
Sebelum peserta akan mulai masuk ke dalam hutan kematian, panitia memberi mereka semua sebuah alat semacam Smoke Singal. Itu adalah alat untuk meminta bantuan apabila mereka dalam bahaya atau terkepung iblis dan tidak bisa berbuat apa-apa.
“Ini adalah Smoke Singal, jika kalian memutuskan untuk menyerah maka nyalakan benda ini dan dengan cepat para pengawas akan segera datang menjemput kalian!”
Ketika benda itu di aktifkan, akan muncul kepulan asap merah tebal menjulang ke atas, para pengawas yang melihatnya akan segera menuju ke sana secepatnya.
Alat itu memberikan petunjuk bagi para pengawas supaya bisa lebih mudah untuk menemukan keberadaan peserta yang meminta bantuan, hal itu disebabkan karena hutan kematian yang begitu amat luas membuat Team pengawas kesulitan jika tanpa adanya bantuan dari Smoke Singal.
Meskipun peserta nantinya sudah menyalahkan Smoke Singal, bukan berarti mereka sudah aman dari incaran iblis-iblis jahat. Mereka harus tetap bertahan melawan para iblis dengan sisa-sisa kekuatan mereka sambil menunggu panitia pengawas datang menyelamatkan.
Penggunaan Smoke Singal hanya di peruntukan bagi peserta yang sudah menyerah dan tidak sanggup lagi untuk melanjutkan ujian tahap satu. Jadi jika ada peserta yang menggunakan Smoke Singal maka peserta itu akan di anggap gagal.
“Apa kalian semua paham! Apa yang aku jelaskan barusan?”
Semua peserta serentak berteriak mengatakan paham secara bersamaan, kembang api besar kemudian dinyalakan sebagai pertanda bahwa ujian kesatria sihir tahap satu resmi di mulai.
“Duaaaaaaaaaar” bunyi kembang api.
“Dengan begini aku Yahito, selaku pemimpin pengawasan ujian tahap satu menyatakan bahwa ujian tahap satu telah dimulai!”
Semua peserta secara cepat langsung memasuki hutan kematian dibarengi teriakan penuh semangat, mereka semua yakin bahwa mereka bisa menaklukkan ujian tahap satu dengan mudah.
“Yeaaaaah!”
“Haaaaaaaaaaaaaaa!”
“Kami dataaaaaaaaang!”
Cerita kemudian berpindah ke kastal kerajaan nusantara, di sana terlihat tuan Hokaido sedang duduk santai bersama para Staf penting kerajaan (Daimyo) membicarakan mengenai ujian kesatria sihir tahun ini.
“Jadi sudah di mulai ya! Aku tidak sabar ingin melihat para generasi-generasi muda memimpin negeri ini.”
__ADS_1
“Apa ada yang kau pikirkan Hokaido?” tanya salah satu staf penting.
Setiap generasi memiliki kesatria sihir sendiri-sendiri, sekuat apa pun seorang kesatria sihir suatu saat pasti akan ada akhir masanya. Oleh sebab itu harus ada generasi-generasi muda yang harus tetap melanjutkan masa itu.
Kemudian kita di perlihatkan sepuluh patung besar yang berjejer berdampingan satu sama lain, patung-patung itu tampak gagah perkasa membawa senjata tempur andalan merek masing-masing.
“Era kalian sudah berakhir dan sekarang era baru telah dimulai! Andai kalian bisa melihat para generasi mudah ini tumbuh menjadi kesatria sihir yang hebat pasti kalian sangat terharu!” ucap tuan Hokaido sambil tampak mengusap air matanya.
Patung-patung itu adalah komandan-komandan tinggi kesatria sihir di setiap masa/era. Sebenarnya masih banyak lagi akan tetapi kerajaan hanya membuat patung komandan kesatria sihir di sepuluh masa terakhir saja.
Dari sepuluh patung para komandan kesatria sihir, ada satu patung lagi yang bahkan lebih besar dari kesepuluh patung itu, patung besar itu tak lain dan tak bukan adalah sang penyelamat dunia yaitu Abraham Kholid Agung.
Cerita kembali lagi ke ujian tahap satu.
Ketika sudah masuk ke dalam hutan kematian Enzo di buat kerepotan karna harus memilih salah satu dari dua belas rute yang telah di sediakan, dengan tekad dan rasa percaya dirinya yang begitu tinggi Enzo memilih rute nomor sembilan.
“Aku tidak memiliki banyak waktu, aku harus jadi sepuluh orang yang pertama kali sampai di gedung pusat! Baiklah nomor sembilan aku datang.”
“Sial hampir saja itu mengenaiku.”
Di karena kan Enzo sudah terbiasa dalam situasi seperti ini membuatnya sangat mudah untuk menghindarinya. “Serangan kejutan seperti ini bagiku bukanlah apa-apa, aku bahkan hampir beberapa kali mati.” Enzo merasa bahwa rintangan ini tidak cukup untuk menghentikannya.
Bukan hanya monster saja yang ada di dalam hutan kematian, melainkan juga ada jebakan-jebakan yang sudah dipersiapkan oleh pihak penyelenggara.
Di tengah kesombongan itu tiba-tiba Enzo terkena hempasan pukulan keras yang membuatnya terlempar dan menabrak pepohonan.
“Braaaaaaaaaaaak”
Enzo kebingungan siapa yang menyerangnya barusan sebab ia tidak melihat siapa pun selain dirinya di tempat ini, dengan kesal Enzo menyuruh orang itu untuk segera keluar.
“Wooooy, keluarlah dan lawanlah aku.” Enzo berteriak mencari orang yang menyerangnya, namun tidak ada jawaban.
__ADS_1
Enzo kemudian berjalan kembali dan tiba-tiba ia sekali lagi terkena serangan sama untuk yang kedua kalinya, merasa di permainkan Enzo sangat amat jengkel.
“Woooooy, kurang ajar keluarlah jangan sembunyi kau! Aku adalah orang yang akan menjadi kesatria sihir hebat, hadapi aku kalau berani jangan jadi pengecut. Apa kau kira aku tidak tahu? Cepat muncullah aku sudah tahu di mana posisimu sekarang.”
Di tengah ketegangan itu kemudian tampak kepulan asap merah dari arah barat, Enzo yang melihatnya cukup terkejut karna ujian baru saja dimulai 20 menit tapi sudah ada yang menyerah.
Faktanya bukan hanya ada 1 saja melainkan kurang lebih 120 Smoke Singal yang tampak sudah di nyalakan, para panitia dengan cepat menuju ke sana membawa peralatan peralatan medis.
Cerita kembali lagi ke Enzo, ia sebenarnya masih belum tahu keberadaan sosok yang menyerangnya, tapi ia yakin bahwa sosok itu pasti bersembunyi di sekitarnya.
Enzo berencana memanggil Kaiju untuk meminta bantuan menemukan sosok misterius yang menyerangnya. Akan tetapi ia teringat pesan ibunya untuk tidak sering menggunakan bakatnya, apalagi di kawasan kerajaan.
“Gerbang iblis tahap persenjataan terbukalah.”
Enzo mengambil pedang dari dalam gerbang iblis dan mulai langsung menyerang wilayah sekitarnya secara membabi-buta.
“Cepat keluarlah wooooy, jangan cuman berani bersembunyi.” ucap Enzo dengan kesalnya.
Akibat serangan membabi buta barusan, tib- tiba terdengar sesuatu terjatuh dengan sangat keras, Enzo lalu mendekati dari mana sumber suara itu berasal. Setelah didekati Enzo melihat sesuatu seperti tak kasat mata.
“Benda transparan apa ini? Tampak seperti batang pohon besar.”
Enzo lalu memotongnya menjadi dua bagian dan benar saja itu adalah batang pohon yang cukup besar, di sela batang pohon itu tampak ada benang tipis yang mengikatnya dan juga ada kertas mantra.
“Ha apa ini? Apa ini mantra sihir,” Enzo mengambilnya kemudian menyobek kertas itu.
Tak disangka setelah ia menyobek kertas mantra sihir itu kemudian terlihat puluhan jebakan ayunan pohon yang siap menghantam siapa pun yang melewati jalanan ini.
“Mengapa tiba-tiba muncul banyak jebakan ayunan batang pohon di depanku?” sejak saat itu Enzo tahu bahwa kertas yang ia sobek merupakan mantra sihir agar benda bisa jadi transparan tidak terlihat.
Akhirnya Enzo kemudian menyadari bahwa serangan tadi berasal dari jebakan tidak terlihat ini, ia pun merasa malu karna telah berbicara sendiri seakan akan ada musuh di sekitarnya, padahal itu hannyalah jebakan tidak terlihat.
__ADS_1
“Sialan, ternyata cuma jebakan, jadi dari tadi aku hanya berbicara sendiri, untung tidak ada yang melihat.”