
“Siapa kau sebenarnya? Apa tujuan mu mengikuti ujian kesatria sihir dan menyerang kami, cepat jawab!” Tanya pangeran Arthur kepada sosok misterius tersebut.
“Aku adalah Helita, salah satu anggota Croos Snake, senang bertemu dengan kalian berdua bocah-bocah tampan.” Jawab sosok perempuan misterius tersebut.
Nama. : Helita.
Anugrah. : Bakat Tanah Status 4.
Informasi. : Anggota Pemberontak Croos Snake.
“Croos Snake? Aku belum pernah mendengar organisasi itu sebelumnya.” Ucap pangeran Arthur.
“Bersiaplah untuk mati! Dark Slash.” Pangeran Morgan memotong pembicaraan tersebut dan dengan cepat langsung memberikan serangan.
Helita menghentikan serangan tersebut dengan menggunakan pukulan keras miliknya, Serangan pangeran Morgan sama sekali bukan sesuatu yang sulit di hentikan bagi Helita.
“Berhenti menyerang Morgan, hal seperti akan sia-sia jika kita belum mengetahui kemampuan musuh sepenuhnya.” Perintah pangeran Arthur.
“Aku tahu itu Arthur, tapi bagaimana kita mengalahkannya?” balas pangeran Morgan.
“Oleh sebab itu kita harus mengatur rencana! Aku yang akan mengatur taktik pertarungan ini, kau turuti semua perintah yang ku berikan.” Tegas pangeran Arthur.
__ADS_1
“Baik! Apa yang harus aku lakukan sekarang Arthur?” Tanya pangeran Morgan.
“Bawah yang lain pergi dari area pertempuran, aku akan menahan dia seorang diri!” Ucap pangeran Arthur.
“Apa kau sudah gila! Menahan seorang diri? Jangan bercanda Arthur, Dia bukan musuh yang bisa di anggap remeh bahkan dia mampu mengalahkan Iblis Macan hanya dengan sekali serangan.” Emosi pangeran Morgan melihat Pangeran Arthur yang menurut nya merupakan tindakan bodoh.
“Sudah tidak ada waktu lagi, apa kau sudah lupa Jika kau akan mengikuti semua rencana ku Morgan?” Tegas kembali pangeran Arthur.
“Aku tahu itu, tapi menurut ku ini tetap sangat amat berbahaya.” Jawab pangeran Morgan sambil menatap wajah Helita dengan tatapan tajam.
Helita kemudian memotong pembicaraan mereka berdua dan bersiap untuk mulai melancarkan serangan.
“Apakah sudah selesai pembicaraan nya? Kalau begitu aku akan memulai serangan.” Helita sedikit tersenyum tidak sabar menghajar mereka berdua.
“Cepat Morgan!” Teriak dengan lantang pangeran Arthur.
Secara terpaksa pangeran Morgan akhirnya pergi membawa yang lain menjauh dari area pertempuran. Menggunakan bakat kegelapan miliknya, pangeran Morgan menyelimuti dan membungkus tubuh mereka srmua lalu pergi.
“Jangan coba kabur dariku, Bakat Tanah status 4 Duri berbatuan Hal oga!” muncul duri-duri dari berbatuan tajam mengejar pangeran Morgan.
Helita tidak akan membiarkan Pangeran Morgan pergi begitu saja, dia mencoba menghentikan pergerakan pangeran Morgan dengan bakat milikinya.
__ADS_1
Pangeran Arthur yang melihatnya tentu tak membiarkan Helita menyerang pangeran Morgan dan dengan cepat memotong kumpulan duri-duri berbatuan tajam itu.
“Bakat Ganda status 4 tebasan Api Biru.”
Helita cukup terkejut melihat tebasan api biru pangeran Arthur barusan, dia tertawa tipis sambil menyentuh bibirnya nya yang seksi.
“Jadi seperti ini kekuatan dari bakat tingkat lanjut.” Lirih Helita.
“Lupakan itu, ayo kita mulai pertarungan kita dengan lebih serius kali ini. Apa kau sudah siap?” tegas pangeran Arthur sambil mengarahkan pedang nya ke arah Helita.
“Baiklah ayo kita mulai pertarungan kita dengan lebih menyenangkan!” Balas Helita.
Keduanya saling menyiapkan kuda-kuda dan bersiap memulai serangan satu sama lain, pangeran Arthur menatap dengan tatapan penuh kewaspadaan.
Helita lebih dulu menyerang dengan mengeluarkan banyak berbatuan kecil tajam dari dasar tanah lalu menerbangkan nya ke arah pangeran Arthur.
“Bakat Tanah Status 4 Calmire Hore!” ucap Helita.
Pangeran Arthur menepis semua berbatuan kecil tajam itu dengan keterampilan berpedangnya yang sangat bagus.
“Kau cukup bagus juga dalam memainkan pedangmu, tapi hal seperti itu masih belum cukup untuk mengalahkan ku!” sombong Helita sambil lari mendekati pangeran Arthur mengajak nya untuk bertarung jarak dekat.
__ADS_1
Pangeran Arthur mencoba menghentikan pergerakan Helita yang lari mengarah padanya, akan tetapi Helita menghindari semua serangan tebasan itu.
“Ha-ha-ha, aku bisa membaca semua arah tebasan mu dengan begini matilah kau!” teriak Helita bersiap mencekik leher pangeran Arthur yang sudah semakin dekat.