari penjual cumi-cumi bakar.


“Paman aku beli 3 cumi-cumi bakarnya, yang dua ukuran jumbo dan satunya ukuran biasa,” ucap Enzo.


“Baiklah nak di karena kan sekarang adalah hari besar, maka akan aku kasi tambahan dua potong cumi-cumi bakar secara gratis,” jawab paman penjual dengan penuh senyum di wajahnya.


“Waaaaaahhh apa kau serius paman? Yoo terima kasi paman.” Enzo sangat senang mendengarnya.


Selepas itu Enzo bergegas menuju pusat ibukota, di tengah perjalanan Enzo kembali lagi melihat nenek yang menjual sate buaya tempo hari lalu.

__ADS_1


“Silakan nak sate buayanya.” Nenek itu menawarkan Enzo sate buaya.


“Maaf Nek, itu makanan beracun tidak boleh di jual aku hampir mati saat memakannya,” teriak khawatir Enzo sambil menasihati sang nenek agar tidak menjual sate buaya beracun itu.


Enzo kemudian memberikan sebagian kecil uangnya pada nenek penjual sate buaya itu, karena Enzo merasa kasihan sebab dagangan si Nenek sama sekali tidak ada yang laku.


“Ini Nek, aku ada sedikit uang terimalah pemberianku ini meskipun bisa di bilang sedikit.”


“Terima kasi Nak bagiku ini sudah cukup, dari aura wajahmu terlihat bahwa kau memang anak baik hati,” ucap sang nenek dengan senyum penuh terima kasih.


“Ti— tidak nek, itu sudah biasa bagiku, he-he-he.” Enzo mengusap kepalanya sambil sedikit tersenyum.


Sesampainya di pusat ibukota Enzo melihat banyak para peserta ujian yang akan mengikuti ujian kesatria sihir, jumlah mereka hampir memenuhi lapangan.


Mereka semua berkumpul di sambil menunggu informasi mengenai acara tersebut, beberapa dari mereka terlihat sudah membentuk kelompoknya sendiri-sendiri.


Tak sedikit dari para peserta yang memiliki penampilan-penampilan aneh, mulai dari rambut jabrik berwarna hijau lalu ada yang berpenampilan seperti Astronot serta robot, kemudian ada yang seperti mumi.


Bahkan ada juga yang membawa hewan singa serta masih banyak hal kocak lainya. Semua peserta berasal dari seluruh penjuru kerajaan Nusantara jadi jangan heran jika mereka memiliki penampilan-penampilan yang berbeda beda.


“Kau benar di sangat bodoh dengan penampilan seperti itu, Hehahaahah.” Lanjut peserta yang lain.


Peserta dengan kepala seperti buah nanas itu tanpa banyak omong langsung menghajar mereka yang menghina kepalanya tanpa rasa ampun.


Peserta lain yang melihat bukannya melerai, mereka malah memberi semangat untuk keduanya bertarung bahkan beberapa dari mereka tampak menaruh taruhan.


“Ayo hajar dia, kepala nanas.”


“Beri pelajaran si kepala nanas itu.”


“Jangan kasi ampun.”


“Aku bertaruh pada si kepala nanas.”

__ADS_1


Di tengah kericuhan yang sedang terjadi, datang para panitia penyelenggara ujian yang dengan cepat menghentikan pertarungan itu.


Kedua peserta itu lalu di nasihati jika mereka berdua tetap bertarung maka mereka akan di diskualifikasi meskipun saat itu acara pembukaan kesatria sihir belum di buka.


“Ada apa keributan-keributan di bawah sana? Sepertinya menarik,” ucap pangeran Arthur yang melihat dari atas kastel kerajaan.


“Sepertinya sedang ada pertarungan antar peserta ujian, apakah kau mau ikut pangeran Arthur?” jawab pangeran Wiliam sambil membaca-baca buku pengetahuan.


“Mereka para rakyat jelata memang tidak memiliki etika, jadi tidak usah di pedulikan,” ucap putri Elisabet sembari membersihkan kukuh-kukuh cantiknya dengan kaki duduk menyilang.


“Hehahaha, para rakyat jelata ya! Tidak ada yang menarik sama sekali,” lanjut pangeran Morgan dengan tawa lantang.


Peserta dari golongan bangsawan mendapat pelayanan khusus dan tidak di tempatkan di tempat yang sama dengan para rakyat jelata.


Mereka semua berada di lantai tujuh kastel kerajaan, dengan pelayanan istimewa serta para pelayan yang siap menuruti perintah mereka dua puluh empat jam.


“Kau seharusnya tidak berkata seperti itu putri Elisabet Cronwal,” ucap pangeran Levaron dengan nada lembut.


Para peserta bangsawan yang mengikuti ujian kesatria sihir berjumlah lima belas orang. Mereka semua menganggap diri mereka lebih baik daripada para rakyat jelata.


“Apakah aku salah?” jawab putri Elisabet dengan nada angkuh.


“Baiklah aku yang salah, perempuan memang selalu benar,” jawab pangeran Levaron.


“Yang di katakan pangeran Levaron memang benar tuan putri Elisabet,” jawab pangeran Harmas.


“Sejak kapan rakyat jelata benar wahai pangeran Harmas dari keluarga bangsawan Artickum,” lanjut pangeran Morgan dengan sedikit tersenyum.


Terjadi ketegangan antara putri Elisabet dengan salah satu bangsawan, akan tetapi ketegangan itu perlahan menghilang tatkala muncul pelayan yang meminta mereka semua segera ke ruang makan.


“Maaf mengganggu waktunya para bangsawan! Sekarang saatnya untuk makan siang,” ucap pelayan dengan nada lembut.


Para bangsawan itu lalu turun dan berjalan menuju tempat makan yang sudah di sediakan, hidangan-hidangan lezat terlihat sangat amat banyak menghiasi meja makan.

__ADS_1


Sedangkan di balai kota, semua peserta di suruh baris dengan rapi karna sebentar lagi acara makan siang akan mulai bagikan.


“Kalian semua dengarkan, cepat baris makan siang akan segerah datang.”


__ADS_2